
Cahaya yang mendengar perkataan Alan hanya bisa terdiam, karena bagaimanapun juga Cahaya tidak dapat memaksa Alan untuk mencintai Senja, karena itu sama saja akan menyakiti hati Alan dan juga dirinya sendiri.
"Kenapa diam saja? apa Kak Alan tidak berarti untuk Cahaya, sampai-sampai Cahaya mempunyai pemikiran untuk memberikan Kak Alan kepada oranglain?"
"Bukan itu maksud Cahaya Kak, tapi Kak Alan tau sendiri kan bagaimana perasaan Senja terhadap Kak Alan? Cahaya hanya ingin Senja bahagia."
"Apa Senja akan bahagia jika sampai mengetahui kalau dia telah merebut Calon Suami Kakaknya sendiri? yang ada Senja akan kecewa sama kamu sayang, dan akan ada banyak hati yang terluka. Jadi, Kak Alan hanya akan berpura-pura sampai Senja sembuh, dan jangan harap Kakak akan berubah pikiran."
Sesaat kemudian handphone Cahaya berbunyi, dan itu adalah panggilan dari Mama Sita yang mengatakan kalau Senja mencari keberadaan Alan.
"Sebaiknya sekarang kita kembali ke dalam Kak, karena Senja mencari keberadaan Kakak," ujar Cahaya dengan tertunduk sedih, dan Alan tidak berdaya untuk menolak keinginan kekasih hatinya.
Senja yang melihat Alan pun langsung memeluk erat tubuh Alan.
"Kak Alan kemana saja, Senja takut karena saat Senja bangun Kak Alan sudah tidak ada di samping Senja," ujar Senja dengan menangis dalam pelukan Alan.
Kasihan Cahaya dan Alan, kenapa mereka harus terjebak cinta segitiga, apalagi saat ini Senja sedang sakit, pasti Cahaya tidak akan tega kepada Senja untuk mengatakan yang sebenarnya. Ini semua gara-gara aku, seandainya Cahaya tidak mencari keberadaanku, mungkin Senja tidak akan pernah bertemu dengan Alan, ucap Mama Sita dalam hati yang masih saja menyalahkan diri sendiri.
Cahaya menahan sesak dalam dadanya, dan dia memilih untuk pergi dari sana, tapi Alan menahannya dengan menggenggam erat tangan Cahaya.
Apa pun yang terjadi, aku tidak akan rela melepaskanmu Cahaya, batin Alan.
Setelah Senja melepaskan pelukannya terhadap Alan, Cahaya berusaha untuk melepaskan pegangan tangan Alan sebelum Senja melihatnya.
"Kak Cahaya, Kakak sama Kak Alan habis darimana? kenapa kalian hanya jalan berdua saja?" tanya Senja yang merasa curiga.
"Cahaya sama Alan tidak jalan berdua Senja, kami berjalan bertiga untuk membeli buah-buahan kesukaan kamu," ujar Andre yang datang tiba-tiba dengan membawa parcel buah.
Cahaya merasa lega karena tidak harus menjelaskan apa pun kepada Senja, lain hal nya dengan Alan yang menatap tidak suka kepada Andre.
"Kak Andre sepertinya suka ya sama Kak Cahaya?" goda Senja, sehingga membuat Alan semakin geram.
__ADS_1
"Tentu saja, siapa yang tidak suka kepada gadis cantik dan baik hati seperti Cahaya," jawab Andre dengan duduk di sebelah Senja.
"Kak Andre ngapain duduk di sini, Senja jadi gak bisa melihat wajah Kak Alan," rengek Senja.
"Tuan Putri ternyata tidak tahu malu ya, kamu harus sedikit tahan harga, kalau kamu terlihat mengejar-ngejar pria yang kamu sukai, nanti pria itu akan kabur," ujar Andre.
"Benarkah seperti itu Kak Alan?' tanya Senja.
"Iya benar," jawab Alan singkat.
"Kalau begitu aku tidak akan terlalu agresif terhadap Kak Alan," ujar Senja.
"Itu baru betul," bagaimanapun juga Cahaya pasti sakit hati jika melihat Alan terus dekat dengan Senja, meskipun aku menyukai Cahaya, tapi aku tidak ingin melihat Cahaya merasa sakit hati, lanjut Andre dalam hati.
