By Your Side

By Your Side
Dua puluh dua


__ADS_3

Erika langsung mengunci diri di kamarnya. Ia duduk di depan meja rias, melihat pantulan dirinya di depan cermin. Ia mengambil bedak dan memoleskannya di wajah mungilnya. Ia juga memakai riasan mata dan terakhir memoleskan lipstik di bibir mungilnya.


Ia tersenyum di sana dan segera mengambil tasnya. Kalau Arvaz berharap ia akan duduk di rumah dan mendengarkan caci makian dari ibunya yang datang tiba-tiba, maka Arvaz sungguh tidak paham akan dirinya.


Erika mengepalkan jari-jemarinya ketika mengingat kata-katanya yang penuh arogansi.


Sandra yang mengetahui Erika akan pergi langsung mencegatnya.


“Apakah Nyonya akan pergi?”


“Ya,” jawab Erika singkat.


“Apakah Nyonya Muda sudah izin ke Tuan Muda?”


“Sudah,” jelas Erika berbohong.


“Ke mana Nyonya akan pergi?” Tanya Sandra lagi karena ia merasa khawatir pada Erika.


“Tidak tahu, jalan-jalan saja untuk mencari angin.”


Erika lantas pergi. Sandra sudah memberitahu untuk memakai sopir namun Erika menolaknya. Pada akhirnya pelayan itu hanya bisa pasrah dan berdoa semoga Nyonyanya kembali dengan selamat.


Erika menggunakan jasa taksi untuk mengantarkannya ke pusat perbelanjaan terkenal yang ada di sana. Wanita itu mengitari beberapa toko baju, tas dan sepatu. Jika ia tertarik dan suka tanpa ragu Erika akan membelinya. Tentu saja ia memakai kartu yang diberikan Arvaz padanya.


Tanpa mengkhatirkan harganya, Erika akan langsung membungkus jika ia suka. Tanpa sadar ia sudah banyak membeli sepatu, tas dan juga baju. Namun Erika masih ingin berkeliling lagi.


“Nona apakah kamu ingin membeli hadiah untuk pacarmu?” Tanya seorang pelayan. Pelayan itu buru-buru mengajak Erika untuk masuk ke ruang VIP.


Erika mengikuti meraka dan matanya langsung bersinar melihat setelan jas yang berjejer rapi.


“Aku membeli untuk hadiah suamiku.”


Pelayan itu mengangguk dan memilihkan beberapa pilihan untuk Erika.


Di tempat lain, Arvaz sedang mengecek beberapa berkas. Saat ponselnya menyala ia melihat sebuah notifikasi di pop up ponselnya. Ia buru-buru mengambil ponsel untuk melihatnya. Itu adalah sebuah total biaya pengeluaran siang ini.


Alisnya sedikit merajut saat ia melihat pengeluaran yang tidak normal. Arvaz langsung menyuruh asistennya untuk menaikkan target penjualan sebesar 2%.


Saat malam tiba, Sandra khawatir karena Arvaz sudah duduk di ruang tamu sejak ia pulang. Namun sang istri belum juga kelihatan batang hidungnya. Sandra ingin menelepon Erika tapi saat ia akan menelepon kebetulan sebuah pintu terbuka dan menampilkan sosok Erika dengan barang-barang belanjaannya.


Begitu ia masuk ke dalam rumah, Erika langsung meninggalkan barang-barangnya di lantai dan menggosok lengannya yang sakit saat ia berbaring di sofa dengan lelah dan malas. Erika merasakan seseorang sepertinya sedang menatapnya.


Erika berbalik dan menemukan Arvaz duduk di sana dengan ekspresi dingin di depannya.


“Sejak kapan pria itu berada di sana?”


Erika langsung segera duduk dan merapikan rambut serta bajunya. “Kamu sudah kembali? Kapan?”

__ADS_1


Tidak ada jawaban dari Arvaz. Pria itu tetap dingin menatapnya.


“Aku baru saja keluar dan tebak apa yang aku dapatkan? Aku mempunyai hadiah untukmu.”


Erika menyembunyikan sebagian barang belanjaannya. Seperti tas dan sepatu miliknya.


“Tada….aku membelikanmu setelan jas dan kemeja. Aku rasa ini sangat cocok denganmu.”


Erika langsung pergi ke depan Arvaz dan memperlihatkan baju yang baru saja ia beli. Erika menyerahkan baju itu dengan tersenyum dan menampilkan wajah imut. Arvaz yang tadinya ingin marah langsung menghela napas pasrah.


Erika selalu bisa menguasai dirinya. Kembali menghela napas kembali, Arvaz mengubah sikapnya dan mengubah sikap serigalanya menjadi seekor kucing yang jinak.


“Kemari,” titah Aravz.


Erika menatapnya lekat-lekat, jelas di sana Erika merasa curiga atas sikap Arvaz.


...…...


Keesokan paginya, sepeninggal Arvaz, Erika kembali keluar rumah untuk jalan-jalan. Semenjak ibu nya Arvaz sering datang tak diundang, Erika menjadi malas berdiam diri rumah. Ia lebih menyukai menghabiskan waktu di perpustakaan, cafe atau pun taman sampai ia lupa waktu.


