Cahaya Di Ujung Senja

Cahaya Di Ujung Senja
Bab 12 ( Sepertinya kita berjodoh )


__ADS_3

Alan masih terlihat diam pada saat Cahaya menanyakan alasan Alan bekerjasama dengan Perusahaan Papa Pras.


Setelah mengembuskan nafas panjang, Alan akhirnya angkat bicara.


"Apa Mama Sita sudah menerima Cahaya?" tanya Alan.


"Kenapa Kakak bertanya seperti itu?" tanya Cahaya.


"Sayang, kita kenal sudah lama, bahkan dari kita berdua masih kecil, Kakak tau apa yang saat ini sedang kamu sembunyikan dari kami," ujar Alan dengan menggenggam erat tangan Cahaya.


"Alhamdulillah, Mama Sita sudah bisa menerima kehadiran Cahaya."


"Tapi Mama Sita masih merahasiakan semuanya dari Suami dan Anaknya bukan?" tanya Alan.


"Iya Kak, karena Mama Sita takut jika rumah tangganya akan hancur kalau Om Pras dan Senja mengetahui masalalu Mama Sita," jawab Cahaya.


"Yang sabar ya sayang, Kakak tau kalau Cahaya pasti sedih dengan semua ini, makanya Kakak mengajak Prasetyo Grup untuk bekerjasama, supaya nanti setelah kita berdua menikah, Cahaya masih bisa dekat dengan Mama Sita."


"Makasih banyak ya Kak, Cahaya tidak tau kalau Kakak akan melakukan semua ini demi Cahaya."


"Apa pun bakalan Kak Alan lakukan demi kamu sayang, karena Cahaya adalah belahan jiwa Kak Alan," ujar Alan yang kembali memeluk tubuh Cahaya.


"Ya sudah kalau begitu kita ke Proyek dulu sebentar, terus Cahaya bakalan ngenalin Kak Alan sama Mama Sita, mungpung Om Pras dan Senja tidak ada di rumah."


Alan akhirnya melajukan mobilnya untuk terlebih dahulu meninjau lokasi proyek tempat kerjasamanya dengan Papa Pras, kemudian setelah selesai, Alan mengajak Cahaya untuk makan terlebih dahulu.


"Sayang, kita makan dulu ya sebelum pergi ke rumah Mama Sita," ajak Alan.


"Sebenarnya Cahaya tadi sudah memasak makanan kesukaan Kak Alan," ujar Cahaya yang terlihat malu-malu.


"Sejak kapan calon istri Kak Alan bisa masak?" goda Alan.


"Kak, sebentar lagi kita kan bakalan menikah, jadi Cahaya harus bisa masakin Kak Alan, supaya Kak Alan betah di rumah," ujar Cahaya.


"Hemm pinter banget sih kamu ngomongnya, ya udah kalau gitu kita langsung ke rumah Mama Sita, Kak Alan udah gak sabar pengen nyobain masakan calon istri Kak Alan ini," ujar Alan dengan mencubit hidung mancung Cahaya.


Setengah jam kemudian Alan dan Cahaya sampai di kediaman Prasetyo, Cahaya langsung saja menggandeng tangan Alan untuk masuk ke dalam rumah.


"Assalamu'alaikum," ucap Cahaya dan Alan pada saat melihat Mama Sita yang sedang membaca majalah di ruang keluarga.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam, sayang kenapa kamu sudah pulang lagi? terus ini siapa?" tanya Mama Sita.


"Kenalin Ma, ini Kak Alan, calon Suami Cahaya," ujar Cahaya, kemudian Alan langsung saja mencium punggung tangan Mama Sita.


"Alan, Tante pangling banget lihat kamu, padahal saat kamu masih kecil kamu itu gendut lho," ujar Mama Sita, sehingga Alan tersenyum malu.


"Cahaya, Om Pras belum tau tentang Alan kan?" tanya Mama Sita yang takut jika Alan menceritakan masalalunya kepada Papa Pras.


"Enggak Ma, Cahaya udah ceritain semuanya sama Kak Alan, makanya Kak Alan mengajak perusahaan Om Pras untuk kerjasama, supaya nanti setelah kami berdua menikah, Cahaya punya alasan supaya bisa terus ketemu sama Mama."


Alan sepertinya sangat mencintai Cahaya, sampai-sampai dia melakukan semua itu demi Cahaya, batin Mama Sita.


"Tante tenang saja, Alan gak bakalan bicara sama Om Pras tentang masalalu Tante," ujar Alan yang melihat kekhawatiran pada wajah Mama Sita.


"Terimakasih ya Alan, kamu sudah bersedia untuk merahasiakan semuanya. Oh ya, tadi Cahaya belajar masak rendang, katanya kamu suka makan rendang ya, kalau begitu sekarang kita makan yuk," ajak Mama Sita.


