
Beberapa hari yang lalu, nyonya Bennedict mengunjungi kediaman Arvaz namun ia tidak mendapati Arvaz dan Erika di sana. Semua pelayan sudah tidak ada. Hanya penjaga rumah yang terlihat.
Nyonya Bennedict sangat marah karena putranya tidak memberitahu dimana mereka tinggal. Ditambah penjaga rumah tangga tidak memberitahu mereka tinggal. Nyonya Bennedict benar-benar kesal.
Wanita paru baya itu mencoba menghubugi Arvaz namun tidak bisa. Satu-satunya jalan untuk bertemu dengannya adalah pergi ke kantornya namun setiba di perusahaannya. Nyonya Bennedict sama sekali tidak bisa melihat putranya.
Berbagai alasan menggiring Nyonya Bennedict susah bertemu dengan Arvaz. Maka dari itu, Nyona Bennedict membuat berita yang bisa membuat Arvaz menemuinya. Yaitu berita tentang pernikahan Arvaz dan juga Mina yang akan diadakan sebentar lagi. Ya itu adalah ide dari Nyonya Bennedict. Ide itu berhasil membawa Arvaz ke rumahnya.
Nyonya Bennedict menyeruput tehnya dengan cara yang anggun. Ia lantas meletakkan cangkirnya dengan pelan lalu menatap Aravz yang duduk di depannya dengan muka masam.
“Apa yang ibu lakukan? Kenapa menyebar berita bohong itu?”
“Berita bohong? Apa maksudmu? Kamu harus menikahi Mina.”
“Aku sudah menikah, dan istriku adalah Erika.”
“Ibu tidak menyetujuinya.”
“Terserah. Ibu sudah membuat kegemparan dengan berita itu. Selesaikan sendiri.”
Kemudian Arvaz beranjak meninggalkan ibunya. Nyonya Bennedict berteriak memanggil Arvaz namun pria itu tidak menggubrisnya. Nyonya Bennedict semakin marah dan memanggil asistennya.
“Ada apa Nyonya? “
“Ikuti Arvaz. Beritahu aku dimana Arvaz menyembunyikan wanita itu.”
“Baik.”
Tak berapa lama, Mina berkunjung. Ada keheningan di ruang tamu. Setelah menghabiskan tehnya lalu meletakkan cangkirnya dengan keras. Dia memikirkan sesuatu yang membuatnya marah.
“Ibu, ada apa? Kenapa memanggilku selarut ini?”
“Arvaz datang ke sini dan marah karena berita yang tersebar. Dia bersikeras untuk tidak menikahimu.”
“Aku pikir itu semua karena Erika. Dia sudah menghipnotis Arvaz. Bu, apakah dia memakai semacam jimat khusus untuk memikat Arvaz?”
Setelah mendengar itu, sebuah pikiran muncul di kepala Nyonya Bennedict. “Mungkin saja.”
“Apakah ibu mempunyai kenalan orang pintar?”
Nyonya Bennedict langsung mengangguk. “Ibu akan pergi dan bertanya. Apakah kamu mau ikut.”
“Tentu saja bu, ini menyangkut masa depanku.”
...…...
Erika terbangun dalam pelukan Arvaz. Kepalanya bersandar di bahu Arvaz. Pria itu masih tidur lelap. Di dengarnya napasnya yang teratur. Erika semakin merapatkan dirinya kepada Arvaz. Seakan-akan melakukannya dengan sadar, Arvaz mempererat pelukannya.
__ADS_1
Erika menundukkan kepala hingga pipinya menempel di dada bidang Arvaz yang shirtless. Ia dapat mendengar degup jantung yang keras dan teratur. Otaknya berkelana dan memikirkan berita yang beredar. Suaminya akan menikahi Mina.
Erika tidak tahan lagi. Ia mengangkat wajahnya dan mengigit leher Arvaz. Pria itu mendes@h kesakitan dan bergerak. Arvaz langsung membuka matanya dan berganti menyerang Erika. Arvaz mulai menciumi leher Erika sambil tangannya menggoda area sensitif wanita itu.
“Yak!”
Erika langsung menjerit tatkala rasa panas dan pedih langsung menjalar di lehernya. Arvaz tertawa lirih, dibawanya tangan Erika ke pinggangnya. Erika bisa merasakan gairah Arvaz yang sudah memuncak. Miliknya tampak keras dan terlihat di balik celana piamanya.
“Ada apa? Kamu yang memulainya, kamu juga yang harus menyelesaikannya.”
“Aku tidak mau!”
Mata Arvaz terbelalak. Ditatapnya istrinya itu dengan ngeri.
“Cari saja Mina untuk membantumu. Bukankah kamu akan menikah dengannya.”
