
Warning! Tyoo berteberan
Dua wanita cantik sedang berjalan menyusuri lorong rumah sakit mencari ruangan seorang pasien pria yang pernah tertembak. Hingga mereka tiba di papan nomor ruangan yang menggantung bertuliskan 17. Namun, ketika mereka ingin masuk, ruangan tersebut dikunci, dan di dalam nya kosong tidak ada tanda tanda seseorang disini.
Mereka kembali ke lobby, mencoba bertanya pada seorang pekerja wanita yang tengah sibuk mencatat sesuatu dengan bolpoinnya.
"Maaf mbak, pasien diruangan nomor 17 itu kemana ya mbak?",amira/amarah bertanya pada pegawai cantik didepannya.
"Pasien itu sudah pulang mbak, baru kemarin!"
"Secepat itu mbak? Bukannya kemaren dia baru dirawat, masa iya mbak dia udah pulang aja!", cika menimpali.
"Saya nggak tau mbak, dia memaksa untuk pulang, dan dia juga menitipkan ini pada seserang yang bernama syaima Al-zahra." pegawai rumah sakit ini menyodorkan sebuah bingkisan.
"Saya amarah qhaza amira, mbak!", ujar nya lalu mengambil sebuah bingkisan dari tangan pegawai wanita tersebut.
"Terimakasih, mbak", amira mengangukan kepala nya ke bawah lalu tersenyum dan dibalas juga oleh pegawai tersebut.
Kemudian, ia yang didampingi cika, berjalan pelan menuruni tangga rumah sakit menuju keluar. Sedikit penasaran, syaima coba membolak balikkan bingkisan itu, memperhatikanya warnanya yang merah mencolok.
"Jangan diputar putar gitu mir, mending di buka!", ujar cika yang dipatuhi oleh amira. Awalnya amira agak sedikit terkejut ketika melihat isi bingkisan itu, yang didalamnya terdapat sepotong bunga mawar dan sebuah surat didalamnya. Cika yang ada disamping syaima langsung tertawa terbahak bahak hingga semua orang yang melewati tangga tersebut heran dibuatnya.
"Ngapain pak karsa ngasih itu, mau nembak kamu kaya nya sya, haha." "Husst! Kamu tu ya kalo ngomong!",
kesal syaima pada cika, sedang cika
hanya terkekeh.
Amira membuka surat yang menempel pada bunga mawar tersebut. Terlihat sebuah tulisan tangan rapi yang menghiasi kertas putih itu.
For: amira Assalamualaikum
"tulisan ini aku buat untuk memberitahu kan masalah kasus kemarin. Kamu nggak perlu menyelidiki dan melaporkannya, aku sudah berdamai dengan pihak yang menembak kemarin. Sebenarnya, aku juga tidak ingin melihat kamu kenapa - kenapa dan berhadapan lagi dengan penjahat itu. Hari ini aku pulang dari rumah sakit, karena sepertinya kondisi ku sudah agak membaik. jadi tidak perlu dirawat inap, maafkan aku berpamitan seperti ini, oh iya, nggak usah khawatir, aku baik baik aja."
Wassalamualaikum
From: Karsana hameed.
Cika terlihat ilfil dengan isi surat pria ini, ia mengangkat sebelah bibirnya, mengenyeringitkan dahi lalu tertawa sekencang kencangnya. bagaimana tidak? dia terlalu percaya diri bahwa amira akan mengkhawatirkannya. Jangan kan mengkhawatirkannya, sedang sekarang saja amira hanya memasang wajah datar membaca tulisan yang tak berfaedah ini.
Menurut cika setiap kata dari surat ini sangat lah lebay dan menggelitik perutnya. Sekarang wibawa pengusaha ini telah jatuh didepan amira, haha lucu sekali.
"Sini mir, aku buang ke tong sampah nggak guna suratnya haha!", gelak tawa cika mengiringi perjalanannya menuruni tangga rumah sakit ini.
"cika, kamu bisa nggak ngehargain tulisan ini? Pasti pak karsa susah nulisnya, kan kemaren lengan pak karsa ketembak cik! " amiramenarik nafas nya lalu membuang nya dengan lembut, cika mengangguk masih dengan tertawa gelinya.
Ceklek,
Seorang pria dengan lengan tangan kanan yang terbalut rapi oleh sebuah perban putih membuka dengan pelan pintu ruangan alex. Ia mendehem pelan sembari memasuki ruangan ini. kalian harus tau, bahwa pria ini adalah satu-satunya musuh alex yang dapat memasuki ruangan alex dengan selamat.
__ADS_1
Pria ini melirik drik yang berada di samping pintu lalu mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan dan ia terkejut ketika melihat seorang pria paruh baya tergeletak tak sadarkan diri dengan darah yang terkucur didahi nya, sejenak ia gelengkan kepalanya pelan sambil berdecak kecil.
Kemudian ia berjalan menghampiri justin yang berada dekat pria paruh baya tersebut. Baru beberapa langkah ia berjalan, alex langsung menengok dengan melempar tatapan elang nya.
"Rupanya, karsa seorang tokoh pahlawan kita sudah sembuh!", ucapan justin membuat karsa tersenyum kecil.
