
“Kamu harus segera memberitahu Arvaz segera, kalau tidak konsekuensinya akan mengerikan.”
“Apakah harus begitu? Aku pikir biar takdir mereka yang mempertemukan mereka. Aku hanya perlu menunggu dan melihat,” ucap Nick.
Nick dan Vero langsung saling pandang begitu mendengar sebuah kode apartemen yang ditekan lalu terdengar suara seseroang yang sedang membuka pintu. Mereka berdua langsung oleh ke arah yang sama lalu tampak Arvaz yang sedang berjalan ke arah mereka.
“Kamu sudah datang,” ucap Vero. Pria itu langsung berdiri dan memegang lengan Arvaz sambil melanjutkan, “Ada sesuatu yang ingin Nick katakan padamu.”
Nick yang mendengar ucapan Vero langsung melotot ke arah Vero. Tolong, Nick tidak ingin dibogem mentah oleh Arvaz. Ia tidak ingin mati di tangan Arvaz, ia masih ingin melihat anaknya tumbuh menjadi dewasa.
“Apa itu? Katakan padaku.”
“Itu….itu adalah sesuatu yang sangat penting.”
“Apa?”
Nick menelan salivanya begitu Arvaz duduk di depannya. Matanya yang seperti elang menatapnya dengan tegas.
“Ini adalah sesuatu yang sangat penting.”
“Nick, aku tidak sudah caramu yang bertele-tele.”
Tidak yakin bagaimana ia harus menjelaskannya, Nick berkata, “Besok pagi datanglah ke Taman kota. Kamu akan melihat seseorang yang sangat penting bagimu.”
“Siapa?” Tanya Arvaz.
Nick mengehela napas sebelum menjawab, “Aku tidak bisa memberitahumukanmu karena aku sudah berjanji dengannya.”
“Katakan padaku atau aku akan membunuhmu! Seru Arvaz, ia ingin mengetahui segera karena kata-kata Nick berhasil membangkitkan rasa penasarannya.
“Aku tidak akan mengantarkannya sekalipun kamu membunuku. Kamu akan melihatnya nanti jika kami pergi ke Taman. Orang ini sangat penting berarti bagimu. Bahkan dia adalah orang yang paling penting bagimu. Hanya itu yang bisa aku katakan.”
Bukankah Erika adalah orang paling penting bagiku tapi dia sudah lama meninggal.
Arvaz tidak mencoba menebak di antara orang-orang yang masih hidup meskipun ia tidak bisa bertanya-tanya siapa yang dimaksud Nick.
“Bagaimana jika aku tidak akan pergi?”
“Kamu akan menyesal selama hidupmu.”
“Baik, besok aku akan ke sana.” Arvaz menunjuk jari telunjuknya ke arah Nick, lalu Arvaz memperingatkan. “Jika aku mengetahui bahwa orang yang aku temui di Taman bukan seseorang yang penting bagiku. Aku akan menarik lidahmu.”
“Ya, persiapkan dirimu untuk itu,” ujar Nick menatap Arvaz dengan sungguh-sungguh.
__ADS_1
Arvaz langsung berbalik untuk pergi setelah melihat bagaimana Nick begitu bersikeras untuk membuatnya dalam ketegangan. Nick sebenarnya ingin sekali memberitahukannya tapi ia menahannya membiarkan Arvaz mencari tahu sendiri.
“Kenapa kamu malah menyuruhnya pergi ke Taman?”
“Karena besok Erika dan putranya akan pergi ke Taman. Sudah aku bilang, aku ingin takdir yang mempertemukan mereka.”
...…....
Arvaz pergi ke Taman untuk bertemu seseroang yang berarti baginya sesuai yang dikatakan oleh Nick. Ia mengedarkan pandangannya masih menebak-nebak siapa yang akan ia temui. Pandangannya langsung terjatuh pada anak kecil yang turun dari bangku kursinya dan berlari ke arah kolam air mancur.
Arvaz terlihat panik karena anak kecil itu hendak mencemplungkan dirinya ke kolam air mancur dan sialnya tidak ada orang di sekitarnya yang menyadarinya. Tanpa berpikir panjang Arvaz menerobos sambil mendorong langkah lebar dan cepat tapi tidak cukup cepat.
Si anak sudah berhasil memanjat tembok dan sudah masuk ke air. Beberapa orang melihat apa yang terjadi tapi Arvazlah yang paling dulu mencapai air mancur itu. Ia melangkahi tembok, masuk ke dalam kolam meraih si anak dan menggendongnya keluar dari anak.
“Noah!!!!” Erika menerobos kerumunan orang dengan panik.
