Cahaya Di Ujung Senja

Cahaya Di Ujung Senja
Bab 27 ( Hanya ingin saling memiliki )


__ADS_3

Cahaya terus saja memikirkan perkataan Mama Anggi, Cahaya sadar kalau dia sudah egois karena tidak memikirkan perasaan Alan.


"Kak Alan, maaf, Cahaya selama ini tidak pernah memikirkan perasaan Kak Alan. Mulai sekarang Cahaya tidak akan_," perkataan Cahaya terhenti karena Senja kini keluar dari dalam kamarnya.


"Kak, maaf jika Senja sudah egois, tapi apa Kak Cahaya bisa melepaskan Kak Alan untuk Senja," ujar Senja, sehingga membuat Cahaya merasakan sesak dalam dadanya, padahal tadinya Cahaya sudah bertekad untuk tidak meminta Alan berpura-pura menyukai Senja lagi.


Cahaya tidak tau harus berbuat apalagi, sampai akhirnya Papa Pras bersimpuh di hadapan Cahaya.


"Cahaya, Om mohon, lepaskan Alan untuk Senja, Om takut jika usia Senja tidak lama lagi, Om tau kalau selama ini Om sudah berbuat jahat kepada kamu, dan Om meminta maaf untuk semua itu. Om mungkin tidak pantas mendapatkan maaf Cahaya, tapi Om hanya ingin melihat Putri Om bahagia," ujar Papa Pras dengan menangis.


"Om, Cahaya mohon jangan seperti ini, Om tidak pantas melakukan semua ini, bagaimanapun juga Om sudah Cahaya anggap sebagai Papa Cahaya sendiri, dan Cahaya pasti akan melakukan apa pun untuk kebahagiaan Senja."


Cahaya memang terlalu baik, kenapa semuanya jadi seperti ini, padahal tadinya aku ingin sekali mengatakan semuanya kepada Senja, tapi kalau situasinya seperti ini aku juga tidak tega, ucap Mama Anggi dalam hati.


"Senja, kalau memang Kak Alan ingin menikahi Senja, Kak Cahaya ikhlas, tapi semua keputusan ada di tangan Kak Alan, karena Kak Alan juga bukan boneka yang tidak punya hati," ujar Cahaya dengan menahan tangisannya yang sudah mati-matian Cahaya tahan.


Alan saat ini berada dalam dilema sampai akhirnya Alan meminta waktu untuk berpikir.


"Maaf semuanya, tolong berikan saya waktu untuk berpikir," ujar Alan kemudian keluar dari kediaman Prasetyo.


Senja hendak mengejar Alan, tapi Papa Pras melarangnya.

__ADS_1


"Sayang, berikan Alan waktu untuk berpikir, semua ini pasti berat untuk Alan," tapi pasti lebih berat lagi untuk Cahaya karena dia harus melepaskan lelaki yang dia cintai untuk menikahi Adiknya sendiri, lanjut Papa Pras dalam hati.


"Sayang, bisa temani Mama mencari penginapan?" tanya Mama Anggi kepada Cahaya, dan Cahaya hanya menjawabnya dengan anggukan kepala saja karena saat ini bibirnya terlalu susah untuk berucap.


Senja tidak mau banyak bertanya tentang kecurigaannya terhadap Cahaya yang sudah terlihat begitu dekat dengan Mama Anggi, karena saat ini Senja sudah bertekad ingin memiliki Alan bagaimanapun masalalunya, walaupun kenyataannya Alan dan Cahaya saling mencintai.


Cahaya dan Mama Anggi akhirnya berpamitan pada semuanya, dan kini Cahaya dan Mama Anggi sudah keluar dari kediaman Prasetyo.


Mama Anggi kini mengajak Cahaya untuk duduk terlebih dahulu di bangku sebuah Taman, karena Mama Anggi perlu berbicara dengan Cahaya.


"Sayang, kalau Cahaya ingin menangis, Cahaya jangan menahannya, siapa tau Cahaya akan lebih tenang setelah mengeluarkan semuanya lewat tangisan. Mama tau semua ini berat untuk Cahaya dan Alan, tapi kalian berdua harus kuat."


"Cahaya sudah Mama anggap sebagai Putri Mama sendiri, jadi Cahaya jangan pernah sungkan ya. Mama tau kalau Cahaya akan memilih untuk melepaskan Alan demi Senja, dan seandainya Cahaya tidak berjodoh dengan Alan, Mama akan tetap menjadi Mama Cahaya," ujar Mama Anggi yang saat ini ikut menangis dengan Cahaya.


