
“Tarik napas cepat, pendek-pendek. Ya begitu bagus.”
“Aku lelah,” ucap Erika. Dahinya penuh dengan keringat.
“Aku tahu. Ketika kami merasa sakit, doronglah. Ya, begitu. Lebih keras lagi.”
Erika menggertakkan giginya ketika rasa sakit teramat sangat menyengat ya. Erika sedang berjuang antara hidup dan matinya. Ketika rasa sakit itu mereda, dicobanya untuk membuat tubuhnya lebih santai. Lalu tiba-tiba rasa sakit itu kembali muncul. Ia mencoba mendorong sekuat tenaga yang ia bisa.
“Dorong sekali lagi. Bagus!” Seru sang dokter ketika seorang bayi meluncur ke tangannya yang telah menyambut.
Suara tangisan bayi memenuhi ruangan itu.
“Laki-laki. Tampan sekali.”
“Tangisannya sangat kuat,” kata si perawat dengan wajah berseri-seri pada Erika.
Dibiarkannya perasaan bahagia menyusupi diri Erika. “Aku ingin melihatnya.”
“Dia sempurna,” sang dokter menyakinkannya sambil mengangkat bayi laki-laki yang menangis keras itu, untuk diperlihatkan pada ibunya itu.
Erika meneteskan air mata haru ketika melihat bayinya untuk pertama kali. Sesaat Erika diperbolehkan mendekap bayinya di dadanya. Rasa haru memenuhi dirinya.
“Ayahnya pasti akan bangga melihatnya,” kata si perawat. Diambil bayinya dari pelukan Erika yang masih lemah, di bungkusnya dengan sehelai selimut halus dan dibawanya ke seberang ruangan untuk ditimbang.
Sang dokter sedang memeriksa Erika, meski kelahirannya bayi tadi berlangsung lancar dan mudah. Dibersihkannya perut Erika dari sisa-sisa plasenta dan darah.
“Beratnya tiga kilo dua ons,” seru sang perawat dari seberang ruangan.
Sang dokter melepaskan tangan dan maraih tangan Erika yang lemas.
“Setelah ini, kamu akan dipindahkan di ruanganmu, untuk sementara bayimu akan diobservasi setelah tidak ada keluhan dia bisa bersamamu selama tahap recovery.”
“Baik, terima kasih.” Erika menyahut setengah melamun. Ia sedang memperhatikan bayinya yang menendang-nendang marah ketika diambil cap kakinya. Sungguh aktif anaknya itu.
Malam itu, Erika bisa beristirahat dengan tenang. Sepanjang malam, bayinya bersamanya. Erika belajar untuk meneteki. Tak terkira kebahagiaan yang dirasakannya ketika mendekap tubuh mungil yang hangat itu di dadanya.
Mereka menjalin komunikasi komunikasi dengan cara yang sama sekali berbeda dari yang pernah dialaminya selama ini. Diamatinya bayi itu, dibolak-balikkan tangan mungil itu. Tangan mungil itu mengenggam jemari Erika. Erika pun tersenyum dan tidak bisa menahan untuk mencium pipi gembul itu.
“Aku sangat menyayangimu.”
Bayinya tersenyum dan dengan kuat menghisap *********** untuk meminum asi. Beberapa menit kemudian bayi itu tidur terlelap. Setelah merasa tertidur pulas, Erika membaringkannya ke box bayi.
Erika yang mengantuk pun berbaring di ranjang. Karena mengantuk ia menutup matanya dan menyusul bayinya tertidur.
Suara-suara denting nampan-nampan sarapan, klenting kereta peralatan membuat Erika terbangun pagi-pagi. Ia sedang menguap dan meregangkan tubuh dengan nikmat ketika perawat masuk ke kamarnya.
__ADS_1
“Selamat pagi,” ucap Perawat.
“Selamat pagi,” jawab Erika.
“Nyonya Erika, saya akan memberi suntikan. Suntikan ini terakhir.”
...…....
Beberapa tahun kemudian….
Erika kembali ke Boston, ia sudah memberi kabar Nick untuk menjemputnya. Sambil Nick menggendong putri kecilnya sementara Yaya berjalan di sampingnya.
“Kita akan menjemput siapa?”
“Seseorang yang kamu kagumi.”
“Jangan bilang itu….”
Dengan cepat Nick berjalan maju sementara Yaya mengikuti dari belakang. Mata Yaya langsung membulat ketika melihat Erika dengan penampilan barunya. Ia mengenakan gaun bermotif bunga dengan cardikan warna merah muda. Rambutnya sudah panjang. Ia menggendong seorang anak kecil. Bocah kecil itu sangat mirip dengan Arvaz.
