
Mama Anggi langsung mengucapkan salam pada saat mengangkat telpon dari Mama Sita.
📞"Maaf Mbak, apa Cahaya masih sama Mbak Anggi?" tanya Mama Sita yang merasa cas kepada Cahaya.
📞"Iya Sita kamu tidak perlu khawatir, Cahaya saat ini sudah tertidur, jadi aku yang mengangkat telponnya."
📞"Alhamdulilah kalau begitu, maaf jika saya sudah mengganggu waktu istirahat Mbak Anggi," ujar Mama Sita yang merasa tidak enak kepada Mama Anggi.
📞"Tidak apa-apa Sita, kebetulan aku juga masih belum tidur, karena baru saja selesai menelpon Indira. Oh iya, aku mau memberitahukan kalau besok kami bertiga mau pulang ke Jakarta.
📞"Jadi Cahaya sudah memutuskan untuk menikah dengan Nak Alan?" tanya Sita.
📞"Iya Sita, pada awalnya mereka ingin mengorbankan perasaan cintanya untuk Senja, tapi sepertinya rasa cinta Alan dan Cahaya sangat besar, sampai akhirnya mereka berdua melakukan kesalahan yang fatal, sehingga mau tidak mau Cahaya harus menikah dengan Alan."
📞"Mungkin mereka memang ditakdirkan berjodoh, Meskipun dengan cara seperti itu mereka berdua bisa bersatu." Bagaimana ini, mau tidak mau aku harus memberitahukan yang sebenarnya kepada Mas Hilman kalau Cahaya adalah Putri kandungnya, karena Mas Hilman harus menjadi Wali nikah untuk Cahaya, ucap Mama Sita dalam hati.
📞"Sita, kamu baik-baik saja kan? Cahaya minta kalau pernikahannya dirahasiakan dari Senja, karena dia tidak tega kalau memberitahukan semuanya kepada Senja," ujar Mama Anggi.
📞"Iya Mbak, saya pasti akan merahasiakannya dari Senja, semoga saja pernikahan Cahaya dan Alan langgeng, tolong sampaikan maaf saya apabila nanti saya tidak bisa hadir pada pernikahan Cahaya dan Alan, tapi do'a restu saya akan selalu mengiringi langkah mereka," ujar Mama Sita yang merasa sedih, karena bagaimanapun juga Mama Sita adalah perempuan yang telah melahirkan Cahaya, dan beliau ingin berada di samping Cahaya di hari spesialnya.
Setelah telpon Mama Sita dan Mama Anggi terputus, Mama Sita tampak merenung karena bingung harus bagaimana mengatakan semuanya kepada Mama Indira, karena pasti akan membuat keretakan dalam rumah tangga Kakak kandungnya sendiri.
"Maafkan Sita Kak, Sita sama sekali tidak bermaksud untuk mengkhianati Kak Indira, tapi saat itu Sita tidak berdaya," gumam Mama Sita kemudian menangis karena saat ini berada dalam situasi yang rumit.
......................
Keesokan paginya, Mama Anggi hendak membangunkan Cahaya yang masih terlelap karena Adzan Subuh sudah terdengar berkumandang.
Belum juga Mama Anggi membangunkan Cahaya, sudah terdengar ketukan pada pintu kamarnya, dan Mama Anggi memutuskan untuk membuka pintu terlebih dahulu.
"Alan, ngapain kamu subuh-subuh sudah ke sini?" tanya Mama Anggi.
__ADS_1
"Alan mau ketemu sama Cahaya Ma," jawab Alan dengan cengengesan.
"Biasanya juga jam segini kamu masih belum bangun, tumben sekarang sudah bangun?" sindir Mama Anggi.
"Alan kan sebentar lagi bakalan menjadi seorang Imam, jadi Alan harus belajar menjadi imam yang baik untuk istri Alan."
"Ya sudah sekarang kamu bangunkan Cahaya, Mama mau Shalat Subuh dulu," ujar Mama Anggi, kemudian membiarkan Alan masuk ke dalam kamarnya.
Senyuman Alan langsung mengembang pada saat melihat wajah Cahaya yang masih tertidur pulas.
"Sayang bangun, Shalat Subuh dulu gih," ujar Alan, dengan menggoyangkan tubuh Cahaya, tapi Cahaya malah mengira kalau tubuh Alan adalah guling, jadi Cahaya saat ini memeluk pinggang Alan.
