Cahaya Di Ujung Senja

Cahaya Di Ujung Senja
Bab 33 ( Pilihan yang sulit )


__ADS_3

Cahaya saat ini berada dalam dilema, karena dia ingin sekali mengabulkan permintaan terakhir Senja jika saja permintaan Senja bukan berbagi Suami dengannya.


Aku harus bagaimana, apa aku harus ikhlas untuk berbagi Suami dengan Adikku sendiri? seandainya permintaan Senja bukan meminta untuk berbagi Kak Alan dengannya, aku pasti sudah mengabulkannya, batin Cahaya yang saat ini berada dalam dilema.


"Kak, Senja mohon, ini adalah permintaan terakhir Senja, Senja juga ingin merasakan menjadi seorang Istri di sisa waktu yang Senja miliki," ucap Senja dengan tatapan memohon.


Mama Anggi dan Mama Indira kembali merasa geram dengan perkataan Senja, karena mereka tidak rela kalau Putri kesayangan mereka harus berkorban demi kebahagiaan Senja walaupun saat ini Senja bisa dikatakan sedang sekarat.


"Kami tau kalau saat ini kamu sedang sakit Senja, apa kamu tidak sadar kalau permintaan kamu telah menyakiti hati Alan dan Cahaya?" tanya Mama Indira.


"Sebagai sesama wanita kamu harusnya punya hati Senja, jangan menjadi seorang Pelakor yang tidak mempunyai harga diri," sambung Mama Anggi.


Papa Pras yang mendengar perkataan Mama Anggi merasa geram dan langsung angkat suara.


"Jaga mulut kamu Anggi, aku tau kalau kamu masih merasa dendam terhadapku karena dulu aku sudah mengkhianati cinta kita, tapi jangan pernah kamu melampiaskan amarahmu terhadap Senja," teriak Papa Pras, sehingga membuat semuanya mengetahui kalau Papa Pras dan Mama Anggi mempunyai hubungan di masalalu.


"Kamu jangan terlalu percaya diri Prasetyo, kamu itu hanya mantan kekasihku waktu SMA, dan saat itu aku terlalu bodoh karena bisa jatuh cinta kepada lelaki sepertimu. Aku berbicara seperti itu kepada Senja karena aku tidak rela jika Alan menikahinya dan harus membuat Cahaya sakit hati," tegas Mama Anggi.


Papa Satya yang merasa penasaran terhadap perkataan Papa Pras langsung saja angkat suara.


"Ma, jadi dia Prasetyo mantan Mama itu?" tanya Papa Satya.


"Iya Pa, dia adalah lelaki hidung belang yang pernah Mama ceritakan," jawab Mama Anggi.


Cahaya yang mendengar keributan di kamar perawatan Senja, memutuskan pamit supaya bisa mengajak Alan untuk berbicara berdua saja.


"Maaf semuanya, Cahaya minta waktu untuk berbicara berdua saja dengan Kak Alan," ujar Cahaya dengan menarik lembut tangan Alan untuk keluar dari kamar perawatan Senja.


Sebelum Cahaya pergi, Senja kembali memohon kepada Cahaya, dan Cahaya semakin tidak tega kepada Senja.

__ADS_1


"Kak, Senja mohon," ujar Senja dengan memegangi tangan Cahaya.


"Maaf Senja, Kakak harus membicarakan semuanya dengan Kak Alan, karena semua keputusan ada di tangan Kak Alan bukan di tangan Kak Cahaya. Kak Alan bukan barang yang bisa dibagi, dan Kak Alan juga bukan boneka yang tidak mempunyai hati," ujar Cahaya yang langsung saja membawa Alan untuk pergi.


"Dira, sebaiknya kita pulang saja, aku gerah jika terus berada di sini," ajak Mama Anggi.


Papa Satya langsung saja mengekor kepada Mama Anggi dan Mama Indira, sedangkan Papa Hilman masih diam di kamar perawatan Senja, karena Mama Indira masih mengacuhkannya.


"Sita, ada yang mau Mas bicarakan, apa bisa kita keluar sebentar?" tanya Papa Hilman.


Papa Pras yang sudah mendengar semuanya jika Cahaya adalah Anak Papa Hilman dan Mama Sita langsung saja angkat suara.


"Apa kalian mau mengenang malam pertama yang telah kalian berdua lakukan?" sindir Papa Pras.


