
Mama Sita merasa sedih dengan perkataan Cahaya yang telah rela mengorbankan Cintanya demi Senja.
Ternyata rasa sayang kamu begitu besar untuk Senja, sehingga kamu rela berkorban untuk kebahagiaannya. Mama menyesal karena dulu tidak tidak mau menerima kehadiranmu Nak, jika saja waktu bisa terulang kembali, Mama lebih memilih tidak menikah dalam seumur hidup Mama, yang penting Mama bisa membesarkan Cahaya dengan penuh cinta dan kasih sayang, ucap Mama Sita dalam hati.
Senja yang mendengar perkataan Cahaya langsung saja tersenyum.
"Tapi Kak Alan sudah punya calon Istri Kak," ujar Senja yang kembali cemberut.
"Calon istrinya Kak Alan pasti mengerti kok, kalau Senja saat ini membutuhkan Kak Alan untuk menyemangati Senja supaya cepat sembuh, ya kan Kak," ujar Cahaya kepada Alan dengan sorot mata penuh permohonan.
Terbuat dari apa hati kamu Cahaya, sehingga kamu memilih untuk terluka demi orang yang kamu sayangi, batin Alan, dengan mencoba melangkahkan kaki menuju Cahaya dan Senja.
Cahaya langsung saja menarik tangan Alan untuk duduk di kursi samping ranjang pesakitan Senja.
"Sekarang Senja makan ya, biar Senja cepat sembuh," ujar Cahaya.
"Tapi semuanya terasa pahit Kak," rengek Senja.
"Kalau pengen semuanya terasa manis, Senja lihat saja wajah Kak Alan, biar Kak Alan yang menyuapi Senja makan," ujar Cahaya dengan memberikan mangkuk bubur milik Senja kepada Alan.
"Ma, kita keluar dulu yuk, tadi Kak Alan juga udah beliin bubur buat Mama," ujar Cahaya.
Cahaya hendak melangkahkan kaki untuk keluar dengan Mama Sita, tapi Alan mencekal pergelangan tangan Cahaya, namun lagi-lagi Cahaya mengedipkan matanya sebagai isyarat kepada Alan, sehingga dengan berat hati Alan melepaskan pegangan tangannya kepada Cahaya dan membiarkan Cahaya keluar dengan Mama Sita dari kamar perawatan Senja.
Setelah berada di luar kamar perawatan Senja, Cahaya langsung menumpahkan tangisannya yang sudah tidak dapat Cahaya bendung lagi.
Mama Sita yang melihat Cahaya menangis pun langsung memeluknya.
"Maafin Mama Sayang, tidak seharusnya Cahaya berkorban untuk Senja. Mama tau kalau Cahaya dan Alan saling mencintai, tapi Mama tidak berdaya untuk mengatakan semuanya kepada Senja," ujar Mama Sita, sehingga Cahaya kini menumpahkan tangisannya dalam pelukan Mama Sita.
"Saat ini yang penting bagi Cahaya adalah kesembuhan dan kebahagiaan Senja Ma, meskipun Cahaya harus berpisah dengan Kak Alan, Cahaya ikhlas."
"Semua ini salah Mama Nak, seandainya Mama dulu tidak egois, dan tidak meninggalkan Cahaya waktu bayi, pasti semua ini tidak akan terjadi."
"Jangan pernah menyesali semua yang telah terjadi Ma, yang penting saat ini Mama sudah bersedia untuk menerima Cahaya, semua itu sudah lebih dari cukup."
__ADS_1
"Kamu memang berhati mulia sayang, Mama sangat bangga kepada Cahaya."
"Kalau begitu sekarang Mama makan duku ya buburnya, mungpung masih hangat," ujar Cahaya dengan memberikan bubur tersebut kepada Mama Sita, dan Mama Sita pun langsung memakannya.
......................
Sesaat kemudian, Papa Pras dan Andre datang untuk melihat kondisi Senja sebelum mereka berangkat ke kantor.
"Ma, bagaimana keadaan Senja sekarang?" tanya Papa Pras yang terlihat cemas.
"Papa tenang saja, Senja sudah sadar kok, dan saat ini ada Nak Alan yang sedang menyuapinya makan."
Andre merasa prihatin kepada Cahaya, apalagi saat ini mata Cahaya terlihat sembab.
Cahaya, kamu benar-benar mengorbankan cintamu demi Senja, batin Andre.
