Cahaya Di Ujung Senja

Cahaya Di Ujung Senja
Bab 22 ( Kejujuran Mama Sita )


__ADS_3

Alan saat ini masuk ke dalam kamar Cahaya untuk beristirahat, dan dia langsung tersenyum sekaligus menangis pada saat melihat fhoto Cahaya dengan dirinya.


"Seandainya aku bisa, aku ingin kembali ke masalalu sebelum kisah cinta kita berakhir, aku sangat merindukanmu sayang," gumam Alan dengan memeluk fhoto tersebut.


Alan kemudian membaringkan tubuhnya di atas ranjang tidur Cahaya yang sudah hampir satu bulan tidak lagi Cahaya tinggali.


"Wangi tubuhmu masih menempel di sini sayang," ujar Alan dengan memeluk guling kesayangan Cahaya sampai akhirnya Alan tertidur.


......................


Di tempat lain tepatnya di kediaman Prasetyo, saat ini Papa Pras kembali menemui Cahaya untuk memarahi Cahaya tentang Alan yang lebih memilih kembali ke Jakarta daripada menemani Senja.


"Cahaya, Apa kamu yang sudah menghasut Alan supaya dia pulang ke Jakarta?" tanya Papa Pras dengan mencekal pergelangan tangan Cahaya.


"Enggak Om, Cahaya tidak mungkin melakukan semua itu. Om tolong lepasin Cahaya, tangan Cahaya sakit," ujar Cahaya dengan meringis kesakitan.


"Semua ini tidak sebanding dengan rasa sakit pada hati Senja jika sampai tau kalau Kakak kesayangannya sudah berusaha untuk merebut calon Suaminya sendiri," ujar Papa Pras.


"Om, Cahaya benar-benar tidak pernah menghasut Kak Alan untuk melakukan semua itu, karena setahu Cahaya Kak Alan memang akan mengurus pekerjaannya yang telah menumpuk karena sudah ditinggalkan selama dua minggu pada saat Kak Alan tinggal di sini."


"Kamu sepertinya sangat mengenal Alan, pasti diam-diam kamu sudah menemui dia kan?" desak Papa Pras yang terus saja memojokkan Cahaya, tapi Cahaya tetap tidak mau mengakuinya, sampai akhirnya.


Plak

__ADS_1


Satu tamparan keras Papa Pras layangkan, tapi tamparan itu mengenai pipi Mama Sita.


"Ma, maafin Papa, Papa tidak bermaksud menampar Mama, Kenapa Mama menghalangi Papa untuk memberi pelajaran kepada perempuan mu*rahan ini."


"Papa harus tau semua kebenaran tentang Cahaya, Mama tidak rela jika Papa terus-terusan menghina Anak kandung Mama," ujar Mama Sita, sehingga membuat Cahaya dan Papa Pras membulatkan matanya saking terkejut dengan pernyataan yang Mama Sita lakukan.


"Apa maksud Mama mengatakan semua kebohongan itu, bukannya saat menikah dengan Papa Mama masih berstatus gadis," ujar Papa Pras dengan mengacak rambutnya secara kasar.


"Maaf Pa, selama ini Mama sudah menyembunyikan identitas Cahaya yang sebenarnya. Semenjak Cahaya lahir, Mama sudah memberikannya kepada Kak Indira dan Mas Hilman supaya Cahaya mereka akui sebagai Anak kandungnya karena Ayah kandung Cahaya sudah meninggal dunia pada saat hari pernikahan kami, sekarang Mama ingin mengakui semuanya, Mama kasihan kepada Cahaya, bahkan Mama tidak pernah melihat wajah Cahaya semenjak dia lahir."


"Cukup Ma, hentikan semua kebohongan ini, Papa tidak akan percaya dengan semua omongan Mama, kalau Mama berbicara seperti itu hanya untuk melindungi Cahaya dari Papa, Mama salah besar, karena Papa tidak akan pernah berhenti mengganggu Cahaya sebelum Senja menikah dengan Alan, dan seandainya benar jika dia adalah Anak kandung Mama, sampai kapan pun Papa tidak akan sudi menerima perempuan mura*han seperti dia."


