CALONKU SEORANG MAFIA

CALONKU SEORANG MAFIA
Sama sama benci?


__ADS_3

warning typo bertebaran!!!


"amira disini nek"


Suara pelan menyapa hangat di telinga nenek amira dan juga cika, mereka menghela nafas lega ketika seseorang yang dikhawatirkan berada di depan mereka dengan sehat.


Amira menghampiri mereka, nenek nya langsung memeluknya dengan erat. Rasa cemas tadi perlahan lahan menghilang.


"alhamdulillah kamu baik baik aja nak, nenek cemas memikir kan kamu," mereka melepaskan pelukannya, syaima hanya tersenyum menanggapinya.


Entahlah, senyum untuk kehangatan semua ini atau senyum untuk menutupi semua kesedihan yang ia rasa.


"kamu dari mana aja sih sya?"tanya cika pada amira.


"tadi ada sedikit urusan, gimana kondisi ayah kamu cik?" jawab amira dengan tenang sedikit mengalihkan topik pembicaraan.


"kondisi ayah udah membaik kok mir," amira hanya mengangguk menatap cika.


"amira lelah nek, amira ingin istirahat lebih awal," ucap amira diangguki neneknya, ia memalingkan wajahnya ke arah cika, sudut bibir nya terangkat menunjukan senyuman kecil. Kemudian ia berjalan ke arah kamar dan masuk dengan perlahan.


Amira sungguh sangat, sangat pandai berakting, kemana tangisan pilu tadi? bahkan matanya pun, seperti tak pernah memancarkan air mata. Siapa pun pasti akan tertipu oleh sikapnya yang mampu menutupi rasa kesedihannya termasuk neneknya sendiri.


Namun, tidak dengan cika, ia merasa tatapan yang diberikan amira adalah tatapan kosong, tatapan dimana tersirat sebuah kesedihan. ia yakin sesuatu telah terjadi pada syaima. Entahlah, yang ia tau teman nya tidak sedang dalam keadaan baik sekarang.


"Oh, iya. Cika lupa nek, ada yang pingin cika omongin sama amira, penting banget! Cika nyusul amira ya?" Cika pura-pura menepuk jidatnya sendiri. Lalu menatap nenek amira dengan mata yang ia kedip kedipkan, seperti anak kecil meminta sesuatu.


Nenek amira menghela nafas tenang Besok aja ya nak, kamu kan denger sendiri tadi syaima ingin istirahat,"


"nggak bisa nek, ini penting banget!" ujar cika lagi meyakin kan nenek amira, ia terus mengedip ngedipkan matanya. Usaha nya tak sia sia, ia berhasil membuat wanita paruh baya itu terkekeh melihat tingkahnya lalu, setelah itu ia mengangguk, tanda mengiyakan.


Seorang pria terduduk di lantai menatap kalung nya yang putus akibat ulah sesosok perempuan. Ia menggenggam nya dengan erat, kebencian terhadap perempuan itu bertambah lagi.

__ADS_1


Wajahnya yang selalu dingin dan menyimpan amarah (marah) kini menunjukan gurat kesedihan.


"mom," ia mengeluarkan suaranya pelan yang hanya dia yang bisa mendengar.


drik yang berada di belakang justin hanya diam, walau pun ia tau betapa beharga nya kalung itu dari justin.


Kalung itu, kalung giok pemberian ibunya saat mereka tidak mempunyai apa apa, ibunya membeli nya dengan susah payah bekerja kesana kemari hanya untuk kalung itu, justin pernah bilang pada drik jika ia memakai kalung itu ia merasa ibu nya selalu ada di setiap langkahnya, ia selalu ingat senyuman ibunya jika menatap manik biru dari kalung giok tersebut. Namun, semuanya berubah sejak gadis itu, ya amarah qhaza amira, menarik kalung nya hingga putus, bahkan giok biru buah kalung nya pun sudah tak tau dimana terlemparnya.


Ia menekan sesuatu yang rasanya ingin meledak di dalam dadanya. Menutup mata nya pelan, ia berkata


"aku membenci mu, amira!" lalu pergi dengan menggenggam kalung itu meninggalkan tempat rahasianya.


Amira menjatuhkan tubuhnya, tepat di samping tempat tidurnya yang berwarna hijau toska. Ia menutup wajah nya dengan kedua tangannva. kemudian menangis. lagi.


Namun, tangisannya pelan tak ada yang dapat mendengarnya. Sungguh ia sangat rapuh saat melihat kematian pamannya tepat di depan matanya. Kehilangan orang tua sudah membuat nya terpukul, ditambah kagi kehilangan paman satu satunya.


Ia tak habis fikir pada pria yang ia ketahui bernama justin. Apa kah ia selalu seperti ini? Selalu membunuh orang hanya karena perkara sepela? Apa dia bahagia ketika melihat seseorang menangis? Ya, jawabannya memang iya. Ah, sudahlah amira harusnya tau kalau dia memang seorang mafia dan psycopat, percuma jika bertanya tantang kehati nuranian dalam dirinya.


