
Semua keluarga kini kecewa dengan keputusan Cahaya yang ingin mencari Ibu kandungnya terlebih dahulu sebelum menikah dengan Alan.
"Sayang, coba kamu pikir-pikir lagi keputusan kamu?" ujar Alan dengan menelungkupkan kedua tangannya pada pipi Cahaya.
"Maaf Kak Alan, keputusan Cahaya sudah bulat," jawab Cahaya dengan menitikkan airmata.
"Kenapa sayang, kamu masih bersikukuh ingin mencari Sita?" tanya Mama Indira.
"Cahaya ingin bertanya kepada Mama Sita kenapa dia tega memberikan Cahaya," jawab Cahaya dengan berlinang airmata.
"Tapi kita bisa mencari Mama kamu setelah kita berdua menikah sayang," ujar Alan.
"Sayangnya Cahaya akan pergi mencari Mama Sita besok Kak, tapi semoga saja sebelum satu bulan, Cahaya sudah kembali pulang untuk melangsungkan pernikahan kita berdua."
Kenapa hatiku merasa tidak enak dengan keputusan yang Cahaya ambil? semoga saja tidak terjadi apa-apa dengan hubungan kami nantinya, batin Alan.
Dengan berat hati Alan beserta semua keluarga menerima keputusan Cahaya yang sudah tidak dapat diganggu gugat dengan cara apa pun. Akhirnya kedua orangtua Alan memutuskan untuk pulang terlebih dahulu, sedangkan Mama Indira dan Papa Hilman memberikan waktu berdua untuk Cahaya dan Alan sebelum mereka besok berpisah.
"Sayang, besok Kak Alan antar kamu untuk cari Mama Sita ya," ujar Alan, karena dia tidak mau Cahaya pergi keluar kota sendirian.
"Tidak Kak, Cahaya akan pergi sendiri ke Palembang, Cahaya tidak mau kalau Kakak mengorbankan pekerjaan Kakak hanya demi Cahaya."
"Kamu itu segalanya buat aku Cahaya, dan aku tidak akan mungkin bisa hidup tanpa kamu," ujar Alan dengan memeluk tubuh Cahaya.
"Kak Alan juga segalanya untuk Cahaya, makanya Cahaya tidak mau Kakak mengorbankan masa depan Kakak."
"Kak Alan harap dimana pun Cahaya berada Cahaya akan tetap menjaga hati Cahaya untuk Kakak, karena Kak Alan akan tetap menunggu sampai kita berdua dapat bersatu dalam ikatan suci pernikahan," ujar Alan dengan mengecup kening Cahaya.
"Insyaallah Kak, terimakasih atas semuanya, semoga Kak Alan juga bisa menjaga mata dan hati Kakak," ujar Cahaya dengan tersenyum sekaligus menitikkan airmata karena sesungguhnya hati Cahaya merasa berat untuk berpisah jauh dari Alan dan kedua orangtua angkatnya.
"Aku menginap di sini ya," rengek Alan seperti Anak kecil, dia begitu ketakutan karena besok Cahaya akan pergi meninggalkannya.
"Kak, kita kan belum muhrim, gak enak nanti sama oranglain," ujar Cahaya.
__ADS_1
"Di sini kan ada Mama sama Papa, Kak Alan juga gak bakalan macem-macem, Kak Alan bakalan tidur di sofa," ujar Alan dengan merebahkan dirinya di atas sofa.
Kedua orangtua Cahaya menghampiri Cahaya dan Alan karena mereka mendengar perkataan Alan yang meminta ijin untuk menginap.
"Jadi Nak Alan ingin menginap di sini ya?" tanya Papa Hilman.
"Iya Pa, gak apa-apa kan? soalnya Cahaya ngelarang Alan."
"Iya gak apa-apa kok Nak, Mama sama Papa percaya sama kalian berdua," ucap Mama Indira.
"Ya sudah, sebaiknya sekarang Nak Alan tidur di kamar tamu. Cahaya sana antar Nak Alan," ujar Mama Indira.
Cahaya dan Alan kini berjalan beriringan menuju kamar tamu yang berada di samping kamar Cahaya.
"Lho, kok kamar tamu nya berantakan sih? pasti tadi Bibi lupa beresin," ujar Cahaya yang kini membenarkan sprei supaya rapi.
Alan tiba-tiba memeluk tubuh Cahaya dari belakang.
