CALONKU SEORANG MAFIA

CALONKU SEORANG MAFIA
Dia disini!!


__ADS_3

Lulus dan menjadi sarjana adalah impian setiap mahasiswa, melempar topi sarjana ke atas langit menandakan siap nya diri untuk terus melangkah ke depan.


Terlihat hilir mudik mahasiswa bersama para wali nya memasuki aula untuk penerimaan hasil selama kuliah. Bukan hanya itu, semua mahasiswa pun serempak memakai jubah wisudanya.


Suasana kali ini membahagiakan sekaligus mengharukan bagi tiap mahasiswa. Mengharukan karena mereka harus berpisah dengan yang lain setelah berjuang bersama-sama.


"nah, ini buket bunga spesial buat kalian, gratis kok." cika tertawa sumringah sambil memberikan buket bunga ke mahasiswa sekelasnya.


Di sampingnya ada seorang wanita dengan senyum cantik yang memperlihatkan kesan samar diantara kedua lesung pipinya menggandeng lengan seorang wanita paruh baya disebelahnya.


Hari ini ia agak tampil sedikit berbeda, dengan balutan hijab merah, kebaya merah dan rok batik panjang, serta mengenakan toga sarjana membuatnya bak ratu sehari.


Tawanya membuat siapapun terpana. ya, Mulai hari ini, ia harus mencoba bahagia dengan melupakan kejadian lampau yang tak mengenakan singgah tanpa permisi di hidupnya.


Ia hanya akan fokus melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah orang tercinta disebelahnya. Neneknya yang telah lama menantikan kelulusannya saat ini.


"kenapa paman mu nggak datang ya nak?, padahal ini hari kelulusan kamu, andai dia datang, pasti dia bahagia liat keponakan satu satunya lulus sarjana dengan predikat mahasiswa terbaik." amira menoleh ke samping, ia tak menjawab, lalu menuntun neneknya untuk duduk di kursi tamu yang telah disediakan.


Sebenarnya, air matanya hendak jatuh saat mendengar pertanyaan neneknya.


Dia tau, lulus kuliah adalah impian pamannya, dan dia telah mewujudkannya. Tapi, sayangnya untuk kali ini pamannya tak akan pernah bisa melihat dia melempar topi sarjana ke langit untuk selama -lamanya.


"amira nggak tau, nek." ia menunduk, tak berani menatap manik neneknya. Hanya kalimat tersebut yang bisa ucapkan saat ini, dan ia berharap waktu yang akan menjawab semuanya.


Sebelum acara selesai, neneknya sudah meminta untuk pulang duluan, karena fisik neneknya yang lemah memaksa nya agar tidak terlalu lelah, amira mengerti itu. Yang terpenting, sekarang ia telah melihat senyum bahagia orang yang paling penting dikehidupan nya manyaksikan ia lulus.


menjelang sore, acara telah usai. Amira dan cika juga bersiap untuk pulang, mereka berjalan menuju pintu keluar di aula tersebut, namun karena banyaknya mahasiswa beserta orang tuanya juga hendak keluar, tanpa sadar syaima menyenggol sesorang yang berada disampingnya.


Amira kaget dan menoleh ke sampingnya. Ia melihat seorang laki laki tua berpakain dengan pakain yang formal dan bisa terbilang mahal hampir terjatuh karenanya, beruntung cika yang berada dibelakang amira dengan sigap menolong pria tua tersebut.

__ADS_1


"eh maaf pak, bapak nggak papa kan?" tanya amira .


"nggak papa, apanya? Saya ini hampir jatuh gara gara kamu, kamu itu punya mata apa nggak sih?" pria setengah baya itu membentak amira dengan nada tinggi hingga menarik perhatian semua orang yang berlalu lalang di teras aula tersebut.


Amira tak menyangka kejadian kecil tadi bisa berujung heboh seperti ini.


"loh kok bapak marah, sih? kan temen saya udah minta maaf tadi!" cika langsung menyahut tanpa sadar.


"diam kamu! kalian itu nggak tau siapa saya? Saya ini, ' 11


"papah!" belum sempat pria tua tersebut berbicara, seorang perempuan berteriak dari arah belakang, suaranya terdengar akrab di telinga amira dan cika, saat mereka berbalik ke belakang ternyata memang dia, clarisa.


