
Alan yang mendengar hinaan Papa Pras terhadap Cahaya semakin merasa geram.
"Tutup mulut Anda Tuan Prasetyo yang terhormat, tidak seharusnya Anda menghina calon Istri saya," ujar Alan.
"Jadi hanya demi seorang gadis Anda sampai rela mengorbankan kerjasama kita?" tanya Papa Pras.
"Jangankan cuma kerjasama dengan Anda, kehilangan semuanya pun saya rela," ujar Alan.
"Kamu pintar sekali Cahaya, sepertinya kamu sudah mengguna-guna Nak Alan," sindir Papa Pras.
"Pa, sudah jangan seperti ini, malu sama oranglain. Papa juga sudah salah paham sama Cahaya dan Nak Alan, karena sebenarnya mereka adalah_," perkataan Mama Sita terhenti karena Cahaya memotongnya.
"Cukup Tante, tidak ada yang perlu Tante jelaskan lagi, semuanya memang salah Cahaya, tidak seharusnya Cahaya merebut lelaki yang Senja Cinta."
"Apa maksud kamu sayang, kenapa kamu tidak mau mengakui hubungan kita?" tanya Alan.
"Sekarang yang lebih penting adalah kesembuhan Senja, jadi sebaiknya kita segera menemui Senja ke dalam," ujar Cahaya.
"Senja tidak membutuhkan kehadiran perempuan sepertimu, lebih baik sekarang juga kamu pergi dari tempat ini," ujar Papa Pras.
"Maaf, kalau Cahaya harus pergi dari sini, saya juga akan ikut pergi," ujar Alan dengan menggandeng Cahaya untuk pergi dari Rumah Sakit.
"Kak Alan, Kak Cahaya, kalian mau pergi kemana?" tanya Senja yang melihat Cahaya dan Alan hendak pergi.
Senja saat ini dibantu oleh Andre yang memapahnya karena mendengar keributan dari luar kamar perawatannya.
"Sayang, kenapa Senja keluar? sekarang Senja istirahat lagi ya," ujar Mama Sita.
"Senja gak mau dirawat di Rumah Sakit kalau gak ada Kak Alan sama Kak Cahaya," ujar Senja dengan memegang kepalanya yang kembali terasa sakit.
Cahaya yang melihat Senja kesakitan pun langsung menghampirinya kemudian memeluk tubuh Senja.
"Lepaskan tangan kotor kamu dari tubuh Putri saya," ujar Papa Pras.
"Kenapa Papa bicara seperti itu kepada Kak Cahaya? Kak Cahaya sudah Senja anggap sebagai Kakak kandung Senja Pa."
__ADS_1
"Tidak mungkin ada Kakak Kandung yang tega merebut lelaki yang Adiknya cintai. Senja sebaiknya kamu buka mata kamu lebar-lebar, kamu lihat sendiri kalau Cahaya bergandengan tangan dengan Alan, bahkan diam-diam di belakang kamu, Cahaya sudah bermesraan dengan Alan," ujar Papa Pras.
"Tidak mungkin, tidak mungkin Kak Cahaya melakukan semua itu Pa, Papa pasti sudah salah paham sama Kak Cahaya dan Kak Alan, bahkan Kak Cahaya sendiri yang berusaha untuk mendekatkan Kak Alan kepada Senja."
"Kamu itu terlalu polos sayang, makanya Cahaya memanfaatkan kepolosan yang kamu miliki untuk mendapatkan lelaki yang kamu cintai. Jadi, sebaiknya sekarang juga Papa usir saja perempuan mu*rahan ini."
"Kak, Papa pasti sudah salah paham kan sama Kakak?" tanya Senja kepada Cahaya.
"Iya sayang, Kakak tidak mungkin merebut lelaki yang Senja cintai, jadi Senja jangan terlalu banyak pikiran ya," jawab Cahaya.
"Papa dengar sendiri kan jawaban Kak Cahaya, dan Senja mempercayainya."
"Senja jangan percaya dengan semua perkataan dia_," ujar Papa Pras, tapi Andre dan Mama Sita langsung memotongnya.
"Pa sudah, sebaiknya kita biarkan Senja istirahat lagi," ujar Mama Sita.
"Iya Om, Tante Sita benar, kasihan Senja, saat ini Senja membutuhkan istirahat yang banyak," ujar Andre.
