
Warning typo dimana - mana !!!
Seorang perempuan terlihat sedang menyusun nyusun bunganya dengan tatanan rapi, ia terlihat putus asa karena sahabatnya menghilang lebih dari seminggu semenjak kelulusan mereka. Tak ada kabar yang ia terima selama itu, Ia mencoba mencari kerumah nya, namun nihil, tak ada siapa pun disana.
Cika tidak tau lagi harus mencari kemana. Ia kesepian karena tak ada teman bicara, terkadang seorang pria yang ia panggil cacing selalu datang kesini, hanya untuk sekedar bertanya kabar temannya lalu pergi.
Namun, tiba-tiba dengan bunyi "ceklek" seseorang membuka pintu, cika tau pasti seorang pembeli yang datang.
Tapi, ia tercengang ketika sahabat yang ia cari datang sendiri kesini bersama karsa, cika hampir saja meneteskan air mata, ia sangat merindukan sahabatnya ini.
"I-ini kamu kan, mir?", cika memastikan, dan Amira mengangguk, ia kemudian menghampiri amira dengan cepat dan langsung memeluk erat.
"Kamu kemana aja sya, hiks?", akhirnya air mata cika tumpah, ia menangis sesegukan.
"Ternyata anda juga bisa menangis!", karsa mencoba meledek cika.
Cika melepaskan pelukannya pada amira, menghapus air matanya lalu melotot kearah karsa, "Mir kamu harus tau, selama kamu menghilang, pria ini selalu datang setiap hari ke toko ku hanya untuk menanyakan, dimana amira, apakah ada kabar tentangnya, dan bla, bla, bla.
Pak karsa, sekarang amira sudah ada dihadapan anda, apa yang ingin anda lakukan? Menikahinya?", cika juga meledek karsa dengan mengatakan yang sebenarnya, ia tersenyum licik pada karsa, sedang karsa tak berani menatap amira, ia menjadi salah tingkah karenanya.
Amira yang melihat perdebatan kedua orang ini tiba tiba berkata, "Cika.", ia memanggil pelan sahabat didepannya.
"Ya?".
"Aku sudah menikah!".
Deg!
Berdesir,
Karsa tau ada sesuatu yang patah didalam diri nya, ia mengatur nafasnya sejenak, ia mengerti apa yang membuat nya merasakan sesak.
Karsa memandang perempuan disampingnya, wanita cantik ini lah yang membuat dia rela mengorbankan jiwa dan raganya.
Setiap saat ia selalu berdoa agar amira mengerti akan perasaannya. Tapi, ia telah menikah dengan orang lain, Apa kah dirinya yang terlalu berharap?
Lain lagi dengan cika, ia menutup mulutnya kaget, benar-benar tak menyangka, bahwa amira menghilang beberapa hari ini dan kembali dengan status nya yang telah berubah.
"Dengan siapa, mir?", cika bertanya lagi dengan suara rendah.
Amira menarik nafasnya, ia menatap kearah karsa. Ia tau, ia telah mematahkan hatinya, tapi ia bisa apa, jujur dalam hatinya ia tak mempunyai rasa apapun pada karsa selain pertemanan.
"Justin!", amira dan karsa saling menatap.
Ini tak mungkinkan? Darah karsa mendidih, ia tak habis pikir, justin benar-benar menikahi wanita yang ia cintai! Karsa mengepalkan tangan putihnya, memejamkan matanya menahan emosi.
Cika yang melihat karsa, entah mengapa ia turut juga merasakan apa yang pria itu rasakan.
Dan selanjutnya, dengan cepat karsa pergi keluar meninggalkan mereka berdua.
Amira tertunduk, ia menghela nafas pelan, lalu menceritakan semua yang telah terjadi pada cika termasuk justin yang mengurung ayah clarisa dirumahnya.
"Aku nggak punya banyak waktu, cik. Bantu aku pergi kerumah clarisa, gimana pun caranya, justin nggak boleh nyelakai ayahnya!", cika melihat ke khawatiran dimata amira. Ia mengangguk penuh semangat, lalu menuntun amira untuk keluar dari toko.
Saat diluar mereka melihat karsa bersender di pintu mobil, pria ini terdiam sendiri dengan tangan yang ia lipat didada.
