By Your Side

By Your Side
Tiga puluh Enam


__ADS_3

Erika dan Arvaz menonton kamera pengawas sampai selesai, tentu saja itu dipercepat. Setelah menonton dengan waktu yang cukup lama, baru Erika bisa menarik kesimpulan. Selama tahun itu, Arvaz sama sekali tidak menyentuh Mina bahkan bergandengan tangan.


Ia sangat tersentuh akan hal itu. Ia tahu bahwa keberadaan Mina memang karena dirinya sendiri. Karena Arvaz ingin melihatnya. Awalnya ia berpikir, bahwa posisinya di dalam hatinya bisa dengan mudah digantikan namun bukan itu masalahnya.


“Aku lapar, aku ingin makan.”


“Baiklah, Sandra akan membuatkan makanan untuk kita.”


Arvaz memegang tangannya dan turun ke bawah. Erika berdiri di ambang pintu dapur dan menyapa Sandra yang sedang sibuk di dapur.


“Sandra.”


Sandra tersenyum, “Makanan akan segera siap. Nyonya Muda dan Tuan Muda harus menunggu dulu.”


Erika dan Arvaz langsung duduk di ruang makan. Baru beberapa menit, Erika baru sadar bahwa Noah saat ini sedang bersama Yaya.


“Aku akan menelepon Yaya untuk memastikan keadaan Noah.”


“Tidak perlu, Noah saat ini sedang tidur terlelap di kamar atas.”


Erika lantas mengurungkan niatnya.


“Jadi aku tidak bersalah kan? Kamu sudah lihat di kamera pengawas.”


“Siapa yang tahu kamu melakukannya di luar.”


Arvaz langsung tercengang. Namun detik berikutnya pria itu menarik tangan Erika bahkan memindahkan Erika dalam pangkuannya. Arvaz langsung mendaratkan bibirnya di atas bibir Erika. Erika sama sekali tidak bergerak dan membiarkan Arvaz mendominasi sesuai keinginannya. Sementara itu, Sandra yang berdiri di dapur, benar-benar bahagia untuk mereka.


...…....


Malamnya, Noah tidur di kamar samping. Sementara Erika dan Arvaz tidur satu ranjang di kamar utama. Erika sudah terlelap dalam mimpinya sementara Arvaz hanya bisa berbaring sambil memandang Erika. Pria itu tidak ingin merasa tidur karena hanya ingin menghabiskan setiap momen di sisinya.


Arvaz tidak ingin lagi berpisah dengannya. Arvaz melingkarkan tangannya di pinggangnya dan terus menanamkan ciuman padanya. Itu berlanjut sampai ia tertidur.


Erika terbangun karena suara deringan ponsel Arvaz. Wanita itu mengernyit sebelum hendak bangun untuk mengangkat telepon Arvaz.


“Eri…” suara Arvaz bergetar saat menyebutkan nama istrinya. “Tidak, jangan bangun dulu,” protes Arvaz.


Erika menjatuhkan diri dalam pelukan Arvaz. Arvaz mendekapnya erat dan membenamkan wajahnya di leher Erika.


“Ponselmu berbunyi,” ucap Erika.


“Biarkan saja.”


“Kamu tidak akan bekerja?”


Arvaz mengangkat kepalanya dan menatap istrinya dengan tersenyum. “Aku sudah menahannya semalam. Sekarang aku ingin memilikimu.”


Erika menatapnya dengan canggung. Mungkin karena mereka tidak bertemu satu sama salin selama beberapa tahun jadi ia terlihat malu. Arvaz langsung mencium Erika dan mengungkung di bawahnya.


Arvaz dengan lihat membuka kancing-kancing pakaian Erika. Erika tak mampu bergerak karena seakan terhipnotis. Tangan Arvaz sudah menyelinap nakal dan menggoda. Napas Erika semakin cepat dan tanpa sadar ia memejamkan mata.


Dibisikkannya nama Erika sesaat sebelum ia kembali wanita itu. Ciumannya begitu manis, lembut dan penuh kasih sayang. Seakan kerinduan tercurahkan di dalam sana.


“Aku tidak bisa menahannya lagi.”

__ADS_1


Erika terkesiap pelan, namun Arvaz sudah kembali menciumnya. Jemarinya terus menggoda dan tubuh Erika yang semakin responsif setelah ucapannya yang berani tadi. Arvaz sama sekali tidak bisa menahan kebahagiaannya saat ia menikmati momen bahagia ini.


Setelah pukul sepuluh pagi, keduanya akhirnya berhenti. Melihat pipi Erika yang bersemu merah, Arvaz tidak bisa menahan diri untuk tidak mengigit tulang selangka Erika.


“Mengapa kamu menggigitku?” Teriak Erika protes.


“Karena aku ingin.”


“Lepaskan aku!”


“Tidak mau.”


“Arvaz, lepaskan aku. Aku ingin melihat Noah, dia pasti sudah bangun.”


“Cium aku dulu,” ujar Arvaz.


Erika menyipitkan mata dan langsung mencium pipi Arvaz. Arvaz langsung tersenyum bangga.


