
Warning typo bertebaran!
Sebuah mobil terparkir cantik dihalaman rumah justin, seorang pria terlihat keluar dari pintu mobil.
Ia berdarah sama dengan justin, berkulit putih dengan dagu yang agak sedikit panjang, ia memakai tato yang melingkar dipergelangan tangannya bertuliskan "Jackson".
Ya, namanya Jackson.
Jackson memasuki pekarangan rumah megah ini, lalu langsung menuju ke kamar atas yang juga menjadi ruang kerja justin.
Terlihat justin duduk dengan serius di kursinya, ditemani setumpuk berkas di mejanya, tanpa menengok kearah pria itu, justin tau dia pasti akan datang.
"Hai, sepupu, betapa senang bisa bertemu dengan Anda kembali. Ah, akhir-akhir ini anda terlalu sibuk.", pria bernama jackson ini pura - pura merajuk, kemudian ia duduk disofa dan mengambil segelas wine di meja justin.
"Apa?", justin bertanya dengan nada dingin tanpa menoleh kearahnya.
"Em,, Saya dengar, anda sudah menikah?", jackson meminum seteguk lagi minuman haram tersebut.
Pertanyaan itu langsung menyadarkan justin, Ia mendongak menatap pria itu dengan tatapan tajamnya, kemudian menunduk lagi, lalu berdehem pelan sebagai jawabannya.
Pria yang diketahui sepupu justin ini tidak dapat menyembunyikan rasa takutnya ketika melihat tatapan tajam dari manik biru itu, namun ia mencoba untuk menghiraukannya.
"Apa anda tidak bertanya saya tau dari mana? ", ia memulai bicara lagi dan justin tidak merespon apa pun.
"Apa anda tidak bertanya saya tau dari mana?", ia memulai bicara lagi dan justin tidak merespon apa pun.
Karena melihat justin hanya diam, jackson melanjutkan,"Haha, saya ini punya banyak sumber informasi, dari mata-mata, orang orang suruhan saya yang selalu setia mengawasi anda 24 jam!"
Oh, tidak!
Ia salah bicara, jackson menepuk jidat nya sendiri karena kesal.
Sedang justin yang mendengar ucapan nya langsung mendongak lagi kearah nya sambil menatap dalam.
"KELUAR!", justin memerintah pria ini.
Jackson menghela nafas, entah mengapa mulutnya selalu seperti ini, Selalu tidak bisa di kontrol untuk mengatakan sesuatu yang rahasia. Apakah ini juga yang mempengaruhi kepercayaan ayahnya padanya? Sehingga sebagian besar perusahaan di wariskan kepada justin.
Ia memang seseorang yang tidak kompeten untuk memimpin sebuah perusahaan besar. Prusahaan yang menjadi milik justin pernah menjadi miliknya, namun semua berubah ketika ia bangkrut dan merelakan semuanya pergi ke tangan justin.
Ia memang kagum pada justin, secara justin memang sosok pekerja keras, tangguh, dan mandiri. Perusahaan yang dulu nya bukan apa-apa, bisa berjaya dan diakui hampir seluruh dunia.
"Haha, aku hanya bercanda, justin.", katanya sekali lagi sambil tertawa.
"JACKSON, KELUAR! ", justin menggeram,
3
Jackson mengumpat dalam hati, bahaya jika justin sudah begini, ia tak bisa lagi berlama-lama disini, bisa-bisa justin akan benar-benar membunuhnya.
ia berdiri dari duduknya dan menghampiri justin.
"Saya akan selalu mengawasi anda sampai anda bisa memusnahkan semua keluarga husain sampai tak tersisa, Ini adalah perintah ayahku pada anda sebelum dia meninggal!", ujar jackson tegas, lalu pergi meninggalkan justin sendiri.
Jackson pergi, namun ketika diturunan tangga, ia berselisihan dengan seorang pelayan, kemudian berhenti tepat disamping pelayan tersebut, lalu berbisik pelan, "Selidiki siapa perempuan yang justin nikahi!", pelayan tersebut mengerti apa yang dia inginkan, Ia pun mengangguk lalu langsung pergi.
Jackson harus menyelidiki siapa saja yang masuk di kehidupan justin.
Ia tau, bahwa justin telah membunuh adik kandung dari muhammad husain.
Tapi, ia pernah mendengar bahwa masih ada ibu dan anak husain yang masih hidup. Justin harus membunuh mereka! Tega memang, tapi ini harus dilakukan agar tidak seorang pun dari keluarga husain ingin membalas dendam kepadanya.
Kali ini, ia percaya pada justin.
