Cahaya Di Ujung Senja

Cahaya Di Ujung Senja
Bab 10 ( Semakin dekat )


__ADS_3

Cahaya sudah tiga hari dirawat di Rumah sakit, dan hari ini Cahaya sudah diperbolehkan pulang.


Mama Sita dan Cahaya sudah semakin dekat meskipun mereka berdua masih merasa canggung.


Senja begitu antusias menyambut kedatangan Cahaya, sampai-sampai dari subuh Senja sudah menghias rumah dengan ucapan Selamat datang.


Cahaya merasa bahagia karena akhirnya dia bisa tinggal bersama Ibu kandungnya, meskipun harus berpura-pura tidak mengenalinya.


"Selamat datang Kak Cahaya," ucap Senja pada saat Papa Pras membukakan pintu rumah untuk Cahaya dan Mama Sita.


"Makasih banyak atas sambutannya Senja, Kakak sangat bahagia," ucap Cahaya dengan memeluk tubuh Senja.


Papa Pras begitu bahagia karena semenjak bertemu dengan Cahaya, banyak perubahan dalam diri Senja yang tadinya manja, sekarang bisa lebih bersikap dewasa.


"Selamat datang di rumah kami Cahaya, Om harap kamu akan betah tinggal di sini," ucap Papa Pras.


"Makasih banyak ya Om, Tante, Cahaya pasti betah tinggal bersama orang baik seperti kalian."


"Ya sudah kalau begitu sekarang kita makan, kebetulan Mama tadi sudah masak untuk menyambut kedatangan Cahaya," ujar Mama Sita dengan menggandeng Senja dan Cahaya menuju meja makan.


Cahaya jadi kangen sama Mama Indira dan Papa Hilman, apalagi sama Kak Alan. Maaf ya Ma, Pa, Kak Alan, Cahaya belum bisa pulang, karena Cahaya ingin lebih dekat dengan Mama Sita, batin Cahaya.


Senja terus saja bercerita kepada Cahaya pada saat makan, dan Cahaya menjadi pendengar yang Setia untuk Senja.


Begitu selesai makan, Senja langsung menarik tubuh Cahaya menuju kamarnya, sehingga membuat Mama Sita dan Papa Pras geleng-geleng kepala melihat kelakuan Senja.


"Kak, sekarang ini adalah kamar kita, aku bahagia banget deh karena sekarang mempunyai teman sekamar. Aku dari kecil selalu kesepian karena tidak mempunyai saudara, padahal aku pengen banget punya Kakak perempuan," cerocos Senja.


"Apa Senja sudah punya pacar?" tanya Cahaya.


"Senja belum diizinin punya pacar sama Mama dan Papa, karena mereka selalu menganggap Senja sebagai Anak kecil," jawab Senja.


"Terus apa Kakak sudah punya pacar?" tanya Senja.

__ADS_1


"Kakak bukan hanya sekedar punya pacar, tapi Kakak sebentar lagi akan menikah, dan kami sudah berpacaran selama lima tahun," jawab Cahaya dengan senyuman yang mengembang pada bibirnya saat membayangkan wajah Alan yang selalu mengisi hatinya.


"Hemm..Senja jadi iri, berarti Kakak udah pacaran semenjak SMA dong?" tanya Senja.


"Iya, karena orangtua kami berteman, jadi kami sudah saling mengenal dari semenjak masih kecil," jawab Cahaya.


"Semoga saja Senja segera dipertemukan dengan Pangeran berkuda putih yang akan menjadikan Senja seorang Ratu," ujar Senja yang kini berkhayal.


"Amin, semoga saja ya De, Kaka pasti do'akan Senja semoga segera bertemu dengan belahan jiwa Senja," ujar Cahaya dengan memeluk Senja.


Cahaya menjalani hari-harinya dengan bahagia, sampai tidak terasa sudah satu minggu Cahaya tinggal bersama Mama Sita dan keluarganya.


Pagi ini Cahaya yang benar-benar sudah pulih pun berniat membantu Mama Sita memasak, sehingga Cahaya kini menuju dapur.


"Pagi Ma, eh maksud Cahaya Tante. Tante mau masak apa?" tanya Cahaya.


"Tante mau masak rendang, kebetulan Mas Pras sangat menyukainya."


"Boleh gak kalau Cahaya belajar bikin rendang juga? kebetulan Kak Alan juga suka sekali makan sama rendang."


"Iya, dan beberapa minggu lagi kami akan melangsungkan pernikahan, makanya Cahaya datang ke Palembang untuk meminta do'a restu kepada Tante," ujar Cahaya.


