
Cahaya dan Alan saat ini telah berada di atas pelaminan dengan terus mengembangkan senyumannya. Semua orang terlihat bahagia, kecuali Senja dan Papa Pras yang baru datang ke tempat acara digelar.
Senja terlihat murung karena melihat lelaki yang dicintainya kini telah bersanding dengan Kakaknya sendiri, walaupun Senja sadar betul jika selama ini Senja adalah orang ketiga dalam hubungan Cahaya dan Alan, bahkan Senja mengetahui dari Mama Sita bahwa cincin yang dipakai Alan untuk melamarnya adalah cincin pertunangan Cahaya dan Alan.
Maaf Kak Cahaya, tapi aku juga ingin merasakan hidup bahagia di sisa umurku, maaf karena aku harus merebut Kak Alan dari kamu, karena aku juga sangat mencintainya, dan aku ingin kamu berbagi Suami denganku, ucap Senja dalam hati yang sudah merencanakan semuanya.
Senja sengaja tidak meminum obatnya hari ini supaya penyakitnya kambuh, dan Senja akan meminta Cahaya supaya Alan menikahinya.
"Sayang, sebaiknya kita kembali ke hotel saja ya, wajah kamu sudah terlihat pucat, Papa takut Senja kenapa-napa."
"Senja baik-baik saja Pa, sebaiknya sekarang kita mengucapkan Selamat kepada Kak Cahaya dan Kak Alan," ujar Senja yang saat ini menarik tangan Papa Pras untuk naik ke pelaminan.
Senja dan Papa Pras saat ini sudah berada di pelaminan.
"Kak, selamat ya, semoga Kak Cahaya dan Kak Alan bahagia," ujar Senja.
Cahaya langsung saja memeluk tubuh Senja, tapi sesaat kemudian Senja terjatuh dan pingsan sehingga membuat semuanya merasa panik.
Cahaya dan yang lain langsung saja membawa Senja ke Rumah Sakit meninggalkan acara resepsi yang saat ini sedang berlangsung, dan sepanjang perjalanan Cahaya menangis dalam pelukan Alan yang saat ini sudah sah menjadi Suaminya.
"Sayang, kamu jangan nangis terus, Kak Alan yakin kalau Senja akan baik-baik saja."
"Tapi Cahaya takut kalau Senja sampai kenapa-napa Kak."
"Semua orang sudah membawa takdir hidup masing-masing, dan kita hanya bisa pasrah dengan takdir dari Allah SWT. Sekarang sebaiknya kita berdo'a untuk kesembuhan Senja," ujar Alan dengan mencium kening Cahaya.
Sesampainya di Rumah Sakit, Senja langsung saja dibawa ke ruang IGD, dan semua orang kini menunggunya dengan harap-harap cemas.
__ADS_1
Papa Pras yang melihat Cahaya yang saat ini terus berada dalam pelukan Alan, langsung merasa geram.
"Semua ini gara-gara kamu Cahaya, seandainya kamu mengalah kepada Senja, Senja pasti akan baik-baik saja," ujar Papa Pras.
Mama Anggi yang mendengar Papa Pras menyalahkan Menantu kesayangannya langsung saja angkat suara.
"Jaga ucapan Anda, enak saja kalau ngomong, semua itu bukan salah Cahaya, tapi Anak kamu saja yang terlalu terobsesi kepada Anakku, memangnya kamu pikir Anakku itu boneka, dia itu punya hati dan tidak akan mungkin mau menikahi perempuan yang tidak dia cintai," ujar Mama Anggi dan akhirnya Papa Pras diam tak berkutik.
Mama Sita yang merasa tidak enak terhadap Cahaya langsung saja memeluk Putrinya.
"Maafin Om Pras ya sayang, saat ini Om Pras sangat mengkhawatirkan Senja, jadi dia bersikap seperti itu."
"Tidak apa-apa Ma, Cahaya mengerti kok."
Sesaat kemudian Dokter keluar dari ruang IGD, dan sebelum menjawab angkat suara, Dokter terlihat beberapa kali mengembuskan nafas secara kasar
"Maaf Tuan, penyakit yang Putri Anda alami saat ini sudah semakin parah, karena kanker yang menggerogoti otaknya saat ini sudah sampai pada stadium akhir, jadi pengobatan apa pun tidak akan bisa menyembuhkan penyakit Putri Anda. Saat ini yang hanya bisa kita lakukan hanyalah berdo'a dan jika dia mempunyai keinginan terakhir, sebisa mungkin kita harus mewujudkannya karena kemungkinan sisa usianya tidak akan sampai satu bulan lagi." jelas Dokter.