Matahari sudah tenggelam dari dua jam yang lalu dan Erika masih terjebak di jalan yang macet karena sebuah pohon tumbang yang menutupi sebagian jalan. Setelah bersama-lama di jalanan pada pukul delapan malam, akhirnya Erika tiba di rumahnya.


“Kenapa kamu baru pulang?” Arvaz bertanya dengan penuh kekesalan. Lagi-lagi Erika mengabaikan perintahnya untuk tidak pulang malam-malam.


“Aku pergi ke banyak tempat dan melihat ada cafe yang baru buka. Suasananya membuatku betah bersama-lama di sana.”


“Kamu pasti sangat menikmati sampai lupa waktu.” Sarkas Arvaz.


“Sudah!” Arvaz merajuk dan Erika tidak ingin repot-repot membujuknya.


Tiba-tiba ponselnya berdering rupanya itu adalah panggilan dari Nick.


“Hai, Nick.”


Arvaz terus memelototi Erika yang tengah asyik berbincang-bincang dengan Nick dan tertawa dengan riang. Ia melototi Erika dengan ekspresi hendak menghanjar Nick hingga babak belur. Arvaz tidak mengerti memangnya apa yang menarik dari pembicaraan mereka sampai Erika tertawa seriang itu.


Arvaz baru saja ingin menyuruh Erika segera memutuskan telepon itu, tapi rupanya Erika menyudahi panggilan tersebut.


Aravz hendak membuka mulutnya untuk melanjutkan pembicaraan namun lagi-lagi ponsel Erika kembali berdering.


Erika kembali terlarut dalam pembicaraan dengan seseorang yang Arvaz tidak tahu siapa namanya.


“Sial! Sudah lima menit sejak dia sampai di rumah. Jadi bukankah seharusnya sekarang dia menemaniku alih-alih sibuk dengan ponselnya.”


Arvaz langsung merebut ponsel Erika.


“Halo, ini suami Erika. Erika sedang sibuk dan tidak bisa menerima panggilan!”

__ADS_1


Arvaz langsung mematikan ponsel Erika dengan kesal. Sejujurnya Arvaz ingin membanting ponsel Erika sejak tadi, namun ia urungkan.


“Apa kamu tidak berpikir bahwa ini keterlaluan?”


“Apanya?” Tanya Arvaz.


“Sudahlah, aku capek. Aku ingin istirahat.”


“Tetap diam di tempatmu,” ucap Arvaz.


Mungkin Erika akan menuruti perkataan Arvaz jika itu dulu namun sekarang ia tidak ingin repot-repot mendengarkan perintah pria menyebalkan itu.


Erika langsung melepaskan jaketnya dan merebahkan tubuhnya di atas kasurnya yang empuk. Tak berapa lama Arvaz langsung menyusulnya,


“Kenapa kamu akhir-akhir ini selalu keluar rumah?” Tanya Arvaz tiba-tiba.


“Hanya ingin saja.”


“Tetap berada di dalam rumah. Aku tidak suka kamu keluar-keluar rumah sampai lupa waktu.”


“Jika aku berada di rumah terus mungkin aku akan gila.”


Erika merujuk pada kunjungan tak terduga ibu Arvaz.


“Besok aku libur, aku akan mengajakmu ke suatu tempat.”


“Ke mana?”


“Ke tempat yang tidak akan membuatmu menjadi gila.”


Keesokan paginya, berdiri dan meraih tangan Erika. Arvaz membimbing agar Erika masuk ke dalam mobilnya. Perjalanannya cukup menyita waktu namun Erika tak pernah bosan karena pemandangan yang disuguhkan sepanjang jalan.


Erika mengangumi sebuah gerbang tinggi yang kokoh berada di depannya. Gerbang itu perlahan membuka dan mobil Arvaz melewatinya.


Erika turun dari mobil dan melihat penampakan rumah yang benar-benar besar.


“Ini rumah siapa?” Tanya Erika dengan penasaran.


“Masuklah.”


Erika lantas memasuki ruang tamu dan ia terpana dengan interior di sana, yang begitu mewah. Foto dirinya dan juga Arvaz tersebar di dinding-dinding ruang tamu.


Ada ruang tamu yang luas, dapur yang modern, ruang belajar lengkap dengan perpustakaan, kamar mandi yang canggih, tempat Gym, kamar anak-anak dan lain-lain. Rumah itu lengkap dengan segala apa yang mereka butuhkan.


Erika sungguh kagum dengan tempat ini. Perasaannya sangat tidak bisa dijelaskan.


“Apakah kamu menyukai rumah baru kita?”

__ADS_1


“Ya,” ucap Erika mengangguk.


“Dengan ini, ibuku tidak bisa lagi datang ke sini. Aku pastikan bahwa ibuku tidak tahu tempat ini sehingga ia tidak akan merendahkanmu lagi.”


__ADS_2