Cahaya Di Ujung Senja

Cahaya Di Ujung Senja
Bab 31 ( Hari bahagia sekaligus duka )


__ADS_3

Hari ini Cahaya dan Alan akan melangsungkan pernikahan, dan Alan terus saja mondar mandir karena sudah merasa gugup.


"Alan sayang, kenapa kamu terus saja mondar mandir seperti setrikaan? Mama sampai pusing melihat kelakuan kamu," ujar Mama Anggi.


"Ma, Alan grogi banget nih," ujar Alan.


"Kamu tenang saja, semuanya pasti akan berjalan dengan lancar. Alan sebaiknya minum dulu," ujar Mama Anggi dengan memberikan segelas air putih kepada Alan, dan Alan langsung saja menenggaknya hingga tandas.


Setelah semua persiapan selesai, Alan dan keluarga kini menuju rumah Cahaya.


Alan yang melihat Cahaya menyambut kedatangannya dan keluarga terlihat begitu terpesona sampai tidak mengedipkan matanya.


Cahaya terlihat sangat cantik, aku adalah lelaki beruntung karena mendapatkan gadis sebaik dan secantik Cahaya, ucap Alan dalam hati.


Cahaya dan Alan kini dipersilahkan untuk duduk di depan penghulu, tapi pada saat Alan hendak menjabat tangan Pak Penghulu, Mama Sita datang untuk mengatakan semuanya.


"Tunggu Pak, ada sesuatu hal yang harus saya katakan, karena Ayah kandung Cahaya masih hidup, jadi dia sendiri yang akan menjadi Wali pernikahan Anaknya," ujar Mama Sita.


Semua orang kini terlihat kaget dengan perkataan Mama Sita, apalagi Mama Sita kini menghampiri Mama Indira.


"Kak, Maafin Sita, karena selama ini Sita sudah menyembunyikan rahasia besar dari Kakak," ujar Sita dengan memeluk tubuh Indira.


"Apa maksud kamu Sita, Apa rahasia besar yang sudah kamu tutupi dari Kakak?" tanya Indira yang sudah merasa penasaran.


Mama Sita beberapa kali mengembuskan nafas kasar sebelum angkat suara.


"Sebenarnya Mas Hilman adalah Papa kandung Cahaya," ujar Mama Sita, sehingga Mama Indira bagai tersambar petir mendengarnya, begitu juga dengan Hilman.

__ADS_1


Plak


Satu tamparan keras kini mendarat di pipi Mama Sita, dan semua orang terlihat terkejut dengan yang dilakukan oleh Mama Indira.


"Jaga bicaramu Sita, bisa-bisanya kamu memfitnah Suamiku melakukan hal bejat seperti itu, bukankan kamu sendiri yang bilang kalau Cahaya adalah Anak kandung mendiang Firman?" ujar Mama Indira.


Papa Hilman yang mendengar perkataan Mama Sita langsung saja berlutut di depan Mama Indira untuk meminta maaf, karena Papa Hilman memang mengakui semua perbuatan yang pernah ia lakukan terhadap Mama Sita.


Mama Indira menatap heran dengan yang dilakukan Papa Hilman saat ini.


"Pa, apa yang sedang Papa lakukan, kenapa Papa berlutut di depan Mama?" tanya Mama Indira.


"Ma, maafin Papa, malam itu Papa mabuk, dan Mama sedang pergi ke luar kota untuk perjalanan Dinas, Papa tidak sadar dan mengira jika Sita adalah Mama, jadi malam itu Papa sudah merenggut kesucian Sita."


Tubuh Mama Indira langsung merasa lemas, ia tidak menyangka sedikit pun jika Suami yang sangat dia cintai dan Adik yang sangat disayanginya sudah mengkhianati dirinya.


"Ma, apa pun yang terjadi, bagi Cahaya Mama adalah Ibu terbaik di Dunia ini, meskipun pada kenyataannya Cahaya terlahir dari sebuah kesalahan," ujar Cahaya dengan menangis, begitu juga dengan Mama Indira yang saat ini menangis dalam pelukan Cahaya, sehingga membuat semua orang yang berada di sana merasa terharu.


"Nak, Cahaya tidak bersalah, Mama sangat bersyukur karena Tuhan telah mengirimkan Cahaya dalam kehidupan Mama, karena Mama bukanlah perempuan yang sempurna. Hari ini adalah hari bahagia kamu Nak, meskipun bagi Mama hari ini adalah hari yang paling menyakitkan dalam kehidupan Mama, tapi Mama akan berusaha bahagia demi Cahaya."


