By Your Side

By Your Side
Dua puluh Sembilan


__ADS_3

Arvaz dan para pengawalnya berusaha mencari jejak Erika, namun hasilnya nihil. Arvaz benar-benar tidak bisa menemukan jasad Erika. Arvaz benar-benar diambang kehancuran mentalnya. Ia sangat teramat menderita. Bagaimana tidak? istrinya tidak ditemukan.


Pikiran Arvaz menjadi kalut, tubuhnya menunduk di depan kepingan bangunan yang hancur. Air matanya keluar dari pelupuk matanya. Rasa kesedihannya tidak bisa lagi dibendung. Arvaz benar-benar sedih.



Arvaz berjalan dengan langkah yang mantap. Tangannya terkepal kuat. Alisnya senantiasa bertautan dan giginya bergemelutuk karena marah. Ia membuka sebuah ruangan temaram yang hanya lampu pijar warna kuning sebagai sumber cahaya penerangan.


Darel yang tertunduk di kursi dengan tangan dan kakinya terikat terkejut begitu melihat Arvaz. Darel memiliki firasat yang buruk saat Arvaz mendekat semakin dekat ke arahnya. Matanya membelalak ketika melihat tangan Arvaz memegang sebuah pisau.


“Darel, aku akan membuatmu membayar untuk apa yang telah kamu lakukan,” ujar Arvaz dengan tatapan penuh ancaman.


Segera Arvaz menikam di daerah bahu sebelah kanan. Darel tidak menduga bahwa Aravz akan menikamnya di daerah yang tidak begitu fatal. Darel meringis kesakitan. Darel tidak berharap bahwa ia akan bermain-main dengannya.


Arvaz terus saja menikam Darel di daerah perut, paha, dan juga betis. Darel begitu ketakutan dan kesakitan. Ini lebih menyakitkan dari pada ditambah langsung mati.


Arvaz menikam di bagian titik tubuh Darel sebelum ia menancapkan pisaunya di leher Darel. Nick menyaksikan dengan matanya sendiri. Keterkejutannya merenggut akal sehatnya. Pria itu hanya diam berdiri di tempatnya.


Menatap mayat Darel yang tidak bernyawa, Arvaz tidak merasakan kesedihannya berkurang. Kemarahannya tidak bisa ditenangkan meskipun ia sudah membunuh sosok yang menjadi sumber kemarahannya.


Tidak ada seorang pun yang mengerti apa yang ia alami. Tidak ada seorang pun yang tahu berapa banyak penderitaan dan siksaan yang Arvaz alami. Bahkan tidak ada yang tahu betapa ia ingin bunuh diri begitu ia tidak mendapatkan Erika di tempat kejadian.


Erika seakan ditelan bumi.


Arvaz kemudian berbalik untuk pergi menuju ke rumahnya. Sepanjang perjalanan Arvaz hanya diam seperti mayat hidup tanpa jiwa. Begitu ia sampai di rumahnya. Ia mendapatkan panggilan dari ibunya.


Sebelumnya Arvaz sesudah memberitahukan kejadian yang dialami Erika beberapa waktu yang lalu.


“Arvaz apakah ada berita tentang Erika?”


“Bu, Erika sudah tidak ada.”


“Maksudmu?”


“Dia tidak ditemukan di bawah reruntuhan.”


“Kamu ada di mana?”


“Rumah lama.”


“Ibu akan ke sana.”


Arvaz menyelipkan ponselnya di sakunya setelah menutup panggilannya. Wajahnya pucat pasi tanpa nyawa.



Erika meringis kesakitan dan mencoba untuk membuka matanya. Erika merasakan tubuhnya begitu kaku dan sakit. Ia menyentuh kakinya yang terluka. Ia berusaha menyingkirkan bongkahan reruntuhan yang ukurannya sedang yang menekan bahu kanannya.


Ia berusaha untuk mengubah posisinya menjadi duduk setelah itu ia mengedarkan pandangannya dan menyadari bahwa ia berada di sebuah Goa. Ia tidak tahu apa-apa dan tidak tahu dimana ia berada karena semua gelap gulita.


Erika mengumpulkan energinya sambil mengatur napasnya yang entah mengapa terasa berat dan engap. Setelah beberapa menit, ia berjalan dengan tertarih sambil menyentuh dinding Goa. Erika bisa merasakan darahnya keluar merembes setelah dibalut kain dari pakaiannya sendiri.


Karena suhu di Goa sangat lembab dan juga rendah. Erika begitu mengigil kedinginan. Ia tidak bisa melihat apa-apa. Setelah berjalan cukup jauh, Erika istirahat. Ia memikirkan kemungkinan yang terjadi.


“Apakah Arvaz beranggapan bahwa aku sudah mati? Apakah dia berusaha untuk mencariku?”

__ADS_1


Erika memeluk dirinya sendiri sambil merenung.


“Jika dia menyerah untuk mencariku, aku akan menendang pantatnya. Jika dia beranggapan aku sudah mati, aku akan mencakar punggungnya.”


