
waring typo dimana mana!!!
Amira melipat sejadahnya selepas sholat subuh, pagi ini tubuhnya terasa lemas, sepanjang malam perutnya kelaparan.
Dalam 24 jam ini, ia hanya minum tanpa makan apa-apa, kepalanya sudah terasa agak pusing, tapi ia harus bertahan, Ia tidak bisa membiarkan dirinya mati kelaparan disini.
Brum, brum.
Suara keras mesin mobil dari halaman depan mengagetkan amira, ia kembali membuka gordennya untuk mengintip, amira berharap mobil itu ditumpangi oleh justin.
Dan benar saja, pria blasteran berjas hitam, berbadan kokoh, berada di dalamnya.
Ia mengekori mobil itu sampai pergi, Jangan sampai kejadian kemarin terulang lagi.
Mobil itu melaju dengan kencang, amira senang bukan kepalang, ia langsung berlari menuju rumah utama.
Tak seperti kemarin yang tak ada siapapun, sekarang semua pekerja dirumah justin beraktifitas seperti biasanya.
Mereka sadar akan kehadiran amira, namun mereka tidak melakukan tindakan apapun.
Bearti justin membolehkannya untuk pergi kemanapun, asal jangan keluar dari rumah ini kan?
Amira masuk kedalam rumah, lalu tiba-tiba, seseorang menyapa nya dari arah kiri, "Nona.", Amira menoleh, ia melihat elsa yang nampak masih cantik dengan baju pelayannya.
"Nona, maafkan saya, kemarin, tuan justin melarang saya mengantar makanan kepada anda.", Elsa tertunduk sedih.
Amira tersenyum ketika melihat pelayan satu ini, wajah mudanya sangat menggemaskan.
"Kemarin saya mencoba membawakan makanan untuk nona, t-tapi saya takut akan dibunuh oleh tuan!", ujarnya lagi.
Amira yang tersenyum langsung menormalkan kembali expresinya, ini yang dia tidak suka dengan justin, ia selalu menyelesaikan masalah dengan membunuh orang yang bersangkutan.
Usia elsa 5 tahun lebih muda dari amira, Ia bekerja disini untuk menggantikan ibunya, tapi ia harus menghadapi seorang tuan seperti justin, alangkah malang nasibnya.
"Elsa, bantu aku membersihkan kamar tuan!", seseorang memanggil elsa dari atas tangga.
Amira menoleh, dapat ia lihat perempuan sangat cantik berpakain sama seperti elsa menghampiri mereka.
Wajahnya agak blesteran sedikit, badannya tinggi, auranya seperti seorang model, jika sekali lihat, orang tidak akan percaya bahwa dia salah satu pelayan dirumah justin.
"Ah, nona. Perkenal kan, dia liza, pelayan baru disini. Dia sama seperti saya, bekerja menggantikan bibinya.", Elsa mencoba memberitahunya.
Amira menggaguk kearah liza, tapi liza tidak merespon apa apa, ia malah menatap amira dengan sinis.
Liza tau ini adalah istri justin, tapi entah mengapa, ia merasa iri dengan wanita ini, Tapi untuk apa iri, toh dia wanita yang tidak dihargai disini. Liza yakin, masih ada peluang untuk dia mendapatkan justin, Ia tersenyum memikirkan hal itu.
Sementara amira yang dari awal melihat liza tau bahwa perempuan ini tidak menyukainya, Tapi ia tidak terlalu perduli, Ia hanya tak habis fikir mengapa justin mempunyai pelayan yang cantik-cantik.
ia curiga bahwa koki yang memasak disini juga cantik.
Tapi, elsa memberitahunya bahwa hanya mereka bedua yang muda disini. Karena pada awalnya, semua pelayan perempuan dirumah justin sudah berumur sekitar 40 tahun, termasuk para koki justin, mereka adalah pelayan senior disini.
"Aku akan menyusul!", elsa bicara pada liza, kemudian liza mengangguk dan pergi tanpa mengatakan apapun pada amira.
