CALONKU SEORANG MAFIA

CALONKU SEORANG MAFIA
Pahlawan


__ADS_3

Warning typo bertebaran!


"Minggu depan sidang akhir skripsi sya, berarti hari itu adalah hari penentuan hidup dan mati kita setelah empat tahun berjuang!" tukas cika serius.


"hm, " Amira berdehem, ia menyeruput kopinya lalu menaruh kembali di meja kafe tersebut. Ia bisa melihat mata cika yang penuh dengan semangat.


"Kamu nggak gugup sya nanti ketemu sama si dosen killer?"


"Ngapain gugup sih cik? Serahin aja semua nya sama Allah," ia dengan santai menjawab lalu mengambil buku tebal dengan judul sirah nabawiyah di samping gelas kopi nya.


"Oh iya, setelah lulus nanti, kamu langsung kerja?" tanya cika.


"Belum tau sih cik, kalo kamu? Jadi nggak ke luar negeri buat ngambil S2?" amira menurunkan sedikit buku yang ia baca menatap ke arah cika.


"Papa sih nyuruh banget, tapi kan kamu tau aku orang nya malesan. Aku udah nggak berminat buat belajar lagi," cika menopang dagunya dengan tangan. matanya penuh dengan kemalasan. Ia melihat amira menggelengkan kepala pelan lalu tertawa. Ia pun juga ikut tertawa.


Waktu telah menunjukan ke angka dua di hari minggu siang ini. Amira dan cika telah keluar dari kafe tempat mereka bercengkrama tadi. Kali ini mereka pulang dengan membawa kendaraan masing masing, cika dengan mobilnya dan amira dengan sepeda motor matic berwarna birunya. Sepeda motor kesayangan hadiah dari pamannya.


Amira tengah menuntun sepeda motornya untuk keluar dari jalur parkir kafe, sementara cika telah beranjak pergi. Siang ini sangat panas, rasanya membakar kulit amira sampai ketulang. Untung saja ia menggunakan kaos tangan menutupi tangan putihnya yang sedikit memerah.


"nak, bisa antarkan ibu?" Amira menoleh ke belakang badannya. Ia melihat Wanita yang di perkirakan berumur empat puluh tahunan sedang membawa tas besar di pundak nya. Tubuhnya sangat kurus, bisa dilihat bahwa ia tidak terlalu mampu melakukan perjalanan jauh.


"memangnya mau kemana bu?" Amira menyenderkan standar sepeda motornya lalu turun.


"kerumah anak ibu, nanti ibu beritahu arah menuju kesana. nggak jauh kok nak,"


"Oh, yaudah ayo bu!" seru amira.


Setelah sekian lama, mereka akhirnya sampai di depan sebuah bangunan rumah bercat coklat setelah melewati gang yang agak sempit.


"terimakasih ya nak," ibu itu turun dengan hati-hati.


"iya, sama-sama bu," balas amira lalu bersiap hendak membalikan sepeda motornya namun ibu tadi langsung mencegah kepergiannya.


"nak jangan pulang dulu. Ayo mampir sebentar, "dia menatap amira penuh harap, amira menghela nafas pelan, lalu tersenyum kearah ibu ini. Tak ada salahnya mampir dulu kerumah ibu ini sebelum pulang kerumah nya kan?


Amira turun dari kendaraaan, tangan setengah keriput ibu tadi langsung menarik pergelangan tangan amira yang megharuskan nya untuk mengikuti ibu ini sampai ke halaman rumah.


Amira merasakan hawa yang aneh, seperti seseorang mengawasi dirinya, ia menengok ke kanan dan ke samping memastikan bahwa tak ada orang selain dia dan ibu ini. entah mengapa ia berfirasat sesuatu akan terjadi pada nya.


Dan benar saja, saat mereka sampai di depan rumah, seseorang dari arah belakang langsung memukul kepala bagian belakang amira dengan balokan.


"aw," teriak Amira.


Ia memegang kepala bagian belakangnya dengan erat, berharap bisa menghentikan denyutan keras yang membuat kepalanya terasa berat. Wanita setengah tua tadi telah menghempaskan tangan amira yang ia genggam dengan kasar sehingga amira sedikit terhuyung, pijakan nya kali ini tak kuat hingga,


Brak,

__ADS_1


Akhirnya ia terjatuh ke tanah sedikit demi sedikit kegelapan menyelimuti penglihatannya.


