
“Apa yang dia katakan?” Erika bertanya tanpa melihat Arvaz.
“Ibu sedang mengancam bahwa dirinya akan bunuh diri.”
Erika langsung menutup novelnya. Terlihat wanita itu sangat terkejut. Matanya membelalak sempurna.
“Kamu tidak akan pergi.”
“Ke mana?” Tanya Arvaz terlihat bingung.
“Ibumu sedang…”
“Dia tidak akan melakukannya. Beliau hanya menggertak,” ucap Aravz begitu tenang.
Erika ingin berdebat namun ia mengurungkan niatnya. Ia langsung membungkam bibirnya. Meskipun ia diam, nyatanya pikirannya berkelana karena ia terlalu takut jika Nyonya Bennedict benar-benar melakukan hal konyol itu.
Di tempat lain, Nyonya Bennedict menunggu kedatangan putranya. Ia merasa gelisah, bagaimana jika Arvaz tidak terpengaruh dengan drama yang dibuatnya. Nyonya Bennedict senantiasa melihat ke arah jendela berharap mobil Arvaz datang sementara Mina sedari tadi meremas tangannya. Has dingin membuat jiwanya seolah beku.
“Kenapa dia belum datang? Apa yang dia katakan tadi?” Tanya Nyonya Bennedict.
“Bu, Arvaz bilang bahwa ibu tidak akan pernah melakukannya. Ibu hanya menggertak.”
“Anak itu, apakah dia benar-benar ingin mengantarkanku ke pemakamanku!” Teriak Nyonya Bennedict. Wanita paru baya itu terlihat sangat marah. Rasa kemarahan mencengkeram kuat dadanya. Ia selalu merasa bahwa ialah wanita nomor satu dalam Arvaz. Sekarang tidak lagi.
“Bu, jangan marah.”
“Bagaimana aku tidak marah? Anakku sekarang mengabaikanku dan lebih memilih wanita itu.” Sembur Nyonya Bennedict.
“Bu, apakah sebaiknya aku menyerah? Arvaz benar-benar tidak menyukaiku.”
“Bagaimana bisa kamu mengatakan hal semengerikan itu?” Nyonya Bennedict memprotes. “Kamu harus bisa bertahan, yakinlah ini tidak akan bertahan lama. Arvaz akan segera meninggalkan wanita itu.”
“Bu, bukanlah itu tidak adil untukku, untuk Arvaz dan untuk Erika.”
Ekspresi gelisah melintas di wajah sang Nyonya Bennedict. “Mina, apakah kamu sudah lelah?”
Tenggorokan Mina tercekik. Ia tidak bisa menjawabnya, wanita itu hanya diam seribu bahasa. Ia ingin Nyonya Bennedict tidak memaksanya terlalu jauh. Ia juga berhak bahagia. Meskipun jauh di lubuk hatinya ia sangat menginginkan Arvaz tapi terkadang ia ingin menyerah dan lebih membuka hati untuk orang yang mencintainya.
“Berjanji lah pada ibu, kamu tidak akan mengatakan hal itu? Ibu hanya ingin menantu seperti dirimu.”
Mina menahan kata-kata balasan untuk Nyonya Bennedict. Ia menatap tangannya yang digenggam Nyonya Bennedict. Ia berusaha bernapas ketika ia mendongak dan menatap mata Nyonya Bennedict.
Nyonya Bennedict lalu meletakkan salah satu tangannya di bahu Mina untuk menenangkannya dan memberinya semangat.
“Tunggulah sebentar lagi. Ibu akan membawakan Arvaz padamu. Percayalah padaku.”
“Bu, apakah aku boleh bertanya?”
__ADS_1
“Apa yang ingin kamu tanyakan?”
“Kenapa ibu sangat membenci Erika?”
Tubuh Nyonya Bennedict menegang. “Ibu tidak harus menceritakannya, kamu sudah tahu semuanya.”
...…....
Malam itu, Erika tidak bisa tidur nyenyak. Rasa gelisah selalu menyelimutinya, terlihat dari kerutan di dahinya, alisnya bertaut padahal matanya masih terpejam. Napasnya bergemuruh, dadanya naik kempis.
Arvaz yang merasakan kegelisahan Erika langsung membuka mata. Pria itu langsung menyalakan lampu dan ia bisa melihat buliran keringat pada dahi Erika.
“Eri…Eri…”
“Jangan….jangan…”
“Eri…”
“Jangan!” Erika tiba-tiba membuka mata dan langsung melihat Arvaz. Erika langsung membelaku Arvaz, menggelakkan kepalanya pada dada Arvaz untuk mendapatkan ketenangan dan rasa aman.
“Aku takut….”
“Tenang itu hanya mimpi, tidak akan yang terjadi padamu.”
Arvaz mencoba menenangkan Erika, pria itu mendaratkan kecupannya pada puncak kepala Erika. Tangannya yang satunya mengelus surai rambut Erika.
Seperti membantu membawakan berkas yang menumpuk, membawakan kopi untuk acara rapat dan yang lainnya.
