
Karsa memperhatikan wanita didepannya ini, "Anda Amarah kan?", tanya nya.
"Iya benar, ada apa ya?" Sahut amarah dengan suara sopannya yang dapat merombak rombak hati sang pangeran.
"anda masih ingat saya? Saya yang hampir nabrak kamu, yang kamu nyebrang nggak hati hati itu!" tanya karsa mencoba mengulikan ingatan syaima tentang dirinya.
"Oh, iya! Saya ingat!",ujar amarah mantap.
"Luka dikening bapak gimana? Apa sudah sembuh, maaf sekali lagi pak!" Sambung syaima sambil menunduk malu ketika mengingat kejadian malam itu yang membuat karsa hampir menabraknya.
"luka yang kemaren udah sembuh, ngggak usah terlalu khawatir!", ucap karsa sambil tertawa kecil padahal jika dipikir pikir tak ada yang lucu dalam pembicaraannya. Ya, memang begitu jika seseorang didera rasa cinta yang datang tiba tiba.
"Kalau boleh tau, Ada keperluan apa bapak kesini?", Tanya amarah dengan sopan.
"Tidak usah panggil bapak terlalu formal. aku juga bukan bapak bapak, bahkan beristri saja belum, panggil karsa saja. Tapi aku tidak memaksakan loh.", ucap karsa mencoba lebih santai saat berhadapan dengan amarah.
Entah mengapa saat berhadapan dengan perempuan satu ini. Membuat jantung karsa berdetak lebih cepat dari biasanya. padahal dia tidak mempunyai riwayat penyakit jantung, mencoba lebih santai saat berhadapan syaima adalah salah satu cara mencegah penyakit yang tiba tiba datang menghampiri karsa.
"Oh iya, bisa jawab pertanyaan tadi?", ucap Amarah, menanyakan tentang jawaban yang ingin dia ketahui.
"Ini, tadi, itu, aku hm, mau ngajak kamu makan disalah satu restoran, atas permintaan maaf ku yang kemaren hampir nabrak kamu!", ucap karsa gugup langsung menghela nafasnya. Benar-venar ada yang salah dalam dirinya. Sehabis ini dia akan memperiksakan dirinya kedokter!
"Nggak bisa, emang anda siapa berani berani nya ngajakin Amarah kencan, cuman berdua lagi huh!", bangkit cika dari tempat duduk nya, karena sedari tadi ia hanya diam memperhatikan pembicaraan antara karsa dan syaima yang sama sekali tidak ia mengerti.
Jelas dia tak mengerti dari topik pertabrakan, luka dikening, acara diner huh, semua membuat otak cika panas dingin memikirkan.
Karsa menatap cika dengan tatapan aneh, "Dasar perempuan tak tahu sopan santun!" batin karsa mengumpat cika.
Amarah memandang kearah cika "Cik, kamu bisa nggak sopan sedikit, kan pak karsa cuman mau ngajakin makan bareng, terus masalah percakapan kami barusan, nanti aku cerita in ke kamu, oke!" katanya sambil menyunggingkan kedua garis disudut bibirnya.
Membuat karsa yang ada di depan nya terbius begitu saja. Bagai kan ada seorang bidadari yang membawa dia terbang ke langit. Ternyata karsa sadar, kalau senyuman manis syaima bagaikan racun yang siap membuat jantungnya berdegup lebih kencang bagai akan jatuh dari tempatnya.
Cika menggelengkan kepalanya, "Tapi kan dia baru kamu kenal sya, masa udah mau ngajak makan berdua, nggak boleh kecuali aku ikut, Titik!", kata cika dengan penekanan diakhir kalimat membuat Amarah tertawa kecil.
"Gimana Amarah kamu mau? tenang aja aku nggak akan berbuat jahat, aku cuman mau minta maaf dengan cara ini, kalau kamu mau datang, bisa ajak teman yang disamping kamu, siapa namanya? Cika ya? Lagian dia dari tadi ngotot buat ikut sama kamu, turutin aja nanti dia marah.
