CALONKU SEORANG MAFIA

CALONKU SEORANG MAFIA
Marahan sang iblis


__ADS_3

Suara mesin mobil terparkir tepat di halaman restoran yang bertuliskan "FRESS FOOD". Restorant yang terkenal dengan makanan yang mencapai harga fantastik, hanya orang orang kalangan atas saja yang biasanya makan disini.


Derap langkah kaki nya membelah keramain, setelah berhasil keluar dari kendaraan roda empat berwarna silvers miliknya, dikuti para asisten berbadan tegap dengan mengenakan setelan jas yang telah menanti lama kedatangan sang tuan.


Salah satu bodygard nya, mengantar kan dia ke tempat dimana diadakan pertemuan yang jujur sangat membuang buang waktu si tuan.


Terlihat seorang laki laki yang mengenakan setelan jas berwarna abu abu, sedang memesan sesuatu pada pelayan laki laki yang mengampirinya. Dan sesaat memudian memandang ke arah pria yang baru saja datang.


"Selamat malam tuan Justin, ternyata kau masih bersedia datang. Silahkan duduk, aku sudah memesan kan kita minuman!", sapa kairav pada Justin dengan senyum yang melebar diantara kulit pipi wajahnya yang sedikit kehitam hitaman.


Justin hanya diam, sampai pada akhirnya asistennya menarikan bangku didepan meja mempersilahkan sang tuan duduk.


"Kenapa kau menyuruh suruhan yang sangat pecundang seperti itu?", tanya Justin to the poin, tak menghiraukan ataupun menjawab sapaan manis dari kairav.


"Pecundang? Aku rasa, kau jauh lebih pecundang!", ucap kai sembari tersenyum remeh.


"Cih!" Justin berdecih pelab seakan akan ingin meludah ditempat, mata tajamnya menatap penuh misteri pada kai.


Namun sesaat kemudian, ia memalingkan wajahnya ke samping, terasa enggan jika terus-menerus menatap pria didepanya ini, matanya mengedar mengengelingi sebuah meja yang diatas nya ada papan nomor bertuliskan 7. Dengan intens ia menatap seorang laki laki dan dua orang perempuan, yang satu tak mengenakan hijab dan satu lagi mengenakan hijab berwarna biru malam.


"Karsa", batin Justin.


"oke, baiklah! Aku tidak akan membahas soal seseorang yang kau sebut pencundang itu. Tapi aku mengajak mu kesini agar engkau berbaik hati untuk bekerja sama dengan ku, bagaimana?", suara khas kairav menyapa hangat masuk ke dalam telinganya. Ia tak menatap kairav, wajah nya masih ia buang ke samping, namun sedetik kemudian, manik birunya kini menatap nyalang ke arah kairav.


"Tidak!", kalimat sederhana namun penuh arti yang Justin lontarkan, "Dengar, aku tak akan pernah bekerja sama dengan orang jijik seperti mu. Harusnya kau bersyukur hanya perusahaan mu yang ku ambil bukan nyawa mu!", sambung alex dengan nada yang ditekankan.


"Oh, come on, Justin. Ternyata kau itu memang iblis, ckck", kairav menggeleng-geleng kan kepalanya, "Kau selalu mengambil kebahagian orang demi kebahagian mu, kau menjijikan, kau membunuh semua keluarga ku, kau menganiaya orang orang disekitar ku yang tak bersalah.", Suara kairav sedikit meninggi dan penuh dengan kedendaman.


"Tapi sekarang, aku kembali seperti kairav yang dalu, Justin. Yang tak akan lemah walau dijatuhkan, yang tak akan pernah mengalah pada siapa pun, yang rela berkorban nyawa demi kemenangan!" tegas kairav.

__ADS_1


"Sekarang, bisa kah aku membalas akan kehancuran yang pernah aku alami ini, Justin?!"


Kairav dan Justin saling melempar tatapan maut mematikan milik mereka. Rasanya suasana di restoran itu berubah mencekam ditambah dengan aura-aura horor dari mereka.


"Bagaimana makanannya? Enak?", tanya karsa pada dua orang perempuan dihadapannya.


"Iya, sangat enak, makasih pak karsa sudah mau mengajak kami kesini.", Amarah tersenyum manis pada karsa. Ah, senyum itu lagi, sudah cukup senyum Amarah kemarin berkeliaran dipikirannya, mencoba mengusik tidurnya yang membuat karsa tersiksa. namun, indah.