Di saat jam makan siang, Erika pamit pada Arvaz untuk membeli makanan untuk mereka. Erika kemudian berjalan menuju mobil Arvaz dan membuka pintu sebelum masuk. Saat ia menghidupkan mesinnya, ia merasakan sebuah senjata di pelipisnya.
Erika langsung menatap ke spion. Jantungannya berdegup sangat kencang namun ia berusaha untuk tenang.
“Darel…,” ucap Erika begitu terkejut ketika melihat Darel. Ia pikir Darel sudah mati.
“Apakah kamu merindukanku?”
“Kenapa kamu terus mengusikku?”
“Karena aku tidak akan pernah bosan bermain-main denganmu.”
Erika langsung memegang pegangan pintu mobil dan membuka pintu mobil perlahan. Darel langsung mengunci pintu mobilnya.
“Pindah ke belakang,” suruh Darel. Erika hanya bisa menuruti perintah Darel.
“Apakah kamu tidak takut dengan Arvaz, kamu berani memprovokasinya di tempatnya.”
“Bukankah ini sangat menyenangkan.”
__ADS_1
“Jangan berpikir kamu bisa lolos dari Arvaz.”
“Kamu sangat percaya diri sekali,” ujar Darel.
Pria itu kini pindah ke kursi kemudi, dan mengemudikan mobil itu menjauhi perusahaan Arvaz. Tanpa sepengetahuan Darel, Erika mengirim kode bahaya pada kontak Arvaz.
Segera lebih dari sepuluh mobil mulai mengejar dari belakang. Erika langsung mengetahui bahwa mereka adalah pengawal Arvaz.
“Tidak buruk, dia sangat cepat.” Darel menyeringai dan menambah kecepatan mobilnya.
Erika tetap diam, matanya masih mencari sesuatu yang bisa menjadi senjatanya.
Darel terus mengemudi menuju jalan terpencil di sudut kota. Menuju ke arah pegunungan sementara pengawal Arvaz masih mengejarnya. Menyadari mereka akan segera menyusulnya, Darel lagi-lagi menambahkan laju kecepatannya tapi ia cukup kesusahan dangan satu tangan mengemudi yang lainnya menodong pistol ke arah Erika.
Darel langsung meletakkan pistolnya dan mengemudian mobilnya dengan dua tangan.
“Kenapa kamu tidak menyerah saja? Mungkin kamu akan kehilangan nyawamu.”
“Aku melakukan ini semua demi tujuan terbesarku. Kamu tahu, kamu membuatku mempertaruhkan semuanya tapi aku bersedia mengambil risiko besar ini.”
“Darel, mengapa kamu tidak berdamai dengan hidupmu sekarang. Aku menyukai Arvaz.”
“Itu tidak masalah. Aku tidak berharap kamu setiap padaku,” jawab Darel acuh tak acuh.
Darel terus mengemudi lalu tiba-tiba suara helikopter terdengar sangat jelas. Erika mengangkat kepalanya dan memicingkan matanya untuk melihat bahwa itu adakah helikopter Darel. Pria itu sudah membuat pengaturan sebelumnya. Strategi yang sudah direncanakannya.
Lalu sejumlah mobil muncul di depan mereka, mencegah mobil Darel. Erika langsung mencekik leher Darel dengan jaketnya yang ia lepas ketika Darel menginjak rem.
Darel meringis kesakitan namun pria itu masih bisa mengambil pistolnya dan mengarahkan pistolnya ke arah Erika. Erika langsung meraih pergelangan tangan Darel dengan cepat sehingga tembakan mengarah pada langit-langit mobil.
Arvaz bergegas bersama pengawalnya ke arah mereka. Darel memicingkan matanya dengan cemas, sangat sadar bahwa jika Arvaz dan pengawalnya mengepungnya, tidak ada cara lain untuk melarikan diri.
Jadi Darel bersikap dengan gila. Ia menginjak pedal gas sehingga mobil melaju dengan cepat dan berbelok ke jurang.
Pengawal Darel yang berada di helikopter dengan cepat langsung turun ke bawah. Mobil itu berbalik dan hancur. Mereka membawa Darel yang bersimpuh darah keluar dari mobil dan menunu helikopter.
“Apakah kita membawa wanita itu juga?” Tanya seorang pengawal.
“Tentu saja, bawa dia. Terlepas dia masih hidup atau sudah mati.”
Erika kemudian ditarik keluar dari mobil dan di bawa ke helikopter.
Pengawal Arvaz sudah sampai ke tempat kejadian namun semua sudah terlambat. Mereka sudah membawanya pergi.
Kemarahan langsung muncul di wajah Arvaz. Pembuluh darahnya terlihat karena ia benar-benar marah. Arvaz langsung memerintahkan jet pribadinya untuk mengejar.
Arvaz mengepalkan tinjuya dengan marah, ia tidak ingin apa-apa selain membunuh Darel menjadi beberapa kepingan. Dia bersumpah pada dirinya bahwa dia akan membunuh Darel dengan tangannya sendiri.
__ADS_1