
Saat ini Cahaya mengajak jalan-jalan Senja menggunakan kursi roda menuju Taman yang berada di Rumah Sakit. Cahaya sebelumnya sudah menelpon Alan supaya langsung menuju taman, karena Cahaya ingin Alan melamar Senja menggunakan cincin pertunangan mereka.
Alan merasa geram dengan permintaan Cahaya yang menyuruhnya untuk melamar perempuan lain, tapi Cahaya memohon kepada Alan untuk melakukan semua itu untuk dirinya, dan lagi-lagi Alan tidak berdaya dengan permintaan perempuan yang sangat dicintainya.
"Kak, kenapa kita harus ke taman sih, Senja kan malas kemana-mana."
"Sayang, sesekali kita harus mencari udara ke tempat yang sejuk, supaya Senja bisa segera sembuh dan diijinkan pulang," ujar Cahaya dengan memaksakan tersenyum di depan Senja.
Cahaya masih mendorong kursi roda Senja, sampai akhirnya langkah Cahaya terhenti pada saat Alan datang untuk menghampiri mereka.
Cahaya memohon kepada Alan menggunakan isyarat, dan dengan berat hati Alan berjongkok di depan kursi roda Senja.
Secara perlahan Cahaya membuka cincin pertunangannya, dan dia memberikan cincin tersebut kepada Alan supaya Alan menggunakannya untuk melamar Senja.
Berkali-kali Alan terlihat mengembuskan nafas secara kasar, sampai akhirnya Alan angkat suara.
"Senja, Apa kamu mau menikah denganku?" tanya Alan, sehingga membuat Senja membulatkan matanya seakan tidak percaya dengan perkataan Alan.
"Kak, Senja tidak sedang bermimpi kan? barusan Kak Alan melamar Senja kan?" tanya Senja kepada Cahaya.
"Iya Senja, Kak Alan barusan melamar Senja untuk menjadi istrinya," jawab Cahaya dengan meneteskan airmata, tapi Cahaya masih memaksakan diri untuk tersenyum.
"Senja mau Kak Alan," jawab Senja dengan antusias, kemudian Alan terpaksa memasukan cincin ke dalam jari manis Senja.
"Kak Alan terimakasih ya, Senja pasti akan menjadi Istri dan Ibu yang baik untuk Anak-anak kita nanti," ujar Senja, sehingga membuat Cahaya merasakan sesak pada dadanya.
Kamu harus ikhlas Cahaya, kamu harus rela melepaskan Kak Alan demi kebahagiaan Senja, ucap Cahaya dalam hati.
Kondisi Senja semakin hari semakin membaik karena dia mempunyai semangat baru untuk menjalani hidup setelah Alan melamarnya.
Papa Pras terlihat bahagia dengan kabar Alan yang sudah melamar Senja, apalagi kondisi Senja saat ini sudah semakin membaik.
__ADS_1
Pada saat Cahaya terlihat sendirian, Papa Pras mengancam Cahaya supaya menjauhi Alan.
"Cahaya, Saya harap kamu menjauhi Alan, karena kalau sampai Saya melihat kamu kembali mendekati Alan, Saya tidak akan segan-segan berbuat nekad kepada kamu," ancam Papa Pras.
Cahaya hanya bisa meneteskan airmata, karena sebenarnya Cahaya masih belum rela melepaskan Alan untuk Senja. Sampai akhirnya Cahaya selalu menghindari untuk bertemu dengan Alan, karena dia ingin berusaha untuk melupakan bayang-bayang Alan dalam hidupnya.
Malam ini adalah malam terakhir Senja dirawat Rumah Sakit, dan Cahaya selalu sengaja mendekatkan Alan dengan Senja, dan pada saat Andre mengajak Cahaya untuk jalan-jalan, Cahaya pun menerima ajakan Andre.
Hati Alan terasa panas mendengar Cahaya hendak pergi dengan Andre, sampai akhirnya Alan mencari alasan ingin mencari makan terlebih dahulu supaya bisa mengikuti Cahaya dan Andre.
Andre kini mengajak Cahaya untuk duduk di sebuah bangku taman yang terlihat sepi.
"Cahaya, maaf ya, aku tidak bisa membantu kamu menjelaskan semuanya kepada Om Pras, sampai akhirnya kamu harus berkorban demi kebahagiaan Senja," ucap Andre.
