Cahaya Di Ujung Senja

Cahaya Di Ujung Senja
Bab 9 ( Merasa tersentuh )


__ADS_3

Mama Sita terlihat melamun setelah mendengarkan perkataan yang Cahaya ucapkan kepada Mama Indira. Dia tidak menyangka jika Cahaya akan berbohong demi dirinya, padahal Mama Sita sudah menolak Cahaya mentah-mentah.


Ternyata Kak Indira sudah berhasil mendidik Anakku dengan baik, bahkan dia rela berbohong kepada Kak Indira supaya tidak mempermalukanku, ucap Mama Sita dalam hati yang merasa tersentuh dengan yang telah Cahaya perbuat untuknya.


Beberapa saat kemudian, handphone Cahaya kembali berbunyi, dan itu dari Alan tunangannya.


"Assalamu'alaikum Kak," ucap Cahaya pada saat menerima panggilan telpon dari Alan.


"Wa'alaikumsalam. Sayang, kamu kemana aja sih, kenapa daritadi gak ngangkat telpon aku? gak tau apa kalau Kakak khawatir sama kamu," cerocos Alan.


"Iya maaf sayang, tadi aku ketiduran, soalnya cape setelah perjalanan jauh," jawab Cahaya yang kembali berbohong.


"Video call yuk, Kakak pengen lihat wajah cantik kamu," ujar Alan.


"Maaf Kak, Video call nya kapan-kapan aja ya, Cahaya udah ngantuk banget, Kakak juga cepetan tidur, jangan lupa Shalat dulu."


"Ya sudah selamat tidur sayangku, semoga mimpiin aku, muuuuach," ucap Alan dengan mencium handphonenya.


"Selamat tidur juga sayang. Assalamu'alaikum," ucap Cahaya.


"Kok cuma gitu aja? pokoknya Kakak gak bakalan tutup telponnya kalau kamu gak cium balik," rengek Alan.


"Gak enak ada Mama Kak," bisik Cahaya.


"Oh gitu, ya sudah kalau begitu, sekarang kamu istirahat ya, I Love You calon makmum ku. Wa'alaikumsalam," ucap Alan.


"I Love You too calon imamku," bisik Cahaya, tapi Mama Sita masih mendengarnya, sehingga Cahaya tersenyum malu, kemudian kembali menyimpan handphonenya.


Sepertinya Cahaya sudah punya pacar, atau mungkin Calon Suami. Semoga kamu selalu bahagia Nak. Maafin Mama karena semenjak kamu bayi Mama tidak pernah menerima kehadiranmu. Meskipun kamu terlahir dari sebuah kesalahan, tapi kamu tidak berdosa, hanya saja Mama tidak mungkin bisa menerima kamu, karena Mas Pras dan Senja pasti akan marah jika mengetahui masalalu Mama yang pernah hamil di luar nikah. Maafkan Mama juga yang tidak bisa mengatakan semua kebenaranya jika selama ini Ayah kamu masih hidup, dan dia yang merawat kamu sejak bayi, karena dia adalah Suami Kakak kandung Mama sendiri, ucap Mama Sita dalam hati, dengan mengelus lembut rambut Cahaya yang saat ini telah tidur terlelap.


Mama Sita akhirnya merebahkan tubuhnya di sofa dengan terus memandangi wajah Cahaya. Mama Sita merasa berdosa karena sampai Cahaya berumur 22 tahun baru sekarang dia melihat wajah Anaknya tersebut.


................

__ADS_1


Keesokan paginya Cahaya langsung menyunggingkan senyuman pada saat bangun tidur, karena dia bisa melihat wajah Ibu yang telah mengandungnya.


Cahaya tau jika Mama tidak bisa menerima kehadiran Cahaya karena takut jika Om Pras dan Senja akan marah karena Mama sudah membohongi mereka. Akan tetapi, meskipun Mama tidak bisa menerima Cahaya, Cahaya sudah merasa bahagia karena bisa dekat dengan Mama, batin Cahaya.


Cahaya yang melihat pergerakan pada Mama Sita pun langsung menutup matanya untuk berpura-pura tidur lagi.


Mama Sita tersenyum melihat Cahaya yang masih tidur, sehingga ia menghampirinya.