Elsa khawatir melihat amira yang terdiam di depannya, apakah nonanya takut akan keberadaan liza disini? Apalagi melihat tingkah sombong liza.
__ADS_1
"Nona tidak perlu takut, saya akui Liza memang cantik, dan semenjak dia bekerja disini, dia memang selalu mencari perhatian pada tuan, tapi tuan tidak pernah melihat atau meliriknya sekalipun, tuan itu bukan orang yang peduli dengan sekitar, nona. Jika tuan memperhatikan orang - orang sekitarnya, maka itu adalah sebuah keajaiban."
"Dan nona sangat beruntung, nona itu istimewa di mata tuan, sehingga bisa membuat tuan menikahi nona.", elsa menjelaskan dengan suara gembira.
Sedang amira, ketika mendengar penjelasan elsa hanya tersenyum kecut, Ya, memang benar, dia adalah orang istimewa yang akan selalu justin perhatikan tanpa tau apa sebabnya.
"Ya, anda boleh pergi!", amira menyuruh elsa meninggalkannya, karena perut nya benar benar sakit.
Ia lalu membuka pintu dapur, dua wanita berumur lebih 40 tahun sedang menata meja makan.
"Permisi, bibi.", amira menyapanya.
Dua wanita itu langsung berbalik, mereka menyeringitkan dahi menatap amira dengan bingung.
"Saya, istri justin.", amira melanjutkan bicaranya, kemudian mereka menatap lebih dalam ke arahnya, lalu keduanya tersenyum sumringah.
"Oh, jadi kamu nak, pantas saja tuan justin menyukai mu, kamu sangat cantik.", ujar wanita yang agak sedikit gemuk, amira yang tersenyum lalu menormalkan kembali ekspresinya.
Amira heran, apa mereka tidak tau apa yang tuan mereka lakukan padanya?
"Saya bi arta dan dia adalah bi arti saudara saya, kami bekerja menjadi koki disini semenjak paman justin masih ada sampai sekarang.", Bi arti tersenyum lembut pada amira.
"Iya, paman tuan justin. ah, nanti pasti tuan justin akan menceritakan pada istrinya yang cantik ini.", bi arti menyolek bahu amira, seakan menggodanya.
Amira tersenyum canggung menghadapi mereka berdua, ia berharap mereka segera pergi meninggalkannya disini, mereka terus menggoda nya dengan membawa-bawa nama justin.
Dan beruntung, akhirnya mereka pergi beristirahat, jika tidak, maka mereka berdua akan melihat pipi amira yang agak sedikit memerah akibat ia yang salah tingkah.
Kemudian, amira membuka meja makan, lagi dan lagi makanan ini membuat perutnya berbunyi dua kali lebih kencang, masakan bi arta dan bi arti memang terlihat sangat melezatkan.
Ia makan dengan lahap, sesekali menengok ke pintu dapur, takut justin masuk, sampai akhirnya ia selesai mengisi perutnya yang kelaparan.
Ia makan dengan lahap, sesekali menengok ke pintu dapur, takut justin masuk, sampai akhirnya ia selesai mengisi perutnya yang kelaparan.
Amira mengucapkan syukur alhamdulillah, lalu berdiri dan dengan cepat keluar dari sini sebelum justin datang.
Jika pria itu datang, maka ia akan di cap sebagai pencuri untuk kedua kalinya.
Ketika amira berjalan, ia mendengar suara "buk", ia tau sesuatu telah terjatuh.
Ia menengok kesana kemari, mencari tau dari mana asal suaranya, ada sebuah pintu di dekat turunan tangga menuju basemant, ia berjalan kearah pintu itu, ketika sampai di depan pintu, amira bisa merasakan pergerakan manusia dari dalam.
Ia mengintip lewat lubang kunci pintu ini, matanya menyapu seluruh ruangan itu, dan betapa terkejutnya dia, saat melihat seorang pria dewasa terjatuh lunglai dengan tangan yang terikat dan mulut yang terlakban, kepalanya berdarah.
