
Sandra membeku di tempatnya begitu melihat Erika. Mulutnya membuka membentuk huruf O, tak percaya bahwa nyonya mudanya ada di depannya. Ia jelas mendengar bahwa Erika tidak ditemukan dan dinyatakan meninggal.
“Nyonya Muda.”
“Ya, ini aku.”
Sandra terlihat menangis dan langsung berjalan mendekati Erika untuk memeluknya erat, memastikan bahwa ia sedang tidak bermimpi.
“Nyonya Muda, apa yang terjadi sebenarnya beberapa hari ini? Aku bahkan tidak mengerti apakah aku sedang bermimpi sekarang?”
“Ini nyata, aku masih hidup.”
“Aku tidak percaya ini.”
Sandra langsung mencubit lengannya sendiri dan merasakan sakit berarti bahwa ia tidak sedang mimpi.
“Benar-benar sulit di percaya. Nyonya Muda.” Mata Sandra langsung meneliti setiap jengkal tubuh Erika dan menemukan luka di salah satu kaki Erika. Sandra langsung terkejut dan merasa terkejut. “Luka ini, Nyonya Muda ya ampun. Nyonya masuklah. Aku akan membawakan makanan dan dia……?”
“Dia Zay, dia yang membantuku untuk pulang.”
Sandra langsung memegang tangan Zayyan dan mengucapkan terima kasih. “Terima kasih sudah membantu Nyonya Muda kami.”
Erika dan Zayyan duduk di ruang tengah sementara Sandra sedang membuatkan minuman. Begitu Sandra datang dan meletakkan minuman.
“Sandra, kamu tahu dimana Arvaz? Aku mencoba menghubungi beberapa kali tapi aku tidak bisa. Aku juga tidak melihatnya di kantor.”
“Tuan Muda sedang dalam perjalanan bisnis, aku juga tidak tahu Tuan Muda pergi dimana. Mungkin Tuan Adam mengetahuinya, karena sekarang Tuan Adam menjadi asisten pribadi Tuan Muda.”
Erika mengangguk. “Aku akan ke rumah sakit sebelum mencari rumah Adam untuk bertanya keberadaan Arvaz.”
“Nyonya Muda ingin memeriksakan luka?”
“Ya, selain itu. Aku ia ingin memeriksakan perutku karena beberapa hari ini perutku sakit.”
Erika pun berdiri. “Zay, untuk sementara kamu menginap di sini saja. Hari juga mulai petang.”
“Tapi…”
“Tidak perlu sungkan, aku sangat berterima kasih sekali karena nenek dan kakekmu memberikanmu makanan, pakaian dan tempat berteduh sekarang aku ingin membalas budi mereka. Anggap saja rumah sendiri.”
Erika pun langsung berjalan menuju ke kamarnya untuk mengambil tas, dompet dan juga kartu atm dan beberapa uang tunai. Ia juga mengganti pakaiannya dengan pakaian yang nyaman. Erika menatap dirinya si cermin sebelum turun ke lantai pertama.
“Aku akan berangkat ke rumah sakit sekarang.”
“Nyonya Muda, aku akan pergi bersamamu,” ucap Sandra.
“Aku juga akan mengantarkanmu,” ucap Zayyan.
__ADS_1
Erika menatap Sandra dan Zayyan bergantian lalu senyum terbit di sana. Sebelum mengucapkan, “Baik.”
Sepanjang perjalanannya menuju ke rumah sakit. Erika berdoa dalam hatinya, beratap ia hamil. Ia membuka pintu jendela mobil setengah dan menikmati angin berselimir mengenai kulitnya.
Setelah tiba di rumah sakit, pertama kali yang dilakukannya adalah memeriksakan lukanya yang terkena goresan peluru. Setelah itu ia pergi untuk memeriksakan perutnya di spesialis obgyn. Dokter di sana menyarankann untuk tes urin setelah mendengar keluhan Erika.
Kemudian menjalani usg yang selanjutnya menegaskan bahwa Erika benar-benar hamil selama sepuluh minggu. Sandra yang menemani di dalam ruangan langsung berteriak bersyukur. Sandra langsung memeluk Erika.
“Nyonya Muda, ayo kita cari Tuan Muda dan memberitahukannya tentang berita bahagia.”
Erika langsung menggeleng. “Tidak, aku akan memberitahunya saat semua stabil. Beberapa hal masih diluarkan kendali ku. Aku baru saja mengalami hal mengerikan. Dokter juga bilang, kondisi kehamilanku kali ini sangat rentan.”
