Cahaya Di Ujung Senja

Cahaya Di Ujung Senja
Bab 8 ( Takdir mempertemukan kita kembali )


__ADS_3

Setelah Mama Sita melakukan transfusi darah, Dokter langsung memberikan transfusi darah dari Mama Sita kepada Cahaya yang saat ini masih belum sadarkan diri.


Setelah satu jam kemudian, Cahaya pun secara perlahan membuka matanya.


Dimana aku? kenapa kepalaku sakit sekali, ucap Cahaya dalam hati, kemudian melihat ke sekeliling ruangan.


"Sepertinya saat ini aku berada di Rumah Sakit, apa yang sudah terjadi kepadaku," gumam Cahaya.


Suster yang saat itu berada di ruang IGD langsung memberitahukan kepada Dokter bahwa Cahaya sudah sadar.


"Bagaimana keadaan Anda Nona?" tanya Dokter kepada Cahaya yang masih terlihat lemas.


"Kepala saya masih pusing Dok, apa yang sudah terjadi kepada saya?" tanya Cahaya.


"Tadi Anda tertabrak mobil sampai tidak sadarkan diri, karena Anda banyak kehilangan darah, jadi kami melakukan transfusi darah. Beruntung Istri dari orang yang menabrak Anda mempunyai golongan darah yang sama dengan Anda, padahal golongan darah Anda termasuk golongan darah langka," jawab Dokter.


"Kalau begitu saya tinggal dulu, nanti kalau ada apa-apa Nona bisa memanggil saya," sambung Dokter yang akhirnya keluar dari ruang IGD.


Papa Pras, Mama Sita dan juga Senja yang sudah diperbolehkan menjenguk Cahaya kini sudah Dokter ijinkan masuk.


Mama Sita yang melihat jika gadis yang ditabrak oleh Suaminya adalah Cahaya, langsung menutup mulutnya sendiri karena merasa terkejut.


Ternyata aku sudah mendonorkan darah kepada Anak kandungku sendiri, ucap Mama Sita dalam hati.


Cahaya yang melihat Mama Sita pun langsung memanggilnya Mama.


"Ma_ma," ucap Cahaya dengan menangis.


Papa Pras dan Senja yang mendengar Cahaya memanggil Mama kepada Sita langsung merasa terkejut.

__ADS_1


"Apa Nona mengenal istri saya?" tanya Papa Pras.


Jadi Mama Sita adalah Istri dari orang yang menabrak aku? kenapa takdir kembali mempertemukan kami. Sebaiknya aku pura-pura tidak kenal saja, lagian Mama juga tidak mau mengakui aku sebagai Anaknya dan sepertinya Mama juga sudah ketakutan jika rahasianya selama ini terbongkar oleh Suami dan Anaknya, ucap Cahaya dalam hati.


"Tidak Pak, saya tidak mengenal istri Anda, saya hanya teringat dengan Mama saya saja," jawab Cahaya dengan memaksakan diri untuk tersenyum.


"Saya benar-benar minta maaf Nona karena saya tidak sengaja sudah menabrak Anda," ujar Papa Pras.


"Tidak apa-apa Pak, mungkin ini semua juga kesalahan saya yang tidak hati-hati saat menyebrang, karena saya tadi sedang kebingungan mencari tempat tinggal dan pekerjaan, sebab dompet saya telah dirampok," ujar Cahaya yang sengaja berbohong supaya Pras mengizinkan Cahaya untuk tinggal di rumahnya, jadi dia bisa dekat dengan Ibu kandungnya.


"Kasihan sekali nasib Anda, kalau begitu Nona bisa tinggal di rumah kami, dan kebetulan juga di perusahaan saya sedang membutuhkan karyawan di bagian Administrasi," ujar Papa Pras.


"Terimakasih Pak, semoga Allah SWT membalas semua kebaikan Bapak dan keluarga. Nama saya Cahaya Purnama, dan Bapak bisa memanggil saya Cahaya."


Senja yang mendengar Cahaya akan tinggal di rumahnya merasa sangat bahagia, dan langsung memeluk tubuh Cahaya.


"Kenalin nama aku Senja, aku seneng banget deh karena nanti aku bisa mempunyai teman di rumah, dan aku akan menganggap Kak Cahaya sebagai Kakakku sendiri."


"Pa, ada yang mau Mama omongin. Sebaiknya kita berbicara di luar saja," ajak Mama Sita.


"Mama kenapa? sepertinya Mama gak suka kalau Cahaya tinggal bersama kita," tanya Papa Pras.