"senang bekerja sama dengan anda, pak justin," seorang pria paruh baya menjabat tangan kekar justin.


"hm, " justin hanya berdehem dan mengangguk dengan wajah datarnya.


"hm, " justin hanya berdehem dan mengangguk dengan wajah datarnya. Semua orang tau bahwa etika seorang pebisnis sangat diperlukan, tapi tidak bagi justin.


"dengan anda juga, pak karsa," ia menjulurkan tangannya lagi kepada karsa yang berdiri disamping justin, sebelum akhirnya meninggalkan ruangan.


Senyuman karsa menghiasi wajahnya saat menatap pria paruh baya tersebut pergi.


"dia mangsa selanjutmu?"


"Ya," justin menjawab dengan singkat. Lalu berbalik duduk di kursi kebesarannya. Ia melirik sekilas rangkaian huruf timbul di dinding sebelah kanan ruangannya bertulis "austin corp". Tak mudah membangun perusahaan besar yang mempunyai cabang dimana-mana. Dengan berbagai penghalang yang terpaksa harus di musnahkan. Ia memejamkan matanya teringat bahwa perusahaan ini adalah perusahaan warisan dari pamannya yang diberikan padanya.


Namun satu fakta yang membuatnya tak bisa menerima kenyataaan, yaitu ketika ia tau bahwa, awal mula perusahaan ini adalah perusahaan yang diambil secara paksa dari tangan orang tua seorang gadis, gadis yang diam diam selalu membuat matanya yang dingin menghangat, namun tak pernah ia sadari. Ya, dia amarah qhaza amira


Ia tersenyun kecut. Membuka matanya dan melirik karsa yang masih berdiri di ruangannya.


"tidak pergi?" tanyanya dengan dingin.


Karsa tak bergeming, ia melangkahkan kakinya lalu duduk berhadapan dengan justin yang di batasi meja kerja.


"justin, aku dan ayah ku tidak pernah terlibat dalam pembunuhan paman mu, kami dijebak hingga kami berada dalam satu ruangan dengan paman mu yang sudah meninggal, aku dan ayah ku bukan penghianat justin!" tegas karsa, ia sudah pernah menjelaskan berkali kali, namun justin tak pernah mendengarkan nya.


Justin menatap karsa intens. Namun, setetah itu tatapannya di alihkan pada handphone yang bergetar tanda pesan masuk. Setelah melihat ia menyeringai ke arah karsa.


"lihat," ia menunjukan layar hanphone nya dihadapan karsa.


Bug,


Karsa meninju meja kerja justin dengan tangannya, wajah nya memerah.


"kenapa amira disana!" geram karsa, saat melihat foto di handphone justin dimana gadis pujaan nya pingsan di kursi dengan kaki dan tangan di ikat


Karsa meninju meja kerja justin dengan tangannya, wajah nya memerah.


"kenapa syaima disana!" geram karsa, saat melihat foto di handphone justin dimana gadis pujaan nya pingsan di kursi dengan kaki dan tangan di ikat, wajahnya yang cantik menunjukan ketidak berdayaan.


Justin tak menjawab, ia menaikan bahunya sedikit, menunjukan sifat acuhnya.


"Justin, jawab!" Karsa menggertakkan giginya, tangannya ia kepal kuat kuat.


"Aku tidak tau, tanyakan pada kairav apa yang dia lakukan pada dia," dengan tenang justin menjawab karsa, sedikit menyeringai ketika melihat kecemasan di wajah orang didepannya.


"Kairav itu musuh mu, bukan musuhku! Jika dia menyakiti seseorang berarti ada hubungannya dengan mu!" teriak karsa marah.

__ADS_1


"tapi aku tidak ada hubungannya dengan gadis ini!" suara dingin justin menusuk pendengaran karsa. Nada


"tapi aku tidak ada hubungannya dengan gadis ini!" suara dingin justin menusuk pendengaran karsa. Nada bicaranya seakan menekan setiap kata bahwa ia tidak peduli apa yang terjadi pada gadis satu ini. Karsa mengehela nafas panjang, ini adalah cara terbaik yang harus karsa lakukan kala berhadapan dengan justin. Ia kembali duduk dengan tenang.