Lalu helaan napas panjang terdengar di sana.


“Aku lelah. Aku harap, besok aku bisa melihat langit cerah di depanku.”



Demi bisa keluar dari sana, Erika melanjutkan jalannya meskipun dengan gerutuan yang terus keluar dari mulutnya. Setelah berusaha keras, perutnya terasa sakit karena kelaparan. Ia kelaparan dan semakin berjalan tertatih.


Akhirnya upayanya dengan tetesan keringat dan tetesan darah, ia berhasil melihat sorot cahaya kecil dari balik lorong buntu yang terlihat dari retakan. Dengan terengah-tengah, Erika masih bisa menampilkan senyum manis di wajah mungilnya.


Ia memukul-mukul retakan itu sampai menghasilkan lubang yang lebih besar. Ia juga berteriak meminta bantuan, berharap ada seseroang yang menolongnya. Dan untungnya ada seseroang yang mendengar suaranya.


“Tolong…..tolong….”


“Hei, nak…bagaimana bisa kamu terjebak di dalam sana.”


Terlihat seorang pria paru baya yang sedang berusaha menolongnya. Dan untungnya tidak butuh berapa lama tumpukan batu yang retak-retak itu sudah hancur sebagian sehingga Erika bisa keluar.


Senyum cerah langsung menghiasi wajahnya tatkala hidungnya menghidu udara bebas.


Erika tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih dan pria paru baya itu juga terlihat senang bisa membantu namun wajahnya langsung khawatir setelah melihat luka di salah satu kaki Erika.


Pria paru baya itu, menawarinya untuk mampir ke rumahnya. Untuk membersihkan diri sekaligus mengobati luka yang di derita Erika.


Erika sangat bersyukur bisa merasakan segarnya air yang mengguyur tubuhnya. Badannya yang terasa lengket menjadi segar. Ia juga berkeramas tentu saja dengan kesusahan karena ia harus menjaga kakinya yang terluka agar tidak basah.


“Erika makan dulu.”


“Terima kasih.”


Erika sangat bersyukur bertemu mereka yang luar biasa baiknya.


Erika sebenarnya ingin menghubungi Arvaz namun mereka tidak mempunyai ponsel yang mereka punya adalah telepon rumah, namun sudah lama jaringan mereka terputus. Karena itu, Erika tidak punya pilihan selain tidur untuk memulihkan kesehatannya dan menunggu sampai hari berikutnya untuk pulang ke rumahnya dan bertemu suaminya.


Keesokan harinya, Erika terbangun dan melihat seorang pemuda.


“Zay, apa yang kamu lihat?”


“Oh tidak.”


Wanita paru baya itu langsung menoleh ke arah pandang Zayyan. Lalu ia tersenyum.


“Kamu sudah bangun Erika?”


“Ya,” ucap Erika.


“Erika, dia adalah cucuku. Namanya Zayyan.”


“Hai, namaku Erika.”


“Zayyan. Panggil saja aku, Zay.”

__ADS_1


“Erika, Zay akan mengantarkanmu ke kota untuk bertemu dengan suamimu.”


“Suami?”


“Ya, aku sudah menikah.”


“Kalau aku boleh tahu siapa nama suamimu?”


“Arvaz? Arvaz Bennedict.”


Zayyan hanya mengangguk dan terlihat kecewa sekilas.


Butuh setengah hari untuk bisa sampai di kota dan hari sudah mulai sore saat Erika dan Zayyan sampai di kota. Erika menyuruh Zayyan membawanya ke gedung kantor Bennedict corporation alih-alih rumahnya, karena Erika tahu. Arvaz pasti masih bekerja.


Erika mengunakan masker dan topi saat memasuki gedung pencakar langit itu.


“Apakah ini tempatnya?” Tanya Zayyan.


“Ya.”


Erika dan Zayyan pergi ke resepsionis.


“Apakah presdirmu ada di dalam?”


“Maaf nona tapi presdir ada sesuatu untuk dihadiri hari ini jadi beliau tidak masuk hari ini.”


“Apakah kamu tahu sesuatu apa itu? Dan dimana?”


“Maaf saya tidak tahu detailnya.”


“Bisakah aku meminjam teleponnya,” ucap Erika.


“Tentu saja.”


Erika langsung menghubungi nomor Arvaz namun yang di dengar adalah suara operator yang mengatakan bahwa nomor saat ini tidak tersedia.


Erika langsung berbalik dengan lesu.


“Selanjutnya apa?”


Erika kembali berbalik lagi dan kembali menelepon nomor rumahnya.


“Halo,”


“Sandra, ini aku.”


“Nyonya Muda, apakah ini Nyonya Muda?”


“Ya.”


“Nyonya Muda, anda dimana? Aku berada di perusahaan Arvaz namun dia tidak ada. Apakah dia ada di rumah.”


“Nyonya Muda sebaiknya segera kembali.”


“Ada apa?”

__ADS_1


__ADS_2