__ADS_1
", karsa meyakin kan Amarah, sambil sedikit menyindir cika, cika yang merasa disindir hanya diam menahan emosi ingin mencakar laki-laki didepannya.
"In syaa Allah!", hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Amarah sebelum ia permisi beranjak pergi dari taman kampus bersama cika, karsa terseyum mengangguk kecil.
"tunggu!", karsa spontan mencegah amarah yang hampir menjauh darinya.
"Apa lagi sih?", ujar cika yang telah jengah dengan pria yang sudah berada beberapa meter darinya dan amarah.
"di restoran Fressfood, jam delapan malam.", Ujar karsa semangat.
Tanpa menjawab cika langsung berbalik, sementara amarah hanya mengangguk kecil, namun kali ini tanpa senyuman yang sudah berapa kali membuat jantung karsa ingin jatuh. ah, sepertinya ada yang kurang bagi karsa.
Malam yang sunyi, ditambah dengan gugusan gugusan angin yang serasa menggigit dikulit. Terlihat angin sedikit menelaah dan melewati beberapa objek.
namun ia tak sadar bahwa ia kini tengah melewati sang raja yang duduk dikursinya, membalik menghadap kaca yang dapat menghubungkan langsung mata ke arah mobil dan kendaraan yamg lalu lalang dijalan raya.
"Tuan Justin, sebentar lagi anda akan menghadiri makan malam bersama tuan kairav di restoren Fressfood.", ucap drik yang berdiri tepat di pintu masuk, namun hanya deheman pelan yang ia dapat dari suara justin.
justin memang seseorang yang sangat pelit bicara, hanya pada orang orang tertentu saja, seperti karsa contohnya.
"Kurang sepuluh menit jam delapan tuan, apakah tuan tidak bersiap siap?", tanya drik lagi memecah keheningan sesaat, alex tak menjawab, kini mode hening benar benar tuan tampan itu aktifkan, Sampai sampai para ikan di akuarium pun diam tak mengeluarkan percikan air seperti biasanya, mengikuti alur si tuan mereka. Dan ya, ruangan itu mati untuk sesaat.
Jadi, berhati hati lah yang menjadi mangsanya.
"Ayo pergi!", ucapnya singkat, membetulkan dasi yang bergantung di leher putihnya, sembari berlalu melewati badan kekar sang pemilik Drik, juga meninggalkan ruangan kantornya yang semakin ia beranjak dari sana, seolah mode hening tadi sudah tak aktif lagi.
Percikan-percikan air dari dalam aquarium kini mulai terdengar lagi, seakan merasa bebas untuk sesaat sebelum sang tuan kembali lagi.
Mobil nya melaju dengan cepat, menyusuri jalan aspal yang lurus. Sesekali berhenti mentaati peraturan sang tiang tinggi pemilik mata hijau, kuning, dan merah. Mata birunya memandang datar ke depan jalan, sedari tadi mulutnya ia kunci rapat. Setelah diruangan yang ia tinggalkan tak hening lagi, kini mode hening itu ia aktifkan lagi di dalam mobil silvers miliknya.
Citt!
Bunyi rem memecah keheningan didalam mobil. Drik menelaah siapa yang hampir saja ia tabrak. Sampai mata nya tertuju pada seorang perempuan yang tengah duduk di tratoar memegang dan memijit mijit kaki dengan tangannya.
Justin memperhatikan drik, "Siapa? Bunuh dia sebentar, lalu lanjut kan perjalanan kita!", ujarnya dengan tatapan mata tajam ke depan, tak menengok kesana kemari. Drik meneguk air liurnya mendengar perintah sang tuan, hanya perkara sepele dia menyuruh nya untuk membunuh orang, Sungguh kejam.
__ADS_1
"Sepertinya itu bukan orang tuan, mungkin hanya kucing!", Bohong drik,
siapa yang tega, jika harus membunuh seseorang yang salahnya hanya membuat perjalanan nya terhenti. Apalagi saat drik melihat dia adalah wanita dengan gamis yang berwarna biru malam seirama dengan jilbab yang ia kenakan.
