Cahaya Di Ujung Senja

Cahaya Di Ujung Senja
Bab 25 ( Kedatangan Mama Anggi dan Alan )


__ADS_3

Cahaya yang mendengar perkataan Senja, langsung memeluk tubuh Senja dengan sayang.


"Senja tidak boleh berpikiran seperti itu, apa pun yang terjadi, Kak Cahaya tidak akan pernah meninggalkan Senja, karena Kak Cahaya sangat menyayangi Senja."


"Senja juga tidak mau berpisah dengan Kak Cahaya, kalau memang Kak Alan lebih memilih Kak Cahaya sebagai pendamping hidupnya, Senja ikhlas Kak."


Cahaya nampak termenung mendengar perkataan Senja.


"Senja jangan banyak pikiran dulu ya, yang penting sekarang Senja harus segera sembuh," ujar Cahaya yang tidak mau membahas masalah Alan.


"Kak, Apa Kak Cahaya mencintai Kak Alan?" tanya Senja.


"Kakak kan sudah bilang, Senja jangan terlalu banyak pikiran. Apa pun akan Kak Cahaya lakukan yang penting Senja segera sembuh. Sekarang Senja makan dulu ya, biar Kakak suapi Senja," ujar Cahaya, dan Senja akhirnya mau makan setelah dibujuk oleh Cahaya.


......................


Dilain tempat, tepatnya di kediaman Mama Indira, Semuanya kini telah berkumpul untuk membicarakan masalah Alan dan Cahaya.


"Alan, kenapa wajah kamu ditekuk begitu? apa tadi Cahaya telpon?" tanya Mama Anggi.


"Iya, tadi Cahaya telpon Alan, katanya Mama Sita sudah mengakui semuanya kepada Om Pras, tapi Om Pras tidak mempercayai Mama Sita kalau kita semua tidak bisa datang ke Palembang untuk menjelaskan semuanya. Dan lebih parahnya lagi, Om Pras sudah mengusir Cahaya dan Mama Sita, dan itu membuat Alan merasa geram, apalagi Cahaya masih bersikukuh untuk mengalah kepada Senja."


"Kalau begitu besok kita berangkat saja ke Palembang, Mama juga kesel banget denger Cahaya di usir, padahal Cahaya kan kesayangan kita," ujar Mama Anggi.


"Kita tunggu saja sampai Senja sembuh, karena Cahaya pasti tidak mau ikut pulang sebelum melihat Senja sembuh," ujar Alan.


"Iya yang dikatakan Alan benar, karena Cahaya sangat menyayangi Senja, jadi Cahaya tidak akan mungkin mau meninggalkan Senja dalam keadaan sakit. Nanti Mama coba telpon Cahaya supaya memberitahu Mama kalau Senja sudah keluar dari Rumah Sakit," ujar Mama Indira.


"Kita harus secepatnya membawa Cahaya pulang Ma, Papa gak rela kalau Anak kita sampai dihina oleh oranglain, padahal dari kecil kita sebagai orangtuanya saja tidak pernah memarahinya," ujar Papa Hilman.


"Iya Dira aku juga gak rela, sebaiknya aku berangkat besok saja ke Palembang, aku akan memarahi si Pras itu, enak saja main menghina Anakku saja. Gak apa-apa kan Pa kalau Mama ke Palembang besok, mungpung Mama lagi ambil cuti," ujar Mama Anggi yang sudah merasa geram terhadap Papa Pras.

__ADS_1


"Kalau Papa gimana Mama saja, tapi sebaiknya Alan ikut bersama Mama, supaya Papa merasa lebih tenang," ujar Papa Satya.


"Tapi Alan udah lama gak masuk kerja Pa."


"Kamu tenang saja Nak, Papa sudah membereskan semua pekerjaan di kantor, yang penting Papa titip Mama kamu," ujar Papa Satya.


"Bilang aja Papa takut kalau ada yang naksir sama Mama kan," sindir Alan.


"Itu kamu tau," ujar Papa Satya dengan cengengesan.


"Ya sudah, sebaiknya sekarang kita pulang dulu untuk packing baju. Dira kami pulang dulu ya, kamu tenang saja nanti aku yang akan membawa Anak kita pulang," ujar Mama Anggi dengan memeluk tubuh Mama Indira.