Papa Pras yang mendengar perkataan Dokter, langsung saja merasa lemas, sampai akhirnya tubuhnya merosot karena tidak sanggup jika harus kehilangan Senja.
"Kenapa harus Senja, kenapa harus Anakku Tuhan, aku rela jika aku bertukar dengan Senja, asalkan Senja bisa sembuh dan hidup bahagia," gumam Papa Pras dengan menangis pilu.
Mama Sita kemudian memeluk Papa Pras yang terlihat rapuh, dan Mama Sita terlihat lebih tegar.
"Pa, kita harus kuat demi Senja, Senja pasti sedih jika melihat kita menangisinya," ujar Mama Sita dengan meneteskan airmata, karena bagaimanapun juga hati Mama Sita sangat sakit, tapi Mama Sita mencoba untuk menahan semuanya.
Beberapa saat kemudian Senja mulai sadar, dan ia meminta untuk bertemu dengan semuanya karena ada sesuatu hal yang ingin Senja bicarakan.
__ADS_1
Saat ini semua orang sudah berada di dalam kamar perawatan Senja, termasuk Cahaya dan Alan yang masih mengenakan busana pengantin mereka, karena sebelumnya Senja sudah dipindahkan ke kamar perawatan.
Senja yang melihat Alan yang terus saja memeluk tubuh Cahaya tersenyum kecut melihatnya.
"Sayang, Senja baik-baik saja kan, Papa takut kalau Senja ninggalin Papa," ujar Papa Pras dengan memeluk tubuh Senja.
"Kak Cahaya, Senja mempunyai keinginan terkahir, dan Senja harap Kak Cahaya bisa mengabulkannya," ucap Senja dengan lirih.
"Apa itu sayang? kalau Kak Cahaya sanggup Kakak pasti akan mengabulkannya," jawab Cahaya.
Semuanya sudah harap-harap cemas dengan keinginan terakhir Senja, karena mereka sudah bisa menebak kalau yang diinginkan Senja adalah Alan.
"Apa Kak Cahaya bisa berbagi Suami dengan Senja?" tanya Senja dengan tatapan memohon, dan tubuh Cahaya langsung terasa lemas saat mendengarnya.
Alan yang melihat Cahaya hampir pingsan, langsung saja memeluk tubuh Cahaya, lalu angkat suara.
"Apa kamu tidak punya hati Senja, sampai-sampai kamu tega meminta sesuatu yang tidak seharusnya kamu lakukan?" tanya Alan dengan menahan emosi dalam hatinya karena merasa dipermainkan.
"Tidak apa-apa kalau Kak Alan berpikir Senja tidak punya hati, tapi Senja juga ingin merasakan kebahagiaan di ujung kehidupan Senja, Apa Senja salah jika menginginkan semua itu?" tanya Senja dengan berlinang airmata.
"Lalu apa kamu pikir aku adalah sebuah makanan atau barang yang bisa dibagi dengan oranglain? maaf Senja tapi aku sudah berjanji kepada Cahaya bahwa selamanya hanya akan ada Cahaya dalam hatiku, dan aku sudah bersumpah tidak akan menyakitinya. Jika aku menikahimu sama saja aku menyakiti hati Istriku," ujar Alan.
Mama Indira yang juga merasa geram langsung saja angkat suara juga.
"Dasar tidak tau malu, dulu Ibunya yang sudah merebut Suamiku, sekarang Anaknya mau merebut Suami Anakku, sudah cukup dulu kamu menyakiti Cahaya dengan membuangnya, sekarang aku tidak akan membiarkan Cahaya berkorban untuk Anak kamu Sita," ujar Mama Indira.
Cahaya saat ini berada dalam dilema, dia tidak tau harus berbuat apa, di satu sisi Cahaya sangat menyayangi Senja, apalagi Dokter sudah memvonis hidup Senja hanya akan bertahan sebentar lagi, tapi di sisi lain Cahaya sangat mencintai Alan dan tidak mungkin membaginya dengan oranglain meskipun itu adalah Adik kandungnya sendiri.
__ADS_1