"Kak, lepasin dulu pelukannya, Cahaya belum beres ngerapihin sprei nya."
"Kak, jangan kayak Anak kecil deh, Cahaya juga pergi gak bakalan lama."
"Entah kenapa aku merasa takut jika kita tidak dapat bersatu Cahaya."
"Mungkin itu hanya perasaan Kak Alan saja. Ya sudah sekarang Kak Alan tidur ya, Cahaya mau istirahat juga, besok kan Cahaya harus bangun pagi."
Cahaya melangkahkan kaki untuk keluar dari kamar tamu, tapi tiba-tiba dia terpeleset, untung saja Alan segera menangkap tubuhnya, sehingga kini mereka berdua saling berpandangan.
Jantung Cahaya dan Alan berdetak kencang karena saat ini wajah mereka hanya berjarak beberapa senti saja.
Alan semakin mendekatkan wajahnya, dan itu membuat hati Cahaya merasa berdebar.
Cup
__ADS_1
Satu kecupan kini mendarat di bibir Cahaya, walau pun Alan dan Cahaya sudah berpacaran selama lima tahun, tapi ini adalah pertama kali mereka berdua berciuman.
"Maaf Cahaya, aku tau jika itu adalah ciuman pertama untuk kita," ujar Alan yang kini melepas pelukannya.
"Aku ke kamar dulu Kak," ujar Cahaya yang menjadi salah tingkah.
"Cahaya pasti marah makanya dia bergegas pergi ke kamarnya. Kenapa sih tadi aku gak bisa menahan diri, padahal kita berdua sudah berkomitmen jika akan melakukannya setelah resmi menjadi Suami Istri," gumam Alan dengan mengacak rambutnya secara kasar.
Di dalam kamar Cahaya, kini Cahaya masih menormalkan debaran dada nya. Cahaya merasa kecewa terhadap Alan yang mengingkari komitmen mereka, tapi dia tidak bisa menyalahkan Alan sepenuhnya, karena tadi dia juga hanya diam saja tanpa menolak keinginan Alan.
"Aku tidak seharusnya marah sama Kak Alan, karena tadi juga saat aku melihat dia mendekatkan wajahnya, aku hanya diam saja. Jadi seperti itu ya rasanya ciuman?" gumam Cahaya dengan senyum-senyum sendiri sampai akhirnya dia ketiduran.
Alan memutuskan untuk mengirimkan pesan kepada Cahaya karena masih merasa tak enak hati.
📤"Cahaya, maafin aku ya, aku tidak bermaksud seperti itu, aku tadi tidak bisa menahan semuanya," pesan Alan.
Alan terus menunggu balasan dari Cahaya, tapi Cahaya tidak kunjung membalasnya.
"Apa Cahaya sudah tidur ya? sebaiknya aku samperin dia ke kamarnya deh, aku coba lewat pintu balkon saja untuk melihat Cahaya sudah tidur atau belum," gumam Alan, kemudian dia keluar menuju balkon.
Alan kaget karena pintu kamar Cahaya menuju balkon terbuka, sehingga Alan bisa masuk ke dalam kamar Cahaya.
"Pantesan saja pesanku tidak di bales, rupanya Bidadariku sudah tidur," gumam Alan dengan menatap lekat wajah cantik Cahaya.
"Kak Alan, aku mencintaimu, sangat sangat mencintaimu," gumam Cahaya yang mengigau lalu tersenyum, dan itu membuat hati Alan berbunga-bunga.
"Kamu harus tau cahaya, kalau aku lebih mencintaimu," gumam Alan dengan mengecup kening Cahaya.
Alan kini membaringkan tubuhnya di samping Cahaya, rasanya dia tidak rela jika sampai Cahaya berada jauh darinya, sehingga Alan memberanikan diri untuk mendekap erat tubuh Cahaya.
Alan yang sudah tidak kuat menahan kantuk kini tertidur dengan memeluk tubuh gadis yang sangat dicintainya.
......................
__ADS_1
Waktu kini sudah menunjukan pukul 04.00 dan Alan langsung terbangun kaget karena sudah ketiduran dengan memeluk tubuh Cahaya yang masih terlelap dalam tidurnya.
"Astagfirullah, kenapa aku sampai ketiduran di sini, aku harus segera pindah sebelum Cahaya terbangun, bisa-bisa Cahaya semakin marah kepadaku," ujar Alan yang kembali pindah ke kamar tamu.