Cahaya Di Ujung Senja

Cahaya Di Ujung Senja
Bab 24 ( Masuk Rumah Sakit lagi )


__ADS_3

Mama Sita dan Cahaya yang melihat Senja kesakitan pun langsung menghampirinya, tapi Papa Pras berusaha untuk menghalangi mereka.


"Senja sayang, kamu tidak kenapa-napa kan Nak?" tanya Mama Sita yang terlihat panik.


"Kalian berdua tidak perlu memperdulikan Anakku lagi, pergi kalian dari sini, Senja tidak butuh kalian berdua," teriak Papa Pras.


"Pa, Senja ingin terus berada di samping Mama dan Kak Cahaya di sisa hidup Senja," ujar Senja dengan lirih, kemudian Senja akhirnya pingsan.


"Senja, bangun Nak. Semua ini gara-gara kalian berdua," ujar Papa Pras.


"Kita harus segera membawa Senja ke Rumah Sakit, sekarang Papa lupakan dulu masalah kita, yang penting Senja bisa segera sembuh," ujar Mama Sita dengan menangis.


Akhirnya mereka kembali membawa Senja ke Rumah Sakit, dan setelah sampai, Senja langsung saja dibawa menuju IGD.


Tubuh Papa Pras terasa lemas, sehingga Papa Pras menjatuhkan tubuhnya di depan pintu ruang IGD, beliau terlihat kacau dan terus saja mengacak rambutnya.


"Ma, sebaiknya Mama samperin dulu Om Pras, saat ini Om Pras pasti sedang membutuhkan Mama," ujar Cahaya.


Mama Sita dengan ragu menghampiri Papa Pras, Mama Sita sudah mengira jika Papa Pras akan marah kepadanya, tapi ternyata dugaannya salah, karena pada saat Mama Sita sudah berada di sampingnya, Papa Pras langsung saja memeluk tubuh Mama Sita.


"Ma, Papa takut kehilangan Senja, Papa belum siap jika sampai Tuhan memanggil Anak kita lebih dulu," ujar Papa Pras.


"Pa, masalah umur kan tidak ada yang tau, siap atau tidak semua itu sudah menjadi ketentuan Allah SWT. Mama yakin kalau Senja akan baik-baik saja."


Cahaya yang melihat Mama Sita dan Papa Pras sudah kembali akur, memutuskan pergi ke luar terlebih dahulu untuk menelpon Alan.


πŸ“ž"Assalamu'alaikum Kak," ucap Cahaya.


πŸ“ž"Wa'alaikumsalam Sayang, tumben kamu telpon," ujar Alan.

__ADS_1


πŸ“ž"Maaf kalau Cahaya sudah ganggu Kak Alan."


πŸ“ž"Memangnya ada apa? Kak Alan juga cuma bercanda sayang."


Cahaya hanya diam tanpa menjawab pertanyaan Alan, Cahaya tidak enak karena dirinya selalu memaksa Alan supaya dekat dengan Senja, apalagi sampai menyuruh Alan melamar Senja dengan menggunakan cincin pertunangan mereka.


Alan mencoba memberikan waktu untuk Cahaya berpikir, kemudian dia mengirimkan fhoto dirinya yang saat ini sedang berada di dalam kamar Cahaya, sampai akhirnya Cahaya kembali angkat suara.


πŸ“ž"Kok bisa Kakak ada di kamar Cahaya?"


πŸ“ž"Bisa aja, Mama Indira sendiri yang nyuruh Kakak tidur di kamar kita," goda Alan.


Apa mungkin suatu saat nanti kamar ini akan menjadi kamar kita, ucap Cahaya dalam hati pada saat melihat fhoto yang dikirimkan oleh Alan.


πŸ“ž"Sayang, kalau ada apa-apa Cahaya bicara aja langsung sama Kak Alan. Apa semua ini ada kaitannya dengan Senja?" tanya Alan yang memang sangat mengerti Cahaya.


πŸ“ž"Iya Kak," jawab Cahaya dengan lirih.


Cahaya menghela nafas panjang sebelum akhirnya memulai bercerita kepada Alan.


πŸ“ž"Mama Sita sudah membicarakan semuanya kepada Om Pras bahwa Cahaya adalah Anak kandung Mama Sita, dan Mama Sita juga sudah mengatakan hubungan kita, meskipun pada awalnya Om Pras tidak percaya dengan perkataan Mama Sita jika kedua orangtua kita tidak menemuinya."


