
Hari ini Senja sudah diperbolehkan pulang dari Rumah Sakit, sedangkan Alan memutuskan untuk pulang ke Jakarta terlebih dahulu karena harus mengurus pekerjaan di Perusahaannya yang sudah dua minggu ini ia tinggalkan
Senja selalu ingin dekat dengan Alan, sehingga dia terus merengek tidak mau Alan tinggalkan.
"Senja, aku harap kamu mengerti pekerjaanku, bagaimanapun juga aku punya tanggung jawab pada Perusahaan, kamu tidak mau kan melihat Perusahaan yang sudah aku bangun bangkrut begitu saja," ujar Alan yang merasa kesal terhadap Senja yang sama sekali tidak mengerti dirinya.
Senja berbeda sekali dengan Cahaya yang selalu mendukungku dalam pekerjaan, bahkan aku bisa sesukses sekarang karena dukungan dari Cahaya, batin Alan.
"Senja jangan seperti ini, kasihan Nak Alan, kamu harus belajar untuk memahaminya, Nak Alan juga bekerja demi masa depan kalian," ujar Mama Sita.
"Baiklah kalau Kakak ingin tetap pulang ke Jakarta, tapi jangan lama-lama ya, terus nanti kalau Kakak ke sini lagi, Kak Alan harus membawa orangtua Kak Alan untuk membicarakan pernikahan kita," ujar Senja.
"Nanti Kakak akan mencari waktu yang tepat. Semoga kamu cepat sembuh," ujar Alan kemudian pergi begitu saja.
"Kenapa sih Kak Alan tidak ada inisiatif untuk memeluk atau mencium kening Senja, seperti di dalam film," ujar Senja dengan cemberut.
"Apa sih yang Senja pikirkan, Nak Alan berarti menghargai Senja, karena kalian berdua masih belum muhrim," jelas Mama Sita.
Alan sebenarnya diam-diam ingin menemui Cahaya terlebih dahulu ke dalam kamarnya sebelum ia kembali ke Jakarta, dan Alan langsung saja mengendap-endap seperti maling.
Alan yang melihat Cahaya melamun dengan menghadap ke arah luar jendela pun langsung saja memeluk tubuh Cahaya dari belakang.
"Sayang, Kak Alan merindukan Cahaya," ujar Alan dengan menghirup dalam-dalam aroma tubuh Cahaya.
"Kak, jangan seperti ini, bagaimana nanti kalau sampai Senja melihat kita, Cahaya tidak mau kalau Senja sampai sedih."
"Lalu apa pikir Kakak tidak tau kalau kamu juga sedih, dan apa pikir Kak Alan bahagia dengan semua ini? Kak Alan tersiksa dengan semua ini sayang, apalagi sudah satu minggu lebih Cahaya selalu menghindari Kak Alan."
"Semua tentang kita sudah berakhir Kak, saat ini pasangan Kakak adalah Senja, dan Cahaya hanyalah masalalu Kak Alan," ujar Cahaya dengan tertunduk sedih.
__ADS_1
Alan kini membalikan tubuh Cahaya, kemudian Alan menatap lekat wajah perempuan yang sangat dicintainya.
"Jangan menangis ya sayang, kita pasti bisa melewati semua ini, sekalipun kita tidak ditakdirkan untuk bersama, tapi Kak Alan akan selalu ada untuk Cahaya."
"Maaf jika Cahaya sudah memaksa Kakak untuk mencintai Senja, Cahaya tau kalau semua ini tidak mudah untuk Kakak, begitu juga untuk Cahaya. Akan tetapi, jika Cahaya tidak berusaha untuk menghindari Kak Alan, nanti Cahaya akan lebih berat untuk melepaskan Kakak."
Alan kembali mendekap tubuh Cahaya dengan erat, Alan tidak rela untuk melepaskan Cahaya.
"Seharusnya sekarang kita berdua pulang untuk mempersiapkan pernikahan kita yang akan dilaksanakan minggu depan, tapi kenapa semuanya menjadi seperti ini, Kak Alan masih belum rela sayang."
Bahkan Cahaya lebih tidak rela lagi Kak, tapi demi kesembuhan dan kebahagiaan Senja, Cahaya harus melakukan semua ini, batin Cahaya.