"Jaga mulut kamu Prasetyo, semuanya adalah kesalahanku karena berada dalam pengaruh alkohol, dan Sita tidak pernah melakukan kesalahan apa pun juga."


"Aku yakin Sita pasti sangat menikmatinya apalagi kalian sampai memiliki Anak, dan aku rasa kalian tidak hanya sekali melakukannya," ujar Papa Pras yang kembali melontarkan sindiran pedas, dan Mama Sita hanya menangis mendengar hinaan dari Papa Pras.


"Pa, Om Hilman benar, Papa jangan berbicara seperti itu kepada Mama, selama ini Mama adalah Ibu terbaik untuk Senja."


"Senja, kita tidak boleh tertipu lagi oleh mulut manisnya, karena kenyataannya dia adalah seorang ja*lang yang sudah tega mengkhianati Kakak kandungnya sendiri."


Papa Hilman yang merasa kesal terhadap Papa Pras hendak melayangkan tinju, tapi sebelum Papa Hilman melakukannya, Mama Sita sudah terlebih dahulu menampar keras pipi Papa Hilman.


Plak


Tamparan keras kini mendarat pada pipi Papa Hilman, sehingga membuat semuanya merasa heran.


"Kenapa kamu menamparku Sita? aku hanya berusaha untuk membelamu," ujar Papa Hilman.

__ADS_1


"Aku tidak butuh pembelaan darimu Mas, semua ini berawal dari perbuatanmu yang sudah merusak hidupku," teriak Mama Sita.


Hilman langsung bersimpuh di depan Mama Sita karena semakin merasa bersalah.


"Sita, maafin kesalahan yang telah Mas lakukan, Mas tau kalau kesalahan Mas sama kamu sangat besar, seandainya dari dulu kamu menceritakan semuanya bahwa kamu saat itu mengandung Anak Mas, Mas pasti akan bertanggungjawab," ujar Papa Hilman.


"Apa aku tidak salah dengar? kamu mau bertanggungjawab? tanggung jawab seperti apa yang bisa kamu lakukan, sedangkan kamu sendiri adalah Suami dari Kakakku?" ujar Mama Sita dengan menangis.


Papa Pras semakin geram dengan perkataan Papa Hilman.


"Kalau kalian berdua mau bernostalgia, silahkan keluar dari sini, karena Senja butuh istirahat," teriak Papa Pras.


Mama Sita yang tidak ingin meninggalkan Senja, langsung mengusir Papa Hilman.


"Pergi kamu dari sini Mas, jangan pernah menampakan diri lagi di hadapanku."


"Sita, tolong maafkan aku, aku mohon. Selama ini aku sudah menganggap kamu sebagai Adik kandungku sendiri, dan aku bersedia menebus semua kesalahan yang telah aku perbuat dengan melakukan apa pun juga," ujar Papa Hilman yang masih enggan untuk pergi dari kamar perawatan Senja sebelum mendapatkan maaf dari Mama Sita.


Mama Sita akhirnya terpaksa memaafkan Papa Hilman supaya cepat pergi dari sana.


"Mas, sudahlah, aku sudah memaafkan kesalahan yang telah Mas Hilman lakukan, sekarang aku minta Mas Hilman jangan pernah menggangguku lagi. Mas juga sudah membesarkan Cahaya dengan baik, dan itu sudah cukup untuk menebus semua kesalahan yang telah Mas Hilman perbuat di masalalu."


"Terimakasih Sita, semoga kamu selalu bahagia, dan Mas akan selalu menjadi Kakakmu. Pras aku minta jaga Sita baik-baik, kejadian di masalalu sepenuhnya adalah kesalahanku," ujar Papa Hilman kemudian keluar dari kamar perawatan Senja.


......................


Cahaya yang sudah bersama Alan kini duduk di bangku taman depan Rumah Sakit, tapi Cahaya terlihat berat untuk berbicara terhadap Alan.


Alan yang menunggu Cahaya tidak kunjung bicara pun, memutuskan untuk membawa Cahaya ke sebuah tempat, dan Alan langsung saja menggendong tubuh Cahaya tanpa terlebih dahulu meminta persetujuan darinya.

__ADS_1


"Kak turunin, Cahaya malu," ujar Cahaya dengan menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Alan.


"Kenapa harus malu, kita ini adalah pengantin baru, dan semua orang pasti memahami itu," ujar Alan tanpa mau mendengarkan permintaan Cahaya untuk turun, bahkan Alan langsung melajukan mobilnya.


__ADS_2