Walau ia hanya mempunyai sebuah perusahaan yang bertempat di london, tapi ia bersyukur setidaknya ayahnya masih memikirkan tentang nya, dan sekarang ia hanya ingin melihat justin menunaikan perintah itu.
Kembali ke justin. Setelah jackson pergi, ia diam sebentar memikirkan sesuatu, matanya menatap lurus kedepan tanpa berkedip, Ia memegang sebuah bolpoin di kedua tangan putihnya.
__ADS_1
Disela fikirannya, ia tanpa sadar meremas polpen tersebut dengan kuat, sehingga dengan bunyi "krak" polpen tersebut patah menjadi dua.
Justin langsung mengamankan tangannya dari tumpahan tinta yang berserakan di mejanya, namun ia masih tak bergeming dari duduknya, ia mengertakan gigi rapinya, wajah tegas nya memancarkan aura dingin yang tak bisa dibayangkan.
Ia menghela nafas, lalu berdiri untuk berjalan menuju jendela kaca di belakang kursi kerjanya.
Ruangan ini bertempat dilantai paling atas, sehingga dari sini, ia bisa melihat berbagai macam hal yang terjadi dibawah sana, termasuk melihat seorang wanita berparas cantik sedang menopang wajah kecilnya di jendela.
Wanita itu sesekali memejamkan matanya, mengetuk ngetuk jari tangannya disanggaan jendela.
Percayalah, justin bisa membunuh semua sanak keluarga husain, tapi ketika ingin membunuh perempuan ini, batinnya bergejolak, terasa sakit jika ia teruskan.
Tapi, lihatlah sekarang, terlalu lucu sampai ia menikahinya.
Justin selalu mencoba meyakinkan dirinya bahwa ia menikahi nya karena ingin menyakitinya.
Tapi, andaikan justin sadar, bahwa hatinya telah lama terpaut oleh amira, ia pasti tak akan bisa membuat nya terluka bahkan menangis.
Namun sayang, Egonya terlalu besar untuk bisa menunaikan janjinya terhadap pamannya.
Justin masih setia dengan lekat memandang syaima di bawah sana, bibirnya tanpa sadar berbisik pelan,
"Membunuhmu? Atau melindungimu?"
Besok adalah hari dimana tepat satu minggu saat Justin mengurung amira disini. Ia menghabiskan waktunya dalam sendiri, menambah kedekatan nya pada sang pencipta.
Sesekali ia membaca buku-buku yang berada disini. Tak ada kata jenuh dalam dirinya, ia lebih takut keluar dari ruangan ini, untuk bertemu laki laki yang telah sah menjadi suaminya itu.
Tiap malam amira selalu menyenderkan wajahnya di pintu jendela dekat kasurnya, dan seperti hal nya malam ini, ia menatap bulan yang sejak beberapa hari ini terang berderang.
Amira menengok ke arah jam tangan yang terbawa di dalam tas kecilnya, hanya ini yang terbawa ketika ia pergi dari rumahnya, handphone dan lain sebagainya masih menetap disana.
Jam telah menujukan pukul 10 malam, amira menutup jendelanya, lalu pergi ke kamar mandi untuk berwudhu sebelum tidur, setelah amira keluar ia mendengar suara ketukan.
Ia mendekat kearah pintu, "siapa?", tak ada yang menyahut.
Ia mendekat kearah pintu, "siapa?", tak ada yang menyahut.
ia tidak ingin bertemu dengan pria itu!
Dengan suara "ceklek" gagang pintu itu bergerak, amira dengan sigap menahan pintu, takut justin mendobraknya.
"Saya tau itu anda! jika anda tidak berkepentingan, maka pergilah!", amira berteriak dari dalam.
Lama,
Tak ada yang menyahut, tak ada lagi yang mengetuk pintu.
Amira mengintip kembali lewat gorden, pria itu telah pergi. Secepat itu kah?
Terkadang, ia bingung, pria itu tau bahwa dia enggan bertemu dengannya, namun ia tetap datang kesini hanya sekedar berdiri di depan pintu, mengetuk, lalu pergi tanpa sepatakah kata pun yang keluar dari mulutnya.
Matahari mulai menampakan senyumnya. Amira sudah lama terbangun dari tidurnya untuk menunaikan sholat subuh.
Tepat jam tujuh, harusnya sarapan pagi yang selalu diantar kan kekamarnya telah tiba, namun hari ini tidak datang, ia tau ini semua karena perintah justin, dia sengaja membiarkannya kelaparan, karena malam tadi ia Mengusirnya.
Tidak masalah, tapi amira tidak sebodoh itu untuk mati kelaparan diruangan ini!