"Cahaya, Alan, bawa Senja masuk ke dalam ya," ujar Mama Sita, sampai akhirnya dengan terpaksa Alan membantu Cahaya membawa Senja kembali ke kamar perawatannya.
"Andre, Mama, kenapa kalian malah membiarkan Senja dekat-dekat dengan perempuan seperti Cahaya?" tanya Papa Pras.
"Om, saat ini Senja membutuhkan kehadiran Cahaya dan Alan, jadi Om harus mengerti itu," ujar Andre.
"Iya Pa, jangan bahas dulu masalah ini, kasihan Senja, Mama takut kondisi Senja semakin parah."
Papa Pras memikirkan semua perkataan Mama Sita dan Andre yang ada benarnya juga, sehingga Papa Pras memutuskan untuk membiarkan keberadaan Cahaya di samping Senja.
"Ya sudah, untuk kali ini Papa mengalah demi Senja."
"Andre, sebaiknya sekarang kamu bawa Om Pras pulang, supaya Papa bisa istirahat dan tidak terpancing emosi pada saat bertemu dengan Cahaya," ujar Mama Sita, dan Papa Pras terpaksa menyetujui usul Mama Sita.
......................
Saat ini Senja sudah kembali tertidur, dan Alan langsung saja memeluk tubuh Cahaya.
__ADS_1
"Sampai kapan kamu akan mengorbankan perasaan kamu sayang?" tanya Alan.
"Sampai Senja benar-benar sembuh Kak," jawab Cahaya.
"Seharusnya tadi Cahaya tidak menghalangi Kak Alan untuk menceritakan semuanya kepada Om Pras, supaya Om Pras tidak salah paham terus terhadap kamu sayang, karena Kak Alan tidak rela melihat kamu dihina di depan mata kepala Kak Alan sendiri."
"Kak, Cahaya melakukan semua itu demi Senja, Cahaya rela menerima hinaan dan cacian dari Om Pras, yang penting Senja sembuh dan bahagia."
Mama Sita yang diam-diam mendengar perkataan Cahaya karena mengintip dari balik pintu, langsung saja meneteskan airmatanya.
Maafin Mama Nak, Cahaya jadi terluka karena Mama. Sebaiknya nanti aku jujur kepada Papa setelah Senja diperbolehkan pulang, karena aku tidak mau kalau Cahaya terus-terusan dihina oleh Papa. Apa pun keputusan Papa nanti, aku akan menerimanya, yang penting Cahaya tidak terus-terusan menderita, batin Mama Sita.
......................
Saat ini Alan sedang keluar untuk mencari makanan, dan Mama Sita sedang pulang dulu ke rumahnya, tapi Senja tidak mau jauh-jauh dari Cahaya.
"Kak, bantu Senja menyisir rambut ya, Senja ingin terlihat cantik di depan Kak Alan," ujar Senja.
"Iya sayang, sini Kakak bantu sisir rambut Senja," ujar Cahaya dengan menyisir rambut Cahaya secara perlahan.
Cahaya sampai meneteskan airmata karena pada saat Cahaya menyisir rambut Senja, rambut Senja terlihat rontok, dan Cahaya langsung saja menyembunyikan rambut senja ke dalam saku celananya.
"Kakak kenapa diam saja?" tanya Senja.
"Gak apa-apa sayang, rambut Senja indah ya, Senja jadi terlihat semakin cantik setelah rambutnya disisir."
Senja kemudian memegang rambutnya, tapi Senja langsung syok pada saat banyak rambut yang menempel di tangannya.
"Kak, kenapa rambut Senja rontok? Senja tidak mau kalau nanti kepala Senja menjadi botak," teriak Senja dengan menangis histeris.
"Sayang, Senja tenang dulu ya, Senja pasti sembuh, dan nanti rambut Senja pasti akan tumbuh kembali," ujar Cahaya memeluk Senja supaya Senja merasa lebih tenang.
"Tapi Senja takut nanti Kak Alan tidak suka sama Senja kalau kepala Senja botak."
"Kak Alan pasti menerima Senja apa adanya, jadi Senja jangan terlalu banyak pikiran ya," ujar cahaya dengan mengelus lembut punggung Senja.
__ADS_1
Sepertinya aku harus segera menyuruh Kak Alan supaya bersedia untuk melamar Senja, ucap Cahaya dalam hati.