"aku hanya menolong sesama bukan bearti aku pahlawan!", jawab karsa entang lalu dengan berani ia duduk di sofa berwarna coklat tanpa dipersilahkan oleh justin ,
celananya dan melemparkannya ke arah karsa, namun sayang, pisaunya gagal menghampiri karsa dan tertancap di sofa tepat disamping kepala karsa. Karsa tertawa terbahak bahak hingga nyaris membuat amarah alex memuncak.
"anda memang tak ditakdirkan untuk melukai ku!", remeh karsa, karsa memang pandai membuat amarah justin muncul dalam hitungan detik.
"Oh ya, kalau begitu apa kabar dengan tanganmu?", justi mengangkat alisnya tanda menunggu jawaban karsa, namun karsa hanya diam sembari tersenyum simpul.
"Siapa dia?" karsa balik bertanya dengan pertanyaan yang beda topik. Ia menunjuk pria paruh baya tadi.
"Paman wanitamu!", jawab justin lalu duduk di meja kerja yang kosong tak ada apa pun kecuali sebuah pistol dan pelurunya.
Karsa sedikit kaget mendengar pernyataan justin. Ia bingung, wanita mana? Siapa? Namun, entah mengapa pikirannya langsung menangkap satu nama seorang perempuan yang selama ini ia idamkan, tapi ia ragu apa kah memang dia yang dimaksud.
Justin melemparkan sebuah foto kecil milik pria itu kearah karsa, karsa mencoba menangkap foto yang masih berjalan diudara dengan tangan kirinya, karena ya, kalian tau bahwa tangan sebelah kanan nya sangat sakit jika digerakkan.
Ia menyusuri setiap objek yang ada di foto itu, kemudian seketika itu ia terlonjak dari tempat duduknya, tenyata tak salah perempuan yang ada difikirannya. Dia memang amira, kini karsa menatap Justin dengan intens, sementara Justin hanya tersenyum kecil.
"Jangan pernah membuat dia celaka!", ancam karsa yang wajah nya telah memerah. Ternyata karsa sangat sensitif jika seorang perempuan idamannya dalam bahaya. Alex hanya tersenyum sambil berjalan mengambil sebuah minuman haram yang berada dilemarinya, "sudah terlambat!", alex meneguk dengan satu tegukan.
"Apa maksudmu hah?", karsa meninggikan suaranya, sedang justin hanya tersenyum tak mengeluarkan suara apa pun. Rasanya karsa ingin mencekik leher putih justin. Namun ia sadar ini adalah kandang justin, bisa-bisa ia yang dicekik.
"Tunggu saja, sebentar lagi dia akan datang!", ujar justin dengan senyum iblisnya lalu memandang kearah luar melalui jendela. Ia nampak sangat tenang. Lain lagi Karsa, ia tak mengerti apa yang dimaksud justin, dan apa yang di inginkannya, "dasar iblis!" umpat karsa dalam hati.
Amira menutup kembali bingkisan tersebut. Ia membawa nya seperti tas, hingga sampai dihalaman rumah sakit, cika terlihat tengah mengangkat telfon dari seseorang. Amira hanya menunggu sampai cika selesai. Dan ketika selesai menelpon, cika langsung berlari kearah syaima dengan raut wajah cemas.
"kenapa cik?"
"gawat sya! Papa lagi kritis." ucap cika khawatir.
"kamu serius cik? Dirawat dimana? Rumah sakit mana?", ujar syaima yang terlihat juga sangat mengkhawtirkan ayah cika.
Pasalnya ayah cika adalah salah seorang yang sangat baik padanya. Bahkan ketika ia telat membayar uang kampus, ayah cika dengan ikhlas membantu pembayarannya. Sungguh cika dan ayahnya sangat peduli pada amira.
"Papa sekarang dirawat dirumah sakit dekat kampus kita mir!"
"Yaudah, kalau gitu kamu pergi aja, nanti aku bisa pulang sendiri kok!", ujar amira.
"Kamu bener nggak papa mir?", sebenarnya cika tak yakin jika harus membiarkan amira pulang sendiri karena jarak rumah amira sangat jauh.
Namun apa boleh buat, jalan pulang menuju rumah amira dan jalan menuju rumah sakit tempat ayah cika dirawat berlawanan arah.
"Aku nggak papa kok cik, nanti aku bisa nyari taksi sendiri!", amira berusaha membuat yakin temannya ini, "kalau gitu aku duluan ya sya, hati-hati!", syaima hanya mengangguk melihat kearah cika yang bergegas mengendarakan sepeda motornya sampai hilang tak terlihat lagi.
__ADS_1
Amira menghela nafasnya. Ia harap semuanya akan baik-baik saja.
Tapi sebenarnya, diri nya sangat lelah jika harus berjalan kaki pulang kerumah yang jarak nya benar-benar jauh. ah, itu mustahil. Ini sudah sekitar jam 3, biasanya jam segini taksi jarang lewat kecuali berjalan kaki dulu hingga sampai di depan gang dekat rumah sakit ini.