Yaya langsung menangis saat melihat Erika. Yaya langsung berlari dananya memeluk Erika.
“Aku tidak tahu kakak masih hidup. Aku sangat bersyukur.”
Yaya langsung menatap tajam ke arah Nick. “Kenapa kamu tidak mengatakan padaku sebelumnya?”
“Karena kakak masih hidup, mengapa kakak tidak kembali mencari Arvaz?”
Erika tersenyum. “Bantu aku, agar Nick membawa barang bawaanku. Aku akan memberitahumu jawaban dalam perjalanan.”
Nick langsung memberikan putri kecilnya pada Yaya dan melanjutkan untuk mengambil barang-barang Erika.
“Putrimu sangat cantik, mirip denganmu.”
Mengenakan bandana kucing, Rei putri Yaya dan Nick terlihat lucu dan menggemaskan.
Sepanjang perjalanan, Yaya bertanya seputar mengapa Erika tidak menemui Arvaz. “Kenapa kakak tidak kembali untuk mencari Arvaz?”
“Aku sudah kembali untuk menemuinya bersama Nick tapi aku menemukan seseorang yang menggantikanku.”
“Ahhh, si manusia tiruan itu.”
“Manusia tiruan?” Erika bertanya.
“Itu julukan untuk si Mina.”
__ADS_1
“Arvaz pasti sangat senang melihatmu kembali.”
Erika tersenyum, “Kamu salah paham. Aku kembali untuk menatap di sini bersama putraku. Hubunganku dengannya sudah berakhir beberapa tahun yang lalu.”
“Siapa nama putra tampanmu kak?”
“Noah Eloise.”
“Kenapa nama belakangnya bukan Bennedict?” Tanya Nick.
“Karena dia adalah putraku.”
“Kak, apakah kamu sudah makan?”
“Belum.”
“Nick cari restoran. Kita akan makan malam sebelum pulang.”
“Baik,” ucap Erika menyetujuinya.
Erika memandang ke luar jendela dan menatap pemandangan yang melintas di luar. Ia menemukan bahwa kota Boston telah mengalami banyak perubahan dan lingkungannya tampak agak asing meskipun ia baru beberapa tahun pergi.
Setelah tiba di restoran, Erika langsung menggendong Noah untuk turun bersama keluarga Nick. Saat makan malam, Yaya memiliki banyak pertanyaan di benaknya bahwa pada akhirnya ia tidak memiliki keberanian untuk bertanya. Ia akan bertanya pada Nick saat ada kesempatan.
Makan malam itu berlangsung selama empat puluh lima menit, setelah itu mereka melanjutkan perjalanan kembali ke vila.
Sementara itu di waktu yang sama, sekembalinya dari kantor pikiran Arvaz melayang menerawang. Jika Arvaz tahu bahwa Nick menggendong anaknya saat ini, Arvaz pasti akan marah dan memusuhinya selama berhari-hari.
Setelah tiba di rumah, ia duduk sendirian di ruang tamu dan mulai menenggelamkan kesedihannya. Ia sangat merindukan Erika. Ia diliputi kesengsaraan yang tidak bisa ia jelaskan. Bahkan ia tidak tahu pada siapa ia bisa menjelaskan kesedihannya. Yang ia bisa lakukan adakah menderita dalam kesunyian.
“Arvaz,” Mina berjalan turun ke arahnya perlahan sebelum duduk di sampingnya.
“Pergilah.”
“Apakah kamu membenciku?”
Arvaz menatap wajah Mina yang sama persis dengan Erika. Hatinya perlahan melembut namun ini bukanlah hidup yang diinginkan Arvaz. Ia ingin Erika yang asli bukan hanya soal fisik semata.
Kembali ke Nick, pria itu memutar kemudian setirnya setelah membawa anak dan istrinya pulang. Pria itu berniat untuk mengunjungi rumah Vero.
“Tumben sekali kamu datang ke mari,” ucap Vero saat pertama kali melihat Nick membuka pintu.
“Aku datang ke sini hanya untuk bermain-main, kita jarang sekali berkumpul bertiga. Ngomong-ngomong panggil Arvaz untuk dayang ke sini tapi jangan bawa Mina.”
“Mengapa?”
__ADS_1
Nick dengan cepat membisikkan sesuatu ke telinga Vero, menyebabkan Vero sangat terkejut. “Apa?!!!!” Vero tersentak kaget.
“Apa yang aku katakan semuanya adalah benar. Aku sangat frustrasi. Menurutmu apa yang kita lakukan sekarang?”