"Maafin Mama sayang, sebenarnya Mama tidak tega kepada Cahaya, tapi Mama tidak mau kalau rumah tangga yang sudah Mama bangun hancur karena Mama mengakui kamu sebagai Anak Mama," gumam Mama Sita dengan mengelus lembut kepala Cahaya, sehingga Cahaya menahan tangisannya karena sedih mendengar perkataan Ibu kandungnya sendiri.


Senja yang baru datang ke Rumah Sakit melihat aneh Mama Sita yang saat ini sedang menangis dengan mengelus kepala Cahaya.


"Mama nangis ya?" tanya Senja.


"Tidak sayang, Mama hanya kelilipan," jawab Mama Sita berbohong.


"Senja kira Mama nangis."


"Tumben pagi-pagi Senja udah bangun? biasanya Senja kan susah kalau dibangunin," sindir Mama Sita.


Cahaya memang Kakak kamu Senja, tapi maaf Mama tidak bisa memberitahukan semua kebenarannya kepada Senja, batin Mama Sita.


"Makasih banyak ya sayang, kebetulan Mama udah lapar. Senja udah sarapan belum?" tanya Mama Sita, dengan membuka makanan yang dibawakan oleh Senja.


"Udah Ma, sebelum ke sini Senja sama Papa udah sarapan dulu."


Cahaya akhirnya kembali membuka matanya karena mendengar suara Senja yang sudah datang.


"Akhirnya Kak Cahaya bangun juga. Gimana keadaan Kakak sekarang, udah lebih baik kan?" tanya Senja.


"Alhamdulillah Kakak udah lebih baik. Senja emang gak ada jadwal kuliah ya?" tanya Cahaya yang pura-pura tidak mendengar percakapan Senja dan Mama Sita.


"Enggak Kak, makanya seharian ini Senja bakalan nemenin Kakak."

__ADS_1


Beberapa saat kemudian Perawat datang mengantarkan makanan untuk Cahaya. Cahaya yang kesusahan pun karena selang infusan yang masih menempel di punggung tangannya akhirnya dibantu oleh Mama Sita karena Senja sedang pergi ke kamar mandi.


Mama Sita kini menyuapi Cahaya dengan telaten, ada rasa sedih dalam hatinya karena sejak bayi Mama Sita tidak pernah mengurus Cahaya, jangankan untuk menyuapinya, untuk sekedar melihat wajahnya pun Mama Sita menolaknya.


"Makasih Tante," ucap Cahaya pada saat dia selesai sarapan.


"Iya sama-sama," jawab Mama Sita dengan tersenyum, sehingga membuat hati Cahaya menghangat.


Senja yang baru keluar dari kamar mandi pun kembali angkat suara karena melihat Mamanya masih berada di Rumah Sakit.


"Mama belum pulang?" tanya Senja.


"Belum sayang, barusan Mama bantu Cahaya sarapan dulu, kasihan dia masih kesusahan. Ya sudah, kalau begitu Mama pulang dulu ya," ujar Mama Sita dengan memeluk tubuh Senja, sehingga Cahaya meneteskan airmatanya.


Kapan Mama akan memeluk Cahaya, batin Cahaya.


"Kak Cahaya kenapa nangis?" tanya Senja.


"Kakak cuma ingat sama Mama saja," jawab Cahaya dengan memaksakan tersenyum.


Mama Sita yang tidak tega melihat Cahaya menangis pun secara perlahan mendekatinya, kemudian memeluk Cahaya dengan erat.


"Semoga Cahaya cepat sembuh ya," ucap Mama Sita dengan menahan tangisannya.


Jadi seperti ini rasanya dipeluk oleh Mama, batin Cahaya.


"Makasih Tante," ucap Cahaya dengan lirih.


"Ya sudah kalau begitu Tante pulang dulu, Senja Mama pulang dulu ya sayang, Assalamu'alaikum," ucap Mama Sita.


"Wa'alaikumsalam," jawab Cahaya dan Senja, dan akhirnya Mama Sita pun melangkahkan kaki keluar dari ruang perawatan Cahaya, kemudian menumpahkan tangisannya yang sudah daritadi ia tahan.


Senja kini duduk di samping ranjang Cahaya.

__ADS_1


"Kak, kapan ya Kakak diizinin pulang dari sini? aku udah gak sabar pengen deket terus sama Kakak, nanti Kakak juga harus tidur di kamar aku," cerocos Senja dan Cahaya hanya mengiyakan perkataan Senja saja.


__ADS_2