"kamu belum pulang cik?" tanya amira, tak ada respon dari cika yang berdiri di depannya. Namun, kemudian ia mensejajarkan tubuhnya dengan amira. Ia menatap mata amira yang telah memerah lalu memegang kedua pundak sahabatnya.


"Mir aku tau kamu terluka, aku sahabat kamu mir, aku memang nggak bisa bantu permasalahan kamu, tapi setidaknya kamu cerita ke aku mir, jangan kamu pendam sendiri!" cika bersuara dengan pelan dan sukses membuat amira menangis dan langsung memeluk cika, ia menumpahkan semua yang ia rasakan.


Kini amira menceritakan hal apa yang baru saja ia alami, cika yang mendengar tak kuasa menahan air mata nya, ia berfikir kenapa amira harus selalu bertemu dengan pria kejam itu.


"gimana aku bilang ke nenek cik? gimana? Paman adalah anak satu satunya nenek sekarang, kalau dia tau paman udah nggak hiks, hiks....,"


"aku takut nenek syok terus penyakit jantung nya kambuh lagi. Aku nggak mau kehilangan nenek cik!" Air matanya tak berhenti jatuh, ia hanya bisa memegang tangan cika erat.


"kamu tenang dulu mir, Paman kamu udah pindah sebulan yang lalu ke apartementnya sendiri. Jadi kamu nggak usah khawatir kalo nenek nanyain tentang keadaan paman kamu, bilang aja kamu nggak tau, nggak mungkin nenek keluar rumah sendiri buat ngunjungin paman kamu,"


"sampai kapan aku nyembunyikan kepergian paman dari ibunya sendiri?"

__ADS_1


"aku nggak tau, yang terpenting untuk sementara waktu kesehatan nenek kamu nggak terganggu, mendengar itu amira menghentikan aktivitas menangisnya, ia melepaskan tangannya yang memegang tangan cika, lalu beralih menatap lurus kedepan jendela kaca kamarnya.


"Aku harus cari kerja cik, buat menuhin kebutuhanan, paman udah nggak ada, tinggal aku dan nenek sekarang!" cika tersenyum mendengar penuturan amira, terlintas sebuah ide brilian di kepalanya.


"kamu mau kerja kan?" cika mengangkat kedua alis nya sambil tersenyum lebar, amira kemudian mengangguk mengiyakan sahabatnya.


"oke, karena besok kita nggak ada kelas buat ngampus, aku bakalan jemput kamu dan ngantar kamu buat kerja di hari pertama," cika mengeluarkan semangat 45 nya.


"emang kerja dimana?" ucap amira datar ia tak terlalu yakin dengan sahabat di samping nya ini.


"umm, besok kamu bakal tau kok," ujar cika mengedipkan sebelah matanya lalu berdiri merapikan tas samping yang ia kenakan. Amira terkekeh kecil melihat tingkah cika.


"kamu harus kuat mir, yakin Allah selalu ada buat kamu," cika memegang tangan putih syaima sebelum pamit pergi setelah mengucapkan "assalamualaikum".


"waalaikumsalam" lirih amira.


Ia kemudian bangkit dari duduknya, melirik jam yang menunjukan bahwa telah masuk waktu sholat isya, ia bergegas membersihkan diri lalu menunaikan shalat wajib tersebut. Setelah selesai ia merapalkan doa di atas sejadah, doa yang sangat khusyuk kepada sang maha kuasa diringi dengan tetasan air bening di matanya.


Sungguh menceritakan semua nya kepada sang pencipta mampu membuat hati nya kembali tenang.


Ia melepas mukena yang ia kenakan, sesaat kemudian beranjak dari atas sejadahnya menuju tempat tidur untuk membaringkan tubuhnya yang lelah, lalu memutup kedua mata indah nya membiarkan pikiran nya menuju ke bawah alam sadarnya.


menunaikan Solat wajib tersebut. Setelah selesai ia merapalkan doa di atas sejadah, doa yang sangat khusyuk kepada sang maha kuasa diringi dengan tetasan air bening di matanya.


Sungguh menceritakan semua nya kepada sang pencipta mampu membuat hati nya kembali tenang.


Ia melepas mukena yang ia kenakan, sesaat kemudian beranjak dari atas sejadahnya menuju tempat tidur untuk membaringkan tubuhnya yang lelah, lalu memutup kedua mata indah nya membiarkan pikiran nya menuju ke bawah alam sadarnya.


"Aku tau, sangat lah tak pantas menaruh kebencian terhadap sesama manusia, tapi ya Allah, biarkan untuk kali ini dan hanya untuk dia saja, biarkan aku membencinya," amira


Jangan lupa vote and comment Tunggu next chapter

__ADS_1


__ADS_2