"Kau dan syaima pernah bertemu beberapa kali, mungkin Kairav berfikir bahwa kalian adalah pasangan, jadi ia menculik syaima agar kau datang menolongnya."


"Lalu?"


karsa menepuk meja dengan kedua telapak tangannya lalu berdiri menatap lawan bicara dengan intens. "Kau harus menyelamatkan nya, justin!".


Perkataaan karsa membuat Justin tertawa dingin, suasana di ruangan tempatnya sekarang mencekam.


"ada bayarannya?"


"ambil semua aset perusahaan ku!" jawab karsa tenang. Apapun akan ia berikan, bahkan nyawanya ketika semua menyangkut tentang syaima.


"tidak di butuhkan,"


Karsa menggeram frustasi dibuatnya ia mengepalkan tangan. "Lalu apa?" karsa bertanya pelan, sedikit menahan suaranya agar tak berteriak di wajah justin.


"berikan dia pada ku!" justin menatap nyalang kearah karsa dengan manik biru indahnya. Yang di tatap hanya tersenyum sesaat dia menjawab "aku bisa menyelamatkan nya sendiri!" lalu berbalik meninggalkan justin dengan wajah yang memerah. Ingin sekali ia meninju justin dengan semua kekuatannya.


Lain lagi dengan justin yang duduk di dalam ruangan tanpa ekspresi. Ia menatap lurus dengan dagu yang ia sandarkan di kepalan tangan putihnya.


"gadis bodoh!" ia menyeringai misterius, tak ada yang tau apa yang dia pikirkan namun saat ini, dia terlihat sangat tenang.


"hey, bangun," sebuah tangan menyentuh pundaknya untuk membangunkan.


"lihatlah pahlawan mu datang!" lanjutnya lagi. Nada bicara nya seperti ia sedang bersuka cita.


Amira yang merasa di bangunkan membuka matanya, kepala belakangnya masih berdenyut. Ia membuka matanya, setelah mendengar kata "pahlawan" dari pria berwajah hindi disebelahnya ini.


Ia tersenyum kecil, pahlawan mana yang datang untuk menyelamatkan nya dalam kondisi seperti ini. Tapi, untuk kali ini fikiran nya terfokus pada satu orang yang ia percaya yaitu, karsa.


Tangan dan kakinya di ikat kencang jadi, ia tak bisa bergerak di dalam ruangan yang remang remang cahaya seperti ini. Ia terkejut saat melihat di samping kirinya ada ibu ibu yang ia antarkan tadi. Ia tersenyum pahit dalam hati, tau bahwa ia telah masuk perangkap seseorang.


Ia menautkan alis nya yang indah menatap sesosok siluet yang disebut "pahawan" berada sedikit jauh di depan nya, sosoknya tinggi dan gagah, aura menyeramkan mengikutinya ketika ia berjalan. Bohong! Jika seseorang yang melihatnya mengatakan tak gentar.


Siluet tersebut berjalan lebih dekat kearah syaima. Perawakan nya makin jelas. Entah kenapa saat amira melihat siluet tersebut jantung nya berdetak dengan cepat. Ia tak mengedipkan matanya, menunggu siapa seseorang yang berada dalam bayang tersebut.


Langkah kaki sosok tersebut berhenti tepat disamping lampu berdiri, memperlihatkan dengan jelas wajahnya yang tampan, matanya yang berwarna biru menyala seakan mengalahkan sinar lampu di sampingnya.


Amira membelalakan mata, Ia tak berani menelan salivanya. Bahkan ia lupa untuk bernafas seperkian detik. Kedatangan laki laki ini mampu membuat nya bungkam.


Ia tak tau apakah kedatangan pria ini membawa anugrah atau musibah.


"akhirnya kau datang, sudah lama aku menunggu mu," kairav yang berada disamping amira tersenyum licik.

__ADS_1


Assalamualaikum readers, hay hay balik lagi sama author.


__ADS_2