__ADS_1
Karsa pernah mendengar seseorang berkata, bahwa di dalam dunia ini ada suatu hal yang harus di pertahan kan dan ada juga yang harus di lepaskan dan Ia sekarang sampai di titik itu.
Tapi ia bimbang, ia tau tau dan tak mengerti apa yang sebenarnya harus di pertahankan atau pun dilepaskan.
Ia menenangkan hatinya yang gusar, lalu sesaat kemudian wajah tampannya mendongak ke arah cika dan amira, "aku bisa mengantar.", ujarnya seolah tidak terjadi apa-apa.
Cika yang melihat karsa tersenyum kecil, pria ini, Ia suka saat melihat nya tersenyum lagi dengan tulus.
Mereka sampai dirumah mewah clarisa, Amira dan cika turun dari mobil.
Sepi. Terlihat tak ada siapa pun disini, cika dan amira saling menatap, mereka memencet bel berkali kali di pintu clarisa. tidak ada pergerakan, sampai akhirnya perempuan tinggi seusia mereka membukan pintu, wajah cantiknya terlihat pucat, matanya sangat sembab.
"Pergi!", belum sempat amira dan cika bicara, clarisa langsung mengusir mereka dengan suara rendah dan menutup pintu.
"Kami perlu bicara ris!", cika dan amira mencoba menahan pintu.
"Ini tentang ayah kamu!", amira menambahi, clarisa berhenti sejenak, "Papa.", Ia membuka pintu lagi.
Mata sembabnya tanpa sadar meneteskan air mata, namun dengan cepat dihapusnya, ia tidak akan kelihatan lemah di hadapan mereka berdua.
"Apa?", clarisa bertanya.
"Ayah kamu disekap dirumah Justin, besok aku akan mencoba membantu membebaskannya, kamu dan cika dapat menunggu di pagar samping rumah justin. Setelah itu, bawa pergi ayah kamu ditempat dimana justin tidak bisa menemuinya lagi!", amira mengatur rencananya untuk membebaskan ayah clarisa.
Clarisa tertawa, "Justin? Partner kerja papa?", dia sudah menduganya. Ia menatap amira dengan serius.
"Apa habungan mu dengan dia?".
"Bukan siapa siapa!", amira menjawab dengan tenang, cika menatap heran kearah amira. Mengapa amira menjawab seperti itu? Tapi, jika cika diposisi amira, ia pasti akan melakukan hal yang sama.
Clarisa yakin amira mempunyai hubungan dengan justin. Tapi, sekarang bukan waktu mengurusi hidup orang lain, jika syaima bisa membantu papanya, maka mau tidak mau ia harus berterimakasih padanya kan?
Untuk sekarang, amira tak bisa pergi kemana-kemana sampai justin memberitahu dimana neneknya berada.
Karsa dan cika mengantarnya hanya sampai di jalan perumahan elit lagi. Amira tak bisa membiarkan karsa dan cika berurusan dengan justin.
"Jaga diri baik-baik ya, sya.", ujar cika sembari tersenyum lembut. Amira membalas dengan anggukan pelan.
kemudian ia menengok ke arah karsa yang tidak menoleh ke arah nya sama sekali, "Saya pergi.", lirih amira berharap karsa mendengarnya.
Dapat cika lihat sahabatnya berlalu pergi meninggalkannya, lalu ia menengok kearah karsa yang masih menunduk, "hey, ayo jalan!", cika menyadarkan karsa yang duduk disebelahnya, karsa lalu menjalan kan mobil nya.
Hening, tak ada yang berbicara didalam mobil, cika yang biasanya berceloteh juga menjadi diam.
Mobil berjalan dengan kencang, cika membuka kaca jendela, membiarkan angin sore membelai wajahnya, anak-anak rambutnya bertiupan.
Kemudian, ia berbicara tanpa menghadap kearah karsa.
"Puncak mencintai seseorang adalah ketika dia bisa melepaskannya."
"Melepaskannya untuk bahagia, tapi apa dia sudah bahagia?", karsa tiba-tiba menyahut perkataan cika dan merem mobil nya secara mendadak, mereka saling tatap, hanyut dalam hening.
Apa karsa harus merutuki takdir yang seolah tak berpihak padanya?.
