
Hari ini Senja berangkat pagi-pagi sekali karena ada kelas pagi. Namun, pada saat Senja melewati tempat sepi, mobil Senja tiba-tiba mogok.
"Duh, kenapa pake mogok segala sih, aku kan buru-buru," gumam Senja, kemudian keluar dari mobilnya untuk menunggu taksi.
"Kenapa taksi online nya lama banget, bisa-bisa aku kesiangan, udah gitu Dosen nya killer lagi," gumam Senja yang merasa sial pada pagi hari ini.
Senja masih berdiri di samping mobilnya, namun tiba-tiba ada dua orang lelaki yang mengganggunya.
"Hai cantik, sendirian aja, mau Abang temenin gak?" ujar salah satu Preman yang menggangu Senja, kemudian memegang dagu Senja.
"Jangan kurang ajar ya, kalau kalian macam-macam, saya akan berteriak," ujar Senja yang langsung berteriak minta tolong.
"Silahkan saja berteriak, sampai tenggorokan kamu kering pun tidak akan ada orang yang datang menolong kamu," ujar Preman tersebut dengan menertawakan Senja.
Pada saat kedua Preman hendak menodai Senja, tiba-tiba ada seorang lelaki tampan yang menyelamatkan Senja dari gangguan kedua Preman tersebut.
"Heh bocah tengik, kenapa kamu mengganggu kesenangan kami?" tanya salah satu Preman.
"Kalian ini sungguh menjijikan, bisa-bisanya kalian melakukan perbuatan bejat," ujar lelaki tampan tersebut yang ternyata adalah Alan.
Kedua Preman yang merasa geram pun langsung menyerang Alan, sehingga perkelahian pun tidak terelakkan lagi.
Kedua Preman kini telah babak belur, karena Alan yang jago bela diri dengan mudah membereskannya.
"Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Alan kepada Senja yang terlihat diam mematung.
Akhirnya, aku bertemu juga dengan Pangeran berkuda putih, ucap Senja dalam hati, tanpa mau mengedipkan matanya.
"Nona, apa Anda baik-baik saja?" tanya Alan lagi dengan menepuk pundak Senja, sehingga menyadarkan Senja dari lamunannya.
"Eh, saya baik-baik saja Kak, terimakasih banyak karena telah menolong saya," ucap Senja.
Sesaat kemudian taksi online yang Senja pesan akhirnya datang.
"Mbak Senja ya?" tanya Supir taksi.
"Iya Pak, tunggu sebentar ya," ujar Senja yang ingin kenalan dulu dengan Alan.
"Nama saya Senja, nama Kakak siapa?" tanya Senja dengan mengulurkan tangannya
__ADS_1
"Nama saya Alan. Maaf saya buru-buru, dan taksi yang kamu pesan juga sudah datang, kalau begitu saya duluan," ujar Alan, kemudian masuk ke dalam mobilnya menuju perusahaan Prasetyo Grup yang tidak lain adalah Perusahaan milik Papa Senja.
Senja masih diam mematung melihat kepergian Alan.
"Semoga saja kita bertemu kembali, Pangeran berkuda putihku," gumam Senja kemudian masuk ke dalam taksi online menuju kampus.
......................
Alan sengaja mengajak kerjasama perusahaan Prasetyo Grup untuk memberi kejutan kepada Cahaya, supaya Cahaya bisa lebih dekat dengan Mama Sita jika perusahaan Alan sudah menjalin kerjasama, jadi ada alasan untuk Cahaya lebih dekat dengan Ibu kandungnya.
"Aku sudah sangat merindukanmu sayang, aku akan membuat kejutan dengan kedatanganku, apalagi aku dengar hari ini kamu juga akan menjadi Sekretaris di Prasetyo Grup," gumam Alan dengan senyuman yang mengembang, karena sudah tidak sabar untuk bertemu Cahaya.
Cahaya hari ini akan membantu Papa Pras menjadi Sekretaris sementara di Perusahaannya, karena Sekretaris Papa Pras akan melakukan cuti hamil.
"Cahaya, selamat datang di Prasetyo Grup, kalau ada yang belum kamu pahami, nanti kamu bisa menanyakan langsung kepada Andre Asisten saya. Andre perkenalkan ini Cahaya Sekretaris pengganti Linda," ujar Papa Pras.
"Saya Cahaya Pak, mohon bimbingannya," ucap Cahaya kepada Andre.
Perempuan yang sangat cantik, aku harus berusaha untuk mendapatkan hatinya, ucap Andre dalam hati.
