By Your Side

By Your Side
Dua puluh Enam


__ADS_3

Sejak pagi tadi, Arvaz memasang wajah cemberut. Bagaimana tidak, pagi buta waktu jam sarapan. Seenak jidatnya Nick datang bertamu untuk memperkenalkan pacarnya. Hal yang tidak penting bagi Arvaz. Hari yang cerah berubah menjadi suram.


Erika yang harusnya fokus padanya kini asyik sendiri dengan pacar Nick yang bernama Yaya.


“Senang bertemu denganmu, kak Aeri. Aku sering membaca tentangmu di berita. Aku sangat iri padamu.”


“Terima kasih, tapi kita seumuran. Panggil saja aku Erika. Lagi pula tidak ada yang membuatmu iri padaku. Lihatlah dirimu sendiri, aku sering nonton dramamu. Wah, Nick beruntung mendapatkanmu.” Erika memuji sambil tersenyum.


Yaya menggeleng. “Kamu lebih beruntung. Mendapatkan cinta tanpa batas dari pria yang terkenal dingin. Itu adalah sesuatu yang jauh lebih besar dari pada karir.”


“Jika seorang wanita tidak memiliki karir, untuk berapa lama dia bisa membuat pria tetap mencintainya?”


Tiba-tiba saja Erika ingin bekerja. Ia ingin menjadi wanita mandiri yang mempunyai penghasilan sendiri.


“Dalam kasusku, selamanya,” sela Arvaz.


Pendapat Arvaz menganggu pembicaraan mereka.


“Ini mengapa aku sangat iri padamu. Kamu sangat beruntung.”


Erika hanya tersenyum. Lagipula Yaya hanya melihat dari permukaannya sana. Mereka tidak menyadari cobaan dan kesengsaraan yang telah ia lalui. Meskipun Arvaz memang memberinya kebahagiaan dan menghunjaninya dengan cinta tapi ia juga banyak menderita karena siksaan dari Aravz.


Meskipun begitu, Erika sepenuhnya sudah menerima Arvaz.


Ruangan meja makan yang tadinya suram lama-kelamaan menjadi hangat. Nick tetap diam dan tidak melakukan apa pun kecuali menikmati sarapannya.


“Kamu seharusnya datang nanti malam, mengapa pagi-pagi datang ke sini?” Tanya Aravz dengan nada dingin. Erika langsung menyenggol lengan Aravz untuk bersikap sopan.


“Aku yang memintanya, karena aku tidak sabar untuk melihat Erika secara langsung dan ingin berteman dengannya.”


“Sepertinya kalian bisa pergi sekarang,” ucap Aravz.


“Arvaz!” Ucap Erika.


Nick dan Yaya pamit untuk pergi karena merasa tidak enak, sementara Arvaz meminta Erika untuk memasangkan dasinya.


“Kenapa kamu bersikap seperti itu?” Tanya Erika tidak suka.


“Bersikap seperti apa?”


“Bersikap dingin pada teman-temanku.”


“Teman-temanmu?” Dahi Arvaz langsung berdenyit.


“Nick adalah temanku dan Yaya adalah temanku sekarang.”


“Sejak kapan?”


“Sejak tadi,” ucap Erika sambil tersenyum. “Sekarang waktunya kamu berangkat bekerja.”


“Satu ciuman, berikan ciuman sebelum aku berangkat bekerja,” ucap Aravz dengan ekspresi kucing yang lucu. Mendengar itu, Erika pun tak berdaya menolak.

__ADS_1


Arvaz meraihnya, merengkuhnya dengan erat-erat seakan ia tak ingin melepaskannya.


“Rasanya aku tidak ingin bekerja hari ini,” bisik Arvaz dengan suara parau sambil memegang wajah Erika dengan kedua tangannya.


Dipandangnya Erika lama-lama lalu menunduk mencium istrinya dengan hangat. Dan sewaktu akhirnya ia mengangkat kepala, bibirnya tersenyum lembut melihat ekspresi terkejut di wajah Erika.


“Itu tidak adil.”


“Apa yang tidak adil?”


“Kamu menciumku dua kali seperti itu.”


“Seperti apa? Seperti ini?” Arvaz menciumnya kembali membuat napasnya terendah dan tubuhnya gemetar dalam pelukan pria itu. “Seperti itu?” Bisik Arvaz lembut.


“Ya. Kamu bilang akan menciumku satu kali sebelum bekerja.”


“Aku tadi berbohong,” kata Aravz.


Erika menggelengkan kepalanya tak percaya, “Dasar.”


...…....


Sinar matahari yang hangat menerpa epidermis Erika saat duduk di Taman sambil sibuk berselancar di media sosialnya untuk menghabiskan waktu. Melihat beberapa video lucu sampai membaca berita yang sedang menjadi tranding. Hingga pada akhirnya mencari sebuah lowongan pekerjaan.