"Pak, lagi?", karsa menatap Amarah sambil tertawa.


"M-maaf, Udah kebiasa soalnya hhe.", Amarah juga tertawa kecil.


"Iya, nggak papa terserah kamu aja.", karsa tersenyum.


"Kamu kan yang bayar?", Ucap cika menatap karsa, sembari menserosot mie pasta yang ia pesan. Amarah menggeleng pelan melihat tingkah laku cika.


"Iya, nanti aku yang bayar!", karsa tersenyum ke arah Amarah.


"Dasar modus, katanya berwibawa. Berwibawa apa an!", bisik cika pelan yang hanya dia yang dapat mendengarnya.


"oh ya, gimana kaki kamu, masih sakit?", Tanya karsa sambil melihat ke arah kaki syaima yang terbungkus rapi dengan kaos kaki dan dilindungi oleh gamis panjang miliknya.


Amarah mengangguk kecil, "Alhamdulillah rasa keram nya udah mulai berkurang, terus udah nggak sakit lagi.", karsa tersenyum pelan menanggapi perkataan Amarah.


"Kalau gitu, pak karsa, kami izin pulang ya.", ujar syaima sembari berdiri dari tempat duduknya dan cika juga mengikuti pergerakan syaima. Karsa mengangguk setelah memberi uang kepada pelayan yang menghampiri meja mereka bertiga. Mereka menuju keluar besamaan. Sampai tepat di depan pintu keluar restoran itu tiba tiba,


"Ah handphone ku!", ucap karsa menepuk jidatnya sendiri, memandang ke arah meja mereka duduk tadi, mengedarkan pandangan mencari handphone miliknya, dan ternyata handphone nya berada di samping vas bunga kecil di atas meja, "Sepertinya aku harus ngambil handphone milik ku dulu, jadi kalian pulang duluan aja ya, Maaf aku nggak bisa nganter sampai luar."


Mendengar pernyataan karsa, Amarah mengangguk kecil sedang cika memutar bola matanya.

__ADS_1


Sementara dilain sisi dua pria masih saja terlihat berdebat.


"kau itu sama dengan ayah mu!"


Deg,


kalimat penutup yang indah dari kairav, membuat Justin berdebar debar seakan siap menerkam mangsa di depan nya ini, "Jangan kau bawa bawa laki laki penghianat itu!", tekan Justin mengepal jemari tangan putih nya yang ia sembunyikan tepat disamping kursi ia duduk.


"Baik lah! kalau kau ingin bertarung sekali lagi dengan ku, Aku terima!", ujar Justin mantap lalu berdiri dari tempat duduknya.


Terlihat ia sedang membetulkan kancing jasnya yang terbuka. Kairav juga berdiri lalu mendekat ke arah Justin, mensejajarkan bahu lalu membisikan sesuatu, sungguh kairav harus mengumpulkan keberanian tingkat tinggi.


"Kita lihat Justin, siapa yang hancur, Aku atau kau!", bisiknya tajam masuk ke telinga Justin, ingin rasanya Justin mencekek leher musuhnya ini, jika saja ini bukan tempat keramain sudah dari tadi peluru bodygardnya masuk menembus dada kairav.


Justin diam ditempat tak bergerak sama sekali, seakan akan mati sesaat dalam posisi berdiri. Wajah putihnya memerah. Matanya tak berkedip, baru pertama kali ini ada seseorang yang berani berdiri dekat dengan nya, cih sangat menjijikan.


Selang beberapa waktu, Kairav pergi meninggalkan restoran itu diikuti seorang anak buahnya dibelakang.


Setelah bayangan kairav tak terlihat, alex juga melangkah pergi dengan cepat seakan membawa sesuatu yang sebentar lagi akan meledak. Oh, tidak! Bahaya jika Justin sudah seperti ini.


Langkah nya sangat cepat menyalap nyelip diantara meja dibantu kaki jenjang nya. Bodygard nya bernama drik kewalahan mengejarnya dari belakang, jika Justin marah, berjalan saja seperti berlari. Bersiaplah dunia menghadapi monster yang baru saja terbangun.


Justin berjalan cepat seakan akan pintu restoran segera tertutup. Matanya tak lagi melirik kekiri dan kekanan. Jalan nya cepat, cepat, cepat dan,


Brakkk!


'Ah!',


Pekik seorang perempuan cantik,

__ADS_1


Amarah.


Tunggu next chapternya ya, jangan lupa vote, comment, dan follow akun auhtor ya:)


__ADS_2