Akhirnya mereka bertiga makan masakan Cahaya.


"Sayang, masakan kamu enak banget ya," puji Alan.


"Masa sih? perasaan biasa aja," ujar Cahaya.


"Gak usah gombal Kak, gak malu apa sama Mama," ujar Cahaya.


"Kenapa harus malu, Mama kamu juga pernah muda terus Mama kamu bakalan jadi Mama aku juga," ujar Alan.


"Oh iya Tante, Om Pras bilang katanya Alan di suruh tinggal di Paviliun supaya kami bisa mengerjakan proyek dengan cepat jika Alan tinggal di sini."


"Bilang aja Kakak kan yang minta tinggal di sini supaya bisa deket-deket sama aku," ujar Cahaya.


"Idih PD banget, tapi bener juga sih, ngapain Kak Alan jauh-jauh datang ke sini kalau gak bisa selalu deket sama kamu, jadi mulai sekarang Kakak bisa makan masakan kamu setiap hari."


"Kalau begitu nanti Cahaya bersihin paviliun nya ya Ma."


"Iya sayang terserah kamu aja, Mama bahagia jika melihat kalian berdua bahagia," ujar Mama Sita.


Setelah selesai makan, Alan dan Cahaya di antar Mama Sita ke paviliun yang berada di samping rumahnya.


"Nak Alan, maaf ya jika tempatnya kurang nyaman, kalau begitu Tante tinggal dulu, kebetulan Tante mau pergi Arisan," ujar Mama Sita.

__ADS_1


"Iya Tante, makasih banyak ya, Alan pasti betah di sini karena ada pujaan hati Alan," ujar Alan dengan cengengesan.


Cahaya kini menyapu dan mengelap debu yang menempel pada lemari, dan Alan ikut membantu juga meskipun Cahaya melarangnya.


"Kak Alan duduk aja, biar Cahaya yang ngerjain semuanya."


"Gak bisa dong sayang, kalau kita ngerjain semuanya berdua, pekerjaan jadi cepat selesai," ujar Alan, kemudian memeluk tubuh Cahaya dari belakang.


Setelah menyelesaikan semuanya, Cahaya langsung saja mendudukkan tubuhnya di sopa, begitu juga dengan Alan yang langsung menidurkan kepalanya di atas paha Cahaya.


"Makasih ya Kakak sudah membantu Cahaya."


"Sayang, kamu pikir aku siapa, kenapa harus bilang terimakasih segala, Kak Alan kan calon Suami Cahaya," ujar Alan dengan menggenggam tangan Cahaya, kemudian menciumnya.


Cahaya kini mengelus lembut kepala Alan, sampai akhirnya mereka berdua tertidur karena merasa kecapean.


Cahaya dan Alan terbangun pada saat mendengar Adzan Ashar, dan Alan langsung duduk pada saat tersadar jika dia sudah ketiduran di paha Cahaya.


"Sayang, maaf ya Kak Alan sudah ketiduran di paha kamu, Cahaya pasti merasa pegel kan?" tanya Alan yang merasa bersalah.


"Enggak kok Kak, Cahaya gak kenapa-napa. Ya sudah, sebaiknya Kakak sekarang mandi dulu, terus Shalat Ashar ya, Cahaya juga mau mandi sama Shalat Ashar dulu."


Alan akhirnya masuk ke dalam kamar mandi, sedangkan Cahaya kembali ke rumah utama.


Setelah selesai melakukan semuanya, Alan menyusul Cahaya ke rumah utama, dan dia langsung saja memeluk tubuh Cahaya dari belakang pada saat melihat Cahaya sedang memasak di dapur.


"Kamu masak apa sayang? aromanya harum banget?" tanya Alan.


"Aku masak opor Ayam buat makan malam Kak, sebentar lagi Om Pras dan Senja pasti bakalan pulang," jawab Cahaya.


"Emang bener-bener calon istri idaman," puji Alan, sehingga membuat Cahaya tersipu malu.


Cahaya mendengar suara mobil datang di halaman rumah, Cahaya dan Alan kini ke depan rumah untuk melihat siapa yang datang.


"Ternyata Senja sudah pulang," gumam Cahaya dengan menarik tangan Alan untuk memperkenalkannya kepada Senja.


Senja yang melihat lelaki yang sudah menolongnya pagi tadi pun langsung membulatkan matanya karena terkejut.


Belum juga Cahaya angkat suara, Senja sudah keburu berkata, " Pangeran berkuda putih kenapa bisa berada di sini? sepertinya kita berjodoh."

__ADS_1


__ADS_2