
Papa Pras langsung menyebut nama Mama Anggi pada saat melihatnya.
"Anggi," ucap Papa Pras dengan lirih, dan Mama Anggi pun merasa terkejut karena setelah berpuluh-puluh tahun lamanya akhirnya kembali bertemu dengan mantan kekasihnya pada saat duduk di bangku SMA dulu.
Jadi Pras Papanya senja adalah Prasetyo cinta pertamaku dulu. Kenapa Dunia ini begitu sempit, kenapa harus dia sih, pantesan saja Pras yang dibicarakan terdengar menyebalkan, batin Mama Anggi.
Secara perlahan Papa Pras melangkahkan kaki untuk menghampiri Mama Anggi dan Cahaya yang masih terlihat asyik mengobrol.
"Om, apa kabar?" tanya Alan, sehingga menghentikan langkah kaki Papa Pras.
"Nak Alan, kapan datang?" tanya Papa Pras.
"Saya baru saja sampai Om, perkenalkan ini Mama saya," ujar Alan yang saat ini memperkenalkan Mama Anggi.
Jadi Anggi adalah Mamanya Nak Alan? berarti aku akan mempunyai Besan mantan pacarku sendiri. Kamu masih terlihat cantik seperti dulu Anggi, tapi kenapa Anggi terlihat sudah akrab dengan Cahaya, apa benar perkataan Mama kalau Cahaya adalah Calon istri Alan, batin Papa Pras kini bertanya-tanya.
Mama Sita dan Senja kini menghampiri Mama Anggi dan Cahaya juga.
"Mbak Anggi, apa kabar?" tanya Sita.
"Alhamdulillah baik Sita, kamu apa kabar?" tanya Mama Anggi.
"Alhamdulillah saya juga baik."
Senja mencoba untuk menghampiri Mama Anggi yang saat ini terlihat memeluk Cahaya.
"Tante, perkenalkan saya Senja, Calon Istrinya Kak Alan."
__ADS_1
"Maaf, sejak kapan ya Alan melamar kamu? soalnya Alan sudah punya calon istri, dan sebentar lagi Alan dan calon Istrinya akan segera menikah," ujar Mama Anggi yang terlihat tidak suka kepada Senja.
Jadi Kak Alan belum menceritakan tentang hubungan kami? terus ada apa Kak Alan dan Mamanya datang ke sini? batin Senja.
"Ma, Kak Alan sudah melamar Senja," ujar Cahaya dengan tertunduk sedih.
"Apa benar Alan?" tanya Mama Anggi yang pura-pura tidak tau, tapi Alan tidak menjawab pertanyaan Mama Anggi.
"Alan saja tidak menjawab pertanyaan Tante, jadi Tante tidak menganggap hubungan kalian berdua," ujar Mama Anggi kepada Senja, sehingga membuat Senja merasa terkejut, apalagi mendengar Cahaya yang memanggil Mama Anggi dengan sebutan Mama.
Sepertinya Tante Anggi terlihat tidak suka sama aku, tapi kenapa Tante Anggi terlihat suka kepada Kak Cahaya, bahkan Kak Cahaya sudah terlihat akrab dengan Tante Anggi dan memanggilnya dengan sebutan Mama, batin Senja kini bertanya-tanya.
Papa Pras sebenarnya merasa geram dengan perkataan Mama Anggi, tapi dia mencoba untuk menahannya, karena bagaimanapun juga Anggi pernah berarti di masalalunya, dan Anggi juga adalah mantan terindahnya.
"Cahaya sayang, sebaiknya Cahaya ikut mencari penginapan sama Mama dan Alan ya," ujar Mama Anggi, sehingga membuat Senja merasa geram dan berlalu begitu saja ke dalam rumah.
"Ma, maaf ya Cahaya juga mau nyusul Senja dulu," ujar Cahaya, dan Alan langsung saja menggandeng tangan Cahaya untuk ikut masuk juga, sehingga membuat Papa Pras merasa geram dan hendak menyusulnya, tapi Mama Anggi mengehentikan langkah Papa Pras.
"Mas Prasetyo, tunggu," ujar Mama Anggi.
"Anggi, apa maksud kamu membuat Senja Anakku sakit hati? kalau memang semua itu karena masalalu kita, aku minta maaf sama kamu, tapi jangan sampai kamu melampiaskan amarahmu terhadap Senja Anakku," ujar Papa Pras.