Syaima menyusuri lorong lorong gang yang hanya bisa dilewati kendaraan roda dua. jujur, syaima belum pernah melewati gang ini. Gangnya sangatlah sunyi dan terlihat hanya beberapa orang saja yang berlalu lalang, entah mengapa firasat syaima sedang tak baik.
Pak, pak.
Bunyi langkah kaki dari belakang, syaima menengok, namun tak ada siapa pun. Ia mempercepat langkah kaki nya menyusuri gang ini. Sebentar lagi amira sampai ke ujung gang, namun seorang pria dengan badan kekar menghadangnya. Amira sedikit kaget, namun ia bersikap tidak ada orang didepannya dan terus berjalan. namun sayang, pria itu langsung menarik tangan amira dengan keras.
"Anda siapa? tolong lepaskan!", amira meronta minta dilepas kan, namun tak ada hasil. Ia menengok kebelakang ada seorang pria berbadan kekar lagi. Tamat lah riwayat amira sekarang. Ia berusaha tetap tenang dengan jantung yang berdegup begitu kencang.
Pria dibelakangnya langsung membekap syaima dengan sebuah kain yang sepertinya sudah diberi obat bius, seketika itu pandangan amira memudar, ia sedikit lemas untuk bergerak, bingkisan merah yang ia pegang terjatuh ke tanah, ia sangat-sangat tak bertenaga, hingga kegelapan menyelimuti penglihatannya.
Amira mengerjap ngerjap kan matanya, kepalanya sedikit pusing, ia merasa tubuhnya sangat sulit untuk bergerak dan ternyata benar, tangan nya telah terikat dengan cukup kuat oleh sebuah tali. Dan sebuah lakban menempel dibibir nya. Ia tak tau dimana ia sekarang, yang ia lihat hanya ada dua orang pria tadi yang menghadang nya sedang duduk di kursi mobil depan.
"Diam dan jangan bergerak!", suara pria yang duduk di depan menggumuruh di dalam mobil. Amiratak tau dia hendak dibawa kemana. Kini sebuah bulir bening mengalir jatuh tak terasa dipipi putihnya. Ia tak menyangka akan seperti ini.
"ya Allah.", lirih nya dalam hati sambil menatap langit - langit mobil hitam tersebut.
Tak terasa ternyata mereka telah sampai. Dua pria tersebut membantu Amira untuk turun, perlahan mereka membuka lakban yang menempel pada bibirnya dan ikatan tangan nya juga di buka. Lalu mereka menarik tangan syaima dengan kasar, refleks syaima menarik kembali tangannya.
"jangan sentuh aku! Aku bisa sendiri sendiri!", ucap Amira tegas.
Dua pria itu hanya memutar bola mata mereka dan mengisyaratkan untuk berjalan lebih cepat menaiki tangga ini. Amira sempat mengedarkan pandangannya keseluruh rumah ini, ia melihat ada bercak darah segar dilantai. Ditambah dengan bau amis darah membuat Amira tak tahan ingin muntah. Beruntung tangan nya tak diikat, hingga ia bisa langsung menutup mulutnya.
Ketika sampai di pintu sebuah ruangan, pria yang memakai kacamata hitam langsung mengetok pintunya dengan perlahan. Seseorang di balik sana keluar dan menampilkan seorang tangan kanan andalan iblis itu, Ya, dia drik.
"Anda!", amira membuka suaranya dengan ekspresi terkejut, saat melihat drik yang dulu pernah hendak menembak dirinya. Jika ada drik, maka ada dia, ah Jujur Amira sangat takut jika harus bertemu dengannya
untuk kedua kalinya. Drik hanya terlihat acuh sembari memandang amirayang ketakutan.
"Masuklah!" drik mempersilahkan mereka bertiga masuk. Entah mengapa saat drik mempersilahkan masuk, hati amira berkata bahwa ia sedang dalam bahaya.
Sungguh saat ini, jantung syaima berdetak sangat kencang, kaki nya gemetar saat hendak melangkah masuk, tangan putihnya seketika dingin, keringat mengucur membasahi kerudung nya. Langkah nya tak bergerak, masih diam ditempat serasa kaku untuk melangkah masuk kedalam bertemu pria itu lagi. Ia benar benar trauma dengan kejadian penembakan kemarin.
Namun apa daya, dua bodygard tadi dan drik mendesak amira untuk masuk,
melangkah masuk kedalam bertemu pria itu lagi. Ia benar benar trauma dengan kejadian penembakan kemarin.
Namun apa daya, dua bodygard tadi dan drik mendesak syaima untuk masuk,
"Jangan membuat tuan ku marah!", drik bersuara. Memang kenapa jika tuannya marah, itu bukan urusan amira. yang harusnya marah adalah amira, karena telah membawanya dengan paksa tanpa tau apa tujuannya.
Amira menuruti kemaun mereka. Ia melangkah kan kaki menuju pintu yang sudah dibuka oleh drik, dan kini ia benar benar melihat dua orang pria yang datang di kehidupan nya secara tiba tiba.
"Selamat datang, nona!", sapaan lembut dari sang mafia, dia justin.
Assalamualaikun readers, Jangan lupa vote, comment, dan follow akun author ya:)
__ADS_1