"Mama pasti akan memberikan do'a restu untuk kebahagiaan Cahaya. Mama harap pernikahan kalian langgeng hingga maut yang dapat memisahkan," ujar Mama Sita dengan memeluk tubuh Cahaya.


"Apa Cahaya tidak salah dengar? tadi Tante menyebut kata Mama," tanya Cahaya.


"Iya sayang, kamu tidak salah dengar, seharusnya dari dulu Mama mengakui kamu karena kamu tidak berdosa, tapi Mama selalu membenci kehadiran kamu di dunia ini. Mulai sekarang jika tidak ada Senja dan Om Pras, Cahaya bisa memanggil Tante dengan sebutan Mama ya," ujar Mama Sita.


"Iya Ma, Cahaya mengerti," ujar Cahaya dengan menangis bahagia, karena akhirnya Mama Sita mengakui Cahaya sebagai Anaknya, meskipun masih merahasiakan semuanya dari Papa Pras dan Senja.


"Oh iya, kalau Cahaya tinggal beberapa minggu lagi menikah, berarti Cahaya akan segera pulang?" tanya Mama Sita.


"Cahaya akan tinggal dua minggu lagi di sini, dan seminggu sebelum nikah, Cahaya baru akan pulang. Gak apa-apa kan kalau besok Cahaya bantu-bantu Om Pras di kantor? kebetulan Cahaya lulusan manajemen Administrasi, jadi sekalian bisa mencoba ilmu yang sudah Cahaya pelajari," ujar Cahaya.

__ADS_1


"Iya gak apa-apa sayang, itung-itung kamu mencari pengalaman dulu sebelum nanti Cahaya menikah dengan Alan. Oh iya, Cahaya dan Alan sudah kenal berapa lama?" tanya Mama Sita.


"Cahaya dan Kak Alan sudah kenal dari kecil Ma, karena kebetulan Mama Indira dan Mamanya Kak Alan berteman."


"Memangnya siapa nama Mamanya Alan? soalnya Mama tau semua teman Kak Indira," tanya Mama Sita.


"Namanya Mama Anggi, beliau berprofesi sebagai Dokter kandungan," jawab Cahaya.


"Jadi Mbak Anggi yang bakalan jadi Mertua Cahaya? Cahaya tau gak kalau Mbak Anggi adalah Dokter yang sudah membantu persalinan Mama saat Mama melahirkan Cahaya. Kalau Alan yang itu Mama sih tau, karena dari kecil dia sering dibawa sama Mbak Anggi main ke rumah, gak nyangka kalau Alan bakalan jadi Menantu Mama," ujar Mama Sita dengan tersenyum.


Cahaya bahagia bisa melihat senyuman Mama, batin Cahaya.


"Kenapa Cahaya lihatin Mama seperti itu?" tanya Mama Sita.


"Mama lebih cantik kalau tersenyum," ucap Cahaya.


"Kamu bisa saja. Sebaiknya sekarang Cahaya bantuin Mama mengupas bawang ya, hati-hati tangannya nanti tergores pisau."


"Iya Ma, Mama Indira juga sering ngajak Cahaya masak, jadi lumayan lah Cahaya udah bisa masak walaupun sedikit-sedikit."


"Perempuan emang harus bisa masak, Mama juga pengen banget kalau Senja mau belajar masak, tapi kalau di ajak masak Senja suka males."


"Mama ngomongin Senja ya, pantesan daritadi kuping Senja panas," ujar Senja yang tiba-tiba ada di belakang Mama Sita dan Cahaya.


"Panjang umur Anak Mama, tapi semua itu kenyataan kan kalau Senja emang gak pernah mau belajar masak."


"Iya deh Senja bakalan ikutan belajar masak, siapa tau langsung dapat ijin pacaran," celetuk Senja.


"Ya sudah, pokoknya kalau Senja mau belajar masak, Mama bakalan izinin Senja punya pacar."


"Beneran Ma?" tanya Senja dengan mata yang berbinar.


"Iya bener. Memangnya Senja udah punya calon pacar gitu?" tanya Mama Sita.

__ADS_1


"Besok Senja pasti bakalan ketemu sama calon pacar Senja, bahkan mungkin calon Suami, karena Senja pengen seperti Kak Cahaya yang mau nikah muda," ujar Senja.


"Iya, semoga Pangeran berkuda putih Senja besok datang," ujar Cahaya, dan kini mereka bertiga memasak dengan mengobrol dan tertawa.


__ADS_2