πŸ“ž"Apa perlu besok Kak Alan bawa Mama sama Papa ke sana supaya tidak ada lagi kesalahpahaman?" tanya Alan.


"πŸ“žEntahlah Kak, Cahaya bingung harus berbuat apa, karena Senja yang mengetahui bahwa kita berdua adalah saudara satu Ibu terlihat begitu senang, meskipun Senja belum mengetahui hubungan kita yang sebenarnya, tapi pada saat Papa Pras mengatakan jika Cahaya akan merebut Kak Alan dari Senja, Senja bilang dia ikhlas melepas Kak Alan untuk Cahaya."


πŸ“ž"Harusnya Cahaya bahagia jika Senja sudah mengikhlaskan Kak Alan untuk Cahaya, kenapa Cahaya sedih. Kalau memang Cahaya mau pulang, besok Kakak akan jemput Cahaya ke Palembang."


πŸ“ž"Tapi Cahaya tidak tega harus bahagia di atas penderitaan Senja, apalagi saat ini Senja harus kembali dirawat di Rumah Sakit. Mungkin Senja syok melihat Cahaya dan Mama yang di usir oleh Om Pras, sehingga Senja menentang Om Pras supaya tidak mengusir kami.

__ADS_1


πŸ“ž"Jadi Om Pras tega mengusir Cahaya dan Mama Sita? kalau begitu sekarang juga Kak Alan akan menjemput Cahaya ke Palembang. Memangnya Om Pras pikir dia siapa berani mengusir Calon istri Kak Alan."


πŸ“ž"Maaf ya Kak, saat ini Cahaya masih belum bisa pulang, Cahaya ingin melihat Senja sembuh dan hidup bahagia dengan lelaki yang dia cintai."


πŸ“ž"Meskipun lelaki yang Senja cintai adalah calon Suami kamu sendiri? Ya sudah kalau begitu terserah Cahaya, sebaiknya Cahaya tidak usah menelpon Kak Alan lagi," ujar Alan yang merasa kesal dengan sikap baik Cahaya yang selalu mementingkan kebahagiaan oranglain, sampai akhirnya Alan memutuskan sambungan telpon Cahaya tanpa mengucap Salam terlebih dahulu.


Kak Alan pasti marah dengan sikapku yang selalu keras kepala, Cahaya memang sangat mencintai Kak Alan, tapi sebagai seorang Kakak, Cahaya juga menyayangi Senja. Apa yang harus aku lakukan, jika aku memutuskan memilih Kak Alan nanti Senja yang akan sakit hati, tapi jika aku memaksa Kak Alan untuk menikahi Senja, Kak Alan yang akan sakit hati karena harus hidup dengan perempuan yang tidak dia cintai, ucap Cahaya dalam hati.


Sampai akhirnya Cahaya tersadar dari lamunannya karena Andre menepuk pundaknya.


"Cahaya," ucap Andre.


"Kak Alan," ucap Cahaya yang reflek menyebut nama Alan.


"Kamu lagi mikirin Alan ya, sampai-sampai aku yang nanya kamu, yang kamu sebut nama Alan," ujar Andre dengan tersenyum.


"Maaf Dre, saat ini pikiranku sedang tidak fokus."


"Jika kamu tidak bisa melepaskan Alan untuk Senja, jangan pernah memaksakan diri, karena itu hanya akan membuat hati kamu dan Alan sakit karena harus berpura-pura bahagia, dan mungkin jika Senja mengetahui semuanya, dia akan semakin merasa bersalah karena sudah merasa merebut Calon Suami Kakaknya sendiri."


"Tapi aku tidak mau menyakiti Senja jika sampai aku dan Kak Alan menikah."


"Apa bedanya dengan kamu yang terus membohongi Senja, sama saja kamu juga menyakiti hati Senja."


Cahaya nampak berpikir dengan semua perkataan Andre yang memang ada benarnya juga, tapi dia masih bingung dengan langkah yang akan dia pilih.


"Sudahlah jangan terlalu banyak pikiran, sebaiknya sekarang kita melihat Senja, karena barusan dia sudah sadar dan langsung menanyakan keberadaan kamu."


Akhirnya Cahaya dan Andre menuju kamar perawatan Senja, karena Senja sudah dipindahkan ke ruang perawatan.

__ADS_1


Senja yang melihat Cahaya menghampirinya, langsung memeluk tubuh Cahaya.


"Kak, Senja takut Kak Cahaya ninggalin Senja, Senja kira Kakak sudah pergi karena tidak mau punya Adik seperti Senja."


__ADS_2