"Pa, kita belum tau latar belakang Cahaya, jadi kita tidak boleh sembarangan membawa orang masuk ke rumah kita" jawab Mama Sita.


"Lho, tumben Mama berbicara seperti itu? biasanya kan Mama yang akan selalu mendukung Papa jika sudah menyangkut dengan menolong orang?" tanya Papa Pras yang merasa bingung.


"Kita harus berhati-hati saja Pa, kita kan gak tau isi hati seseorang, bagaimana kalau Cahaya adalah orang jahat," ujar Mama Sita yang mencari alasan supaya Papa Pras membatalkan niatnya untuk mengajak Cahaya tinggal di rumah mereka.


"Ma, bagaimanapun juga Papa yang sudah menyebabkan Cahaya masuk Rumah Sakit, jadi anggap saja ini sebagai bentuk tanggung jawab Papa kepada Cahaya. Mama coba bayangkan jika kejadian tersebut menimpa Senja," ujar Papa Pras yang bersikeras dengan keputusannya.

__ADS_1


"Kalau begitu sekarang kita kembali masuk," ajak Papa Pras kepada Mama Sita.


Papa Pras merasa bahagia karena Cahaya bisa langsung akrab dengan Senja, padahal Senja selama ini selalu bersikap dingin kepada oranglain.


"Mama lihat sendiri kan, kalau Senja terlihat bahagia saat berada di dekat Cahaya," ujar Papa Pras, dan akhirnya Mama Sita hanya bisa pasrah dengan keputusan Suaminya.


Cahaya harus di rawat di Rumah Sakit selama beberapa hari sampai kondisinya pulih, dan Papa Pras meminta tolong kepada Mama Sita supaya bergantian dengan Senja untuk menjaga Cahaya di Rumah Sakit.


"Ma, kalau begitu Papa dan Senja pulang dulu ya, kami juga belum membersihkan diri. Cahaya, besok Om dan Senja akan ke sini lagi, semoga kamu cepet sembuh ya Nak, kalau ada apa-apa kamu jangan sungkan untuk meminta tolong kepada Tante Sita ya," ujar Papa Pras.


"Kak Cahaya, Senja juga pulang dulu ya, nanti besok Senja bakalan gantian sama Mama buat nemenin Kakak," ujar Senja dengan memeluk tubuh Cahaya, karena entah kenapa Senja merasa dekat dan langsung menyukai Cahaya sejak pertama kali bertemu.


Setelah Papa Pras dan Senja Pulang, Cahaya dipindahkan ke kamar perawatan terbaik yang dimiliki Rumah Sakit tersebut, dan akhirnya Mama Sita dengan terpaksa menemani Cahaya di Rumah Sakit.


Saat ini hanya ada keheningan di kamar perawatan Cahaya, dan Mama Sita terlihat bingung memikirkan semuanya, sampai akhirnya Cahaya angkat bicara.


"Maafkan saya karena sudah merepotkan Anda. Anda tenang saja, saya pasti tidak akan membocorkan rahasia Anda kepada Suami dan Putri tercinta Anda," ucap Cahaya dengan menahan sesak dalam dadanya.


Kenapa hatiku terasa sakit pada saat Cahaya tidak menganggap aku sebagai Ibunya. Seharusnya kamu bahagia Sita, karena dengan begitu Suami dan Anak kamu tidak akan mengetahui tentang Cahaya yang sebenarnya, ucap Mama Sita dalam hati.


"Syukurlah kalau kamu tau diri, dan sebaiknya kamu cepat sembuh supaya tidak merepotkan keluarga saya," ujar Mama Sita dengan ketus.


Cahaya kini mengecek handphonenya, dan sudah banyak panggilan tidak terjawab dari Alan dan juga orangtuanya, sehingga Cahaya menelpon Mama Indira.


"Assalamu'alaikum Ma," ucap Cahaya ketika sambungan telponnya tersambung dengan orangtuanya.


"Wa'alaikumsalam Nak, kenapa kamu baru memberikan kabar? Mama sangat mencemaskan kamu," ujar Mama Indira.


"Tadi handphone Cahaya lowbat Ma, jadi Mama sama Papa tidak perlu mengkhawatirkan Cahaya."

__ADS_1


"Bagaimana, apa kamu sudah bertemu dengan Mama Sita?" tanya Mama Indira.


"Sudah Ma, ternyata Mama Sita cantik dan baik seperti Mama, dan Cahaya sangat bahagia karena Mama Sita menyayangi dan mau menerima Cahaya," jawab Cahaya dengan berlinang airmata, sehingga Mama Sita yang mendengar perkataan Cahaya ikut meneteskan airmata juga.


__ADS_2