Papa Pras yang mendengar jika Senja sedang ditemani oleh Alan pun merasa bahagia.
"Syukurlah Nak Alan mau menemani Senja, pasti Senja akan cepat sembuh jika ditemani oleh lelaki yang dia cintai," ujar Papa Pras yang belum mengetahui kebenaran tentang Alan yang sebenarnya adalah calon Suami Cahaya.
Andre dan Mama Sita merasa prihatin terhadap Cahaya, tapi mereka berdua tidak dapat berbuat apa-apa.
"Ayo Dre kita berangkat kerja saja, biar Cahaya saja yang di sini menemani Mama," ujar Papa Pras kemudian keluar dari Rumah Sakit.
Setelah kepergian Papa Pras, Mama Sita langsung angkat suara untuk menghibur Cahaya yang saat ini terlihat melamun.
"Sayang, maaf ya kalau tadi Cahaya tersinggung dengan perkataan Om Pras, seandainya Om Pras tau kalau Cahaya dan Alan akan segera menikah, Om pras pasti tidak akan mengatakan semua itu."
"Gak apa-apa kok Ma, Cahaya sangat mengerti dengan perasaan Om Pras, Om Pras pasti menginginkan kebahagiaan Senja, dan yang Senja butuhkan saat ini adalah Kak Alan."
"Tapi yang Kak Alan butuhkan adalah Cahaya," ujar Alan yang tiba-tiba ada di belakang Cahaya.
"Kak Alan kenapa ke sini? bagaimana kalau Senja sampai tau?" tanya Cahaya.
"Senja saat ini sudah tidur setelah barusan makan dan minum obat," ujar Alan.
__ADS_1
Mama Sita yang mengerti bahwa Alan dan Cahaya butuh waktu berdua, akhirnya memutuskan untuk ke kamar perawatan Senja.
"Mama ke dalam dulu ya, mungkin Cahaya dan Alan butuh waktu untuk bicara berdua," ujar Mama Sita kemudian masuk ke dalam kamar perawatan Senja.
Alan yang melihat mata Cahaya sembab langsung saja memeluk tubuh Cahaya.
"Kenapa kamu tega meminjamkan Calon Suami sendiri hemm?" ujar Alan.
"Senja saat ini sedang membutuhkan Kak Alan, jadi Cahaya harus rela melakukan semua itu."
"Kalau tidak kuat jangan memaksakan diri, pasti perasaan Cahaya sakit kan karena harus melihat Kakak menemani Senja."
"Yang penting hati Kakak hanya untuk Cahaya kan," ujar Cahaya yang masih belum sepenuhnya merasa rela.
"Bagaimana kalau nanti Kak Alan sampai jatuh cinta kepada Senja karena sering bersama?" tanya Alan.
"Mungkin kita tidak berjodoh," ujar Cahaya dengan menahan sesak dalam dadanya.
"Apa semudah itu kamu akan melupakan cinta kita?" tanya Alan.
"Bukannya begitu, tapi_," perkataan cahaya terpotong karena Alan membungkamnya dengan ciuman, sampai Cahaya merasa kehabisan nafas, Alan baru melepaskannya.
Cahaya masih diam mematung, karena ini untuk kedua kalinya mereka berciuman, meskipun yang pertama hanya sebuah kecupan sekilas.
"Itu hukuman karena kamu sudah nakal," ujar Alan dengan melangkahkan kaki menuju taman.
Cahaya langsung saja mengekor di belakang Alan, sehingga Alan tersenyum tipis.
"Gak usah protes, karena Kak Alan bisa melakukan lebih dari sekedar itu," ancam Alan.
Maafin Kak Alan Cahaya, karena lagi-lagi Kak Alan melanggar komitmen yang telah kita buat, tapi kak Alan tidak bisa menahan diri jika terus berdekatan dengan kamu, apalagi harus melihat kamu menangis, batin Alan.
Alan kini duduk si sebuah bangku taman, dan Cahaya ikut duduk juga di sebelahnya. Mereka berdua kini sama-sama termenung dengan pikiran masing-masing, sampai akhirnya Alan angkat suara.
"Kak Alan hanya akan melakukan semuanya sampai Senja sembuh, karena bagaimanapun juga cinta tidak bisa dipaksakan, jadi jangan pernah berpikir kalau Kakak akan berpaling hati kepada perempuan lain, karena selamanya semua itu tidak akan mungkin terjadi."
__ADS_1