"Kak, tolong sampaikan permintaan maaf Cahaya kepada Mama dan Papa, maaf Cahaya belum bisa pulang, dan maaf juga karena Cahaya sudah membatalkan pernikahan kita," ujar Cahaya dengan menahan sesak dalam dadanya.
"Apakah ini akhir dari kisah cinta kita?" tanya Alan dengan menatap lekat wajah Cahaya, kemudian Alan meneteskan airmata, apalagi melihat Cahaya yang terus saja menangis.
"Kak, masalah jodoh tidak ada yang tau, kalau memang kita berjodoh apa pun rintangan yang kita hadapi pasti akan ada jalan untuk kita bisa bersatu. Kakak hati-hati ya, sampaikan salam Cahaya untuk Mama dan Papa," ujar Cahaya, dan Alan langsung saja mengecup kening Cahaya dengan waktu yang cukup lama.
Dengan berat hati Alan melepaskan pelukannya terhadap Cahaya, lalu Alan mengucap Salam sebelum dia pergi.
Cahaya langsung saja menangis, apalagi pada saat melihat Alan melajukan mobilnya.
"Maafin Cahaya Kak, maafin Cahaya," ucap Cahaya dengan terus menatap mobil yang ditumpangi Alan, sampai akhirnya mobil tersebut hilang dari pandangan Cahaya.
......................
Setelah sampai di Jakarta, Alan langsung saja menuju kediaman Mama Indira, karena Mama Anggi sudah menunggu Alan di sana untuk menjelaskan semuanya.
"Assalamu'alaikum Ma," ucap Alan kepada Mama Indira dan Mama Anggi.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam Nak, gimana kabar Alan, baik-baik saja kan?" tanya Mama Indira.
"Alhamdulillah Ma," jawab Alan yang terlihat lesu.
Mama Anggi langsung saja memeluk tubuh Alan yang terlihat lemas.
"Sayang, Alan yang sabar ya, Mama tau semua ini pasti berat untuk Alan, tapi Alan harus yakin kalau Cahaya adalah jodoh Alan, dan kami akan membantu kalian supaya dapat bersatu," ujar Mama Anggi.
"Tapi Ma, Cahaya tetap pada pendiriannya yang akan mengorbankan apa pun untuk Senja, dan Alan hanya bisa menghormati keinginan perempuan yang Alan cintai."
"Situasi ini memang sangat sulit, dan Mama yakin jika Sita masih belum jujur kepada Suami dan Anaknya," ujar Mama Indira.
"Iya Mama benar, sampai saat ini Mama Sita masih menyembunyikan status Cahaya yang sebenarnya," ujar Alan.
"Semoga saja Senja bisa segera sembuh, dan dia bisa menerima hubungan Alan dan Cahaya," ujar Mama Indira yang di Amini oleh Mama Anggi dan Alan.
"Kasihan Cahaya pasti hatinya sangat sakit karena harus melepaskan Alan untuk Senja," ujar Mama Anggi.
"Iya Ma, bahkan Cahaya rela memberikan cincin pertunangan kami kepada Senja supaya Alan bisa melamar Senja."
"Anakku yang malang, seandainya Cahaya tidak mengetahui semua kebenaran tentang Sita, mungkin semuanya tidak akan terjadi seperti ini," ujar Indira dengan meneteskan airmata.
"Semua ini sudah terjadi Dira, dan sebagai orangtua kita hanya bisa mendo'akan yang terbaik untuk kebahagiaan Anak-anak kita." Mama pasti akan melakukan apa pun demi kebahagiaan Alan dan Cahaya, semoga saja nanti Senja bisa menerima semuanya, lanjut Mama Anggi dalam hati.
"Ya sudah kalau begitu kita pulang sekarang Ma, Alan juga cape ingin istirahat," ajak Alan kepada Mama Anggi.
"Sayang, kalau Alan cape, sebaiknya Alan istirahat dulu di kamar Cahaya," ujar Mama Indira.
"Apa boleh Ma?" tanya Alan yang terlihat antusias.
__ADS_1
"Tentu saja Nak, di sana Alan bisa melihat potret kebahagiaan Alan dan Cahaya yang selalu Cahaya pajang dan simpan dengan baik sebagai kenang-kenangan untuk kalian berdua," ujar Mama Indira.