Alan semakin tersenyum melihat tingkah Cahaya yang menggemaskan dan akhirnya Alan mencium pipi Cahaya
Cup
Cahaya secara perlahan membuka matanya saat mendapat sebuah kecupan pada pipinya dari Dimas.
"Sekarang Kak Alan sudah tau cara bangunin Cahaya," ujar Alan.
"Kak Alan habis bangunin Putri tidur, yuk bangun nanti waktu Subuhnya keburu habis. Apa mau Kak Alan gendong ke kamar mandi?" goda Alan, sehingga membuat Cahaya merasa malu dan langsung berlari ke dalam kamar mandi.
Mama Anggi yang melihat Alan senyum-senyum sendiri selalu berusaha untuk menggodanya.
"Kenapa senyum-senyum sendiri? kamu lagi bahagia kan karena sebentar lagi bisa menikahi Cahaya?" ujar Mama Anggi.
"Iya dong Ma, masa kalau Alan bahagia harus menangis. Makasih ya Ma, sebentar lagi perjuangan cinta Alan bakalan terwujud," ucap Alan.
"Mama pasti akan selalu mendo'akan kebahagiaan kalian berdua."
Setelah selesai Shalat, Cahaya ikut bergabung dengan Alan dan Mama Anggi duduk di sofa, dan Mama Anggi menceritakan kalau semalam Mama Anggi mengangkat telpon dari Mama Sita.
__ADS_1
Cahaya terlihat sedih, karena Ibu kandungnya sendiri tidak dapat hadir pada acara spesialnya.
"Sayang, Mama mengerti perasaan Cahaya. Cahaya jangan sedih ya, meskipun Mama Sita tidak dapat hadir, tapi do'a restu dari Mama Sita akan selalu mengiringi langkah Alan dan Cahaya, dan Mama Sita selalu mendo'akan yang terbaik untuk kebahagiaan kalian berdua."
Sesaat kemudian terdengar suara ketukan pintu, dan Mama Anggi berniat untuk membukanya.
Mama Anggi begitu terkejut pada saat melihat Papa Pras yang saat ini berada di depan pintu kamarnya.
Sebenarnya semalam Papa Pras tidak sengaja mendengar percakapan Mama Sita dan Mama Anggi, dan pada saat mendengar kalau Alan dan Cahaya akan menikah, Papa Pras langsung memutuskan untuk menemui Cahaya dan Alan.
"Mas Pras, ada apa pagi-pagi begini sudah datang ke sini?" tanya Mama Anggi.
"Anggi, aku mau ketemu sama Cahaya dan Alan, mereka tidak boleh menikah, aku takut kalau Senja kenapa-napa," jawab Papa Pras.
"Apa maksud kamu berbicara seperti itu? kamu tidak punya hak apa pun untuk mencegah pernikahan Cahaya dan Alan," ujar Mama Anggi yang merasa geram kepada perkataan Papa Pras.
Cahaya dan Alan yang mendengar percakapan Mama Anggi dan Papa Pras kini menghampiri mereka berdua, dan Papa Pras yang melihat Cahaya langsung saja menerobos masuk untuk menghampirinya.
"Cahaya, Om mohon, kamu batalkan pernikahan kamu dengan Alan ya, Om takut kalau Senja sampai kenapa-napa apabila mengetahui kalian berdua akan menikah."
Cahaya nampak berpikir, dan dia melihat Alan menggelengkan kepalanya.
Cahaya menghela nafas panjang, sampai akhirnya Cahaya kembali angkat suara.
"Maaf Om, Cahaya tidak bisa mengabulkan permintaan Om, karena ternyata Cahaya tidak sanggup untuk hidup tanpa Kak Alan."
"Lalu apa tega kamu melihat Senja sakit hati? bukannya kamu sangat menyayangi Senja?" ujar Papa Pras.
"Cahaya memang sangat menyayangi Senja, dan Cahaya pasti akan melakukan apa pun untuk Senja, tapi tidak dengan memberikan lelaki yang Cahaya cintai, karena bagaimanapun juga semuanya menyangkut kebahagiaan semua orang."
"Ternyata kamu egois Cahaya, selama ini perkataan kamu tidak dapat dipegang," ujar Papa Pras yang merasa geram kepada Cahaya.
__ADS_1
Mama Anggi yang mendengar perkataan Papa Pras langsung saja angkat suara.
"Apa kamu pikir Anakku adalah sebuah boneka, sehingga bisa kamu mainkan sesukamu? Alan juga punya hati Mas, dan apa Senja akan bahagia jika mengetahui kalau dia sudah merebut calon Suami Kakaknya sendiri?"