By Your Side

By Your Side
Tiga Puluh Dua


__ADS_3

Nick menyipitkan matanya. Ia melepaskan rengkuhannya dan ia tertegun seketika, ketika matanya jatuh pada perut Erika yang menonjol. Pria itu terdiam dalam beberapa detik sebelum mengajukan pertanyaan.


“Perutmu?”


“Kamu akan segera menjadi paman,” ucap Erika dengan senyum manis di wajah mungilnya.


Nick kembali kehilangan kata-katanya. Ia kembali terkejut. Namun detik berikutnya ekspresinya menjadi senyum cerah yang menawan.


“Ini sangat mengejutkan tapi bagiku yang lebih mengejutkan kamu kembali dalam kondisi baik-baik saja. Jadi apa yang sebenarnya terjadi? Kamu tahu, aku dan Arvaz mengerahkan beberapa orang untuk mencarimu tapi kamu tidak ditemukan bahkan polisi menyatakan bahwa kamu sudah mati.”


“Bagaimana kalian bisa menganggap aku sudah mati. Jasadku saja tidak ditemukan.”


“Ya, maafkan aku. Jadi bisa kamu jelaskan padaku sekarang? Kamu dari mana saja beberapa bulan ini?”


“Jadi bisakah kamu mengantarkan aku pulang. Aku harus bertemu dengan Arvaz tapi sebelumnya aku butuh makan dan minum.”


“Katakan padaku dulu!”


“Aku harus pulang.”


Nick pun mengantarkan Erika pulang, namun rumah itu kosong. Ya, Arvaz sudah tidak tinggal di sana lagi. Arvaz tinggal di apartemen lamanya.


Erika melakangkah kaki memasuki rumah. Rumah tampak sepi meski pintu tidak terkunci. Erika menebarkan pandangannya. Interior rumahnya masih sama seperti dulu. Karena memang Erika yang mendesainnya.


Erika menebar pandangannya. Kemudian ia mengerutkan kening ketika ia tidak menemukan Arvaz di sana. Rumah itu tampak sepi, padahal beberapa bulan yang lalu masih ada Sandra.


“Apakah Arvaz belum pulang?” Tanya Erika.


“Itu… beberapa hari ini ia tinggal di apartemen lama.”


“Apartemen lama? Lalu kenapa kamu membawaku ke sini. Harusnya kamu membawaku langsung ke apartemen lama tempat Arvaz berada.”


“Maafkan aku.”


“Lupakan, aku akan membersihkan diri dulu. Setelah makan malam, tolong bawa aku ke apartemen lama.”


“Baiklah.”


Setelah makan malam, seperti janjinya. Nick mengantarkan Erika ke aparteman lama. Sepanjang perjalanan Erika merasa gugup. Entah kenapa ia merasa khawatir dengan reaksi Arvaz yang akan ditampilkan.


Erika harus menyiapkan diri jika pria itu langsung berlari menghampiri dan marah padanya. Ah, apakah Arvaz akan marah.

__ADS_1


Setelah sampai, Nick tidak bergerak sama sekali dari kursi kemudinya. Tangannya mengeratkan padas setir mobil.


“Kamu tidak akan turun?” Tanya Erika.


“Tidak.”


Erika lantas hendak membuka pintu mobil namun setelah pintu terbuka hanya sedikit, ia menutupnya kembali.


“Kenapa? Kamu tidak akan turun.”


“Aku ingin membuatnya terkejut. Tolong telepon dia, bahwa kamu ingin bertemu dengannya.”


Nick menelan ludahnya dengan susah payah. Kemudian ia mencoba untuk menatap wajah Erika. Ia dalam keadaan bimbang, antara ingin memberitahukan apa yang terjadi atau hanya diam pura-pura tidak tahu.


“Erika…”


“Ada apa?”


“Ada yang ingin aku bicarakan padamu. Sebenarnya….”


“Bisakah itu nanti, aku ingin bertemu dengan Arvaz sekarang.”


“Ada seorang wanita yang terlihat persis denganmu dan sekarang bersama Arvaz. Dia Mina.” Nick mencoba menjelaskan.


“Mina menjalani operasi plastik agar mirip denganmu. Wanita itu ingin menggantikan posisimu.”


“Menggantikanku? Selain wajahnya yang mirip denganku. Akankah dia bisa menggantikanku dalam aspek lain?”


“Aku yakini, begitu Arvaz melihatmu dia akan menyingkirkan Mina.”


Kegembiraannya dan keinginannya untuk bertemu dengan Arvaz kini sudah sirna tergantikan rasa kecewa yang begitu mendalam. Ia tidak bisa untuk tidak merasakan marah dan kesal begitu mendengar bahwa Mina telah menyerupai wajahnya dan menikmati kehidupan bersama Arvaz.