"Makasih ya Anggi, aku titip Cahaya. Nanti kalau pekerjaanku dan Mas Hilman sudah beres, kami pasti menyusul kalian," ujar Mama Indira.


Akhirnya Alan dan keluarga pulang ke rumah mereka, dan Mama Anggi langsung saja sibuk memasukan makanan kesukaan Cahaya.


"Ma, kenapa banyak banget bawa makanan," ujar Alan yang terlihat heran, karena Mama Anggi lebih banyak membawa makanan daripada baju mereka.


"Mama kan udah lama gak ketemu sama Cahaya, jadi Mama sengaja bawa makanan kesukaan Cahaya, kasihan Cahaya pasti kurus karena kelakuan si Pras itu."


"Kamu cemburu ya sama Cahaya, kalau Cahaya bukan calon Menantu Mama, Mama Juga gak bakalan terlalu dekat dengan Cahaya."


"Bukannya cemburu Ma, tapi yang sebenarnya Alan bahagia karena mempunyai Mama yang sangat menyayangi calon istri Alan, jarang-jarang ada calon Mertua yang sangat perhatian kepada calon Menantunya," ujar Alan dengan tersenyum.


"Ya sudah sebaiknya sekarang kita istirahat saja, Mama juga sudah selesai packing, besok kita harus bangun Subuh, Mama udah gak sabar buat ketemu Cahaya."


......................


Keesokan paginya, Alan dan Mama Anggi sudah bersiap untuk berangkat ke Palembang dengan di antar oleh Papa Satya menuju Bandara.


Mama Anggi terlihat begitu antusias, sehingga membuat Papa Satya geleng-geleng kepala melihat tingkah konyolnya yang sampai lupa tidak mencium punggung tangan Papa Satya sebelum berangkat, karena Mama Anggi langsung saja naik ke dalam Pesawat.

__ADS_1


"Alan, jaga Mama kamu ya, saking excited nya Mama kamu sampai lupa sama Papa."


"Iya Pa, pokoknya Papa tenang saja, karena Alan bakalan ada 24 jam buat Mama. Kalau begitu Alan berangkat dulu ya Pa, jaga diri Papa baik-baik," ujar Alan dengan mencium punggung tangan Papa Satya kemudian mengucapkan Salam sebelum berangkat.


Mama Anggi sudah terlihat duduk di dalam pesawat pada saat Alan masuk.


"Alan, kok lama banget sih, kamu ngapain aja?" tanya Mama Anggi.


"Mama yang aneh, mau berangkat sampai lupa gak salim dulu sama Papa," sindir Alan.


"Aduh, kenapa Mama pake lupa segala sih, apa Mama samperin Papa lagi."


"Udah gak perlu, Pesawatnya juga udah mau lepas landas, lagian Papa juga pengertian," ujar Alan, sehingga membuat Mama Anggi tersenyum malu.


Sesampainya di Palembang, Alan dan Mama Anggi langsung ke kediaman Prasetyo karena Cahaya bilang kalau Senja memaksa untuk pulang.


Cahaya tidak tau kalau Alan akan datang ke Palembang bersama Mama Anggi, karena Mama Anggi ingin membuat kejutan untuk Cahaya.


Pada saat Mama Anggi sampai di halaman rumah Papa Pras, Cahaya dan Mama Sita terlihat berada di taman depan rumah sedang menemani Senja yang ingin menghirup udara segar.


"Assalamu'alaikum sayang Mama," ucap Mama Anggi dengan langsung memeluk tubuh Cahaya.


"Wa'alaikumsalam, Mama kenapa bisa ada di sini?" tanya Cahaya dengan memeluk erat tubuh Mama Anggi.


"Mama kangen sama kamu sayang, Cahaya baik-baik saja kan?" tanya Mama Anggi yang sengaja tidak menghiraukan keberadaan Mama Sita dan Senja.


Senja menatap heran kedatangan Alan dan Mama Anggi yang sudah terlihat akrab dengan Cahaya.


"Kak Alan, itu siapa?" tanya Senja.


"Itu Mamanya Kak Alan," jawab Alan singkat karena Alan terus saja menatap Cahaya dan Mama Anggi dengan senyuman yang mengembang.

__ADS_1


Sesaat kemudian Papa Pras datang menghampiri semuanya, dan Papa Pras begitu terkejut pada saat melihat wajah Mama Anggi.


Siapakah sosok Mama Anggi sebenarnya?


__ADS_2