
Cahaya yang mendengar perkataan Senja kepada Alan langsung mengurungkan niatnya untuk memberitahukan kepada Senja kalau Alan adalah calon Suaminya.
"Kak, siapa lelaki tampan ini?" tanya Senja dengan berbisik.
"Kita ngobrolnya di dalam saja yuk," ajak Cahaya dengan menggandeng tangan Senja untuk masuk ke dalam rumah.
"Kak, Senja mau bersih-bersih dulu ya," ujar Senja yang terus saja menatap lekat wajah tampan Alan.
Cahaya kini terlihat murung, dan Alan langsung saja membawa Cahaya ke dalam pelukannya.
"Sayang, kamu jangan salah paham ya, tadi pagi Kakak menyelamatkan Senja dari gangguan kedua Preman yang berniat untuk menodainya, bahkan Kakak tidak tau kalau Senja itu Adik kamu."
"Tapi sepertinya Senja sangat menyukai Kak Alan" ujar Cahaya.
"Sampai kapan pun yang Kakak cintai hanya Cahaya, dan tidak akan pernah ada perempuan lain dalam hati Kak Alan," ucap Alan.
Senja kini memanggil Cahaya karena ingin mengorek informasi tentang Alan.
"Kak, Cahaya ke kamar dulu ya," ujar Cahaya dengan melangkahkan kaki untuk menemui Senja, sedangkan Alan memutuskan untuk kembali ke paviliun
Sesampainya di dalam kamar, Senja langsung memberondong Cahaya dengan banyak pertanyaan.
"Oh iya Kak, Kakak belum cerita sama Senja siapa lelaki tampan tadi? Senja yakin kalau dia akan menjadi jodoh Senja. Kemarin Senja pernah bilang kan kalau Senja akan bertemu dengan Pangeran berkuda putih Senja, dan tadi pagi Senja di tolong sama Kak Alan, terus sekarang tiba-tiba Kak Alan berada di sini, berarti emang kita ditakdirkan untuk bersama," cerocos Senja.
"Kak Alan adalah Presdir Dirgantara Grup dari Jakarta, dan tadi Om Pras menyuruh Kakak untuk mengantar Kak Alan ke Proyek. Kak Alan juga sekarang tinggal di paviliun samping rumah," ujar Cahaya.
"Kakak sepertinya udah deket banget sama Kak Alan, Kakak mau kan bantuin Senja supaya Kak Alan mau menjadi kekasih Senja" ujar Senja.
Bagaimana ini, kenapa semuanya jadi seperti ini? tidak mungkin kan aku memberikan calon Suamiku sendiri kepada Adikku. Apa harus aku mengorbankan cintaku dan Kak Alan untuk kebahagiaan Senja, batin Cahaya yang saat ini berada dalam dilema.
"Senja, Kakak mau ke paviliun dulu ya untuk membicarakan masalah bisnis kepada Kak Alan."
"Senja ikut dong Kak biar bisa lebih dekat sama Kak Alan."
__ADS_1
"Nanti juga Kak Alan makan malam di sini, lagian Kakak juga gak bakalan lama kok," ujar Cahaya.
"Tapi Kakak jangan sampai naksir sama Kak Alan lho," ujar Senja yang merasa takut jika Cahaya akan jatuh cinta juga kepada Alan.
Cahaya yang mendengar perkataan Senja hanya bisa tersenyum serta menganggukkan kepalanya.
Untuk sementara aku harus menyembunyikan dulu hubunganku dengan Kak Alan, aku tidak mau membuat Senja sakit hati, ucap Cahaya dalam hati.
Akhirnya Cahaya sampai di paviliun untuk mencari Alan.
"Kak Alan, Kakak dimana?" teriak Cahaya yang tidak melihat keberadaan Alan. Namun, sesaat kemudian Cahaya merasakan pelukan dari belakang tubuhnya.
"Aku kira Kakak pergi kemana," gumam Cahaya.
"Kakak pergi ke hatinya Cahaya," ujar Alan dengan tersenyum.
"Gombal. Oh iya Kakak sedang apa?"
"Jangan tanya Kakak sedang apa, karena setiap saat Kakak sedang memikirkan Cahaya," ujar Alan yang kembali gombal, sehingga Cahaya mencubit pinggang Alan.
"Udah Kak ampun, aku takut nanti malah ngompol di celana," ujar Cahaya dengan tertawa.