Ia keluar dari mobil, lalu berdiri di trotar pinggir jalan, menikmati langit senja yang kemerah merahan, mencoba menyejukan hatinya yang membara.
__ADS_1
Cika yang melihatnya juga ikut keluar.
"Jika anda ingin menangis, maka menangislah!", cika berdiri disamping karsa.
"Terlalu lebay, seumur hidup saya tidak pernah menangis karena seorang wanita!"
"Benarkah?", cika mengangkat alisnya dan sedikit mendekat kearah karsa, karsa mundur, "Ya.", tegasnya lagi.
Cika menghela nafas, "Kalau lo kehilangan gue, lo bakal nangis nggak?"
Karsa menatap tajam ke cika, "Ya, saya akan menangis sampai mata saya sakit, ayo pulang!", ujarnya.
Karsa berjalan masuk ke mobil meninggalkan cika, sedang cika tertawa kecil mendengar perkataannya, pria ini benar-benar lucu.
Lalu cika berkata pelan yang hanya dia yang bisa mendengarnya, "Ucapan adalah doa!"
Amita berlari agar cepat sampai ke rumah sebelum magrib. Ia tau justin sudah menunggunya di sana.
Tapi sangat malang, otak nya belum bekerja sama sekali untuk mempersiapkan jawaban apa yang akan ia lontarkan untuk menghadapi justin nanti.
Ia sampai dirumah, tak terlihat tanda - tanda penjaga yang mengejar nya tadi, biasanya mereka akan berjaga di depan gerbang.
Ahhh!
Amira mendengar suara rintihan pria dari dalam rumah justin, jantungnya berdegup, apa yang sedang justin lakukan?
Ia berlari secepat mungkin memasuki rumah dan membuka pintu masuk.
Dan alangkah terkejutnya ia saat matanya disuguhkan pemandangan dua orang yang mengejarnya tadi sedang duduk dikursi dengan kabel yang diarusi listrik mengikat mereka, sekali justin memerintahkan menyetrum, maka tamatlah riwayat mereka!
Pria berwajah tegas itu berdiri menyambut amira. Ia tidak bersuara sama sekali, tapi amira yakin justin sedang mengancam dirinya dengan semua ini.
Amira menghampiri salah seorang yang duduk dikursi itu, ia mencoba melepaskan kabel-kabelnya sedikit demi sedikit.
Di pinggiran kursi ada sebuah soket listrik, Amira mencoba mencabut kabelnya. Ia tidak menghiraukan justin yang setia melihatnya disana. Namun sayang, amira terlalu terburu buru hingga akhirnya tangan nya menyentuh lubang soket listrik tersebut.
"Ahh!", pekik amira.
Ia dengan cepat mengangkat tangannya lalu mundur, Ia bisa merasakan tangannya sedikit bergetar. Ia menutup matanya menahan sakit, ia tak tau berapa volt listrik yang pria itu aruskan dalam kabel itu.
Namun, tiba-tiba saja seseorang menggenggam tangannya. Amira menyeringitkan dahi tanpa membuka matanya, tangan itu mencoba menggoyang goyangkan telapak tangannya yang sedikit tak berasa dengan pelan.
Tangan mereka saling bertautan, telapak tangan yang ada digenggaman syaima sangatlah hangat. Entah mengapa, jika bisa, ia tidak ingin melepaskan tangan ini.
Amira membuka matanya perlahan, Saat ia membuka mata, ia mendapati justin dan dirinya bediri berhadapan.
Lagi dan lagi pandangannya bertemu langsung dengan manik biru pria yang ber status suaminya ini.
"Bodoh!", justin bicara pelan seakan menyalahkan amira. Jarak mereka sangat dekat, amira bisa mendengar apa yang dikatakan justin.
Ia agak sedikit tersulut emosi, mengapa pria ini selalu mengatakan hal yang tidak menyenangkan?
"Tidak usah mengumpat, saya tidak menyuruh anda untuk menolong saya!", ujar amira menekan kata katanya. Lalu mundur untuk menjauh dari justin.
Ia benar-benar salah, ternyata tangan hangat yang ia rasa bisa melindunginya hanyalah sebuah ilusi yang tak nyata.
__ADS_1
Assalamualaikum, jangan lupa vote, comment dan follow akun author ya:)
Tunggu next chapter ya.