Cahaya Di Ujung Senja

Cahaya Di Ujung Senja
Bab 15 ( Pengorbanan Cahaya )


__ADS_3

Cahaya yang sudah merasa mengantuk pun kini menyandarkan kepalanya di tembok dan langsung tertidur.


Alan yang melihat Cahaya tertidur, melepas jaket yang ia kenakan dan menutupi tubuh Cahaya dengan jaket tersebut, kemudian Alan menyandarkan kepala Cahaya pada bahunya dan Alan ikut memejamkan mata.


Mama Sita yang melihat perhatian Alan kepada Cahaya, merasa bahagia karena ternyata Alan sangat mencintai Cahaya.


Semoga kalian selalu bahagia Nak, Mama ikut bahagia melihat kalian yang saling menyayangi, ucap Mama Sita dalam hati.


Mama Sita kembali teringat dengan Senja yang terlihat menyukai Alan, sehingga membuat Mama Sita bingung.


Bagaimana aku memberitahukan semuanya kepada Senja bahwa calon istri Alan adalah Cahaya, Kakaknya sendiri. Apa Senja akan mengerti, tapi aku takut kalau Senja akan syok jika mengetahui semua ini, apalagi saat ini dia sedang menderita penyakit parah, ucap Mama Sita dalam hati.


......................


Keesokan paginya, Alan dan Cahaya terbangun pada saat mendengar suara Adzan Subuh.


Cahaya yang melihat dirinya diselimuti oleh jaket Alan langsung saja tersenyum.


"Makasih ya Kak," ucap Cahaya dengan tersenyum.


"Kenapa harus bilang terimakasih? kamu itu calon Istriku sayang, jadi sudah seharusnya Kak Alan melakukan semua itu untuk Cahaya," ujar Alan yang kemudian mencium kening Cahaya.


"Kak, malu sama Mama," bisik Cahaya.


"Malu-malu tapi mau kan?" goda Alan yang mempunyai kebiasaan mencubit hidung Cahaya karena selalu merasa gemas.


"Ma, Cahaya sama Kak Alan ke Mushala dulu ya, nanti gantian sama Mama kalau kita sudah selesai," ujar Cahaya.


"Iya sayang," jawab Mama Sita dengan tersenyum.


Alan terus saja menggandeng tubuh Cahaya, sehingga Cahaya merasa risih.


"Kak, jangan di gandeng terus dong, Cahaya malu, semua orang lihatin kita."


"Truk aja gandengan, masa kita enggak," goda Alan dengan cengengesan.


"Udah gak usah cemberut, apa mau Kak Alan cium hem?" goda Alan dengan menaik turunkan alisnya, sehingga Cahaya bergegas menuju kamar mandi, karena tingkah laku Alan selalu membuatnya malu.

__ADS_1


Setelah melaksanakan Shalat Subuh, Alan dan Cahaya kini memanjatkan do'a.


Ya Allah berikanlah kesembuhan kepada Senja, jika memang dengan mengorbankan perasaan hamba bisa membuat Senja sembuh, hamba bersedia asalkan Senja diberikan kesembuhan, sebait do'a yang dipanjatkan oleh Cahaya di dalam hatinya.


Ya Allah, semoga saja Engkau segera mempersatukan hamba dan Cahaya dalam ikatan suci pernikahan, karena hamba sangat mencintai Cahaya, dan hamba tidak mau jika sampai kehilangannya. Serta berikanlah kesembuhan kepada Senja, dan semoga Senja bisa menerima dengan ikhlas hubungan kami berdua, ucap Alan dalam hati.


Alan akhirnya menunggu Cahaya di depan Mushala, dan mata Cahaya terlihat sembab karena terus saja menangis.


"Sayang kamu baik-baik saja kan?" tanya Alan yang merasa khawatir kepada Cahaya.


"Cahaya baik-baik saja Kak, sebaiknya kita gantian sama Mama Sita buat tungguin Senja sebelum waktu Shalat Subuh habis."


Alan dan Cahaya kini bergantian dengan Mama Sita untuk menunggu Senja sadar, dan setelah Mama Sita selesai Shalat, Alan meminta ijin untuk mencari sarapan bersama Cahaya.


"Tante, saya mau ngajak Cahaya cari sarapan dulu ya," ujar Alan.


"Kak, tapi Cahaya belum lapar," ujar Cahaya


"Kamu harus makan sayang, Kakak tidak mau kalau Cahaya sampai sakit," ujar Alan.