“Nyonya Muda, kalau begitu apa yang akan kamu lakukan?”
Erika terlihat berpikir. “Aku tidak akan memberitahu Arvaz atau keluarga Bennedict tentang kehamilanku. Aku masih takut dengan mertuaku. Pertama-tama aku akan mencari kota yang nyaman.”
“Nyonya Muda, aku mendengar negara sebelah mempunyai teknologi medis yang canggih. Negaranya juga cukup aman dan indah.”
“Baiklah, aku akan pergi ke sana.”
“Nyonya Muda, aku juga mau ikut denganmu,”
Erika langsung menggeleng guna untuk menolak. “Kamu di sini untuk memberitahuku keadaan Arvaz.”
...…...
Siang dan malam, Arvaz mengerahkan Nick, Vero dan untuk membantunya mencari Erika.
“Tuan Muda, aku punya berita.”
Arvaz langsung mendongak karena penasaran. “Katakan.”
“Setelah kami menyebarkan beberapa pengawal. Kami menemukan bahwa pasangan suami istri yang sudah lanjut usia beberapa hari yang lalu menemukan seorang wanita. Setelah kami bertanya, penduduk desa mereka mengatakan seorang wanita memang tinggal di sana tapi meraka tidak tahu itu siapa.”
Riak riuh langsung terasa sampai di hati Arvaz, “Seorang wanita?”
“Iya,” ucap Adam.
“Apakah kemungkinan itu adakah Erika?” Tebak Nick.
“Mungkin saja,” ujar Vero.
“Pergi ke rumah pasangan yang menampung wanita itu dan tanyakan secara langsung. Kita akan memverifikasinya sekarang. Pergi sekarang juga!”
“Baik,” ucap Adam dan segera pergi.
“Aku dan Vero akan ikut memverifikasinya,” ucap Nick.
__ADS_1
Setelah kepergian Nick dan Vero. Arvaz tiba-tiba gelisah. Ia duduk di sofa dengan raut wajah berharap bahwa akan ada keajaiban yang datang.
Pada hari yang sama, wanita paru baya mendengar suara ketukan di rumah.
“Siapa?”
Wanita paru baya itu membuka pintu dan melihat tiga orang pria yang sedang berdiri di depan rumahnya.
“Kalian siapa?”
“Kami sedang mencari perempuan yang ada di foto ini, apakah kamu mengenalnya?” Tanya Adam.
Perempuan paru baya itu langsung terkejut begitu melihat foto Erika, namun ia langsung mengubah mimik wajahnya. Ia berprasangka buruk pada Adam, Nick dan juga Vero sehingga ia berbohong tidak pernah melihatnya.
“Aku tidak pernah melihatnya sebelumnya.”
“Apakah itu benar? Kamu tidak berbohong? Aku mendengar beberapa hari yang lalu kamu menampung seorang wanita.”
Lagi-lagi wanita itu terlihat terkejut. “Aku memang kemarin menampung seorang wanita tapi bukan dia.”
Mata Adam langsung menyipit tidak percaya.
“Aku yakin, tuan wanita yang aku tampung bukan dia. Lagi pula wanita itu sudah kembali ke keluarganya. Cucuku sendiri yang mengantarkannya.”
Nick langsung melaporkannya pada Arvaz. Bahwa wanita yang pernah tinggal di rumah itu ternyata bukan Erika melainkan orang lain. Arvaz langsung merasakan hatinya tenggelam ke dasar palung laut setelah mendengar kabar itu.
“Berhenti mengawasi rumah itu dan fokuslah kembali mencari kemungkinan Erika berada.”
“Ya.”
“Bagaimana?” Tanya Vero pada Nick begitu Nick memasukkan kembali ponselnya.
“Kita kembali mencarinya.”
“Bagaimana bisa kita mencarinya tanpa petunjuk, mengapa Arvaz tidak menyerah saja.”
Nick menggeleng, “Arvaz tidak akan menyerah sebelum Erika ditemukan bahwa ketika sudah tak bernyawa.”
...…....
Erik terus menunggu kedatangan Arvaz namun pria itu sama sekali tidak pulang. Ketika ia bangun, ia melihat Zayyan sedang bersiap untuk pulang.
“Kamu akan kembali sekarang?”
“Ya.”
“Sebentar, Sandra akan membuat beberapa makanan, tanda terima kasihku untukmu dan juga kakek dan nenekmu.”
__ADS_1
Tak hanya makanan ternyata Erika juga menyiapkan beberapa uang untuk diberikan sebagai tanda terima kasih.