Alan begitu bahagia melihat Cahaya tertawa, tapi sesaat kemudian perkataan Cahaya membuat hati Alan terluka.
"Kak, Apa sebaiknya kita putus saja," ujar Cahaya sehingga membuat Alan bagai tersambar petir.
"Apa maksud kamu sayang? kenapa kamu berbicara seperti itu? apa Cahaya sudah tidak mempunyai perasaan cinta terhadap Kak Alan?"
"Bukannya begitu Kak, tapi Senja juga mencintai Kak Alan, dan Senja mengatakan kalau Cahaya tidak boleh jatuh cinta sama Kak Alan," ujar Cahaya dengan menangis.
"Senja berkata seperti itu karena dia tidak mengetahui hubungan kita yang sebenarnya, seandainya Senja tau kalau Kakak adalah calon Suami Cahaya, pasti Senja akan mengerti sayang," ujar Alan dengan memeluk tubuh Cahaya.
"Tapi Cahaya takut jika nanti hati Senja akan terluka jika sampai mengetahui yang sebenarnya tentang hubungan kita."
__ADS_1
"Terus Cahaya lebih memilih untuk mengorbankan perasaan yang kita punya demi Senja? apa pikir semua itu akan membuat kita bertiga bahagia? tidak sayang, yang ada kita semua hanya akan hidup dalam sebuah kebohongan dan akan saling menyakiti," ujar Alan.
Cahaya terlihat memikirkan semua perkataan Alan yang ada benarnya juga.
"Kalau begitu nanti saat makan malam kita harus jujur kepada semuanya," ujar Cahaya dengan tersenyum.
"Jangan takut ya sayang, kamu tidak sendirian, karena akan ada Kak Alan yang selalu berada di samping Cahaya."
"Sebaiknya kita pergi ke rumah utama sekarang saja Kak, sepertinya Mama Sita sama Om Pras juga sudah pulang," ujar Cahaya dengan memegang tangan Alan.
Sesampainya Alan dan Cahaya di rumah utama, ternyata semuanya sudah terlihat berkumpul, termasuk Andre yang sengaja ikut Papa Pras makan malam di rumahnya supaya bisa mendekati Cahaya.
"Cahaya, akhirnya kalian berdua datang juga, ayo duduk Nak Alan," ujar Mama Sita kepada Alan dan Cahaya.
Pada saat Cahaya hendak duduk di samping Alan, Senja tiba-tiba menduduki kursi tersebut, sampai akhirnya Cahaya mengalah dan duduk di kursi yang masih kosong, yaitu di samping Andre.
Mama Sita yang melihat tingkah Senja pun merasa heran.
Kenapa Senja berbuat seperti itu? apa dia belum tau kalau Alan adah calon Suami Cahaya, ucap Mama Sita dalam hati.
"Pa, Ma, tau gak, kalau tadi pagi Senja diganggu oleh dua orang Preman, untung saja ada Kak Alan yang menyelamatkan Senja, Kak Alan emang Pangeran berkuda putih Senja," cerocos Senja.
"Terimakasih banyak Tuan Alan, karena sudah menolong Putri saya," ucap Papa Pras.
"Sebaiknya Om jangan panggil saya Tuan, panggil Alan saja supaya lebih enak," ujar Alan.
"Baiklah kalau begitu Om panggil Nak Alan saja, siapa tau kita bisa menjadi keluarga," ujar Papa Pras dengan tersenyum, karena sudah mempunyai niat untuk menjodohkan Alan dengan Senja.
Alan memang akan menjadi bagian dari keluarga kita Pa, karena sebentar lagi Alan akan menikahi Cahaya. Sebaiknya aku segera memberitahukan kepada Senja kalau Alan adalah calon Suami Cahaya, sebelum perasaan Senja kepada Alan semakin besar, ucap Mama Mayang dalam hati.
"Pa, sepertinya Kak Alan jodoh Senja deh," celetuk Senja, sehingga membuat Mama Sita dan Cahaya tersedak makanan.
"Lho, Mama sama Kak Cahaya kenapa sih, kok sampai tersedak gitu, kalian berdua tidak menyangka kan kalau Senja sudah bertemu dengan jodoh Senja," ujar Senja dengan antusias.
__ADS_1
"Maaf Senja, karena sebenarnya Kak Alan sudah mempunyai Calon Istri, dan sebentar lagi kami berdua akan segera menikah," ujar Alan sehingga membuat Senja merasa syok.