Mama Indira langsung menggandeng Cahaya untuk duduk di samping Alan, begitu juga dengan Papa Hilman yang saat ini duduk di depan Alan untuk menjadi Wali nikah Cahaya.


Dengan tangan bergetar karena masih belum percaya kalau Cahaya adalah Anak kandungnya sendiri, Papa Hilman menjabat tangan Alan, dan Alan akhirnya mengucap ijab kabul dengan lantang, sehingga semuanya bernapas dengan lega karena kini Alan dan Cahaya sudah resmi menjadi pasangan Suami istri, meskipun harus melalui berbagai rintangan dahulu untuk mereka bisa bersatu.


Cahaya dan Alan kini bisa tersenyum bahagia karena akhirnya mereka bisa bersatu dalam ikatan suci pernikahan.


Cahaya kemudian mencium punggung tangan Alan yang sudah sah dimata hukum dan Agama sebagai Suaminya, begitu juga dengan Alan yang langsung mencium kening Cahaya.

__ADS_1


"Terimakasih sayang atas semua kebahagiaan ini, Kak Alan berjanji hanya akan ada Cahaya satu-satunya perempuan yang selalu Kak Alan cintai," ujar Alan dengan memasukan cincin pernikahan ke dalam jari manis Cahaya.


"Harusnya Cahaya yang berterimakasih kepada Kak Alan karena selalu setia untuk menunggu Cahaya, meskipun sebelumnya Cahaya selalu egois dan tidak pernah memikirkan perasan Kak Alan."


Alan langsung saja memeluk tubuh Cahaya dan mendekapnya dengan erat, sehingga menjadi bahan olokan Papa Satya.


"Sekarang udah bisa bernapas lega kan? Papa juga gak bakalan melarang kamu deket-deket sama Cahaya lagi, karena kalian berdua sudah muhrim. Selamat ya sayang, Papa do'akan semoga kalian berdua selalu bahagia," ujar Papa Satya dengan memeluk tubuh Alan dan Cahaya.


"Mama juga akan selalu mendo'akan kebahagiaan kalian berdua, Mama sangat beruntung karena sekarang Mama mempunyai Menantu cantik dan baik seperti Cahaya."


"Cahaya yang lebih beruntung karena mempunyai Mertua sebaik Mama dan Papa."


"Terimakasih Pa, Ma, Alan yang paling beruntung karena mempunyai orangtua yang sangat menyayangi dan selalu mendukung Alan. Sekarang Alan akan menjadi imam yang baik untuk istri Alan tercinta ini," ujar Alan sehingga membuat Cahaya tersenyum malu.


Mama Indira juga menghampiri Alan dan Cahaya, dan beliau kembali menangis melihat Putri yang ia besarkan dengan tangannya sendiri, akhirnya menikah dengan lelaki yang dicintainya.


"Selamat ya sayang, semoga kalian berdua menjadi keluarga yang sakinah, mawadah dan warohmah, dan apa pun yang terjadi jangan sampai ada pengkhianatan dalam rumah tangga kalian," ujar Mama Indira dengan menatap sinis terhadap Papa Hilman dan Mama Sita.


"Ma, atas nama kedua orangtua kandung Cahaya, Cahaya meminta maaf yang sebesar-besarnya. Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan, dan Cahaya yakin kalau Mama Sita dan Papa Hilman tidak sengaja melakukan semua itu."


"Nak, semua itu bukan kesalahan Cahaya, jadi Cahaya jangan pernah merasa bersalah dengan pengkhianatan yang telah mereka berdua lakukan," ujar Mama Indira yang masih menganggap kalau Papa Hilman dan Mama Sita adalah pengkhianat.


Mama Sita tertunduk sedih dengan perkataan Kakak kandung yang sangat dia sayangi, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk membuat Mama Indira memaafkan semua kesalahan yang telah ia lakukan.


"Sayang, maaf ya, Mama tidak bisa mengikuti acara sampai selesai, kepala Mama rasanya pusing, jadi Mama lebih baik ke kamar saja untuk beristirahat," ujar Mama Indira dengan berlalu meninggalkan semuanya.


Cahaya merasa sedih karena di hari bahagianya harus ada kejadian yang membuat semua orang merasa terluka.

__ADS_1


"Sayang, berikan Mama Indira waktu, Kak Alan yakin kalau semuanya pasti akan baik-baik saja dengan seiring waktu," ujar Alan dengan mendekap erat tubuh Cahaya, dan dari kejauhan ada seseorang yang mengepalkan tangannya melihat Alan dan Cahaya yang sudah resmi menikah.


__ADS_2