Cahaya Di Ujung Senja

Cahaya Di Ujung Senja
Bab 7 ( Tertabrak mobil )


__ADS_3

Cahaya kini terbangun setelah mendengar Adzan Subuh berkumandang.


"Kenapa semalam tidurku nyenyak sekali ya, aku merasa kalau Kak Alan semalam memelukku. Mungkin itu hanya mimpi," gumam Cahaya dengan senyuman yang tersungging pada bibirnya, kemudian melangkahkan kaki menuju kamar mandi.


Setelah melaksanakan Shalat Subuh, Cahaya mengetuk pintu Alan untuk membangunkannya, tapi ternyata Alan sudah terlihat rapi.


"Tumben Kakak udah bangun? biasanya tiap Subuh Kakak selalu minta aku telpon buat bangunin," ujar Cahaya.


"Sebentar lagi Kakak kan bakalan jadi imam kamu sayang, jadi Kakak harus belajar menjadi Suami dan imam yang baik buat kamu," jawab Alan dengan tersenyum.


Untung saja Cahaya tidak curiga kalau semalam aku ketiduran di kamarnya, ucap Alan dalam hati.


"Bagus deh, nanti kalau kita sudah menikah, Cahaya tidak perlu membawa air buat nyipratin ke wajah Kakak," ucap Cahaya dengan terkekeh.


"Sayang, kamu emang tega mau bangunin Kakak pake air? gak romantis banget sih," ujar Alan dengan cemberut.


"Cahaya cuma bercanda Kak, gak usah cemberut gitu. Ya sudah, kalau begitu sekarang kita turun yuk, kita sarapan dulu sebelum aku berangkat ke Palembang," ujar Cahaya.


"Sayang, apa gak bisa ya keputusan kamu di rubah lagi, nanti kalau kita sudah menikah, kita cari Mama kamu sambil bulan madu," ujar Alan dengan memeluk tubuh Cahaya.


"Enggak Kak, Cahaya pokoknya mau minta do'a restu dulu sama Mama Sita, biar pernikahan kita nanti berjalan dengan lancar," ujar Cahaya yang bersikukuh dengan pendiriannya, sehingga Alan akhirnya menyerah.


Alan kini membawakan koper Cahaya menuju lantai bawah.


"Pagi Ma, Pa," ucap Cahaya dan Alan secara bersamaan pada saat mereka menghampiri Papa Hilman dan Mama Indira yang sudah berada di meja makan.


"Pagi sayang, lho, kok Cahaya sudah siap-siap, emangnya Cahaya jadi pergi sekarang?" tanya Mama Indira yang terlihat sedih.


"Maaf ya Ma, Pa, Cahaya janji kalau Cahaya tidak akan pergi lama," ujar Cahaya dengan memeluk Mama Indira dan Papa Hilman.


"Cahaya harus hati-hati ya Nak, jangan lupa terus kabari Mama."


"Iya Ma, Cahaya pasti akan selalu mengabari Mama, Cahaya pasti akan merindukan kalian semua," ujar Cahaya.


Semoga saja Sita mau mengakui Cahaya, karena dari dulu Sita tidak mau mengakui darah dagingnya sendiri, bahkan Sita tidak pernah mau melihat wajah Cahaya, ucap Mama Indira dalam hati.


Mereka berempat kini sarapan tanpa ada yang mengeluarkan satu patah kata pun, karena mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.

__ADS_1


Setelah selesai sarapan, akhirnya Cahaya pamit kepada Mama Indira dan Papa Hilman.


"Ma, Pa, Cahaya berangkat dulu ya, do'akan Cahaya semoga selamat di perjalanan. Semoga Mama dan Papa juga selalu diberikan kesehatan," ucap Cahaya dengan memeluk tubuh orangtuanya secara bergantian.


Rasanya berat untuk melangkahkan kaki meninggalkan orangtua yang telah membesarkannya dengan penuh cinta dan kasih sayang, tapi Cahaya tetap melangkahkan kaki untuk mencari keberadaan Ibu kandungnya dengan berbekal sebuah alamat.


Alan kini mengantar Cahaya menuju Bandara, dan lagi-lagi Alan enggan melepaskan pelukannya terhadap Cahaya.


"Kak, pesawatnya udah mau berangkat, Cahaya pergi dulu ya," ucap Cahaya, tapi Alan malah mengeratkan pelukannya.


"Pokoknya kalau sampai satu minggu kamu gak pulang juga, Kakak bakalan nyusulin kamu ke Palembang," ujar Alan, yang dengan berat hati melepaskan pelukannya terhadap Cahaya.