"Cukup Pa, Cahaya tidak seperti yang Papa pikirkan, Papa harus tau kalau sebenarnya Cahaya dan Alan adalah sepasang kekasih. Mereka sudah berpacaran selama lima tahun, dan Cahaya adalah calon Istri Alan, bahkan minggu depan mereka berdua akan melangsungkan pernikahan. Papa tau kalau Cahaya rela melepaskan Alan demi kesembuhan dan kebahagiaan Senja, jadi Papa tidak pantas menghina Cahaya setelah apa yang Cahaya lakukan untuk Senja," ujar Mama Sita. Namun, Papa Pras yang sudah diliputi oleh rasa kebencian terhadap Cahaya pun menganggap jika Mama Sita hanya mengada-ngada Saja.


"Apa yang harus Mama lakukan supaya Papa mempercayai semuanya?" tanya Mama Sita.


"Kalau memang Mama bisa mendatangkan kedua orangtua Cahaya dan Alan, baru Papa akan percaya."


"Baik kalau itu kemauan Papa, Mama pasti akan melakukan semua itu, dan saat itu tiba Papa pasti akan menyesali semuanya karena sudah berbuat tidak adil kepada Cahaya," ujar Mama Sita dengan terus memegangi pipinya karena masih merasakan sakit akibat tamparan Papa Pras tadi.


Papa Pras langsung pergi meninggalkan Mama Sita dan Cahaya, dan Cahaya langsung saja memeluk tubuh Mama Sita.


"Ma, kenapa Mama melakukan semua itu, pipi Mamah pasti sakit kan, sebaiknya Cahaya bantu obati."

__ADS_1


"Sudah seharusnya Mama melakukan semua itu dari dulu Nak, mungkin seandainya dari dulu Mama punya keberanian, pasti kamu tidak akan merasakan sakit hati karena harus berpisah dengan lelaki yang Cahaya cintai, maafin Mama ya sayang, Mama selalu menjadi orang yang menghancurkan kebahagiaan Cahaya."


"Tidak Ma, Mama saat ini adalah sumber kebahagiaan Cahaya, Cahaya sudah ikhlas jika Kak Alan menikahi Senja, karena mungkin kami berdua tidak berjodoh."


"Seandainya Cahaya tidak melepaskan Alan untuk Senja, saat ini kalian berdua pasti sedang berbahagia mempersiapkan pernikahan yang akan diselenggarakan sebentar lagi," ujar Mama Sita.


"Cahaya tidak mungkin berbahagia ketika Senja sedang sakit Ma. Mama jangan selalu merasa bersalah ya, Cahaya akan berusaha untuk melupakan Kak Alan. Yang penting sekarang Cahaya sudah mempunyai Mama. Mama tunggu dulu sebentar ya, Cahaya mau ambil kompres dulu supaya bengkak pada pipi Mama segera sembuh," ujar Cahaya dengan melangkahkan kaki menuju dapur.


Aku harus segera menelpon Kak Indira, aku tidak mungkin membiarkan Cahaya menderita karena harus berpisah dengan lelaki yang dia cintai. Semoga saja Senja mengerti dengan kebohongan yang telah kami lakukan, dan dia bisa menerima hubungan Alan dengan Cahaya, batin Mama Sita.


Cahaya kini membawa Es batu dan lap untuk mengompres bengkak pada pipi Mama Sita, dan Senja yang saat ini sedang mencari Cahaya yang sudah pindah ke paviliun pun begitu terkejut melihat pipi Mama Sita yang bengkak.


"Ma, kenapa pipi Mama bisa bengkak seperti itu?" tanya Senja yang terlihat mengkhawatirkan Mama Sita.


"Mama tidak kenapa-napa Nak, tadi Mama tidak sengaja terjatuh, kemudian pipi Mama terbentur tembok. Senja cari Cahaya ya?" ujar Mama Sita.


"Iya Ma, Senja mau telpon Kak Alan, tapi Senja tidak tau nomor telponnya. Kak Cahaya pasti punya nomor Kak Alan kan?"


"Iya sayang, Senja ambil saja handphone Kakak di kamar," jawab Cahaya.


Cahaya lupa kalau wallpaper di handphone nya memakai fhoto Alan dan dirinya, dan pada saat Senja membuka handphone Cahaya, Senja langsung angkat suara.


"Kak, ini fhoto Calon Suami Kakak ya?" tanya Senja, dan Cahaya langsung terlonjak kaget mendengar pertanyaan Senja.

__ADS_1


__ADS_2