Setelah Mama Anggi dan Cahaya lebih tenang, mereka menyusul Alan menuju hotel yang sebelumnya telah Alan pesan.


Pada saat Mama Anggi dan Cahaya membuka pintu kamar hotel, mereka berdua melihat Alan yang terlihat duduk termenung, sehingga membuat Cahaya merasa bersalah dengan situasi mereka saat ini, karena penyebab semua itu terjadi adalah Cahaya yang bersikukuh untuk menemui Mama Sita.


Cahaya kini duduk di kursi samping Alan, kemudian memeluk tubuh Alan dari belakang, Mama Anggi yang mengerti kalau Alan dan Cahaya butuh waktu untuk berdua, akhirnya keluar dari kamar Alan menuju kamarnya, supaya Alan dan Cahaya bisa lebih leluasa untuk bicara.


"Maafin Cahaya Kak Alan, semua ini terjadi karena Cahaya yang bersikeras ingin mencari keberadaan Mama Sita, seandainya Cahaya tidak egois dan mendengarkan nasihat semuanya, mungkin keadaannya tidak akan menjadi seperti ini," ujar Cahaya yang kembali menangis.

__ADS_1


Alan yang daritadi menangis kini membalikan tubuhnya, kemudian mendekap tubuh perempuan yang ia cintai dengan erat.


"Cahaya jangan pernah menyalahkan diri sendiri, semuanya telah terjadi, dan Kak Alan akan melakukan apa pun demi kebahagiaan Cahaya. Kak Alan tau kalau Cahaya ingin memberikan kebahagiaan kepada Senja di ujung hidupnya, dan Kak Alan akan berusaha untuk mengabulkan keinginan Cahaya," ujar Alan yang masih meneteskan airmata, karena dia tidak pernah menyangka jika pada akhirnya harus berpisah dengan perempuan yang sangat ia cintai.


Cahaya semakin keras menangis dalam pelukan Alan, karena sesungguhnya Cahaya sangat berat untuk melepaskan Alan.


"Jangan menangis lagi sayang, meskipun kita tidak ditakdirkan hidup bersama, tapi selamanya hanya akan ada Cahaya dalam hati Kak Alan, dan Kak Alan melakukan semua ini hanya demi Cahaya," ujar Alan dengan menghapus airmata yang terus menetes pada pipi Cahaya.


"Terimakasih banyak atas semuanya Kak, selamanya Kak Alan juga akan selalu ada dalam hati Cahaya, dan Cahaya tidak akan pernah mencintai lelaki lain selain Kak Alan."


"Kakak memang tidak rela jika Cahaya menjadi milik lelaki lain, tapi Kakak juga berharap Cahaya akan bahagia meskipun bukan dengan Kak Alan."


Cahaya terlihat melamun, dia tidak mungkin sanggup menggantikan sosok Alan dalam hatinya.


Apakah aku akan sanggup hidup bersama lelaki lain selain Kak Alan? aku rasa aku tidak akan sanggup melakukan semua itu, ucap Cahaya dalam hati.


Alan dan Cahaya terus saja saling memandang dengan tatapan penuh kerinduan, dan perasaan tidak rela karena akan berpisah, sampai akhirnya mereka berdua terbuai oleh perasaan cinta yang sangat besar sehingga melakukan kesalahan yang sangat fatal. Padahal selama lima tahun Cahaya dan Alan berpacaran, mereka berdua berpacaran dengan sehat dan tidak pernah melampaui batas, tapi entah kenapa malam ini keduanya tidak bisa menahan hasrat ingin memiliki yang telah lama terpendam.


Alan dan Cahaya saat ini sama-sama menginginkan sentuhan yang lebih dari sekedar ciuman, perasaan cinta yang besar pada keduanya mengalahkan akal sehat mereka, padahal jelas-jelas mereka berdua sudah berkomitmen tidak akan melakukannya sebelum menikah, apalagi saat ini Alan sudah berniat untuk menikahi Senja.


Alan dan Cahaya yang sudah sama-sama polos akhirnya melakukan hubungan terlarang tanpa memikirkan apa pun lagi, yang penting saat ini mereka berdua hanya berpikir ingin saling memiliki.

__ADS_1


__ADS_2