
Siku tangan kanan Amarah terbentur keras tepat dipintu restoran yang berbahan dasar kaca tebal, membuatnya meringis kesakitan memegangi sikunya. Sakit dan nyeri yang ia rasakan tak sebanding dengan tatapan tajam bak pedang milik seorang pria yang mempunyai alis tebal yang rambut alis sebelah menyambung ke alis sebelah nya lagi, menambah aura kengerian dan misterius setiap orang yang memandang.
"Dasar wanita bodoh!", umpat Justin sembari meraih tangan kiri syaima yang ia gunakan memijit tangan kanan nya. Ia mencengkram tangan Amarah dengan kuat. Dan untuk kedua kalinya Amarah meringis kesakitan.
"Ah, Tolong lepaskan pak!", Amarah memohon pada Justin. Mata nya memerah menahan bulir air yang siap jatuh dari pelopak matanya. Cengkaraman Justin sangat kuat. Oh! Cengkraman tangan seorang mafia begitu kuat dibanding cengkraman monster-monster di film.
Jika kalian ingin bertanya dimana cika, dia ada disebelah Amarah, terpana akan ketampanan pemuda dihadapannya yang tampangnya agak lebih kebarat baratan. Namun, sesaat kemudian ia sadar ketika mendengar jerit Amarah yang begitu memilukan.
"Pak, tolong lepaskan dia, sebenarnya yang salah bapak udah nabrak dia!", ujar cika lemah ikut menarik tangan syaima yang berada di cengkraman Justin. Mata Justin yang semula menatap Amarah beralih menatap cika tajam, cika yang di tatap mengalihkan pandangan ke arah lain selain ke arah Justin. Sejak kapan wanita tomboy itu takut akan sesuatu yang membahayakan temannya.
Drik yang berada dibelakang Justin menggelengkan kepalanya pelan, dalam hati ia hanya berkata, "gadis ini lagi, mengapa dia selalu keluar disaat emosi tuan ku memuncak?", tanya laki laki yang telah berusia kepala tiga ini.
Orang yang melihat kejadian ini tak berani melerai, apa lagi sang penyebab kejadian adalah singa yang baru lepas dari kandangnya.
"Untuk kedua kalinya kau menghalangi perjalanan ku bodoh! Apa yang kau inginkan, hah? Apa kau telah bosan hidup? Kau bertemu dengan ku untuk kedua kalinya dan selalu membuat ku kacau! Mengapa? Kali ini, tak akan ku biarkan kau menghalangi jalan ku untuk ketiga kalinya!", bentak Justin dengan nada kecaman dan ketegasan setiap kalimatnya.
Tak perduli yang ada dihadapannya seorang perempuan jelita yang sampai saat ini banyak pria mengaguminya dalam diam.
Suara Justin yang menggelegar bagas bass yang baru dipukul mampu membuat jantung syaima berdebar debar, bukan karena ada rasa cinta, tapi lebih tepatnya karena ada rasa ketakutan yang menyelimuti hampir seluruh tubuhnya.
Tunggu, menghalangi perjalanan Justin untuk kedua kalinya? Ah, perasaan syaima baru pertama kali bertemu dia. Itu pun tepat di restoran ini. Tapi, tidak mungkin jika hanya karena tertabrak tubuh Amarah membuat Justin marah dan sangat-sangat marah.
Amarah berpikir sejenak, haruskah ia menguras otak nya mengingat kejadian sebelum ia pergi ke restoran ini? Tapi apa boleh buat, jika tidak berpikir habis-habisan dan mengulas kejadian demi kejadian yang mengantarnya ke restoran tempat dimana ia dan karsa bertemu, mana mungkin dia tau kejadian apa yang membuat nya mengalami peristiwa tak menyenangkan seperti sekarang.
Oh, Tidak! Mobil yang tadi ingin menabraknya.
"ah, mobil dia ternyata", Pikir Amarah pasrah akan sesuatu yang akan ia alami selanjutnya. Ia tak tau jika Justin berada dalam mobil itu. Jika dia tau, sudah pasti dia akan mengulang waktu agar tidak bertemu mobil dia.
__ADS_1
Oh, Jika benar waktu bisa diulang, ia tak ingin kakinya keram ditengah jalan yang mengharuskan sebuah mobil berhenti mendadak karena ulahnya. Sudahlah semua sudah berlalu, untuk apa diingat jika tak ada perubahan yang membuat dia pulang kerumah dan bertemu nenek tercinta dengan selamat.
Drik yang masih setia dengan posisi berdiri tegapnya tak bisa menamfik akan keterkejutan atas pernyataan tuannya.
Ternyata sang tuan tau, si perempuan ini adalah seseorang yang diperintahkan untuk dibunuh saat dijalan tadi, dan pikirannya semakin berkacamuk saat mengingat kebohongan nya untuk menyelamatkan gadis ini.
"ah!! Bagaimana ini?", batin drik
Tapi beruntunglah drik, yang sesaat kemudian berfikir bahwa sang tuan yang kejam memiliki sifat yang tak acuh lagi dengan masalah yang telah lama terjadi. Drik bersyukur akan itu, tapi sekarang nasib perempuan malang di depannya ini yang harus bertarung dengan kenyataan pahit yang sebentar lagi akan ia hadapi.
"Tembak dia!", Kata kata indah dari mulut Justin mampu membuat keringat dingin bercucuran dari wajah cantik Amarah.
