CALONKU SEORANG MAFIA

CALONKU SEORANG MAFIA
Pertemuan dengan karsa


__ADS_3

Seorang pria tengah berbaring diatas kasur empuk nan mewah yang terbalut seprai berwarna biru donker, pria itu sembari mengotak ngatik pikiran yang didalam nya tersimpan secuil berkas peristiwa unik dalam hidup nya, yaitu bertemu dengan seorang gadis cantik berbalut hijab merah yang mampu mengusik tidur nya.


Flasback on


Aaa!


Teriak seorang wanita yang tak lain adalah Amarah Qhaza Amira.


Posisi amira kini tengah berjongkok, ia menutup mata nya dengan kedua tangan dan kaki yang menginjak diatas jalan lurus nan sunyi ini. Suara mobil yang hampir menabrak nya berhenti, entah apa yang terjadi, perasaan nya mulai kacau sekarang.


"Hiks, a-apa sekarang aku sudah mati? Bagaimana dengan nenek, oh ya Allah.", lirih nya yang kini masih enggan membuka kelopak mata yang tertutup rapat oleh tangannya, sampai ketika, ia mendengar suara langkah kaki seseorang menuju ke arahnya.


"Hey, anda belum mati!", pria itu berkata sembari memegang pundak amira.


Sedang Amira terperanjat karena ada yang memegang pundak nya, ia berhasil membuka mata nya, melihat sekeliling, mencari siapa yang berani memegang pundaknya tanpa izin. Sampai mata cantik nya tertuju pada laki laki tampan dengan sedikit luka dikening nya, namun sikapnya menunjukan seperti tak terjadi apa pun.


"Jangan menyentuh saya sembarangan Anda dan saya bukan makhrom!", mata gadis yang tadi nya sendu kini menatap tajam kearah pria yang tak lain adalah karsa.


Karsa menatap wanita didepan nya ini dengan rasa bersalah, "Maafkan aku, Aku hanya ingin memastikan apakah anda baik baik saja?"


Amira mengangguk, "Alhamdulillah saya baik baik saja, tapi mobil anda kemana? bukan kah tadi mobil anda hendak menabrak saya?", Amira bertanya dengan wajah kebingungan.


"Disana.", karsa menunjuk kearah mobil yang kini tergeletak dipinggir jalan tepat dibawah pohon yang ia tabrak.

__ADS_1


Karsa menjelaskan, "Ketika mobil ku hendak menabrak anda, dengan cepat aku membanting stir hingga menabrak pohon itu.", karsa terkekeh, "Aku kasian melihat pohon itu!", ia menatap kasian pada pohon itu tanpa memperdulikan mobil mewah nya yang terlihat lecet pada bagian depannya.


Amira memyeringitkan dahi menatap pria di depannya,


"Benarkah? maaf kan saya yang hampir saja membuat anda terluka!", suaranya lirih sambil menunduk menatap jalan tempat nya berdiri.


"Sudahlah, lain kali hati-hati jika ingin menyebrang, lagian untuk apa malam malam begini anda keluar, anda tau itu tidak baik, apalagi anda seorang perempuan!"


"Alhamdulillah saya tau, tapi rumah saya tepat disebrang jalan ini. Tadi saya ingin mencari angin malam, saya tidak menduga bahwa kejadian nya akan seperti ini!" lirihnya sendu.


Entah mengapa saat Amira berbicara dengan sopan, ada sesuatu dihati karsa yang ia sendiri pun tak bisa menebaknya.


"Kalau begitu, cepat lah pulang. kau lihat posisi kita berada di tengah jalan, untung jalan ini sunyi tanpa ada pengendara lain, kalau tidak,", belum sempat karsa melanjutkan perkataan nya, clarisa cantik itu langsung memotong ucapannya.


