
Erika pergi ke super market sendirian sementara Arvaz bersama Noah di Villa. Banyak barang yang sulit ditemukan karena susunan di rubah dan kebanyakan berada di rak bagian atas. Antrean untuk membayar sangat panjang.
Beberapa kali Erika tergoda untuk meninggalkan saja barang-barang belanjaannya dan keluar dengan tangan kosong. Sepanjang perjalanan di rumah Erika terjebak macet yang amat panjang di tambah lagi perutnya terasa sakit dan ia merasakan sesuatu keluar.
Erika langsung mengambil ponselnya dan melihat kalender.
“Aish….”
Erika mengutuk dirinya sendiri dan mencari barang di kantong belanjaannya. Ia teringat bahwa ia sudah membeli untuk stok tapi ia lupa bahwa hari itu akan terjadi hari ini.
Tiba di rumah, ia sudah lelah, fisik dan moodnya naik turun. Erika langsung mengangkat ketiga kantong belanjaannya sekaligus. Ia melangkah ke beranda hendak menuju ke pintu belakang.
Suasana hatinya yang kacau semakin menjadi-jadi saat melihat pemandangan di depannya. Arvaz sedang berendam air panas sementara Noah.
“Noah!!!!” Teriak Erika dengan marah.
Arvaz menjawab dengan tersenyum, karena belum menyadari kejengkelan Erika.
“Kata gurunya, Noah menyukai lukisan puding jadi aku pikir untuk mencobanya di rumah. Noah senang sekali bermain dengan itu.”
Noah sedang duduk di depan meja kecil yang dibelikan Arvaz untuknya, meja itu di taruh di keteduhan beranda. Mulai dari kepala hingga ke kaki, tubuh anak itu dipenuhi bahan lengket gelap. Dengan tangannya yang gemuk ia menyendok puding dari mangkuk dan membantingnya ke kertas minyak yang sudah disediakan Arvaz.
Noah juga menjilati puding yang menempel di jemarinya. Wajahnya dengan puding. Bahkan sering sekali Noah memegang bajunya dengan tangannya yang kotor.
“Bajumu kotor, Noah!”
Amarahnya semakin memuncak. Sebenarnya ia tahu, sungguh tidak masuk akal jika ia marah hanya karena hal sepele itu tapi ia tidak bisa menahan kemarahannya yang sudah ingin meledak sejak tadi.
“Bajunya bisa dicuci lagi jika nodanya tidak hilang bisa dibuang dan beli lagi. Kata gurunya latihan seperti itu bagus untuk motoriknya,” kata Arvaz menjelaskannya dengan tenang.
“Wah sepertinya kamu berbincang akrab dengan guru Noah.”
Erika melangkah ke pintu geser dari kaca dan mencoba mendorong pintu dengan kakinya melalui celah yang terbuka karena tangannya dipenuhi kantong belanjaan. Tapi pintu itu tidak mau bergeser. Erika tidak berdaya karena tangannya mulai keberatan. Akhirnya dengan geram ia menoleh kepada suaminya.
Erika langsung membanting semua belanjaannya ke lantai dan membuka pintu geser itu dengan sangat keras hingga kacanya bergetar di relnya. Noah dan Arvaz sampai terkejut dan langsung menoleh ke arah Erika.
Tanpa memedulikan belanjaannya dan dua pasang mata yang melihatnya, ia melangkah masuk dengan jengkel. Ia cepat-cepat lari ke kamar tidur dan membanting pintu keras-keras.
Sandra baru saja muncul dan melihat belanjaannya yang tercecer dengan naas di lantai.
“Tuan Muda, ada apa dengan Nyonya?”
“Bereskan itu semua lalu jaga Noah,” ucap Arvaz.
“Ya.”
Erika berbaring miring, kedua lututnya ditekuk sampai ke dada untuk menimilkan rasa nyeri haidnya. Setelah lama menangis, ia mandi dan mengganti bajunya. Ditariknya selimut sampai menutupi kepalanya.
Erika mengintip sedikit. Arvaz ada di pintu, mengintip dengan takut-takut seolah khawatir akan dilempari sesuatu kalau berani masuk lebih jauh.
“Kamu masih marah?”
Arvaz masuk hanya mengenakan celana selutut. Erika merasa tempat tidurnya melesak turun saat Arvaz membaringkan tubuh di belakangnya. Arvaz menyibakkan selimut yang menutupi kepala Erika dan memeluknya. Jemari lelaki itu bermain di rambutnya.
__ADS_1
“Apakah ada yang membuatmu marah?”
“Hmmm.”
