CALONKU SEORANG MAFIA

CALONKU SEORANG MAFIA
Tabrakan


__ADS_3

Malam yang indah, malam ini rembulan bersinar lebih terang dari pada biasanya, suara hewan malam menghiasi pendengaran seorang gadis cantik berkerudung merah yang tengah duduk di pelataran rumah nya sembari melantunkan sholawat kepada junjungan mulia yaitu nabi Muhammad SAW.


"Kamu nggak masuk nak? udah malam loh besok kan kamu kuliah.", ujar wanita tua renta berjalan menghampiri gadis cantik itu.


Gadis ini berbalik, matanya menatap penuh kasih sayang terhadap wanita tua di depannya. "Nanti aja nek, amira masih pengen disini, nenek belum tidur?", tanya nya lembut.


Neneknya menggeleng. "Belum, tadinya nenek mau masuk kamar, terus ngeliat kamu diluar sendirian, jadi nenek samperin kamu.", jawab wanita tua yang sudah dari dulu mengasuhnya dan memberikan kasih sayangnya.


Amira mengangguk. "Yaudah, nenek tidur duluan aja, nanti amira nyusul, amira masih betah disini nek.", amira menatap kearah neneknya sembari tersenyum.


"Kalau gitu nenek masuk dulu yah, inget, jangan malam-malam banget tidurnya!", ucap sang nenek dan diangguki oleh Amira.


Wanita tua renta yang biasanya di panggil nenek oleh Amira adalah sosok penyayang, maka tak heran jika ia Sangat menyayangi cucu nya ini, bahkan jika ia harus berkorban nyawa demi cucu satu-satunya ini, tanpa berfikir dua kali, akan ia lakukan.


🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿


Dua mobil terlihat sedang melaju dijalan aspal tanpa ada pengendara lain selain mobil mereka, mobil hitam dan mobil putih yang pasti dengan merk ternama itu saling menancap kan gas nya melaju membelah jalanan lurus.


Mobil merah melaju mendahului mobil hitam dengan kecepatan super hingga sampai pada garis finish.


Terlihat segerombolan orang menantikan siapa pemenang pada malam ini.


Suara riuh mengisi pemandangan malam ini, yang terlihat jelas pemenang nya pemilik mobil lamborgini berwarna merah. Ia turun dari mobilnya, langkah kakinya disambut para wanita yang berpakain terbuka, namun tak ada yang berani mendekat kearahnya.


Sampai pada akhirnya sang musuh juga sampai di garis finish.

__ADS_1


"Masih ingin menantang?", pria itu tersenyum dingin.


Pria didepannya bertepuk tangan. "Saya akui anda memang hebat, silahkan ambil mobil saya sebagaimana kesepakatan kita, bahwa yang kalah akan memberikan mobilnya.", kata seorang pria entang. Ia mengenakan balutan kaos berwarna putih dengan jaket kulit cokelat yang ia kena kan dan sekaligus menjadi musuh dalam balapan ini.


Pria berwajah tampan melirik nya dengan dingin. "Terimakasih, tapi anda tak perlu repot-repot tuan Karsana hameed, kebetulan dirumah saya tidak dapat memuat mobil-mobil murahan!", katanya sambil melangkah pergi, meninggalkan pria yang diketahui bernama karsa, teman masa kecil justin yang sekarang ia benci, tapi mungkin tidak sepenuhnya.


"Seperti nya kau salah orang jika ingin bermain main dengan ku!", ucap karsa remeh yang sontak menghentikan langkah Justin.


Justin membalikan badan menghadap karsa, menatap nya dalam, karsa dapat merasakan perubahan wajah justin yang semula datar menjadi merah padam pertanda kemarahan telah muncul, ia tau bahwa ia telah memancing emosi justin


"Cih, harus nya saya yang mengatakan itu!", justin berdecih kecil.