Lagi, lagi dan lagi Justin hanya berdehem pelan, lalu sesaat kemudian mobil yang di pandu oleh drik, melaju dengan cepat berharap alex sang tuan tak melihat wanita yang duduk di trotoar pinggir jalan.
Mobil itu pergi meninggalkan syaima yang tengah duduk kesakitan di trotoar, "Aku pikir pemilik mobil itu berhenti untuk membantu ku, huft kaki ku benar benar sakit!", Keluh syaima sesaat setelah mobil itu jauh tak terlihat.
"Bagaimana bisa aku melanjutkan perjalanan ke restoran kalau kaki kiriku rasanya tak dapat berjalan!", syaima mengeluh untuk kedua kalinya, matanya mulai berkaca kaca menahan rasa sakit dikakinya. Mata indah nya kemudian menangkap sosok cika yang tengah berlari ke arahnya dengan nafas terengah engah.
"Amarah kamu kemana aja sih? aku nyari in kamu dirumah, tapi kata nenek kamu udah pergi duluan!" Kesal cika yang ditinggal pergi oleh syaima.
"Kamu juga jalan cik? Aku pikir kamu pakai mobil papa kamu, aku nggak pingin ngerepotin kamu buat jemput aku, lagian restoran nya juga deket kok!"
"Siapa yang direpotin sih rah, terus ini kaki kamu kenapa?" tanya cika cemas, sambil mencoba membantu memijat kaki sahabatnya.
"Tadi kaki aku keram sendiri waktu mau nyebrang, terus waktu aku nengok ke samping, udah ada mobil warna silver yang melaju kearah aku, yaudah mau nggak mau kaki aku, aku tarik ke belakang sampai akhirnya keduduk ditrotoar."
"Terus kamu tau nggak? mobil nya tadi sempat berhenti, aku pikir dia mau nolongin, ternyata nggak! Tapi aku juga nggak yakin kalo dia ngeliat aku, apalagi aku pakai baju warna gelap gini nyatu sama gelap malam.", jelas syaima panjang lebar, cika hanya menghembuskan nafasnya pelan.
"Kamu tuh selalu aja mau ketabrak terus sya, kemaren sama si karsa gara gara nggak hati hati nyebrang. nah ini, gara gara kaki keram mendadak pas mau nyebrang, ada-ada aja rah!", terdengar ucapan cika yang disertai dengan nada frustasi sembari menggeleng gelengkan kepalanya. Sedang Amarah sedikit terkekeh melihat tingkah teman satu nya ini.
"Tapi kamu hebat loh sya, tadi nggak teriak padahal dikit lagi mau ketabrak!", cika menujukan ekspresi sumringahnya sambil bertepuk tangan kecil.
"Tadi mau teriak cik, cuman kaki terlalu sakit jadi lebih baik diam!", ucap syaima datar.
Cika terkekeh, "Tapi udah mendingan kan kakinya?"
"Iya, Alhamdulillah. Cik, habis ini kita naik taksi aja ya!"
Cika memutar bola matanya, "Kamu sih sya, harusnya mobil aku tadi nggak usah di titipin dirumah kamu, jadi kita nggak bakal capek kaya
gini!", cika mengembungkan pipinya yang agak sedikit tembem.
"Kok aku sih, aku nggak ada nyuruh kamu nggk bawa mobil ya, kamu sih selalu ngikutin aku, aku jalan kaki kamu ikut jalan kaki, kalo aku terbang, kamu juga mau ngikutin aku? haha.", syaima tak sadar ia tertawa lepas sambil meledek cika, sedang cika semakin mengembungkan pipinya.
__ADS_1
"Udah ah, eh itu taksinya!", jari telunjuk cika menunjuk ke arah taksi di sebrang.
"ayo sya!", ucapnya lagi sembari. embantu syaima berdiri, tangan kanan panjangnya melambai meminta agar si supir taksi yang di seberang jalan datang pada mereka.