"Tidak akan terjadi apa-apa, saya akan pulang, maaf membuat anda terluka!", Amira tersenyum tanpa memandang ke arah karsa, namun karsa yang memperhatikan senyum nya merasa


"Amarah Qhazah Amira, sepertinya sudah sangat malam, saya akan pergi, assalamualaikum.", seru Amira berlalu melanjutkan langkah nya menyebrangi jalan lurus meninggalkan karsa yang masih setia dengan posisi berdiri.


"Waalaikumsalam", jawab nya pelan yang mungkin hanya dia yang dapat mendengar.


Flasback off


"Amarah Qhazah Amira, nama yang cantik. Mungkin suatu saat kita akan bertemu lagi.", ucap karsa tersenyum sendiri kala mengingat kejadian pertemuan dia dengan Amira.

__ADS_1


"Dia membuat ku bahagia malam ini", gumam karsa, hanya kalimat itu yang keluar dari bibirnya sebelum ia berlayar menuju mimpi mimpi indah yang telah siap menanti nya.


Suara dentuman musik yang memekak kan telinga menyebar ke seluruh ruangan. Terlihat seorang pria tengah duduk di sofa yang disedia kan khusus untuk nya seorang, karena memang dia lah pemilik tempat ini.


pria itu sedang menikmati alunan-alunan lagu yang sama sekali tak berfaedah, atau sebaliknya, baginya sangat bearti untuk menghilangkan rasa lelah nya.


Para wanita cantik dengan pakaian minim mengelilingi nya ditemani sebotol minuman haram, namun tak ada yang berani menyentuh nya.


Mereka adalah pelayan yang bekerja disini. Asisten Justin selalu menyuruh mereka menamani Justin saat dia datang. Namun tatapan dingin dan membunuh selalu jatuh kepada mereka, tuannya ini tidak pernah ingin melihat mereka disini.


Tak lama kemudian, terlihat seorang pria bertubuh kekar menghampirinya dengan langkah menakutkan bagi siapa yang mendengar hentakan kakinya.


"Tuan Justin, kami sudah menemukan penyusup salah satu perusahaan kita. Katanya ia hanya suruhan orang, berbagai cara telah kami lakukan agar dia mengaku siapa yang menyuruhnya, namun ia tetap diam seribu bahasa, tuan", ucap pria itu dengan tegas.


Justin menanggapi dengan dingin, "Penyusup, kau tau Drik? aku paling tidak suka mendengar kata-kata penyusup, sudah cukup kata penghianat masuk ke dalam hidup ku!"


"Bawa penyusup itu ke ruang penyiksaan, siksa dia malam ini, tapi jangan sampai di bunuh. Besok aku akan kesana, aku yang akan membuat dia mengakui siapa yang menyuruhnya!" ujarnya membuat drik tak berani menatap manik biru milik sang tuan.


"Baik tuan, perintah anda akan segera di laksanakan!", drik kemudian berpaling meninggalkan pria dengan garis keturunan eropa itu.


"Aku lelah, sudah jam 12 malam, masih saja ada laporan yang mengganggu telingaku. lihat besok, siapa yang telah berani mempermainkan diriku!", katanya disertai mada intimidasi.


Setelah berucap begitu, Justin memerintahkan agar para manusia yang datang menghiburnya untuk pergi. Hanya tersisa satu pengawal setia yang berdiri dibelakang sofa berwarna merah itu.

__ADS_1


Mungkin, ia harus sedikit mengistirahatkan mata birunya yang seharian telah lelah melihat darah-darah orang yang berani menantang masuk ke kehidupannya.


Malam ini Justin tak pulang ke apartemen atau rumahnya, ia terlelap diatas sofa merah dengan di iringi alunan musik. Para bodyguard biasanya memindahkan justin ke kamar lantai atas yang ada di tempat club malam ini. Itu pun jika sang tuan berpesan. Jika tidak, maka mereka tidak akan pernah berani menyentuh tubuh seorang monster yang terlelap.


__ADS_2