Karsa kemudian mendekat kearah Justin. "Anda tau Justin, saya adalah pemegang saham terbesar di salah satu perusahaan ternama di arab saudi dan pemilik perusahaan terbesar di indonesia, walaupun setelah perusahaan anda, jadi tidak memungkinkan bagi saya untuk tak bisa melawan ands kan?", karsa melemparkan kata-katanya sambil tersenyum sinis.


Flasback on.....


"Karsa kau mau kemana? kemarilah temani aku, ayah dan ibu ku sedang bertengkar hiks, hiks", kata anak laki laki berumur 12 tahun yang tengah bersandar ditembok yang penuh dengan gambar corat-coret, ia memanggil teman seusianya yang bernama karsa.


"Aku disini Justin, kau kenapa? sudahlah jangan menangis, kata ku anak laki laki tak boleh cengeng!", katanya dengan mengusap pelan bahu Justin.


"Kau ingin pindah? k-kenapa? Hiks", tangis anak ini sangat keras, belum hilang tangis ketakutan akan pertengkaran orangtuanya, ditambah lagi ia akan kehilangan seorang sahabat yang telah ia anggap sebagai kakanya sendiri.


"Iya Justin, kata ayah hari ini aku harus pindah ke arab saudi.", katanya dengan mata yang berkaca kaca.


"Benarkah, berarti aku tak punya teman lagi?"

__ADS_1


Pria didepannya bertepuk tangan. "Saya akui anda memang hebat, silahkan ambil mobil saya sebagaimana kesepakatan kita, bahwa yang kalah akan memberikan mobilnya.", kata seorang pria entang. Ia mengenakan balutan kaos berwarna merah dengan jaket kulit cokelat yang ia kena kan dan sekaligus menjadi musuh dalam balapan ini.


Pria berwajah tampan melirik nya dengan dingin. "Terimakasih, tapi anda tak perlu repot-repot tuan Karsana hameed, kebetulan dirumah saya tidak dapat memuat mobil-mobil murahan!", katanya sambil melangkah pergi, meninggalkan pria yang diketahui bernama karsa, teman masa kecil Justin yang sekarang ia benci, tapi mungkin tidak sepenuhnya.


"Seperti nya kau salah orang jika ingin bermain main dengan ku!", ucap karsa remeh yang sontak menghentikan langkah Justin.


Justin mendongakan wajah tampannya, "Anda baru sadar? untung anda bukan salah satu orang yang menjadi daftar buruan saya!", Justin tersenyum misterius.


Karsa gelagapan melihat senyum Justin, lalu ia kembali menormalkan ekspresinya.


"Apa anda sanggup membunuh saya?", tanya nya yang membuat mereka saling melempar tatapan tajam mematikan.


"Bisa saja jika saya telah sangat muak terhadap penghianat seperti anda!", jawab nya datar, namun kalimatnya penuh dengan nada sarkastik.


Sedang karsa hanya memasang tawa getir diwajahnya, "Baiklah, kalau begitu saya akam pergi dulu. Disini sangat dingin, bisa-bisa sebelum anda membunuh saya, saya sudah mati duluan, benarkan?", ucapnya sembari berbalik badan menuju mobil hitamnya meninggalkan Justin yang masih setia dengan posisi berdirinya.


Namun tak lama Justin juga memasuki mobil nya sesaaat setelah melihat kepergian mobil karsa, dan melaju meninggalkan tempat yang masih banyak kaum adam dan hawa berkeliaran.


"Tak kuduga manusia cengeng itu sudah jadi seorang sukses dan berwatak kejam."


"Aku tak tau apa dia masih membenci ku atau tidak? Tapi yang pasti aku tak akan bisa membencinya!" sambungnya lagi sambil tersenyum hambar, kisah masa lalu itu membuat persahabatan yang telah dirajut dengan tali persaudaraan yang kuat kini mulai longgar, bukan hanya longgar, tapi hampir putus seakan menunjukan peliknya permasalahan diantara mereka berdua.


Karsa terlalu asik dengan Ingatan masa silamnya, hingga ia tak sadar, bahwa mobil nya hendak menabrak seorang gadis cantik yang ingin menyebrang dan


Aaaa!

__ADS_1


__ADS_2