Andre begitu terpesona dengan wajah cantik yang Cahaya miliki, sampai-sampai Andre tidak berkedip menatap wajah Cahaya.
"Cahaya jangan percaya ya, Om Pras hanya bercanda," ujar Andre yang sebenarnya adalah keponakan Papa Pras.
"Andre ini keponakan saya, jadi saya harap kalian akan bekerja sama dengan baik. Oh iya Dre, bukannya sekarang tamu dari Jakarta akan segera datang?" tanya Papa Pras.
"Iya, sebentar lagi beliau akan tiba," jawab Andre.
"Kalau begitu kalian berdua temani saya meeting dengan Presdir Dirgantara grup," ujar Papa Pras.
Dirgantara Grup bukannya perusahaan milik Kak Alan ya? mungkin hanya namanya saja yang sama, ucap Cahaya dalam hati, kemudian ikut masuk bersama Papa Pras dan Andre ke dalam ruang meeting.
Beberapa saat kemudian, Alan sampai di Perusahaan Prasetyo Grup, dan Alan langsung dipersilahkan masuk ke dalam ruang meeting.
"Selamat datang di Prasetyo Grup, Tuan muda Alan, ternyata Anda masih sangat muda," ujar Papa Pras dengan menjabat tangan Alan.
Mata Alan dan Cahaya kini saling bertatapan memancarkan kerinduan.
Kenapa daritadi Tuan Alan dan Cahaya terus saja saling bertatapan ya, aku merasa ada sesuatu di antara mereka, batin Andre.
__ADS_1
"Cahaya, tolong bacakan kontrak kerjasamanya," ujar Papa Pras.
Mata Alan tidak lepas dari Cahaya, hatinya kini berbunga-bunga karena akhirnya Alan bisa kembali melihat pujaan hatinya.
Aku datang untuk menjemputmu sayang, aku sangat merindukanmu, batin Alan.
"Bagaimana Tuan Alan, apa Anda setuju dengan kontrak kerjasamanya?" tanya Papa Pras.
"Saya setuju Tuan, tapi saya ingin meninjau lokasi proyek kita, apa saya bisa meminta Sekretaris Anda untuk menemani saya?" tanya Alan.
"Silahkan Tuan, kebetulan tadi sebelum berangkat ke Perusahaan, saya sudah mengajak Cahaya ke lokasi proyek, dan nanti setelah selesai meninjau Proyek, Anda bisa ikut Cahaya pulang, seperti rencana yang sudah kita bicarakan sebelumnya." ujar Papa Pras.
Akhirnya Alan dan Cahaya kini keluar dari Prasetyo Grup dengan alasan ingin meninjau lokasi.
"Om, kenapa aku merasa jika Tuan Alan dan Cahaya sudah saling mengenal ya?" ujar Andre.
"Mana mungkin mereka saling mengenal, mungkin itu hanya perasaanmu saja yang cemburu dengan Cahaya," ujar Papa Pras.
"Tapi Om mau kan bantu aku buat deketin Cahaya," ujar Andre.
"Kamu harus berjuang sendiri Dre, tapi kalau kamu mau berubah, dan pensiun dari seorang playboy, Om akan memikirkannya," ujar Papa Pras.
"Aku pasti akan berubah demi Cahaya Om," ujar Andre dengan antusias.
......................
Sepanjang perjalanan menuju parkiran, Alan dan Cahaya tidak mengeluarkan sepatah kata pun, tapi saat sampai di parkiran, Alan langsung membukakan pintu mobil untuk Cahaya.
"Silahkan masuk Nyonya Alan," ujar Alan, sehingga membuat Cahaya tersipu malu.
Setelah Alan dan Cahaya masuk ke dalam mobil, Alan langsung saja memeluk tubuh Cahaya.
"Rasanya semua ini seperti mimpi, akhirnya Kakak bisa melihat kamu lagi sayang. Kak Alan kangen banget sama Cahaya," ujar Alan.
"Cahaya juga kangen banget sama Kak Alan, maaf ya Kak, Cahaya belum bisa pulang, rencananya satu minggu sebelum kita menikah, Cahaya baru akan pulang," ujar Cahaya.
"Makanya Kakak datang ke sini buat jemput kamu sayang," ujar Alan, kemudian mencium kening Cahaya.
"Kenapa Kakak melakukan kerjasama dengan perusahaan Om Pras?" tanya Cahaya.
__ADS_1