Alan bisa sedikit bernafas lega karena ternyata Andre sudah menolongnya supaya Senja tidak terlalu bersikap agresif kepadanya.
Aku kira Andre akan mencari kesempatan untuk mendekati Cahaya dan akan lebih mendekatkan aku dengan Senja, ucap Alan dalam hati, kemudian dia tersenyum tipis melihat ke arah Cahaya.
Kenapa sih Kak Alan semakin tampan saja, apalagi kalau sedang tersenyum, aku kan jadi gak rela dia dekat dengan Senja. Dan ternyata Andre baik juga, aku kira dia akan mendukung Senja supaya lebih dekat dengan Kak Alan, ucap Cahaya dalam hati.
Cahaya menatap wajah Alan dan memberikan syarat lewat matanya supaya Alan melepaskan pegangan tangannya, sampai akhirnya Mama Sita angkat suara.
"Alan, Cahaya, sebaiknya kalian berdua pulang dulu untuk mandi, kasihan dari kemarin belum mandi," ujar Mama Sita yang mengerti kalau Alan dan Cahaya membutuhkan waktu untuk berdua.
"Kok Kak Alan disuruh pulang juga sih Ma?" rengek Senja.
"Baru juga tadi bilang gak bakalan bersikap agresif," sindir Andre sehingga Senja langsung tersenyum malu.
"Benar kata Tante Sita, sebaiknya kalian berdua pulang dulu, biar aku yang menemani Tante menjaga Senja," ujar Andre.
Cahaya dan Alan kini pamit kepada semuanya, dan perasaan Alan begitu berbunga-bunga karena akhirnya bisa berduaan dengan Cahaya.
__ADS_1
"Sayang, jangan cemberut terus dong," ujar Alan yang melihat wajah Cahaya terlihat cemberut.
Alan mengerti betul tentang perasaan Cahaya yang saat ini berada dalam dilema, sehingga Alan mengajaknya ke sebuah tempat untuk menghibur Cahaya.
"Lho, Kak, kenapa kita belok ke sini? ini kan bukan arah menuju rumah," ujar Cahaya.
"Kita mau pergi ke suatu tempat yang indah supaya wajah kamu gak ditekuk terus," jawab Alan dengan terus mengembangkan senyumnya.
Sesaat kemudian mereka berdua sampai di tempat tujuan, dan Cahaya begitu takjub melihat keindahan Air terjun yang saat ini berada di depan matanya.
"Kak, pemandangannya bagus banget," ujar Cahaya dengan mata yang berbinar.
"Tapi pemandangan di depan mata Kak Alan lebih indah dan lebih cantik," ujar Alan, sehingga membuat Cahaya merasa malu.
"Yuk turun," ajak Alan kepada Cahaya untuk turun bermain air.
"Kakak tau darimana tempat sebagus ini?" tanya Cahaya.
"Sekarang kan jamannya sudah canggih sayang, jadi tinggal cari di internet juga pasti bakalan ketemu."
"Oh iya ya, kenapa Cahaya bisa lupa," ujar Cahaya dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kamu sih terlalu sibuk mikirin Senja, sampai tidak mikirin diri sendiri," ujar Alan dengan mengacak-ngacak rambut Cahaya.
Alan tidak sengaja melihat bekas luka pada dahi Cahaya yang selama ini tertutup oleh rambutnya.
"Sayang, kenapa dahi kamu, sepertinya ada bekas luka?" tanya Alan yang merasa cemas.
"Oh ini, Cahaya ketabrak mobil Kak," ucap Cahaya kemudian menutup mulutnya karena sudah keceplosan.
"Sayang, kapan kamu ketabrak mobil? kenapa kamu merahasiakannya dari kami? kamu gak kenapa-napa kan? apa masih ada yang sakit?" cerocos Alan.
__ADS_1
"Gimana Cahaya bisa jawab pertanyaan Kak Alan kalau Kak Alan memberondong Cahaya dengan banyak pertanyaan."
"Sayang, Kak Alan cemas sama keadaan kamu, lagian kenapa sih semenjak datang ke Palembang, kamu menjadi berubah, bahkan kamu sudah menutupi semuanya dari Kakak bahkan Mama indira dan Papa Hilman," ujar Alan dengan wajah yang terlihat kesal.