Noah yang basah kuyup menatap heran pada laki-laki yang menggendongnya. Ia tersenyum pada penyelamatnya, menampakkan deretan gigi bayi.
Arvaz keluar dari kolam. Orang-orang yang menonton di pinggir menepi memberi jalan.
“Apa dia baik-baik saja?”
“Apa yang terjadi jika anak itu tenggelam?”
“Apa tidak ada yang mengawasinya?”
“Ada saja orang tua yang membiarkan anaknya tidak diawasi.”
“Permisi, permisi.” Akhirnya Erika berhasil melewati kerumunan penonton itu. “Noah! Noah!” Diambilnya anaknya dari gendongan Arvaz dan di sikapnya erat-erat tanpa memedulikan pakaiannya yang bisa basah.
“Sayang….maafkan ibu meninggalkanmu. Kamu tidak apa-apa? Kamu membuat ibu merasa cemas.”
Begitu merasakan kecemasan ibunya, Noah jadi ikut ketakutan, bibir bawahnya mulai gemetar, matanya berkaca-kaca. Lalu ia membuka mulutnya lebar-lebar dan mulai menangis.
“Dia luka? Apa dia luka?” Tanya Erika panik.
“Eri….” Suara itu sangat lirih membuat Erika mendongak pada sosok jangkung di sampingnya.
Arvaz yang menatap sosok yang sangat ia kenal tiba-tiba kakinya berubah menjadi jeli. Matanya terpaku pada Erika. Tiba-tiba Arvaz memeluk erat tubuh Erika. Erika sangat terkejut dan hanya bisa terpaku. Aroma yang unik menguar begitu saja.
Sementara Noah yang berada di dekapannya, tangisannya mulai mereda.
Menyadari bahwa Erika tetap diam, Arvaz melepaskan pelukannya dan menatapnya dengan seksama ia juga melihat bocah kecil yang mendekap erat Erika.
__ADS_1
“Apakah kamu Erika?”
“Jadi bagaimana jika aku Erika dan bagaimana jika aku bukanlah Erika?”
Erika menatap Noah yang mulai tenang lalu saat Erika hendak pergi, Arvaz mencengkeram pergelangan tangannya dengan erat. “Apakah bocah ini adalah anakmu?”
“Ya tentu saja.”
Arvaz gelisah dan terperangah mendengar jawabannya. “Apakah kamu bertemu dengan pria lain dan mendapat anak ini. Ingat! Aku adalah priamu dan masih suamimu tidak ada orang lain,” seru Arvaz sangat marah.
“Itu bukan urusanmu.”
“Eri…kenapa kamu tidak kembali jika kamu masih hidup?” Arvaz bertanya, bibirnya bergetar karena gugup ketika ia mengulurkan tangan untuk membelai wajahnya.
Erika tersenyum sarkatis. “Aku hanya orang lain yang kebetulan mengambil jalur bedah untuk mendapatkan wajah ini.”
Erika jelas sedang menyindir dan tidak sengaja membuka identitasnya.
Arvaz menatap matanya. Itu adalah sepasang mata berbinar yang ia rindukan untuk melihatnya setiap hari.
“Kamu benar-benar Eri…”
“Sepertinya kamu akan berpikir aku adalah Erika yang asli hanya karena aku terlihat persis seperti dia.”
Erika mengangkat tangannya dan berkata. “Hanya kamulah yang memiliki cincin ini.”
“Ada banyak tiruan dan barang kw di pasar.”
“Mengapa? Mengapa kamu tidak datang untuk menemukanku ketika kamu masih hidup? Kamu masih hidup tapi mengapa……?”
Erika mengangkat cengkeramannya dan berkata , “Tidak ada alasan khusus.”
Saat Erika mengambil beberapa langkah ke depan, ia kembali dihentikan oleh Arvaz lagi. Memperhatikan bahwa ada banyak orang disekitarnya, Erika memutuskan untuk tidak mempermalukannya.
“Hachimmmm.”
Noah bersin dan Erika baru menyadari bahwa sekarang ia menjadi basah karena menggendong Noah.
Arvaz memperhatikan fitur anak kecil itu. Barus Arvaz sadar bahwa fitur bocah itu mirip dengannya. Ia menjadi yakin bahwa bocah itu adalah miliknya.
“Aku harus pergi.”
Noah semakin berat di pelukan Erika dan ia meronta-ronta semakin keras, meliuk-meliuk menjengkelkan sebab ia pasti merasa tidak nyaman dalam pakaiannya yang basah.
__ADS_1
“Aku ikut denganmu.”