By Your Side

By Your Side
Dua puluh Lima


__ADS_3

Erika sedang melamun saat telepon berdering. Dari Nick.


“Nick.”


“Kamu, baik-baik saja?”


“Seharusnya aku yang bertanya padamu? Arvaz tidak memukulmu kan?”


Terdengar suara helaan napas panjang dari seberang. “Aku hampir pingsan ketika dia kemarin melototiku. Untungnya aku bisa napas sekarang.”


“Aku senang mendengarnya.”


“Aku minta maaf.”


“Untuk?”


“Kejadian kemarin, tak seharusnya aku mengirim berita itu”


“Tidak apa, semua sudah terselesaikan.”


“Syukurlah. Aku senang mendengarnya dan aku ingin memberitahu berita lagi.”


“Jika itu terkait Arvaz dengan wanita lain, aku tidak mau lihat.”


“Tidak ini tentang dirimu dan Arvaz.”


“Aku dan Arvaz?”


Di tempat lain, Arvaz menunjuk ke arah pintu dengan gerakan kepalanya.


“Tinggalkan kami berdua.”


Arva duduk di tepi meja besar. Dijulurkan ya kakinya yang panjang. Diamatinya Mina dengan matanya yang hitam.


Mina menelan salivanya ketika ia melihat Arvaz. Arvaz mengenakan setelan jas. Belum pernah Mina melihat pria berjas setampan dirinya. Setelan hitam yang berpotongan dengan sempurna itu menyembunyikan otot-ototnya yang kokoh.


“Apa yang kamu lakukan di sini?”


Suara Arvaz langsung menyadarkan Mina dari lamunannya.


“Ibumu menyuruhku ke sini untuk menanyakan berita yang beredar tentang penikahanmu dengan wanita itu.”


“Apa yang ingin kamu tanyakan? Aku memang sudah menikah dengannya.”


“Apakah kamu tahu atas berita yang kamu sebarkan membuatku harus menahan malu.”


“Maka dari itu seharusnya kamu berpikir terlebih dulu sebelum menyebar rumor yang tak masuk akal itu.”


“Arvaz, apakah kamu, sama sekali tidak melihatku sebagi wanita? Apakah kamu lupa? Aku yang selalu berada di sampingmu saat kamu terpuruk akibat ulah wanita itu.”


“Tidak peduli seberapa luar biasanya kamu membantuku di waktu itu, aku tidak akan pernah menyukaimu.”

__ADS_1


Mina langsung mengepalkan tangannya karena ia menahan marah. Mina merasa sakit hati. Melihat Mina yang masih berdiri di tempatnya, Aravz merasa jengah. Pria itu langsung menekan interkomnya dan menyuruh satpam untuk mengusir Mina dari kantornya.


Mina tidak punya pilihan selain bergegas untuk pergi dari pada harus menunggu diusir karena itu sangat mempermalukan dirinya.


Arvaz menatap pintu yang tertutup dengan keras. Wajah tampannya menampilkan senyum si salah satu sudut bibirnya. Beberapa menit kemudian ponselnya berdering. Arvaz hanya meliriknya dan tak berniat mengangkatnya. Namun suara deringan ponselnya mengusik indera pendengarannya.


Mau tak mau Arvaz mengangkatnya.


Suara lengkingan dari sebarang langsung membuat Arvaz menjauhkan ponsel dari telinganya.


“Arvaz! Apakah kamu mencoba membawaku pada kematian?” Nyonya Bennedict membentak marah.


“Kenapa ibu berpikir seperti itu?”


“Berita itu! Apakah kamu tidak tahu dengan berita itu kamu membuat Mina malu. Banyak komentar negatif yang ditujukan padanya.”


“Aku tidak tahu bahwa berita tentang pernikahanku dengan Eri membuatnya malu. Salah sendiri menyebar berita kebohongan dengan aku yang akan menikah dengannya. Ibu, aku harus bekerja. Akan aku tutup teleponnya.”


...…...


Erika bingung ketika membaca berita di layar ponselnya. Ia terkejut membaca berita tentang pernikahannya dengan Arvaz. Karena meskipun pernikahan mereka sah namun tidak banyak orang yang tahu mengenai pernikahan mereka.


Erika langsung meletakkan ponselnya. Erika ingin meninggalkan kamarnya namun suara nada pesan membuatnya mengurungkan diri. Ia kembali menyambar ponselnya dan langsung tersenyum saat mendapatkan pesan dari Arvaz.


Pukul sembilan belas lebih tiga puluh . Mua rias baru saja pergi dan Erika mengamati dirinya di cermin kamar tidurnya sambil menunggu mobil yang akan mengantarnya ke acara jumpa pers.