Ia membuka gorden jendela kacanya, matanya tak melihat ada mobil justin dihalaman.
Amira sedikit senang, lalu ia membuka pintu nya untuk keluar, seketika angin langsung membelai wajah nya yang cantik, Ia berhenti sejenak lalu menghirup udara segar sebanyak banyaknya.
Ia tidak melihat penjaga dimana -mana, Ia merasa hari ini agak berbeda dari biasanya.
Perutnya sudah berbunyi, amira langsung menuju kerumah utama tempat justin, lalu membuka pintunya untuk masuk.
Ketika masuk, mulut amira tidak bisa berkata kata lagi, rumah ini sangat luas, berbagai macam perabotan mahal menghiasi ruangannya.
__ADS_1
Ada tangga menuju ke lantai dua, banyak ruangan dalam rumah ini, Tapi sekarang amira tidak bisa membuang-buang waktu, ia berjalan menuju dapur justin yang luas.
Ia heran mengapa tak ada satu pun orang di rumah ini, apakah semua pelayan libur?
Setau amira, justin mempunyai banyak pelayan yang dipimpin dua pelayan seniornya, senior bukan berarti harus tua kan, seperti salah satu pemimpin nya, yaitu elsa yang mengantarnya kemarin.
ia sampai di meja makan yang cantik dan elegan, dapat ia lihat ada banyak makanan yang lezat.
Tanpa fikir panj syaima langsung mengambil nasi dan lauk pauk dengan porsi yang banyak, setidaknya makanan ini bisa ia sisakan untuk makan siang dan malamnya.
Ia bergegas agar tidak ada yang melihat nya, namun sayang, takdir berkata lain, ketika ia berbalik, justin berdiri tepat didepannya, sangat dekat, jantung amira berpacu dengan cepat ketika manik biru itu menatapnya dalam.
Justin mencoba menghapus jarak diantara mereka, sementara amira dengan sigap mundur kebelakang, tapi nasibnya terlalu malang, ia telah tersudut di dekat meja makan.
Nyali nya seketika menciut bersamaan dengan tangannya yang tiba-tiba bergetar, piring yang ia pegang hampir terjatuh, beruntung justin menangkapnya tepat waktu.
ia benar-benar tak pernah sedekat ini dengan seorang pria.
"Apa anda diajari untuk mencuri?", ujar justin, suara nya sangat dekat di telinga amira.
amira mencoba bangkit dari ketidak sadarannya, "Saya tidak mencuri!" ucapnya tegas.
"Lalu? ", justin menunjuk piring yang ada ditangan amira.
"Bukan kah anda telah menjadi suami saya? Maka dari itu, harusnya tanggung jawab anda kepada saya adalah hal yang paling utama!", amira menekan kan kata-katanya.
"Tanggung jawab apa yang harus saya penuhi pada anda?"
Amira menelan salivanya, ia tak berani menatap justin, ia merasa kan sesak nafas jika terus menerus berada didekatnya.
"Mundurlah!"
Justin tak bergeming, "Jawab!", ujarnya dengan suara pelan.
Amira menggeleng sembari tertawa kecil, ia dengan mantab mendongakkan kepalanya kearah justin.
"Lupakan! Saya salah bicara. Tak ada kewajiban yang harus anda penuhi, karena anda hanya seseorang yang masuk di kehidupan saya yang membuatnya hancur secara perlahan!", ujarnya.
Mereka saling menatap lama satu sama lain.
Sampai akhirnya, justin menaruh piring syaima di meja makan, lalu berkata, "Makanlah!", ia memerintah, namun syaima menyeringitkan dahinya. Demi apa pun ia tidak bisa makan di depan pria ini.
"Tidak!", amira langsung menolak.
Mendengar penolakan amira, justin memberi jarak diantara mereka.
"Kalau begitu, mengapa masih disini?"
amira agak sedikit terkejut, ia benar benar diusir oleh justin!
Percayalah, ia lebih baik kelaparan dari pada seperti ini.
Amira menekuk wajahnya, lalu
memilih pergi dari sini, secapatnya!
Drik yang baru datang dan melihat amira pergi, seketika mengerti apa yang terjadi diantara tuan dan nyonyanya.
Ia menghampiri justin yang diam sembari menatap sebuah piring penuh makanan.
"Tuan, jika nona tidak makan, maka ia bisa sakit."
"Biarkan!", ujar justin dingin, lalu berlalu pergi.
Hay, author mau ngucapin banyak banyak makasih nih sama kalian yang udah stay dan selalu support cerita ini, sini yuk author peluk online
Jangan lupa vote, komen dan follow akun author ya.
__ADS_1