"Iya Cahaya, Nak Alan benar, kita harus kuat demi Senja," ujar Mama Sita, sehingga Cahaya dengan malas mengikut Alan yang terus saja menarik tangannya dengan lembut.


"Sayang, makan dong buburnya, sini Kak Alan suapi," ujar Alan yang kemudian menyuapi Cahaya dengan telaten, walaupun berkali-kali Cahaya menolaknya.


Setelah selesai sarapan bubur, Alan meminta pedagang bubur membungkus satu porsi bubur untuk Mama Sita.


"Makasih ya Kak, Kakak udah perhatian sama Mama," ucap Cahaya.


"Sayang, apa kamu gak bosen ngucapin terimakasih terus? kita sudah lama saling mengenal dan menjalin hubungan, bahkan sebentar lagi kita berdua akan menikah," ucap Alan dengan memegang tangan Cahaya.


Maaf Kak Alan, Cahaya tidak mungkin bahagia di atas kesedihan Senja, ucap Cahaya dalam hati.


"Ya sudah kalau begitu sekarang kita kembali ke Rumah Sakit," ujar Cahaya yang terlihat murung.


"Cahaya," ucap Alan.


"Apa Kak?" tanya Cahaya, kemudian membalikan wajahnya kepada Alan, dan pipi Cahaya langsung menyentuh bibir Alan yang memang sengaja Alan mendekatkan wajahnya untuk mencuri ciuman dari Cahaya.

__ADS_1


Cup


"Kak Alan ngapain sih? malu tau dilihat orang."


"Makanya jangan cemberut terus, kalau kamu cemberut terus, Kak Alan bakalan terus cium pipi kamu, bahkan mungkin ini," ujar Alan yang saat ini mengusap bibir Cahaya menggunakan jempolnya.


Cahaya langsung tersipu malu, kemudian berniat melarikan diri dari Alan.


"Jangan harap kamu bisa kabur dari genggaman Alan Dirgantara, karena sampai ke ujung Dunia sekalipun, aku akan selalu mengejarmu," ujar Alan dengan memegang tangan Cahaya.


"Siapa juga yang mau kabur, Cahaya mau masuk ke Rumah Sakit kok."


"Terus ngapain tadi jalan duluan?" tanya Alan, tapi Cahaya tidak menjawabnya.


"Ya udah gak usah dijawab, Kak Alan juga tau kalau Calon Istri Kak Alan pemalu," ujar Alan dengan merangkul tubuh Cahaya.


Alan dan Cahaya kini mencari keberadaan Mama Sita yang sudah tidak terlihat di depan ruang ICU, sehingga Cahaya menanyakannya kepada Perawat.


"Sus, Mama saya kemana ya?" tanya Cahaya.


"Oh Ibu yang duduk di sini ya?" tanya Suster.


"Iya Sus," jawab Cahaya.


"Tadi Pasien yang bernama Senja sudah sadar, dan Ibu yang duduk di sini berpesan menyuruh Nona untuk menyusulnya karena Senja sudah dipindahkan ke kamar perawatan VVIP Anggrek nomor 3," ujar Suster.


"Makasih banyak ya Sus, kalau begitu kita susul Mamah Kak," ajak Cahaya yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Alan.


Alan dan Cahaya kini masuk ke dalam kamar perawatan Senja setelah sebelumnya mengetuk pintu dan mengucapkan Salam.


Cahaya langsung melepaskan pegangan tangan Alan pada saat Senja melihat ke arah mereka.


"Senja, Alhamdulillah akhirnya kamu sadar juga," ujar Cahaya kemudian memeluk tubuh Senja.


"Kak, Senja takut meninggal, Senja takut kalau penyakit Senja tidak dapat disembuhkan lagi," ujar Senja dengan menangis dalam pelukan Cahaya.


"Kamu jangan nangis ya, Kakak akan selalu ada untuk Senja, kamu harus yakin bahwa kamu akan sembuh, dan kamu harus semangat, karena ada Kak Alan juga yang akan selalu berada di samping Senja," Kakak bakalan lakuin apa pun untuk kebahagiaan kamu Senja, meskipun Kakak harus mengorbankan perasaan cinta Kakak untuk Kak Alan, lanjut Cahaya dalam hati

__ADS_1


Mama Sita dan Alan merasa terkejut dengan perkataan Cahaya, karena secara tidak langsung Cahaya sudah merelakan Alan untuk Senja, sehingga Alan merasa kecewa.


__ADS_2