Cahaya Di Ujung Senja

Cahaya Di Ujung Senja
Bab 34 ( Cahaya di Ujung Senja )


__ADS_3

Alan dan Cahaya kini telah sampai di depan sebuah Rumah yang sangat mewah.


"Kak ini rumah siapa?" tanya Cahaya yang baru pertama kali datang ke rumah tersebut.


"Ini rumah kita sayang, kita akan tinggal di sini bersama Anak-anak kita nanti," ujar Alan dengan memeluk tubuh Cahaya.


Mata Cahaya langsung berkaca-kaca pada saat Alan membawa masuk Cahaya ke dalam rumah, karena di rumah tersebut sudah banyak terpajang fhoto mereka dari semenjak masih kecil.


"Terimakasih banyak Kak, tapi sejak kapan Kakak mempersiapkan semua ini?" tanya Cahaya dengan memeluk tubuh Alan.


"Kakak sudah mempersiapkan semuanya pada saat kita berdua memutuskan untuk menjalin hubungan, karena Kak Alan sudah yakin jika Cahaya adalah Cinta pertama dan terakhir untuk Kak Alan. Cahaya juga tidak perlu mengucapkan terimakasih, karena semua ini sudah seharusnya seorang Suami lakukan, dan ada lagi yang harus kita lakukan malam ini," ujar Alan dengan tersenyum penuh arti.


Sebelum Cahaya berbicara, Alan sudah terlebih dahulu menutup mulut Cahaya menggunakan bibirnya.


"Jangan bicara apa pun sayang, apalagi membicarakan masalah oranglain, kita harus menikmati malam ini sebagai pasangan pengantin baru," ujar Alan yang tidak mau kalau Cahaya terus saja membicarakan masalah Senja.


Alan saat ini menggendong Cahaya menuju kamar pengantin mereka, kemudian Alan langsung saja melancarkan aksinya.


......................


Keesokan paginya Alan bangun terlebih dahulu, dan Alan langsung saja menyunggingkan senyuman pada saat melihat wajah Cahaya yang saat ini berada dalam pelukannya.


Alan yang merasa gemas terhadap Cahaya terus saja menghujani Cahaya dengan ciuman.


Terimakasih Ya Allah, karena Engkau telah mewujudkan impian kami selama ini, dan akhirnya kami berdua bisa bersatu dalam ikatan suci pernikahan, ucap Alan dalam hati.


Alan kemudian membangunkan Cahaya yang masih tidur terlelap untuk melaksanakan Shalat Subuh berjamaah.


"Bangun sayang, udah adzan Subuh, kita Shalat Subuh berjamaah yuk," ujar Alan.


Cahaya secara perlahan kini membuka matanya.

__ADS_1


"Maaf Kak Cahaya bangun kesiangan."


"Gak apa-apa sayang, Cahaya pasti kecapean kan?" ujar Alan dengan tersenyum.


"Ya sudah kalau begitu Cahaya mandi dulu."


"Kita mandinya barengan aja takut waktu Subuh nya keburu habis," ujar Alan yang langsung mengangkat tubuh Cahaya dan membawanya ke kamar mandi.


Setelah selesai mandi, mereka melaksanakan Shalat Subuh berjamaah untuk yang pertama kali sebagai pasangan Suami istri, dan Cahaya begitu bahagia karena akhirnya impiannya selama ini bisa terwujud.


Cahaya tiada hentinya mengucap syukur dalam do'anya, dan Cahaya juga tidak lupa memohon kesembuhan untuk Senja.


Ya Allah terimakasih atas nikmat yang telah Engkau berikan kepada kami, semoga saja kami semua selalu berada dalam lindungan-Mu. Semoga Senja juga cepat sembuh dan tidak meminta lagi untuk berbagi Suami dengan Hamba, karena Hamba tidak akan sanggup jika harus berbagi Suami dengan Adik hamba sendiri. Sesungguhnya Engkau adalah Pembolak balik hati, ucap Cahaya dalam do'anya.


Setelah selesai berdo'a, Cahaya mencium punggung tangan Alan, begitu juga dengan Alan yang langsung mencium kening istrinya.


"Kak, Apa Cahaya egois jika tidak mau berbagi Suami dengan Senja?" tanya Cahaya yang saat ini berada dalam pelukan Alan.


"Cahaya juga tidak akan bisa berbagi Suami dengan perempuan lain, meskipun itu adalah Adik Cahaya sendiri," ujar Cahaya yang sudah memutuskan untuk tidak mengabulkan keinginan terakhir Senja, sehingga membuat Alan merasa bahagia.


......................


Di tempat lain, tepatnya di Rumah Sakit tempat Senja dirawat, Andre baru saja datang untuk melihat keadaan Senja yang semakin kritis.


"Senja, apa kabar sayang, Senja baik-baik saja kan?" tanya Andre dengan memeluk tubuh Senja.