"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu kepada kamu? kenapa kamu menyakiti Cahaya? kamu tau kalau Cahaya adalah Calon istri Alan, tapi kamu malah membiarkan Senja merebutnya," ujar Mama Anggi.
"Jadi Sita tidak berbohong kalau sebenarnya Cahaya dan Alan sudah bertunangan dan akan segera menikah?" tanya Papa Pras yang masih bingung dengan perkataan Mama Anggi.
"Iya benar, untuk apa aku berbohong jika itu menyangkut kebahagiaan Anakku juga, makanya aku merasa kasihan kepada Cahaya yang harus mengorbankan cintanya demi Anak kamu. Seandainya dari awal aku tau kalau Senja adalah Anak kamu, aku tidak akan pernah sudi menginjakan kaki ke sini, apalagi membiarkan Alan untuk menikahinya, karena sampai kapan pun aku tidak akan merestuinya," ujar Mama Anggi.
__ADS_1
"Anggi, kalau kamu melakukan semua itu karena merasa sakit hati kepadaku, aku minta maaf karena di masalalu aku telah melakukan kesalahan kepadamu, tapi aku mohon untuk kebahagiaan Senja kamu harus bisa merestui hubungan Alan dan Senja," ujar Papa Pras.
Mama Anggi terlihat berpikir, kemudian menghela nafas panjang sampai akhirnya Mama Anggi kembali angkat suara.
"Maaf Mas Pras, seandainya Senja bukan Anak kamu sekalipun, aku juga tidak akan merestui Alan untuk menikahi perempuan lain selain Cahaya. Seharusnya kamu tau bagaimana perasaanku, aku juga adalah orangtua yang hanya menginginkan Anaknya bahagia, dan kebahagiaan Alan adalah Cahaya, bahkan dari semenjak Alan dan Cahaya kecil mereka sudah saling mengenal dan tidak akan pernah bisa dipisahkan," ujar Mama Anggi, dan Papa Pras terlihat memikirkan semuanya.
Apa yang harus aku lakukan, ternyata selama ini aku telah salah paham terhadap Cahaya, Cahaya pasti tidak akan memaafkanku, karena aku sudah tega menghinanya berkali-kali, batin Papa Pras.
"Aku harap Mas Pras bisa menjauhkan Senja dari Alan, karena besok aku akan membawa Cahaya untuk pulang, dan aku ingin tetap melanjutkan rencana pernikahan Cahaya dan Alan yang tinggal beberapa hari lagi," ujar Mama Anggi.
"Baiklah kalau itu bisa menebus semua kesalahan yang telah aku lakukan, baik itu di masalalu atau pun di masa sekarang," ujar Papa Pras.
"Aku juga berharap kamu meminta maaf kepada Cahaya karena telah berani menghinanya bahkan mengusirnya, karena bagi kami Cahaya sangatlah berharga," ujar Mama Anggi, dan Papa Pras hanya tertunduk malu.
Mama Anggi dan Papa Pras kini menghampiri Cahaya, Alan dan juga Mama Sita yang sedang membujuk Senja untuk keluar dari dalam kamarnya.
"Ma, apa Senja mengunci diri di dalam kamar?" tanya Papa Pras.
"Iya Pa, Senja sepertinya sedang marah karena perkataan Mbak Anggi," jawab Mama Sita.
"Bagaimanapun juga Senja harus bisa menerima kalau Alan tidak pernah mencintainya, karena aku tidak akan pernah mengijinkan Alan untuk menikahi perempuan lain selain Cahaya, dan seharusnya kamu bisa menjelaskannya kepada Senja, kalau Alan sudah memiliki Cahaya dalam hidupnya. Anak kamu bukan hanya Senja, tapi Cahaya juga Anak kamu Sita, apa kamu tega menghancurkan kebahagiaan Cahaya setelah apa yang kamu lakukan kepadanya semenjak bayi?" sindir Mama Anggi.
"Ma, Cahaya ikhlas jika memang harus melepaskan Kak Alan demi Senja."
"Tapi baik Mama atau pun Alan tidak akan pernah ikhlas. Apa Cahaya tega mengorbankan perasaan Alan?" tanya Mama Anggi.
"Mama harap Cahaya juga memikirkan perasaan dan kebahagiaan Alan, bagaimanapun juga Alan bukanlah sebuah boneka, Alan mempunyai hati dan perasaan juga, jadi tidak seharusnya Cahaya berpikir seperti itu," sambung Mama Anggi.
__ADS_1