"Iya bawel," ujar Cahaya, dan tanpa Alan duga.


Cup


Cahaya berinisiatif memberikan sebuah kecupan di pipi Alan, sehingga Alan terus saja memegangi pipinya dengan perasaan berbunga-bunga.


Alan terus saja melihat ke arah Cahaya yang sudah menjauh sampai akhirnya Cahaya tidak terlihat lagi.


Semoga ini bukan akhir dari kisah cinta kita, karena entah kenapa aku takut kalau kita tidak akan pernah bisa bersama, ucap Alan dalam hati yang merasakan jika separuh jiwanya telah pergi.


......................


"Ma, Pa, Kak Alan, Cahaya kangen kalian. Sebaiknya sekarang juga Cahaya pulang kembali ke Jakarta, percuma Cahaya terus memaksa orang yang tidak punya hati dan tidak menginginkan Cahaya," gumam Cahaya dengan terus menangis, sampai akhirnya.


Brugh


Tubuh Cahaya kini terpental jauh karena tertabrak mobil.


"Astagfirullah Pa, kita telah menabrak orang," ucap seorang gadis bernama Senja yang tidak lain adalah Adik satu Ibu dengan Cahaya.


"Sebaiknya sekarang kita membawanya ke Rumah Sakit," ujar Papa Prasetyo.


Saat ini Cahaya dibawa oleh Senja dan Papa Pras menuju Rumah Sakit yang tidak jauh dari lokasi kejadian, dan Cahaya langsung saja dibawa ke IGD.


......................

__ADS_1


Dilain tempat, tepatnya di kediaman Prasetyo, Mama Sita terus saja mondar mandir karena Suami dan Anaknya belum pulang juga, sampai akhirnya Mama Sita memutuskan untuk menelpon Senja.


"Halo Ma," ucap Senja pada saat mengangkat telpon dari Mama Sita.


"Sayang, kenapa kalian belum pulang juga? Mama kan jadi khawatir," ujar Mama Sita.


"Mama tenang dulu ya, sebenarnya tadi Papa tidak sengaja menabrak seorang gadis, jadi kami memutuskan untuk membawanya ke Rumah Sakit," jawab Senja.


"Innalillahi, tapi kalian berdua tidak kenap-napa kan?" tanya Mama Sita.


"Alhamdulillah Ma, kami tidak kenapa-napa, tapi saat ini gadis yang Papa tabrak masih ditangani oleh Dokter," ujar Jingga.


"Ya sudah kalau begitu sekarang juga Mama ke Rumah Sakit. Kamu Sherlock aja ya, sebentar lagi Mama ke sana," ujar Mama Sita kemudian menutup telponnya.


Beberapa saat kemudian Mama Sita akhirnya sampai di Rumah Sakit yang tidak jauh dari rumahnya, dan ia langsung mencari Senja dan Papa Pras ke depan ruang IGD.


"Papa, Senja sayang, kalian tidak kenapa-napa kan? kenapa Papa bisa sampai nabrak orang?" tanya Mama Sita yang saat ini terlihat panik.


"Sepertinya gadis yang Papa tabrak sedang melamun pada saat menyebrang jalan, jadi saat Papa membunyikan klakson dia tidak mendengarnya," jawab Papa Pras.


Beberapa saat kemudian Dokter keluar dari ruang IGD, dan mereka bertiga bergegas menghampiri Dokter.


"Dok bagaimana keadaan Pasien?" tanya Papa Pras.


"Pasien saat ini membutuhkan transfusi darah, dan darah pasien sangat langka sehingga kami tidak mempunyai stok darah tersebut," jelas Dokter.


"Kalau boleh kami tau apa golongan darah Pasien, siapa tau di antara kami bertiga ada yang memiliki golongan darah yang sama dengan Pasien?" tanya Papa Pras.


"Pasien mempunyai golongan darah O bombay, dan golongan darah itu sangat langka," jawab Pasien.


"Lho, bukannya Mama juga memiliki golongan darah O bombay juga ya," ujar Papa Pras.


Tanpa berpikir panjang akhirnya Mama Sita bersedia untuk mendonorkan darahnya.


"Ya sudah kalau begitu saya akan mendonorkan darah saya untuk Pasien," ujar Mama Sita.


"Untung saja golongan darah Mama sama, soalnya Senja golongan darahnya A sama dengan Papa," ujar Papa Pras.

__ADS_1


Mama Sita akhirnya di bawa oleh perawat ke ruang transfusi darah.


Siapa sebenarnya gadis yang Papa tabrak? kenapa dia memiliki golongan darah langka yang sama denganku, batin Mama Sita yang kini bertanya-tanya.


__ADS_2