"Semua itu bukan kesalahan kamu Dre, karena aku sendiri yang telah memutuskan semuanya, aku ingin Senja bahagia, dan saat ini sumber kebahagiaan Senja adalah Kak Alan," jawab Cahaya.
"Apa kamu akan bisa melupakan Alan?" tanya Andre.
"Kalau memang kamu mau menangis tumpahkan semua itu lewat tangisan, supaya hatimu merasa lega," ujar Andre.
Cahaya langsung saja menumpahkan tangisan yang sudah tidak dapat ia bendung lagi.
"Kak Alan, aku cinta sama kamu, semoga kamu bisa hidup bahagia bersama Senja," teriak Cahaya dengan airmata yang semakin deras.
Alan sebenarnya secara diam-diam melihat semua yang dilakukan oleh Cahaya, dan Alan ikut menangis melihat perempuan yang dicintainya menangis dengan kaki yang bersimpuh di atas rumput.
Rasanya aku ingin sekali membawamu ke dalam pelukanku Cahaya, aku juga sangat mencintai kamu sayang. Kenapa semuanya jadi seperti ini? Kenapa kita berdua harus berpisah? ucap Alan dalam hati.
"Apa sekarang hati kamu sudah lebih lega?" tanya Andre.
"Makasih ya Dre, sekarang aku sudah lebih tenang," ucap Cahaya.
__ADS_1
Alan yang melihat Andre membantu Cahaya untuk berdiri pun mengurungkan niatnya untuk menghampiri Cahaya.
Sepertinya sekarang sudah ada Andre yang menemani Cahaya, jika memang semua itu sudah menjadi keputusan Cahaya, sebaiknya aku menuruti kemauannya, batin Alan, kemudian melangkahkan kaki untuk kembali ke Rumah Sakit.
Sepanjang perjalanan, Alan terus saja melamun, dia tidak tau harus bagaimana menjalani hidup tanpa Cahaya, sampai akhirnya suara handphone Alan berbunyi, dan di sana terlihat nama Mama Anggi yang menelpon Alan.
📞"Assalamu'alaikum Ma," ucap Alan pada saat menerima telpon dari Mamanya.
📞"Wa'alaikumsalam Nak, bagaimana kabar Alan sama Cahaya? kenapa Alan tidak pernah memberikan kabar kepada Mama? padahal sebentar lagi Alan dan Cahaya akan segera menikah," ujar Mama Anggi.
📞"Ma, Alan tidak akan menikah dengan Cahaya," ucap Alan dengan lirih.
📞"Kenapa Alan berbicara seperti itu Nak? apa yang sebenarnya telah terjadi, kenapa kalian berdua membatalkan pernikahan?" tanya Mama Anggi yang sudah terdengar panik, karena Mama Anggi tau kalau Alan sangat mencintai Cahaya dan tidak mungkin bisa hidup tanpa Cahaya.
📞"Cahaya meminta Alan supaya menikahi Senja," jawab Alan dengan menahan sesak dalam dadanya.
📞"Mama tau kalau kalian berdua saling mencintai, tapi kenapa Cahaya meminta Alan melakukan semua itu?"
📞"Saat ini Senja sedang sakit Ma, Senja sudah di diagnosa memiliki penyakit kanker otak stadium tiga, dan pada saat kami berdua pertama kali bertemu, Senja sudah jatuh cinta kepada Alan sebelum dia mengetahui kalau Alan dan Cahaya adalah sepasang kekasih."
📞"Jadi Cahaya mengorbankan cintanya demi kebahagiaan Senja?" tanya Mama Anggi.
📞"Iya Ma, dan Alan tidak berdaya untuk menolak semua keinginan Cahaya, karena dia sangat menyayangi Senja."
📞"Cahaya memang berhati mulia, sampai-sampai dia rela berkorban untuk kebahagiaan oranglain," ujar Mama Anggi.
📞"Iya Ma, Alan juga tidak akan mungkin bisa melupakan Cahaya dalam seumur hidup Alan, tapi Alan juga tidak mau kalau sampai Cahaya merasa sedih apabila Alan menolak untuk menikahi Senja."
📞"Alan yang sabar ya, kita nanti pikirkan jalan keluar untuk masalah ini, Mama yakin kalau Alan dan Cahaya pasti berjodoh," ujar Mama Anggi yang mencoba untuk menghibur Anaknya.
Sebaiknya aku harus bicara dengan orangtua Senja, aku tidak mau kalau Alan dan Cahaya mengorbankan perasaan mereka, batin Mama Anggi.
__ADS_1