By Your Side

By Your Side
Dua puluh Delapan


__ADS_3

Takdir seakan sedang berpihak pada Darel. Pria itu masih diberi kesempatan hidup untuk kedua kalinya. Ya, meskipun Darel mengalami cedera namun dibandingkan Erika, pria itu tidak ada apa-apanya.


Darel hanya mengalami keseleo dan beberapa luka jahit. Sementara Erika, lukanya cukup serius sampai ia tidak sadar. Wanita itu seakan mati suri. Hanya bisa berbaring tanpa bisa menggerakkan semua anggota tubuhnya.


“Dokter mengatakan bahwa dia mengalami koka akibat cedera di kepalanya. Dokter tidak bisa mengatakan kapan dia akan sadar.”


Darel menatap serius Erika yang sedang memejamkan mata. Pria itu tampak sedang berpikir keras.


“Beritahu segera Arvaz tentang kondisi Erika. Kirimkan fotonya dan minta dia untuk membawa uang lima ratus juta. Katakan padanya, jika dia tidak membawa uang itu, maka Erika yang akan menerima hukumannya.”


“Baik.”


“Aku hampir menyerahkan nyawaku pada Arvaz tapi itu sebanding sekarang saat aku menerima sejumlah uang banyak darinya. Arvas pasti sangat membunuhku sekarang. Tapi sayang, Erika saat ini berada di tanganku. Kita akan mendapatkan uang besar.” Memikirkan itu semua Darel tersenyum senang.


“Tuan memang sangat pintar.”


“Begitu dia sadar nanti, penjagaan harus ketat.”


“Baik, Tuan.”


Setelah pengawal itu pergi, Darel langsung berjalan menuju ke arah jendela. Ia mengamati langit malam di sana. Darel tenggelam dalam pikirannya. Ia berharap bahwa Arvaz akan segera tiba dengan membawa sejumlah uang besar begitu dia menerima pesan yang dia kirim padanya.


Namun keesokan harinya rupanya tidak seperti yang ia bayangkan. Rupanya pengawal Arvaz sudah mengepungnya. Kekuatan Darel begitu lemah dengan sejumlah pengawal yang sedikit jika dibanding kekuatan Arvaz dengan sejumlah pengawal yang banyak. Dari segi jumlah jelas Darel kalah.


Pengawal Arvaz tidak bisa masuk begitu pula dengan pengawal Darel yang tidak bisa keluar. Arvaz mengeluarkan peringatan, dan mengancam akan menghancurkan markas Darel jika menolak menyerahkan Erika.


Darel awalnya takut namun otak liciknya bekerja keras untuk menemukan perlawanan. Darel menginstruksikan anak buahnya untuk memberitahu Arvaz bahwa dia tidak takut dikepung dan dihancurkan dari luar karena Erika masih bersamanya. Paling tidak, Erika akan mati bersamanya.


Mendengar itu, Arvaz tidak punya pilihan selain menunda serangan. Kedua belah pihak terus bersikap waspada sampai berhari-hari. Pihak Darel tidak bisa kemana-mana sehingga persedian makanan mereka hampir habis.


Darel langsung mengambil ponselnya dan menelepon Arvaz. Dia kesal dengan Arvaz yang bersikap sombong.


“Berikan aku uangnya jika kamu tidak ingin mayat istrimu ditemukan di depan perusahaanmu.”


“Berengsek! Jangan coba-coba menyentuh Erika.”


“Kalau begitu kirim uang segera.”


“Apakah kamu akan memerasku dengan meminta banyak uang ke depannya setelah aku memberimu uang lima ratus juta.”


“Hahahaha aku belum memikirkannya. Kamu hanya mempunyai waktu setengah hari. Jangan harap aku takut karena kamu sudah mengepung rumahku. Aku mempunyai banyak lorong rahasia di sini.”


Arvaz menggertakkan giginya dengan marah. “Benarkah?”

__ADS_1


“Tentu saja,” ujar Darel dan langsung mematikan panggilan tersebut.


“Tuan, wanita itu sudah sadar.”


Darel langsung bergegas ke kamar rahasia. Pria itu lantas mendorong pintu ruangan itu. Ia menatapnya tidak percaya. Wanita sanderanya, kini sudah bangun dari tidur panjangnya.


“Kamu akhirnya bangun setelah tidur panjangmu?”


“Darel, apa yang kamu inginkan?” Erika tersentak marah.


Darel tersenyum miring, “Arvaz akan memberi uang Lima ratus juta segera. Lihatlah, betapa berharganya dirimu, pria lain tidak akan menyerahkan begitu banyak uang untuk seorang wanita. Aku sangat menginginkan uang.”


Darel seolah menggoda Erika dengan mengedipkan mata sebelum pria itu pergi. Erika hanya bisa menatap kepergian Darel tanpa bisa melakukan apa-apa. Ia sangat membenci Darel. Ia harus mencari cara untuk melarikan diri.


