
Cahaya merasa bersalah kepada Alan karena sudah menutupi semua yang terjadi pada dirinya ketika Cahaya sampai di Palembang.
Setelah Cahaya menghela nafas panjang, Cahaya akhirnya angkat suara.
"Kak, maafin Cahaya, bukan maksud Cahaya seperti itu, tapi Cahaya takut Kakak akan merasa cemas apabila mengetahui semua kejadian yang telah menimpa Cahaya."
"Sebaiknya sekarang kita duduk dulu, Cahaya harus menceritakan semuanya kepada Kak Alan, dan Kak Alan harap tidak ada yang Cahaya tutup-tutupi lagi," ujar Alan yang saat ini mengajak Cahaya duduk di sebuah batu.
"Sebenarnya saat pertama kali Cahaya datang ke rumah Mama Sita, Mama langsung menolak kehadiran Cahaya, serta mengusir Cahaya dari rumahnya. Saat itu Cahaya memutuskan untuk kembali pulang ke Jakarta, tapu pada saat Cahaya sedang menyebrang jalan, Cahaya tertabrak mobil karena melamun, dan entah kebetulan atau takdir yang menabrak Cahaya adalah Om Pras yang baru pulang menjemput Senja."
"Terus apa yang terjadi selanjutnya, sampai akhirnya Mama Sita bersedia menerima kehadiran Cahaya?" tanya Alan yang sudah tidak sabar dengan kelanjutan cerita Cahaya.
"Kakak gak sabaran banget sih?"
"Iya, Kakak udah gak sabar pengen nikahin kamu," goda Alan.
"Mau dengerin lagi lanjutannya gak?" tanya Cahaya.
"Udah daritadi Kakak nungguin lanjutannya sayang," ujar Alan yang merasa gemas kepada Cahaya, karena Cahaya terus saja cengengesan.
"Cahaya mengalami pendarahan, untung saja Mama Sita yang saat itu datang ke Rumah Sakit setelah mendengar Papa Pras menabrak orang, langsung bersedia untuk mendonorkan darahnya, karena golongan darah kami termasuk langka."
"Terus, terus," ujar Alan.
"Kayak lagi parkir aja terus-terusan," sindir Cahaya.
"Lanjut lagi ceritanya sayang."
__ADS_1
"Pada saat Cahaya sadar, Cahaya berbohong kepada semuanya kalau Cahaya sudah dirampok sehingga Om Pras menyuruh Cahaya untuk tinggal di rumahnya serta bekerja di Perusahaannya sebagai bentuk dari tanggung jawabnya kepada Cahaya. Awalnya Mama Sita tidak setuju, tapi Om Pras bersikeras untuk melakukan semua itu, sampai akhirnya Mama Sita dan Senja secara bergantian menjaga Cahaya di Rumah Sakit, terus Cahaya dan Mama Sita semakin dekat, dan Mama Sita bisa menerima Cahaya sebagai Putrinya, meskipun harus secara diam-diam."
"Maaf ya sayang, Kakak tidak tau tentang penderitaan yang telah kamu alami selama ini, seandainya Cahaya jujur lebih awal, mungkin Kak Alan sudah dari dulu menjemput Cahaya untuk pulang, dan semuanya tidak akan seperti ini."
"Semuanya sudah terjadi Kak, dan dari setiap kejadian pasti akan ada hikmah yang bisa kita petik, buktinya sekarang Cahaya sudah bisa mendapatkan kasih sayang dari Mamah Sita meskipun harus secara sembunyi-sembunyi."
"Ya sudah, kalau begitu sejenak kita lupakan dulu masalah Senja, mending kita main air yuk," ajak Alan dengan menyipratkan air kepada tubuh Cahaya.
Cahaya dan Alan terlihat bahagia, apalagi pada saat mereka berdua berdiri di bawah guyuran air terjun dengan saling berpelukan.
"Semua ini terasa indah," ujar Cahaya.
"Tapi semua ini tidak sebanding dengan Cahayanya Kak Alan, karena kamu yang terindah," ucap Alan, sehingga membuat Cahaya semakin berat untuk melepaskan Alan.
Papa Pras yang kebetulan meninjau lokasi proyek sekitar Air terjun merasa murka melihat Alan dan Cahaya yang terlihat begitu mesra.