Erika menarik kesimpulan, bahwa tidak masalah itu Mina atau bukan yang penting ia mirip dengannya dan Arvaz ingin orang lain menggantikan Erika.


“Nick, bisakah kamu membawaku pulang. Maksudku ke rumahku sendiri.”


“Kenapa? Erika, setelah kamu menemui Arvaz. Dia akan memilihmu,” ucap Nick mencoba membujuk Erika.


“Kenapa aku harus membuatnya memilihku? Dia sudah memiliki penggantiku dengan Mina sekarang. Aku kira dia akan merasa kehilanganmu dan setidaknya ia merasa sedih tapi sepertinya dia bisa dnegan mudah menggantikanku dengan wanita yang memilih jalur operasi agar mirip denganku. Terlebih wanita itu adalah Mina.” Erika mengungkapkan kekecewaannya. Wanita itu bersandar di sandaran kursi dan menutup matanya.


Nick tidak berani terlalu ikut campur sehingga ia hanya bisa menyalakan mesin mobil dan menuruti ucapan Erika.

__ADS_1


Setibanya di rumah Erika, wanita itu langsung keluar mobil. “Jangan memberitahu Arvaz kalau aku masih hidup.”


“Tapi—“


“Aku terbiasa hidup sendiri.”


Erika langsung menuju rumahnya yang ia beli sendiri dnegan uangnya sendiri. Ia langsung pergi ke kamarnya dan tubuhnya langsung ia jatuhkan ke atas ranjang. Ia berbaring di sana sambil menatap langit-langit.


“Haruskah aku kembali keluar kota. Aku akan baik-baik saja dan dia akan baik-baik saja. Bukankah sudah ada Mina yang sekarang mirip denganku. Aku sudah mempunyai rencana.”


Air mata mulai mengalir deras dari matanya. Hatinya terasa hancur. Tangannya terulur untu mengelus perutnya.


“Aku akan merawatmu.”


...…....


“Ayo kita membeli rumah sebelum kita menikah. Di rumah mana kamu ingin tinggal?”


“Aku tidak tahu, tapi aku sangat ingin tinggal di Vila dekat dengan perumahan Arvaz dan juga Erika.”


Nick mengangguk. “Kebetulan ada vila yang kosong di seberang mereka.”


“Itu luar biasa,” seru Yaya.


...…...


Erika menerima kabar bahwa Nick akan segera menikah. Nick juga menyebutkan bahwa mereka akan akan pindah ke vila di seberang milik Arvaz.


Erika agak terkejut namun ia memberikan ucapan selamat dan berjanji akan menghadiri pernikahan mereka. Namun Nick mengatakan bahwa mereka tidak akan mengadakan pesta pernikahan sekarang karena beberapa faktor internal keluarga.


...…...


Di halaman Mansionnya Erika sedang menikmati Taman bunga yang indah sambil menyeruput teh dan juga kue kering di mejanya. Erika juga membaca buku tentang kehamilan. Angin sepoi-sepoi membelai rambutnya yang mulai panjang.


Ia menutup bukunya dan beralih mengambil ponselnya. Saat ponselnya menyala ia memandangi wallpaper di ponselnya yang merupakan foto Arvaz. Hatinya dipenuhi dengan kesedihan dan kerinduan yang besar saat melihatnya.


Mulai sekarang dan seterusnyam, ia akan tinggal sendirian bersama anaknya. Untuk menjaga anak ini, ia harus bolak-balik ke rumah sakit untuk mendapatkan suntikan obat.


Yang Erika inginkan adalah menjaga kehamilannya sampai anaknya lahir dengan selamat dan ia akan membesarkannya dengan kasih sayang penuh cinta. Ia akan menjalani hidupnya dengan baik bersama anaknya.


Lalu saat hidup terus berjalan dan di kemudian hari ia melihat Arvaz. Tentu saja Erika akan menyapanya. Karena pada kenyataannya, Erika memiliki banyak hal untuk dikatakan padanya. Namun ia berusaha menyimpan semuanya untuk dirinya sendiri dan menahan keinginannya untuk mengatakan padanya di depan matanya.

__ADS_1


“Arvaz, tahukah kamu? Aku rela menjalani semua ini bersamamu dan berani melewati badai bersama tapi aku tidak bisa mentolerir Mina menggantikanku. Kamu bisa dengan mudah menggantikanku dengan wanita lain yang mirip denganku. Aku akan terus hidup dengan baik dengan anakku meskipun tanpa seorang pria.”


__ADS_2