Namun mengingat situasi seperti ini, Darel pasti telah memperketat keamanan di sekitarnya. Melarikan diri hampir sebuah gagasan yang mustahil dilakukan.


...…...


Nyonya Bennedict mendengar bahwa Erika sedang mengalami kecelakaan meskipun ia tidak tahu pastinya namun mereka terlihat senang. Kebencian Nyonya Bennedict pada Erika tidak akan pernah hilang meskipun dalam hitungan ribuan tahun.


“Arvaz.”


Nyonya Bennedict muncul dari balik pintu dengan tas mahal di tangannya. Nyonya Bennedict terlihat menghela napas panjang begitu melihat penampilan putranya yang sediki acak-acakkan. Terlihat sekali beberapa hari ini, Arvaz jarang tidur.


Nyonya Bennedict duduk di sofa dengan tenang. “Sudah begitu lama. Berapa lama lagi kamu akan terus seperti ini?”


“Apa?”


“Aku mendengar Erika kecelakaan.”


“Jadi bagaimana jika ibu tahu?” Arvaz menjawab acuh tak acuh.


Nyonya Bennedict menghela napas tanpa daya dan upaya. Ia melihat putranya sekarang seakan kembali teringat pada masa lalu Arvaz terpuruk. Nyonya Bennedict sempat berpikir apakah dia harus menyerah.


“Ibu, aku tidak mau kehilangannya untuk kedua kalinya.” Tampak terdengar suara Arvaz yang teguncang.


Nyonya Bennedict cukup tercengang. Tidak ada yang bisa dia katakan untuk menghibur putranya karena ia sendiri sibuk dengan pikirannya.


“Aku tidak menyangka bahwa menikahi Erika, membuatmu bahagia. Ibu sedikit menyesal sekarang. Jika kamu benar-benar menderita, aku tidak akan memaksamu menikahi Mina.” Terlihat bahwa Nyonya Bennedict menitikkan air mata. “Melihatmu seperti ini, apa yang bisa ibu lakukan. Ibu hanya bisa menyerah dan akan merestui pernikahanmu dengan Erika.”


“Meskipun sedikit terlambat, aku berterima kasih.”


...…...

__ADS_1


Keesokan harinya, Erika mencoba mencari cara untuk keluar.


“Nyonya Muda, kamu bisa mendengarkanku?” Sebuah suara datang dari balkon.


“Kamu siapa?”


“Aku adalah agen yang ditugaskan untuk menyelamatkan Nyonya Muda.”


“Kamu suruhan Arvaz?” Tanya Erika.


“Ya. Nyonya Muda, ada jalan rahasia keluar dari kamar itu. Pintunya ada dibalik dinding sebelah timur. Gunakan tanganmu untuk meraskannya.”


Erika memandangi dinding yang dimaksud agen tersebut. Tangannya terulur untuk merasakan ada hal yang aneh. Erika lantas mengetuk dan menyadari suara nyaring dari tembok biasanya. Ia dengan pelan mendorong tembok tersebut dan celah sempit muncul.


Ia sangat gembira dan mendorongnya terbuka lebar. Ia mengikuti jalur lorong tersebut dan menemukan seseorang di sana.


“Nyonya muda.”


“Kamu agen yang ditugaskan untuk membantuku.”


“Ya, namaku Mei. Tuan Muda menginstruksikan dengan jelas bahwa kita bisa keluar. Pengawal sudah menunggu di ujung lorong.”


Erika mengangguk patuh dan mengikuti Mei.


Sementara itu, Darel sangat marah begitu mengetahui bahwa Erika berhasil kabur. Darel memerintahkan pengawalnya untuk memeriksa kamera pengawas. Tidak ada yang luput dari penglihatannya.


“Tuan mereka menuju ke barat. Mereka sudah masuk ke lorong.”


“Baik, kita akan mengambil lorong lain untuk menangkapnya. Banyak lorong rahasia di sana. Arvaz tidak akan mungkin mampu menemukan semua lorong.”


Darel lantas membuka sebuah laci dan mengambi tombol bom.


“Tuan apakah kamu berencana untuk meledakkannya?”


Senyum mengerikan langsung muncul di wajah Darel. Darel dan pengawal langsung bergegas. Sementara itu ditempat lain, Arvaz dan Nick menunggu dengan cemas. Mereka tidak menyadari bahwa salah satu kaki Erika tertembak, jadi ia kesulitan untuk berjalan.


Setelah berjalan cukup jauh, Erika sudah tidak kuat lagi. Mei tidak bisa untuk tidak membantu.


“Kamu pasti kesulitan, beritahu Arvaz untuk mencari bantuan.”


“Tapi Nyonya Muda, kita tidak punya banyak waktu.”


Mei berlari menuju pintu keluar dan segera memberitahu Arvaz. Namun detik berikutnya terdengar suara ledakan dari dalam lorong. Lorong rahasia segera runtuh, rata dengan tanah.

__ADS_1


Arvaz tercengang dan terkejut tak bisa berkata. Ia langsung linglung dan tak tahu arah.


__ADS_2