Cika sudah menebak bahwa pria tua sombong nan angkuh ini adalah ayah dari clarisa, karena sifat ayah dan anak tidak akan beda jauh.


"heh, lo tu ada dendam apa sih sama bokap gua, gua nggak ngerti ya kenapa lo bisa lulus dengan prediket mahasiswa terbaik, sedang lo aja nggak bisa ngehargain orang tua!" dengan nada marah clarisa menunjuk tepat di wajah amira.


"nggak usah nunjuk nunjuk juga dong!" cika maju tepat didepan amira, perlahan menurunkan jari tangan clarisa.


Amira menghela nafas panjang menghadapi tiga orang yang tidak akan pernah ada ujung perdamainnya.


"Clarisa, aku mohon maaf sekali lagi karena aku nggak sengaja nyenggol papah kamu, permisi. " amira menarik tangan cika untuk keluar dari rombongan clarisa.


"eh, tunggu!" clarisa berteriak dan ingin mengejar amira, tapi tangannya di hentikan oleh ayahnya.


"sudah, biarkan saja. Papa ini kan investor terbesar di perusahaan perusahaan indonesia. Papa banyak kenalan pengusaha, nanti kalo dia mau kerja, papa bakal bilang ke mereka biar nggak usah terima mereka!" mendengar pernyataan papa nya, clarisa dan teman temannya tertawa dengan sombong.


sedang amira dan cika yang ditertawakan hanya bersikap acuh.


sampai sekarang mereka tidak mengerti mengapa clarisa dan 2 orang teman nya bahkan papa nya yang hanya bertemu sekali membeci mereka. Terutama amira, amira sadar, dari pada berurusan dengan mereka, lebih baik mengurus hal yang jauh lebih penting.

__ADS_1


Waktu benar-benar telah menjelang sore,


amira kini berpamitan dengan papa dan mama nya cika, setelah itu ia langsung pulang dengan kendaraan matic birunya.


Hari ini memang hari yang penuh dengan suka cita dan hari dimana tak akan pernah ia lupakan.


Waktu di kampus, amira hanya sedikit berbincang-bincang dengan neneknya, maka dari itu, ia ingin pulang cepat dan menemui neneknya untuk bercerita lebih banyak lagi.


Banyak hal yang ingin ia ceritakan, tetang rancangan masa depan nya setelah ia lulus sarjana, seperti bekerja dan menikah. Menikah? Amira tersenyum mengendarai motornya sambil menatap fokus jalan yang ia telusuri.


untuk masalah menikah, sebenarnya amira belum berfikir jauh ke sana, karena masih ada neneknya yang harus dia urus, masih ada tanggung jawab yang dia pikul, dan masih ada cita cita yang harus ia gapai. Tapi, jika suatu saat Allah telah mendatangkan jodoh nya maka ia akan menerimanya dengan ikhlas.


Dulu, dia pernah benjanji pada neneknya bahwa setelah lulus dia akan menceritakan konsep pernikahannya kelak. Lucu memang, tapi anehnya neneknya selalu menunggu momen itu.


Amira tersenyum lagi, dia tau nenek nya ingin dia segera menikah, karena nenek nya ingin melihat dia menikah tepat di depan mata sebelum sang nenek meninggalkan nya untuk selama lamanya.


Itu juga cita-cita amira. Pamannya kini telah tiada, dan neneknya adalah satu-satunya keluarga yang ia miliki, ia ingin barang seorang pun keluarga menyaksikan pernikahannya nanti.


Masalah dengan siapa ia berjodoh kelak, ia hanya ingin seseorang itu dapat membimbing nya menuju jannahnya.


Disela pikirannya, amita tanpa sadar telah sampai di rumah nya, ia memarkirkan sepeda motornya. Dengan membawa buket bunga pemberian cika dia masuk kerumah. Tapi, entah mengapa perasaannya ada yang aneh.


Dari luar, rumahnya terlihat sunyi. Amira membuka pintu masuk, semuanya gelap, ia berjalan perlahan mencari tombol saklar lampu,


Dengan bunyi "tak" lampu menyala


Tapi,


Amira terperangah, dia benar benar tak percaya. ini, mengapa semuanya seperti ini?

__ADS_1


#scrool bawah yah:)


__ADS_2