Papa Pras belum mengetahui kalau Cahaya dan Alan adalah sepasang kekasih, jadi Papa Pras mengira kalau Cahaya sudah merebut lelaki yang Senja suka.
"Lihat saja Cahaya, aku akan membuat perhitungan denganmu, berani-beraninya kamu merebut lelaki yang Senja suka," gumam Papa Pras, kemudian pergi menuju Rumah Sakit untuk menceritakan semuanya kepada Mama Sita.
Setelah sampai di Rumah Sakit, Papa Pras langsung masuk ke kamar perawatan Senja, di sana terlihat Andre dan Mama Sita yang sedang mengobrol, karena Senja sudah tertidur akibat efek obat.
"Ma, ada yang mau Papa bicarakan, bisa ikut Papa keluar sebentar?" ujar Papa Pras dengan wajah yang terlihat serius.
"Ada apa sih Pa? kok wajahnya tegang amat?" tanya Mama Sita.
"Pokoknya sekarang Mama ikut Papa keluar," ujar Papa Pras, dan Mama Sita langsung mengikuti Papa Pras setelah sebelumnya menitipkan Senja kepada Andre.
__ADS_1
"Pa, memangnya ada masalah apa?" tanya Mama Sita.
"Ma, ternyata Cahaya bukan perempuan baik-baik," ujar Papa Pras, sehingga membuat Mama Sita terkejut.
"Kenapa Papa bisa berasumsi seperti itu?" tanya Mama Sita.
"Papa barusan meninjau lokasi proyek di sekitar tempat Pariwisata Air terjun, dan Papa tidak sengaja melihat Cahaya dan Alan sedang bermesraan di sana, padahal jelas-jelas saat ini Senja sedang sakit, bahkan Cahaya sudah tau kalau Senja suka sama Alan, tapi tega-teganya dia merebut lelaki yang Senja cintai."
Bagaimana ini, aku tidak mungkin bilang kalau Cahaya dan Alan adalah sepasang kekasih, bahkan sebentar lagi mereka akan menikah, Papa pasti akan curiga, apalagi keadaannya saat ini sedang emosi, Papa nanti bisa semakin salah paham, ucap Mama Sita dalam hati.
"Mungkin Papa salah lihat kali, tadi Mama menyuruh Cahaya an Alan untuk pulang dulu."
"Ma, mata Papa belum rabun, Papa jelas-jelas melihat kalau Cahaya sedang berpelukan dengan Alan. Pokoknya kalau Cahaya sampai datang ke sini, Papa pasti akan mengusirnya, bahkan Papa juga akan mengusir Cahaya dari rumah kita," ujar Papa Pras yang sudah terbawa emosi sehingga membuat Mama Sita semakin bingung.
Beberapa jam kemudian, Papa Pras yang sengaja menunggu Cahaya di luar kamar perawatan Senja akhirnya melihat Cahaya dan Alan yang datang ke Rumah Sakit dengan berpegangan tangan.
"Kamu masih tidak tahu malu ya berani sekali kamu masih datang ke sini. Padahal Saya sudah bersedia untuk menampung kamu Cahaya, tapi ini balasan kamu?" ujar Papa Pras kepada Cahaya.
"Apa maksud Om berkata seperti itu kepada Cahaya?" tanya Alan.
"Nak Alan, panggilan apa yang pantas untuk seorang gadis yang tega merebut lelaki yang Anak saya suka?" tanya Papa Pras.
"Sepertinya Om sudah salah paham kepada Cahaya, karena sebenarnya saya adalah_," perkataan Alan terhenti karena Cahaya memotongnya.
"Sudah Kak, jangan bilang sekarang, Cahaya tidak mau kalau situasinya semakin kacau," ujar Cahaya.
"Tapi Om Pras harus tau mengenai hubungan kita Cahaya, aku tidak rela kalau ada orang yang sampai menghina kamu sayang," ujar Alan.
__ADS_1
"Oh, jadi rupanya Nak Alan sudah tergoda dengan ******* ini? kamu pintar sekali menggoda lelaki kaya Cahaya, sekarang juga saya minta kamu pergi dari sini, karena saya tidak sudi melihat wajah kamu lagi," ujar Papa Pras, tapi sesaat kemudian Mama Sita keluar karena Senja mencari Cahaya dan Alan.