Ia ingin menjalani hidupnya sesuka hatinya tanpa ada yang membatasi untuk melakukan apa yang diinginkannya.


Di tempat lain, sosok laki-laki yang diduga sudah mati ternyata masih hidup. Dia adalah Darel Hansel. Pria itu duduk di kursi yang berada di ruangan yang terlihat suram dan menakutkan. Dia tidak sendiri ada sosok wanita yang berlutut di bawah meja sedang menyenangkannya.


“Bukankah kamu menikmatinya sekarang?”


“Apa hebatnya dia?”


“Yang jelas dia tidak seperti dirimu yang menjalani hubungan bebas dengan pria yang tak terhitung jumlahnya.”


Sosok wanita itu merangkak keluar meja perlahan-lahan sebelum memberanikan diri untuk memeluk sosok Darel.


“Kamu tahu, ucapanmu sangat kasar sekali. Yang terpenting, bukankah aku sekarang sepenuhnya milikmu.”


“Begitukah?”


“Tentu saja.”


Darel langsung tersenyum sinis dan langsung mendorong tubuh wanita itu agar menjauh.


“Jangan muncul di depanku lagi. Aku tidak mau melihatmu lagi sekarang.”


“Kamu benar-benar tidak membutuhkanku sekarang?”


Wanita itu mengambil beberapa langkah sebelum ia berhenti di tempatnya.


“Wah sudah sejak lama sekali dan kamu masih belum bisa melupakan Erika. Tapi tidak mungkin kamu bisa mengalahkan Arvaz, dia jauh lebih pintar darimu.”

__ADS_1


Darel yang kesal langsung mengambil pistolnya yang berada di dalam laci. Pria itu mengarahkannya pada wanita itu.


“Kamu terlalu banyak bicara,” ucapnya sebelum menarik pelatuk.


Dorrrrr


Darel mengarahkan pistolnya tepat di dahi wanita itu. Peluru itu membuat wanita itu langsung terkapar di lantai dengan bersimbah darah. Dengan memperbaiki letak celananya, Darel berjalan melewatinya.


Dengan tangan di sakunya ia berjalan ke ruang tamu dan bertanya pada pria di depannya.


“Bagaikmana kondisinya?”


“Tuan, sepertinya keluarga Bennedict tidak menerima Erika. Namun Arvaz mengumumkan tentang pernikahannya. Arvaz tampaknya sangat melindungi Erika. Mereka bahkan pindah ke rumah baru yang dijaga ketat.”


Darel menolak percaya bahwa Arvaz bisa melindungi Erika.


“Erika, aku datang untukmu.”


Darel menatap keluar jendelanya dengan tatapan penuh tekad.


...…...


Tepat ketika Arvaz tiba di rumahnya, aroma harum langsung tercium menyambutnya. Arvaz langsung berjalan cepat ke dapur untuk melihat istri mungilnya, Erika sedang memasak makan malam sambil menggunakan celemek warna merah muda dengan gambar kelinci kecil.


“Kamu sedang memasak apa?” Tanya Aravz, memeluk Erika dari belakang.


“Makanan istimewa.”


“Sungguh?”


Arvaz langsung menundukkan kepalanya dan mengigit gemas selangka Erika, tempat favoritnya.


“Yakkk!!” Protes Erika.


Beberapa saat kemudian mereka berkonsentrasi untuk memasak. Bersama-sama mereka menyiapkan empat hidangan yang enak dan semangkuk besar sup yang hangat.


Mereka duduk saling berhadapan. Arvaz langsung mengambilkan lauk tambahan untuk Erika.


“Kamu harus makan lebih banyak,” ujar Arvaz.


“Kenapa? Apakah aku terlalu kurus.”


Arvaz langsung menggeleng, “Kamu sudah sempurna hanya saja, kamu harus banyak energi malam ini. Kita akan menghabiskan malam di ranjang yang empuk dalam suasana yang panas.”


“Apakah itu yang kamu pikirkan sepanjang jalan pulang ke rumah.”


“Itu salah satunya,” ucap Arvaz dengan senyum tampannya.


Setelah makan malam, Erika membaca novelnya dalam pelukan Arvaz. Sementara pria itu sedang sibuk dengan ponselnya, sedang memeriksa pekerjaannya. Erika menatap Arvaz sesekali, mencari waktu yang pas membicarakan idenya yang ingin bekerja.


Saat ia ingin membuka bibirnya, tiba-tiba deringan ponsel Arvaz berbunyi. Itu adalah panggilan dari Mina. Erika melihatnya sekilas dan pura-pura kembali membaca.

__ADS_1


“Ada apa?”


“Arvaz, ibu maksudku. Ibumu berkata dia tidak ingin hidup lagi. Dia ingin bunuh diri.”


__ADS_2