Seperti umumnya wanita, ia selalu meragukan penampilannya. Jika becermin, Erika akan melihat kekurangannya. Tubuh yang kelewat mungil, kaki yang pendek dan pinggul yang kelewat sempit. Namun malam ini, ia sulit untuk menemukan kekurangan pada penampilannya. Ia merasa puas dengan riasannya dan bajunya.


Rambutan sebahu ia gerai indah. Perona mata warna merah muda berkilau menghiasi kelopak matanya. Dan gaunnya begitu indah.


“Nyonya, Muda. Mobil sudah siap di bawah untuk mengantar anda ke hotel.”


“Ya, aku akan segera turun.”


“Nyonya muda, anda sangat cantik.”


“Terima kasih, Sandra.”


Diikutinya Sandra keluar. Sopir membukakan pintu belakang mobil dan Erika masuk. Setelah pintu tertutup, ia baru menyadari kehadiran penumpang kain. Meskipun cahaya dalam mobil remang-remang. Erika langsung tahu siapa yang duduk mengamatinya dengan mata disipitkan.


Dada Erika berdebar. Arvaz amat tampan begitu memesona.


“Selamat malam, Eri.” Sapanya lembut saat mobil mulai meluncur.


“Benar-benar kejutan. Selamat malam juga Arvaz.”


“Penampilanmu luar biasa malam ini.”


“Gaun yang indah, bukan?”


Aravz tersenyum. “Ya, aku memilihnya untukmu.”

__ADS_1


“Kamu yang memilihnya?” Tanya Erika tak percaya.


“Tentu saja.”


Memikirkan bahwa Arvaz telah memilihkan gaun yang dikenakannya membuat pipi Erika merona.


“Aku benar-benar ingin menciumku sekarang.”


Kepala Arvaz berada cukup dekat, ia hanya perlu membungkuk sedikit untuk menciumnya. Erika melihat mata pria itu berkilat.


“Kamu akan merusak riasanku sekarang.”


Arvaz tersenyum melihat sikap istrinya yang waspada.


Beberapa saat kemudian Aravz menyuruh sopir untuk berhenti.


“Berhenti di sini saja. Aku akan mengajak Nyonya Muda Bennedict masuk dari pintu samping. Katanya pada sopir lalu Aravz menunduk melihat Erika.


“Kamu merasa enakan?”


Erika mengangguk, terkejut atas perhatian yang terungkap dalam pertanyaan itu. Arvaz langsung sibuk membantunya keluar mobil. Ia memang tangan Erika dam memasuki gedung lewat pintu samping. Jemari Arvaz mengenggam erat jemari Erika.


Ketika mereka sudah berada di dalam lift, Erika menyadari bahwa sedari tadi Arvaz tersenyum.


“Aku sangat gugup, bagaimana bisa kamu tersenyum.”


“Kamu hanya perlu diam di sampingku, aku akan mengatasi semuanya.”


Erika bisa saja protes. Ia bisa saja berkicau tentang betapa kejamnya pers. Bagaimana jika mereka mengetahui masa lalu Erika. Bagaimana jika mereka tahu dengan cara apa Arvaz mendapatkannya. Bagaimana jika mereka malah menyudutkan kelakuan hina pria kasar semacam Arvaz. Ya, meskipun pria itu sudah berubah.


Pintu lift terbuka. Di sepanjang koridor Erika melihat sederetan pers yang menunggunya. Lampu sorot kamera langsung menghujaninya.


Arvaz meletakkan tangannya di punggung Erika dan menunduk memandangnya.


“Siap?” Arvaz bertanya.


“Untuk menghadapi apa pun,” jawab Erika.


Lampu sorot dari kamera langsung menyoroti mereka. Dan Arvaz dengan bangga memperkenalkan Erika sebagai istrinya.


...…...


Arvaz langsung menariknya dalam pelukan begitu mereka sampai ke dalam kamar mereka. Erika bisa merasakan kejantanan Aravz mengeras dari balik celana bahan yang melekat pada paha kuatnya.


Begitu bibir Erika membuka, Arvaz menyelinap untuk menggodanya. Erika bergerak, namun Arvaz memegangnya dengan erat. Erika membalas ciuman suaminya. Erika tidak tahu berapa lama Arvaz menciumnya.


“Arvaz…,” bisiknya tak beradaya.


Arvaz mengangkat bibirnya dan memandang wajah istrinya. Diamatinya pipi Erika yang merah merona, mata Erika yang membara dan bibir Erika yang bengkak akibat ulahnya.


Senyum kemudian menghiasi wajah pria itu yang sama sekali bukan senyum lembut atau pun jenaka. Tapi senyum seorang pemangsa.

__ADS_1


...….....


Terima kasih yang sudah mendukung jangan lupa like dan tinggalkan komentar.


__ADS_2