"Kak, Senja ingin menikah dengan Kak Alan, Senja sangat mencintainya."


"Senja, saat ini Alan sudah menikah dengan Cahaya, apa Senja tega merebut Suami Kakak Senja sendiri?"


"Tapi Senja juga ingin merasakan menjadi seorang istri di sisa umur Senja."

__ADS_1


"Lalu apa Senja tega membuat dua orang yang saling mencintai harus merasakan sakit hati karena keegoisan Senja? mereka tidak akan mungkin sanggup untuk berbagi cinta dan kasih sayang, dan Senja harus mengerti itu. Tidak semua yang kita mau bisa kita dapatkan."


"Jadi selama ini sikap Senja sudah egois karena menginginkan bersama dengan lelaki yang Senja cintai?"


"Seandainya Alan juga mencintai Senja mungkin itu tidak akan menjadi masalah bagi Cahaya, tapi saat ini yang Alan cintai adalah Cahaya, bahkan mereka berdua sudah menikah, jadi Kak Andre harap Senja akan ikhlas untuk melepaskan Alan supaya hidup bahagia bersama Cahaya sosok perempuan yang sangat dicintainya. Bukankah Cinta adalah sebuah Pengorbanan? asalkan orang yang kita cintai bahagia, maka kita juga harus ikut bahagia meskipun hati kita terluka, dan itu juga yang sudah Kak Andre lakukan, karena Kak Andre juga telah jatuh cinta kepada Cahaya sejak pandangan pertama, tapi Kak Andre tidak mau memaksa Cahaya untuk hidup bersama dengan Kak Andre, karena percuma jika kita hidup bersama dengan orang yang kita cintai, tapi orang tersebut tidak merasa bahagia hidup dengan kita."


Senja terus saja merenungi perkataan Andre, dan setelah beberapa kali mengembuskan nafas secara kasar, Senja kembali angkat suara.


"Kak, Senja ingin berbicara dengan Kak Cahaya dan Kak Alan, tolong telpon mereka supaya bisa datang ke sini, dan tolong juga kumpulkan semuanya, karena ada yang ingin Senja katakan."


Setelah Andre menelpon semuanya untuk datang ke Rumah Sakit, termasuk Mama Indira dan Papa Hilman yang sekarang sudah berbaikan, Senja mengucapkan terimakasih kepada Andre.


"Kak, terimakasih banyak ya, Kak Andre selama ini sudah menjadi Kakak yang baik untuk Senja, Senja sayang sekali sama Kak Andre," ucap Senja dengan memeluk tubuh Andre.


Kenapa hatiku merasa tidak enak ya? semoga saja nanti tidak terjadi sesuatu yang buruk," ucap Andre dalam hati.


Satu jam kemudian semuanya kini sudah datang ke Rumah Sakit. Mama Anggi dan Papa Satya juga ikut hadir karena takut Cahaya akan memaksa Alan supaya menikahi Senja, karena mereka tidak akan rela jika sampai Alan melakukan Poligami.


Semuanya kini sudah terlihat cemas, apalagi pada saat Senja menyuruh Cahaya supaya mendekat kepadanya.


"Kak, Senja kangen sama Kak Cahaya. Maafin Senja ya Kak jika selama ini Senja sudah bersikap egois dan memikirkan diri sendiri, tanpa memikirkan perasaan Kak Senja dan Kak Alan," ucap Senja dengan menangis dalam pelukan Cahaya.


"Kakak mengerti apa yang Senja rasakan, tapi maaf jika Kak Cahaya tidak bisa mengabulkan permintaan terakhir Senja untuk berbagi Suami, karena Kak Cahaya tidak akan sanggup melihat Kak Alan hidup dengan perempuan lain meskipun itu adalah Senja."


"Tidak apa-apa Kak, seharusnya dari awal Senja tidak meminta hal seperti itu kepada Kak Cahaya, tapi sekarang Senja mempunyai permintaan lain kepada Kak Cahaya."


Semuanya kini bisa bernafas lega karena Senja tidak lagi meminta Alan untuk melakukan poligami.


"Permintaan apa itu Senja? kalau Kakak bisa Kak Cahaya pasti akan melakukannya."


"Terimakasih ya Kak, Kak Cahaya adalah sebuah Cahaya yang hadir di ujung kehidupan Senja. Senja minta Kakak jaga Mama dan Papa ya, Kakak harus menggantikan Senja untuk menyayangi Papa seperti Ayah kandung Senja sendiri," ujar Senja, sebelum mengembuskan napas terakhirnya.

__ADS_1


Semuanya kini menangisi kepergian Senja, apalagi Papa Pras yang terlihat begitu terpukul, tapi semuanya mencoba untuk mengikhlaskan Senja supaya tenang dan bahagia di Alam sana.


__ADS_2