Matanya yang berapi-api dan sarat tuduhan menatap Arvaz penuh kebencian. Sementara Arvaz yang semula siap membuka mulut untuk memprotes tuduhan itu hanya bisa tersenyum. Karena istrinya sedang dilanda cemburu.
“Tidak ada pembelaan? Jadi itu semua benar. Dasar kamu, seharusnya kamu ceraikan saja aku!”
Mata Arvaz langsung menatapnya tajam. Senyum yang semula menghiasi wajah Aravz, kini sirna tergantikan wajah yang mengerikan.
“Sudah aku katakan jangan menyembutkan kata perceraian di depanku. Tarik perkataanmu itu.”
Erika mengangkat dagu dengan sikap menantang, marah mendengar suara Arvaz yang otoriter.
“Eri….” Arvaz menatapnya dingin. Sorot kemarahan di matanya membuatnya tampak menakutkan.
Erika mengedipkan mata untuk menutupi kegelisahan dalam matanya. “Pergilah dari kehidupanku!”
“Pergi?” Ulang Arvaz lirih dan Erika terlonjak kaget mendapati tubuh Arvaz sudah berada di atasnya. Pria itu menunduk menatapnya, amat dekat. Arvaz lantas memeluknya dengan erat.
“Luar biasa,” bisik Arvaz. “Benar-benar luar biasa. Kamu minta dihukum.”
“Tidak!”
Arvaz menciumnya dengan mesra dan sepenuh perasaan. Di dengarnya Arvaz menggumamkan sesuatu yang tak jelas saat bibir Erika menyambutnya.
“Rasa cemburumu benar-benar menakutkan.”
Arvaz menyibakkan rambut Erika yang menutupi wajahnya, ingin kembali menciumnya.
Tiba-tiba suara ketukan dari luar kamarnya membuat Arvaz kesal.
“Erika, kamu baik-baik saja? Apakah kamu melihat berita yang kau kirim?”
Pintu langsung terbuka dari dalam dan Nick sedang berdiri di ambang pintu dengan wajah tegang saat melihat Arvaz.
__ADS_1
“Ya ampun, Arvaz!” Serunya dalam wajah pucat.
“Jadi kamu yang mengirimi Eri, berita sampah itu.”
Nick menelan lidah. “Itu…”
Sorot mata Arvaz tampak mengeras. “Keluar, sebelum aku meninjumu.”
Nick menelan ludah, ngeri.
“Nick,” panggil Erika.
“Nick akan segera pergi,” kata Arvaz tegas. “Bukankah begitu?”
Nick mengangguk dan kembali menelan ludah dengan susah payah, lalu menghilang dibalik pintu.
“Apa yang kamu lakukan padanya?” Tanya Erika sambil menjauh dari tempat tidur.
“Hanya menyuruhnya pergi karena dia sangat menganggu.”
“Mengapa? Katakan mengapa?” Erika menatapnya dengan sakit hati.
“Mengapa apanya?”
“Mengapa kamu menyuruhnya pergi? Dia jauh-jauh ke sini untuk menjemputku!”
Mata Arvaz berkilat mendengarkan perkataan Erika.
“Apakah karena berita sampah yang dikirim Nick itu hingga kamu berniat untuk pergi dariku?”
“Ya, karena berita yang kamu kira itu sampah. Aku ingin meninggalkanmu!”
“Sejujurnya, aku tidak berminat untuk menjelaskannya padamu. Pikiranmu terlalu kacau, jadi apakah penjelasanku ada gunanya? Berita itu dibuat oleh ibuku. Aku sama sekali tidak terlibat di dalamnya. Bagaimana bisa aku menikahi wanita lain, padahal aku mempunyai istri cantik yang mempunyai tubuh indah yang luar biasa.”
Erika menatap mata Aravz dengan lamat. Mencoba mencari kebohongan di dalam sana. Namun nihil, ia tidak mendapatkan jejak kebohongan sama sekali, yang berarti pria itu telah jujur. Oh betapa bodohnya Erika.
Erika masih terdiam dan itu sukses membuat Arvaz gelisah. Pria itu lantas langsung memeluk erat tubuh Erika.
“Kamu kamu harus percaya padaku. Apa pun yang terjadi di luar sana, kamu adalah prioritas utamaku. Apakah kamu tidak ingat bagaimana aku bisa mendapatkanmu? Aku yang menginginkanmu. Aku sangat menginginkanmu.”
“Arvaz….”
“Jangan bicara lagi. Kamu adalah wanita paling bodoh yang pernah aku temui. Bisa-bisanya kamu termakan berita sampah seperti itu. Kamu lebih percaya Nick dari pada suamimu sendiri.”
“Dia temanku,”
“Jangan lupa, aku suamimu. Berjanji padaku, apa pun yang terjadi di luar sana yang menyudutkanku. Kamu harus percaya padaku.”
__ADS_1
Erika tidak menjawab namun wanita itu hanya mengangguk.