Ia mengeluarkan nafas kasar dari mulutnya pertanda tak percaya apa yang sedang ia hadapi. Amarah Tak ingin jika besok keluar surat kabar tentang peristiwa ini. Ah, tidak mungkin dan tidak ingin, pikirannya berkacamuk memandang wajah Justin dengan buliran buliran air mata.
Tidak kah Justin kasihan meliat dia?
Dengan susah payah drik menelan salivanya mendengar perintah sang tuan. Untuk kedua kalinya sang tuan memerintah kan perbuatan keji itu, Tak mungkin jika karena kasian pada wanita ini membuat drik menghiraukan perintah sang tuan. Jika sang tuan telah berkata, tak ada yang bisa menghalangi nya menarik kembali kata kata yang keluar dari bibirnya. Oh! sungguh malang nasib perempuan ini.
Drik mengambil pistol dibalik kemejanya, mengarahkan ke arah Amarah, ingin rasanya Amarah melawan habis habisan. namun, apa daya tangan putihnya masih di cengkram kuat oleh Justin. Tak adakah yang mau membantunya saat ini?
Amarah hanya berdoa dalam hati memohon perlindungan pada Allah swt. Sang pencipta alam dan sang penggenggam takdirnya. Bukan kah dia sang penentu kematian? Jika syaima harus mati ditangan Justin, apakah karena alex yang merencanakan? Tidak! Bagaimana bisa ini sudah rencana Justin. Jika kehendak Justin tak sesuai dengan kehendak sang pencipta, apa yang bisa ia perbuat? Jika Allah berkehendak mencabut nyawanya sesaat sebelum syaima tertembak, apa yang bisa ia lakukan?
Tapi harus diketahui, Justin seorang atheis, yang tak mengenal adanya tuhan. Ia merasa ialah yang berkuasa diatas muka bumi ini. Namun pernah kah kau mendengar kisah fir'aun? Yang merasa dirinya lah tuhan yang harus disembah. Bukan kah Allah itu kekal? Lalu mengapa fir'aun dapat binasa dimakan pusaran laut? Itu semua karena kemurkaan Allah padanya.
Restoran mewah ini, sebentar lagi akan menjadi saksi bisu lahirnya tragedi yang tak pernah diduga sama sekali. Kalian tau Ini adalah sebuah restoran, bukan ruang penyiksaan yang bebas untuk menembak siapa saja. Mungkin sang pemilik restoran tak habis pikir jika direstorannya ada sesuatu yang tidak diinginkan.
Sebentar lagi drik akan meluncurkan peluru ke arah Amarah. Ia tinggal menunggu anggukan dari sang tuan.
__ADS_1
Cika rasanya sudah mulai lelah untuk melepaskan cengkraman Justin pada tangan Amarah yang sangat kuat. Cika memang perempuan tomboy, tapi bukan berarti dia bisa melawan laki laki di depannya ini. Jika terjadi apa apa pada syaima, rasanya cika akan mengutuk dirinya seumur hidup.
Air mata Amarah/Amira mengalir deras bak hujan yang sudah bertahun tahun dipendam langit. Justin menatap derain air mata itu, ada yang beda ketika perempuan ini menangis, hati justin rasanya luluh seketika mendengar isakan gadis ini. Mata justin bertemu dengan mata Amarah/amira yang penuh dengan cairan bening memilukan. Mengapa Memandang matanya membuat sekumpulan amarah Justin menjadi reda?
"tidak! Ayolah, Justin dia perempuan aneh yang memakai penutup kepala dan selalu membuat ku marah", batin Justin menyadarkan dirinya sendiri.
Drik melepaskan peluru dari pistol berwarna silvers miliknya dan
Dorrr!
Suara pistol menggema di seluruh ruangan restoran bercampur baur dengan suara teriakan orang orang yang berada disana.
Amarah/amira memejamkan mata sembari berkata, "ya.. Rabbi.", lirihnya pilu dengan deraian air mata.
Ia bisa merasakan sekujur tubuh nya kaku, badannya gemetar. Kaki nya berasa tak berinjak di bumi. Teriakan orang orang memecah hangat masuk ditelinganya, tubuhnya panas dingin. Keringat mengucur deras membasahi wajah putih mulusnya. Oh! Inikah takdir syaima?
Namun, rasanya tubuh syaima tak merasakan sakit apa pun. Tak ada tanda tanda peluru masuk tanpa permisi ke tubuhnya. Ia merasakan lengan baik, dada nya baik dan bahkan kepala nya pun tak sakit. Hanya detak jantung miliknya yang begitu cepat dan nyaring menguasai tubuhnya. Ia rasakan tak ada lagi cenkraman kuat yang menyiksanya. Namun ia tetap tak berani membuka mata yang penuh cairan bening itu.
Sampai akhirnya, tubuh seseorang ambruk didepannya dengan nafas yang terengah engah bagai dikejar segerombolan orang.
Amira/ amarah kaget dan refleks sedikit menghindar dari ambrukan badan seseorang itu, walau ia merasa bahunya sedikit terkena tubuh itu dan dalam kondisi ini mengharuskan dia membuka manik coklatnya dengan perlahan, berharap tak ada kejadian yang bisa merusak jiwanya.
Dan, betapa terkejutnya dia saat melihat dengan seksama seseorang yang ambruk tepat disampingnya dengan wajah pucat pasi memegangi legannya yang penuh darah, ia bisa merasakan kesakitan yang pria itu alami.
"Pak karsa!", lirihnya disertai tangisan sesegukan.
Assalamualaikum readers Tunggu next chapternya ya, jangan lupa vote, coment dan follow akun author ya:)
__ADS_1