Bunyi "buk" tadi karena ia terjatuh dari kursinya.
Pria itu berkulit putih dan berwibawa, Rasanya amira pernah melihat dia, tapi, dimana? Amira mencoba mengingat.
Ya, tebakan amira benar, ayah clarisa.
Amira mundur selangkah, apa yang harus ia lakukan? Ayah clarisa berada didalam, tapi mengapa? Ia mencoba untuk menekan-nekan gagang pintu namun nihil.
Ia harus melakukan sesuatu, ayah clarisa memang tidak menyukainya, tapi ia juga tidak setega itu melihat seseorang kesakitan didalam sana.
Sekarang, dia tau apa yang harus ia lakukan.
__ADS_1
Dia pun kembali kemeja makan, melirik penjaga-penjaga rumah justin dari jendela dapur, sangat banyak, mereka berjaga hampir disekeliling rumah justin.
Amira mencoba menarik nafas dalam dalam, dia berharap rencananya ini berhasil.
Ia berteriak sekencang-kencangnya.
"Tolong,,,, ada perampok!"
Pak, pak, pak.
Semua penjaga justin masuk ke dalam rumah, amira tak menyangka respon mereka secepat itu, tanpa membuang waktu, ia berlari keluar rumah dengan segera, namun salah seorang penjaga mencegat amira.
"Nona, ada apa?", penjaga bertanya.
"Cepat kejar! Tadi seseorang mencoba.
masuk lewat dapur!", amira.
meyakinkan nya.
Semua penjaga berfokus mencari seseorang itu, amira memanfaatkan kesempatan ini untuk keluar dari rumah justin.
Saat ia berlari keluar pagar, sesuatu berbunyi, "tit.. tit.. " amira tercengang, ia berhenti sejenak, sebegitu ketatnya kah pengaman dirumah justin? Amira yakin cctv dirumah justin tak terhitung jumlahnya.
Beberapa penjaga melihat kearah amira, Mereka mengejarnya, amira bergegas pergi dari rumah justin, ia berhasil keluar dan kemudian berlari secepat mungkin.
Ia berlari sampai di jalan perumahan elit, ada dua jalan didepan amira, ke kanan dan kekiri, ia tak tau yang mana yang bisa mengantarkannya ke jalan raya.
Ia berhenti sebentar mengatur nafasnya, melihat kebelakang kearah dua penjaga yang mengejarnya.
Namun, tiba-tiba seseorang menarik lengan baju nya, ia membawa amira berlari pergi.
"Jalan sini, mir!", ujarnya.
Suara ini, sangat tidak asing di telinga amira.
Amira menengok ke belakang, mereka sudah agak jauh dari penjaga itu.
Pria ini membawa nya sampai di depan mobil, ia terdiam sejenak memandang ke arah pria ini.
"Cepat masuk, mir!", Sosok tinggi ini berbalik dan menghadap kearah nya.
Pak karsa? Oh, dia sungguh beruntung bertemu dengan karsa.
Ia mengangguk, kemudian masuk dengan cepat kemobil, mobil pun berjalan meninggalkan dua penjaga yang kelelahan di belakangnya.
"Tidak, bagaimana ini? Nona kabur dengan seorang pria, jika seperti ini maka kita yang akan dibunuh tuan!", ujar salah satu penjaga, Ia terlihat frustasi.
Mereka disuruh justin untuk mengawasi nona nya dengan baik, tapi sekarang? Nyawa mereka tergantung pada amira, mereka tidak tau apa yang terjadi pada mereka jika justin tau hal ini.
"Berdoa saja agar nona kembali.", satu penjaga yang kekar menimpali.
Mereka hanya bisa berharap amira tidak pergi untuk selamanya dari justin, atau jika tidak, maka
mereka yang akan pergi selamanya dari dunia ini.
__ADS_1
Jangan lupa vote, comment, dan follow akun author ya, see you:)