Erika langsung ke kamar sebelah setelah mandi dan mengganti baju. Namun setelah dia masuk ke kamar samping, Erika tidak mendapatkan Noah di sana. Erika langsung turun ke lantai satu dan mendapatkan Noah sedang rewel berada di gendongan Sandra.


“Kamu mencari ibu?”


Erika lantas menggendong Noah dan menenangkan putranya itu.


“Kenapa kamu rewel sekali, apakah gigimu mau tumbuh lagi?”


Noah langsung mengeratkan pelukannya ke leher Erika.


“Nyonya Muda sarapannya sudah siap.”


Ketika Arvaz turun, Noah melihat pria itu dan mengacungkan jari telunjuknya lalu mulai memberontak sambil menggumamkan sesuatu yang hanya bisa dimengerti olehnya sendiri.


“Kurasa dia ingin aku gendong,” kata Arvaz senang. Ia pun menggendong Noah sambil ia bermain-main dengan anaknya.


“Kamu tidak ingin melakukan sesuatu?”


Ketika Arvaz menoleh ke arah Erika sambil tertawa. Tawanya langsung lenyap.


“Ada hal lain yang harus kamu tangani dulu.”


Arvaz tahu apa yang dia maksud. “Aku mengerti.”


“Aku akan bersamamu setelah kita makan.”


“Ya.”


Keduanya meluangkan waktu untuk makan dan dilakukan setengah jam kemudian. Noah dititipkan ke Sandra.


Arvaz dan Erika bergandengan tangan selama mereka menuju ke apartemen. Arvaz membuka pintu apartemen dan disambut oleh senyuman Mina. Wanita itu hendak memeluknya namun segera tangan Arvaz langsung menginterupsi.


“Arvaz, akhirnya kamu datang. Kamu sudah lama tidak ke sini,” ucap Mina.


“Hai, lama tidak bertemu.”


Senyum Mina langsung luntur seketika ketika ia melihat Erika. Mina sangat tidak percaya bahwa Erika masih hidup dan saat ini sedang berdiri di depannya. Terlihat sekali, sekujur tubuhnya langsung kaku. Matanya terlihat membulat terperanjat.

__ADS_1


“Arvaz, apakah kamu akan membuangku ketika Erika sudah kembali.”


“Kamu sudah tahu persis,” ucap Arvaz dengan nada dingin.


“Tidak! Kamu sudah memperlakukan aku dengan baik dengan memperbolehkanku tinggal di sini. Jangan buang aku.”


Arvaz harus segera menyingkirkan Mina segera, jika tidak dia akan membuat masalah.


“Meski tidak cukup adil. Tapi ceritamu hanya sampai di sini.”


“Arvaz, aku sudah berusaha mengubah wajahku untuk menyerupainya tidak bisakah kamu bersikap baik padaku walau hanya sekali. Jangan lakukan ini padaku. Aku tidak melakukan kesalahan.”


“Kesalahanmu adalah mengubah wajahmu menyerupaiku,” ucap Erika dengan kesal.


Erika lantas keluar karena ia tidak sanggup melihat Mina yang menyerupai wajahnya. Arvaz hendak mengejar Erika namun ia harus menyingkirkan Mina terlebih dahulu.


Adam masuk pada saat itu.


“Singkirkan wanita ini.”


“Baik.”


Setelah itu Arvaz dan Erika sama-sama kembali ke Vila. Mereka tidak membayangkan kalau Nyonya Benenedict ada di sana.


“Bu, mengapa kamu ada di sini?”


“Mina.”


“Bu, dia bukan Mina tapi Erika.”


“Apa?” Nyonya Bennedict terlihat terkejut. Ia menelisik setiap sudut wajah Erika.


“Bu, aku dan Erika punya anak.”


“Bagaimana bisa kamu? Hidup dan hamil?” Nyonya Bennedict menatap perut Erika.


“Bu, dia ada di belakangmu.”


Sandra membawa Noah ke depan. Melihat wajah anak itu, Nyonya Bennedict langsung percaya. Ia menatap anak itu lalu menoleh ke arah Arvaz. Merasa sulit untu menahan apa yang ia rasakan.


“Anak ini persis seperti dirimu.”


Nyonya Bennedict mencoba untuk menggendongnya namun Noah terus memberontak dan menangis. Pada akhirnya Erika mencoba menenangkannya.


“Aku tidak percaya ini.”


“Bu setelah melihat cucumu. Apakah kamu akan terus menolak kehadiran Erika.”


“Itu…..”


Nyonya Bennedict sejujurnya merasa hatinya langsung luluh seketika melihat anak kecil itu. Ia sudah menjadi nenek sekarang. Apa yang diharapkannya sekarang. Ia hanya ingin hidup damai dengan cucunya dan melihat putranya bahagia.


“Ini terlalu mendadak tapi aku tidak bisa menolak cucuku sendiri.”


Erika langsung tersenyum mendengar ucapan ibu mertuanya. Setelah sekian lama dalam penolakan pada akhirnya ia diterima.

__ADS_1


__ADS_2