“Hari ini tidak menyenangkan ya?” Napas Arvaz terasa hangat dan lembut di telinga Erika.
“Sangat.”
“Kamu marah karena waktu pulang melihat Noah belepotan puding begitu ya?”
Erika langsung membalikkan tubuhnya dan menatap mata Arvaz.
“Itu salah satunya. Aku marah seperti itu, banyak penyebabnya.”
“Aku tidak mengira kamu akan pulang cepat. Kalau tahu pasti Noah akan kumandikan lebih awal supay siap untuk makan malam.”
“Itu bukan salahmu. Aku yang salah. Aku merasa tidak enak badan dan…..” Erika mendesah dan kembali membelakangi Arvaz.
“Kamu kenapa?” Arvaz seketika terdengar cemas, tubuhnya menegang di belakang Erika.
“Tidak ada apa-apa.”
“Pasti ada. Kamu sakit? Katakan padaku!”
Erika menoleh dan memandanginya dengan car sedemikian rupa sehingga Arvaz mengerti apa yang dia maksud.
“Kapan?”
“Waktu perjalanan pulang tadi.”
“Sudah minum obat?”
“Sudah.”
“Apa masih terasa sakit?”
“Sedikit.”
“Hanya sedikit?”
Dengan perlahan Arvaz menurunkan selimut di pinggang Arvaz. Ia menyentuh pinggang Erika lagi. Perlahan-lahan Arvaz menyapukan tangannya ke bawah dan sekitar perut.
“Di sini?”
“Hmmmm.”
Arvaz memijat pelan, menggerakkan tangannya berputar. “Sudah mendingan?”
Erika mengangguk.
“Kasihan.” Dikecupnya pelipis Erika dengan sayang.
Erika memejamkan mata dengan mengantuk. “Apakah Noah sudah makan malam?”
__ADS_1
“Ya sudah.”
“Apa yang kamu lakukan?”
Arvaz menyapukan kakinya di kaki Erika, hingga belakang lututnya bersentuhan dengan lutut Erika. “Mula-mula aku menyuruh Sandra untuk membereskan belanjaan dan lantai dari kerusuhan Noah. Kemudian aku memandikan Noah.”
...…....
Seminggu setelahnya Erika selesai dengan datang bulannya. Ia sudah dalam keadaan mood baik. Erika baru saja menghabiskan es krim yang dibelikan Arvaz tadi. Saat ia masuk ke dalam kamarnya, dalam satu gerakkan cepat Arvaz merapatkan tubuhnya.
“Kamu sudah selesai dengan masa periodemu?”
Erika mengangguk.
“Aku sangat menginginkanmu.”
Arvaz langsung menggendong dan membaringkan Erika di ranjangnya. Ia menempatkan Erika di bawah tubuhnya dan membungkam bibir Erika dengan bibirnya dalam satu ciuman panas dan penuh kerinduan.
Dengan tergesa-gesa mencari tepian gaun istrinya tapi mendadak pintu kamar terbuka dengan keras dan Noah menyerbu masuk, mengoceh gembira.
Arvaz menghembuskan napas pelayan-lahan untuk meredakan ketegangan di dadanya. Ditempelkannya keningnya ke dahi Erika sambil berharap ketegangan yang timbul akibat gairah segera mereda.
“Biar kutampol dia nanti.”
“Ya, kalau kamu bisa menangkapnya.”
Arvaz menggulingkan tubuh dari atas Erika namun lengannya masih memeluk istrinya. Bersama-sama mereka menoleh ke arah Noah.
“Dia pasti berhasil membujuk Sandra untuk mengeluhkannya dari tempat tidur,” kata Arvaz.
Merasa diperhatikan dengan sayang, Noah semakin bertingkah. Ia membuat gerakan-gerakan lucu dan semakin senang mendengar kedua orang tuanya tertawa.
“Aku ingin segera memberikan Noah adik lagi.”
Erika segera menoleh, mendekatkan bibirnya ke bibir suaminya dan membiarkannya merapat.
“Tidak, sebelum Noah berumur lima tahun tahun.”
“Tapi aku ingin.”
“Tidak.”
“Ayo lah Eri, kita beri Noah adik.”
“Iya tapi setelah Noah berumur lima tahun.”
“Baiklah. Aku mencintaimu Erika.”
“Aku mencintaimu Arvaz.”
“Aku tahu.”
Noah yang sedari tadi baru bertingkah di lantai, kini anak kecil itu sudah merangkak naik ke ranjang dan langsung memeluk Erika.
__ADS_1
“Kami juga mencintaimu sayang,” ucap Erika sambil mencium pipi gembul Noah.
...….Tamat…...